Selasa, April 13, 2010

Jalur Sepeda, please?

Ki - ka = Nana Podungge, moderator; Gurun, Kadishub; Djoko, Peneliti Transportasi, Tjahjono, dosen S2 Teknik Lingkungan

Mengingat semakin tingginya kesadaran masyarakat untuk ikut mengurangi dampak negatif global warming dengan bersepeda ke tempat kerja, sekolah, maupun kampus, pada hari Minggu 11 April 2010 Komunitas b2w Semarang mengadakan TALK SHOW yang diberi tajuk DUKUNG PEMERINTAH KOTA SEMARANG UNTUK MENYEDIAKAN JALUR SEPEDA DI KOTA SEMARANG. Hal ini tentu saja dilatarbelakangi dengan kurangnya rasa aman dan nyaman yang menghinggapi para pesepeda tatkala mengayuh sepeda di jalan raya, karena mereka harus 'bersaing' dengan kendaraan bermotor lain. Tak jarang para pengguna kendaraan bermotor tidak memberi ruang maupun kesempatan pada para pesepeda. Hal inilah yang terutama melatarbelakangi komunitas sepeda Semarang -- dan digawangi oleh Komunitas b2w -- untuk mengajukan usulan kepada Pemerintah Kota Semarang untuk menyediakan jalur sepeda.

X-banner jalur sepeda

Tiga narasumber yang diundang untuk mengisi acara talk show ini adalah Djoko Setijowarno yang berprofesi sebagai Dosen S2 Teknik Sipil Unika, yang kebetulan juga merupakan seorang peneliti transportasi; Tjahjono Rahardjo, dosen S2 Teknik Lingkungan Perkotaan Unika, beserta Gurun Risyadmoko, kepada Dinas Perhubungan Kominfo kota Semarang. Nana Podungge selaku sekretaris komunitas b2w Semarang mendapat kepercayaan sebagai moderator dalam acara talkshow tersebut.

Sebagai seorang peneliti transportasi, Djoko Setijowarno mengungkapkan salah satu upayanya untuk mengajukan wacana penyediaan jalur sepeda di kota Semarang melalui tulisan di beberapa media surat kabar. Beliau menyatakan bahwa pada beberapa ruas jalan di kota Semarang kita masih bisa menemukan 'sisa-sisa' jalur sepeda yang telah disediakan oleh pemerintah beberapa dekade yang lampau, yakni di jalan MT Haryono dan jalan Indraprasta. Sayangnya sekarang ini jalur sepeda di kedua jalan tersebut tidak lagi dimaksimalkan penggunaannya. Bahkan pada saat-saat tertentu -- misal mulai sore sampai malam hari -- jalur sepeda tersebut justru digunakan oleh para PKL untuk menggelar dagangannya. Atau kalau tidak, digunakan oleh beberapa toko atau tempat umum lain sebagai tempat parkir para pengunjung yang berkunjung ke tempat mereka masing-masing. Sementara itu, jalur sepeda yang pernah ada di jalan Majapahit dan jalan Sugiyopranoto justru menghilang, tanpa alasan yang jelas. Selain menyoroti beberapa ruas jalan yang masih memiliki jalur sepeda maupun yang jalur sepedanya telah menghilang, Djoko juga menyoroti hilangnya tempat parkir khusus untuk sepeda di beberapa tempat umum, misal pasar, beberapa sekolah 'ternama', utamanya Sekolah Menengah Atas.

Tjahjono sebagai pembicara kedua berbagi pengalaman tatkala beliau menimba ilmu di Belanda, negara yang konon paling ramah dengan para pesepeda. Belanda mendapat julukan seperti ini karena memang konon jumlah sepeda di negara tersebut melebihi jumlah penduduk yang ada. Selain itu, pemerintah sangat mendukung dengan menyediakan fasilitas-fasilitas yang sangat memadai bagi para pesepeda. Jalur sepeda yang disediakan oleh pemerintah tidak hanya bisa ditemukan di dalam kota, namun juga antar kota, membuat para pesepeda yang melakukan perjalanan dari satu kota ke kota lain sangat nyaman dan aman. Selain jalur sepeda, fasilitas lain yang disediakan oleh pemerintah adalah tempat parkir yang aman dan tersendiri buat sepeda, tempat-tempat tertentu untuk beristirahat para pesepeda yang mungkin kelelahan dalam perjalanan, sekaligus juga mudahnya para pengguna kereta api tatkala mereka harus membawa sepeda saat bepergian. Jika seorang pekerja tinggal lumayan jauh dari kantor, ada kemungkinan dia memiliki sepeda dua buah. Pertama, dia berangkat dari rumah naik sepeda menuju stasiun. Di stasiun, dia menitipkan sepeda di tempat parkir. Di stasiun tujuannya, dia pun telah menitipkan sepeda, yang akan dia naiki untuk menuju ke kantor. Selain itu, Belanda juga memiliki tempat-tempat wisata -- misal camping ground -- yang hanya bisa diakses bagi para pengguna sepeda.

Pembicara ketiga, Gurun kepala Dinas Perhubungan menyampaikan tiga saran. Pertama, menyelenggarakan CAR FREE DAY secara teratur, misal satu bulan sekali. Kedua, melakukan rally wisata sepeda yang bisa diikuti oleh para pesepeda di kota Semarang, untuk mengadakan kunjungan dari satu tempat wisata ke tempat wisata lain. Misal: dari stasiun Tawang ke Gereja Blenduk, ke Lawangsewu, kemudian melanjutkan perjalanan ke tempat-tempat wisata lain. Yang ketiga, untuk mengenakan 'atribut' sepeda yang lengkap untuk keselamatan diri; misal jangan lupa mengenakan helm sepeda, busana yang tepat untuk bersepeda sehingga lebih nyaman, sepatu olahraga, plus sarung tangan. Selain itu, Gurun juga menyarankan lebih mencintai sepeda yang dimiliki dengan senantiasa menjaga kebersihan sepeda yang dimiliki.
yang terlihat mengenakan busana 'jawa' adalah para anggota SOC (Semarang Onthel Community)

CAR FREE DAY dipandang sebagai satu upaya awal untuk mensosialisasikan jalur sepeda ke masyarakat. Dengan mengadakan CAR FREE DAY secara teratur, diharapkan masyarakat mulai memberi perhatian kepada para pesepeda, sekaligus mengingatkan mereka betapa pentingnya ikut berupaya mengurangi semburan emisi yang dikeluarkan kendaraan bermotor mereka, demi kebersihan udara yang kita hirup bersama. Ide yang kedua, untuk lebih memperkenalkan tempat-tempat wisata di kota Semarang, tanpa mengotori udara dengan asap knalpot yang dikeluarkan dari kendaraan bermotor. Diharapkan jika ada kunjungan wisatawan nusantara dari tempat-tempat lain, mereka pun akan dengan senang hati berkunjung ke tempat-tempat wisata tersebut dengan naik sepeda. Mengenakan 'atribut' pesepeda tentu saja sebaiknya diikuti dengan mengikuti peraturan lalu lintas yang ada, sehingga tidak ada tudingan dari pengguna jalan lain bahwa para pesepeda menaiki sepedanya seenak perutnya sendiri; misal tidak berhenti tatkala lampu traffic light menyala merah.

Dua anggota b2w Semarang yang didapuk untuk berbagi pengalaman di panggung yaitu saudara Riu. Riu tinggal di Banyumanik -- terletak di Semarang bagian atas -- sedangkan kantornya terletak di jalan Dr Wahidin. Tatkala berangkat dia menuruni bukit Gombel -- yang sangat bikin para pesepeda amatir enggan untuk bersepeda -- karena ketinggian dan panjangnya jalan. Pulangnya tentu Riu harus menaiki bukit ini. Komplain yang disampaikan oleh Riu adalah arogansi para pengguna kendaraan bermotor yang seringkali tidak memberinya ruang yang cukup memadai, selain juga 'semburan' asap knalpot yang sama sekali tidak sehat. Anggota lain, Ravi, berbagi pengalaman bagaimana komunitas b2w Bandung mengupayakan disediakannya jalur sepeda di kota Bandung. Mengingat jalan-jalan di kota Bandung yang kebanyakan lebih sempit daripada jalan-jalan kota Semarang, dan juga terletak pada kontur tanah yang naik turun, tentu memberi harapan kepada para pesepeda di kota Semarang bahwa adalah hal yang sangat mungkin bagi pemerinah kota Semarang untuk menyediakan jalur sepeda.
Sepeda anggota b2w Semarang, dengan bike-tag di bawah sadel

Pada sesi tanya jawab, Tunggal menyatakan harapannya bahwa pemerintah memberi dukungan penuh pada harapan para pesepeda ini. Para anggota komunitas sepeda dengan senang hati bekerjasama dengan pemerintah untuk memetakan jalan-jalan manakah yang nantinya tepat dibangun jalur sepeda. Penanya kedua, Budianto, mengharapkan bahwa jika nantinya harapan para pesepeda ini dikabulkan oleh pemerintah, semoga bisa dimaksimalkan penggunaannya, jangan hanya karena mengikuti gengsi sebuah kota melihat kota-kota lain telah menyediakan jalur sepeda. Alangkah baiknya jika apa yang sudah kita miliki saat ini -- misal jalur sepeda yang masih tersedia di jalan MT Haryono dan Indraprasta -- kita maksimalkan kembali penggunaannya. Budianto juga menyampaikan dalam waktu dekat ini yang paling penting untuk segera disediakan adalah tempat parkir di tempat-tempat umum. Jangan sampai orang malas bersepeda ke tempat mereka melakukan aktifitas hanya karena mereka tidak tahu dimana mereka bisa memarkirkan atau pun menitipkan sepeda mereka.

Penanya ketiga, Budi Tjahjanto, bercerita tindakan diskriminasi kepada para pesepeda di Balaikota karena ada tulisan "para pengguna sepeda diharapkan turun" tatkala memasuki tempat parkir. Seperti kita tahu, sepeda justru tidak mengeluarkan polusi, juga tidak menimbulkan suara. Mengapa justru tidak ada peringatan, "para pengguna sepeda motor dan mobil diharapkan turun"? Wahyu, seorang anggota bike to campus, menyatakan kesediaan para pesepeda untuk ikut serta dengan aparat pemerintah untuk memetakan jalan-jalan khusus yang sekiranya disukai para pesepeda, utamanya tentu karena dilindungi oleh pohon-pohon peneduh jalan. Dari komunitas SOC, seorang anggota mengharapkan adanya tempat parkir khusus pesepeda di tempat umum, misal di pusat kota Semarang, Simpanglima.

Sebelum mengakhiri talk show, Gurun sebagai pihak yang paling berkompeten berjanji untuk mengundang para ketua komunitas sepeda di kota Semarang untuk duduk bersama, bertukar pikiran tentang dilaksanakannya penyediaan jalur sepeda, sekaligus fasilitas parkir yang memadai di tempat-tempat umum.

Nana Podungge
Sekretaris Komunitas b2w Semarang

PBIS 11.57 130410

Photos credit to http://semaranggoesblog.blogspot.com/2010/04/proposal-bike-lane-in-semarang.html

1 komentar:

Ada kesalahan di dalam gadget ini