Rabu, Desember 21, 2011

Dosa Waris

Istilah ‘dosa waris’ dalam bidang pendidikan pertama kali kudengar dari seorang (ex) rekan kerja mungkin sekitar satu dekade yang lalu. Mengingat kita adalah guru Bahasa Inggris, contoh yang paling sering kita bahas waktu itu adalah pronunciation yang salah. Jika seorang guru salah mengajarkan pronunciation sebuah kata, (mungkin dikarenakan malas ngecek kamus), maka bisa dipastikan anak didiknya akan salah juga cara membaca kata tersebut. Jika anak didiknya ternyata menjadi guru, dan ‘take it for granted’ tanpa ngecek kamus, dia juga akan mengajarkan cara membaca yang salah.

Misal waktu aku duduk di bangku SMP, guru Bahasa Inggrisku mengajari cara membaca ‘flour’ seperti tulisannya /flour/. Guru waktu SMA juga membacanya sama, maka kupikir memang begitulah cara membacanya. Sampai akhirnya aku menjadi guru, bertemu sebuah buku dimana di dalamnya berisi berbagai jenis games, salah satunya adalah ‘homophones’. Yang dimaksud ‘homophones’ dalam Bahasa Inggris adalah ada dua atau lebih kata yang cara membacanya sama namun penulisannya berbeda, misal /eyes/ dengan /ice/, /two/ dengan /too/ atau /to/. Nah, di lembar game ini lah aku menemukan kata /flour/ yang disamakan pronunciationnya dengan /flower/. Tentu saja aku kaget dan langsung ngecek kamus. To my surprise, I just realized sekian tahun aku pun telah membaca kata ‘flour’ dengan salah.

Satu kata lain lagi adalah kata ‘vehicle’. Guru SMA-ku membacanya /vihaikel/. Waktu kuliah S1 dengan pede aku membacanya /vihaikel/. Di satu kesempatan, aku disalahkan oleh seorang teman sekelas, karena katanya cara membacanya adalah /vi’ikel/. Karena tidak terima (mosok guruku salah?) aku langsung ngecek kamus, dan mendapati ... memang guruku yang salah cara membacanya.

Kalau “hanya” salah pronunciation begini (mungkin) masih bisa dimaafkan; toh tidak menimbulkan kesalahan fatal yang bisa menyebabkan seseorang kehilangan nyawa.

Yang lebih parah tentu adalah ketika seorang guru memberikan informasi yang salah kepada siswanya. Siswa menerima informasi itu apa adanya, dengan berbaik sangka, “masak guruku yang cerdas ini salah memberikan pengetahuan?” Namun ternyata memang sang guru mendapatkan informasi yang salah ketika (mungkin) masih duduk di bangku kuliah, took it for granted, dan memberikan pengetahuan yang salah itu kepada siswa-siswanya di kemudian hari.

Sebagai contoh:

Ketika kuliah S1, aku menerima jenis teori sastra masih sangatlah ‘terbatas’, teori yang merunut ke zaman ‘baheula’ dimana sebuah karya sastra hanya bisa digali dengan menggunakan empat pendekatan (alias teori),yakni pendekatan ‘ekspresif’, ‘objective’, ‘pragmatik’, dan ‘mimetik’. Belum kudengar jenis teori, semisal ‘New Criticism’, ‘Structuralism’, hingga ‘Feminism’ dan ‘Deconstruction’. Dll.

Ketika kuliah S2, seorang dosen senior, dalam kuliah “Literary Theories” mengajarkan teori ‘deconstruction’ tak ubahnya dengan pendekatan ‘objective’, hanya saja titik perhatiannya dibedakan. Misal, dalam novel Siti  Nurbaya karya Marah Rusli. Jika ‘biasanya’ yang dianalisis adalah tokoh Siti Nurbaya dan Samsul Bahri ketika menggunakan pendekatan ‘objective’, maka jika kita menggunakan teori ‘deconstruction’, kita mungkin akan memilih tokoh lain, misal, Datuk Maringgih.

“Then what, Ma’am?” tanya kita waktu itu.

Ya sudah, langkah berikutnya sama seperti ketika kita menggunakan pendekatan ‘objective’.

LHO KOK? Apa bedanya dong dengan pendekatan ‘objective’ kalau begitu? Bukankah dalam pendekatan ‘kuno’ ini seorang peneliti bebas menentukan unsur apa saja yang ada di dalam sebuah karya? Mau meneliti sang tokoh utama atau pun a very minor character, kan suka-suka sang peneliti?

Kebingungan ini kemudian membuat aku dan beberapa teman duduk bersama di kursi kantin, makan sekaligus diskusi bersama untuk memahami lebih lanjut penggunaan teori ‘deconstruction’ dalam melakukan penelitian sastra. Kemudian diskusi ini kita lanjutkan ke kelas lain, “The History of American Literary Criticism” yang diampu oleh seorang dosen muda.

Dari beliau lah akhirnya kita mendapatkan ‘pencerahan’. Kata ‘deconstruction’ bermula dari kata ‘to deconstruct’, yang bisa diterjemahkan secara bebas sebagai ‘memutarbalikkan apa yang ada’ dengan menggunakan kacamata lain.
Misal, jika menggunakan kacamata ‘lama’, maka tokoh Samsul Bahri adalah sang pahlawan yang berjuang memenangkan cintanya dengan Siti Nurbaya. Datuk Maringgih adalah tokoh tua yang tidak tahu malu dan tidak sadar diri dengan kelapukannya ingin memperistri Siti Nurbaya yang masih muda dengan menyalahgunakan kemiskinan orang tua Siti Nurbaya.

Teori dekonstruksi sangat memungkinkan cara membaca yang dibalik: Datuk Maringgih adalah sang pahlawan negara, karena dia melawan penjajah Belanda pada waktu itu. Sedangkan Samsul Bahri justru merupakan antek Belanda karena dia bekerja untuk pemerintah Kompeni.

Penerbit novel ‘Siti Nurbaya’ adalah ‘Balai Pustaka’. Siapakah yang mendirikan BP? Pemerintah Belanda yang memang sengaja ingin meneruskan kelanggengan masa penjajahannya di bumi pertiwi melalui pintu yang ‘cerdas’: buku. Dengan cara menerbitkan buku-buku yang menuliskan betapa baik hati pemerintah penjajah Belanda pada penduduk pribumi, dan betapa penduduk pribumi yang lain bisa menjadi tokoh yang pantas dimusuhi (dalam hal ini Datuk Maringgih).

Kembali ke masalah utama ‘dosa waris’. Tentu masih banyak contoh yang bisa digali dalam kehidupan sehari-hari yang disebabkan oleh, salah satunya, a teacher’s not well-preparedness with his/her misleading knowledge.

PT56 08.53 211211

onit wrote on Dec 21, '11
aku inget waktu smp ada guruku yg ngotot because ditulis becouse. uh oh. tapi waktu itu gak bawa kamus, gak bisa buktiin. toh di test kutulis because gak disalahin :D -- gak tau bocah2 yg lain gimana..
afemaleguest wrote on Dec 21, '11
onit said
aku inget waktu smp ada guruku yg ngotot because ditulis becouse. uh oh. tapi waktu itu gak bawa kamus, gak bisa buktiin. toh di test kutulis because gak disalahin :D -- gak tau bocah2 yg lain gimana..
waktu masih kul S1, aku eyel-eyelan dengan seorang teman yang kul di IKIP Semarang jurusan Bahasa Inggris beberapa kata, misal 'caught' dia ngeyel tulisannya 'cought'

waaahhh ... kalo aku ga tunjukin kesalahannya , dia bakal mewariskan kesalahan itu ke anak didiknya, dan bisa jadi bakal turun temurun
^__^
rirhikyu wrote on Dec 21, '11
Tak pikir ttg dosa warisan beneran yg diajarkan diagama :p
Ternyatah dosa waris yg laen
:)
afemaleguest wrote on Dec 21, '11
rirhikyu said
Tak pikir ttg dosa warisan beneran yg diajarkan diagama :p
Ternyatah dosa waris yg laen
:)
hihihihih
^__^
srisariningdiyah wrote on Dec 21, '11
menarik soal datuk maringgih :)
afemaleguest wrote on Dec 21, '11
menarik
ada talinya kali ya?
hehehehe ...
martoart wrote on Dec 21, '11
Tulisan semacam ini yang baiknya banyak ditemui di MP. Trims, gak segan baca postingan asyik cem gini.
afemaleguest wrote on Dec 21, '11
martoart said
Tulisan semacam ini yang baiknya banyak ditemui di MP. Trims, gak segan baca postingan asyik cem gini.
tenkiu Kang ^__^
martoart wrote on Dec 21, '11
Kalau “hanya” salah pronunciation begini (mungkin) masih bisa dimaafkan; toh tidak menimbulkan kesalahan fatal yang bisa menyebabkan seseorang kehilangan nyawa.
Kalo mo bilang "excuse me sir", terus salah jadi "executed me sir"... bisa fatal juga loh...
afemaleguest wrote on Dec 21, '11
martoart said
Kalo mo bilang "excuse me sir", terus salah jadi "executed me sir"... bisa fatal juga loh...
qiqiqiqiqiqi
rembulanku wrote on Dec 22, '11
oh tentang bahasa tho, tak kira dosa warisan yg betulan perbuatan dosa xixixi....

aku sekarang banyak lupanya mbak kalo bahasa inggris terlalu banyak ngomong ga inget nulisnya gimana *mlenceng seko topic*
afemaleguest wrote on Dec 22, '11
oh tentang bahasa tho, tak kira dosa warisan yg betulan perbuatan dosa xixixi....
kayak Febbie, salah kira di awal
hihihihihi
rawins wrote on Dec 23, '11
aku bego banget bahasa inggris
karena kutukan waris juga kayaknya..
afemaleguest wrote on Jan 12
rawins said
aku bego banget bahasa inggris
karena kutukan waris juga kayaknya..
walaaahhhh ...
find a scape goat!
yay!!!
hihihihihi
dinantonia wrote on Jan 12
ya, ya... mayan banyak juga cara pronunciation yang ternyata saya salah ketahui, misalnya pyramid (pi- bukan pay-), decisive (decaysive, bukan decisive). Juga finance bisa dibaca fahy- atau fi-... Saya juga terkadang salah memberi info ke anak2. Learning by doing lah :D
afemaleguest wrote on Jan 12
Learning by doing lah :D
:-D

Becoming Jane

diambil dari sini

BECOMING JANE: Being an author as well as a wife?


Film ini konon terinspirasi oleh kehidupan nyata Jane Austen (1775-1817), seorang penulis dari Inggris yang sampai sekarang beberapa karyanya tetap saja digemari, misalnya “Pride and Prejudice”, “Sense and Sensibility”, “Persuasion”, “Mansfield Park” dan “Emma”.

Jane digambarkan mirip dengan tokoh perempuan yang dia tulis dalam novel-novelnya: cerdas, kritis, gemar membaca, berwawasan luas dan berasal dari keluarga yang kurang mampu. Dan bahwa seorang perempuan menulis di zaman dahulu merupakan suatu skandal yang tidak layak dilakukan pun diungkapkan dalam film “Becoming Jane” ini. “Pen” yang merupakan ‘senjata’ orang dalam menulis (sebelum mesin ketik ditemukan, terlebih lagi keyboard komputer diciptakan), konon merupakan singkatan dari kata “penis”. Maka layaklah jika di zaman dulu hanya laki-laki yang dianggap layak menulis karena mereka lah pemilik senjata tersebut: penis. Perempuan akan mendapatkan kecaman yang sangat keras dari masyarakat jika ingin coba-coba memiliki profesi yang diklaim oleh kaum laki-laki ini.

Meski sempat dijadikan bahan debat apakah memang benar seorang Jane Austen pernah memiliki hubungan khusus dengan seseorang yang bernama Thomas Lefroy alias Tom, dalam film ini kisah kasih mereka berdua mendapatkan porsi yang cukup untuk menarik perhatian penonton. Dalam satu kunjungan ke rumah paman Thomas – untuk meminta restu dari sang paman agar Tom dan Jane bisa menikah – Tom mengajak Jane berkunjung ke rumah seorang penulis perempuan yang mendapatkan penghasilan yang cukup dari menulis, Mrs. Radcliffe. Perbincangan mereka berdua sangat menarik perhatianku.

diambil dari sini

Jane menyatakan keterkejutannya ketika tahu kehidupan Mrs. Radcliffe yang nampak sangat tentram dan damai, padahal novel-novel yang dihasilkan oleh Mrs. Radcliffe begitu penuh kejutan, teror, dan sebagainya. Dari penjualan novel-novelnya lah Mrs. Radcliffe menghidupi keluarganya, sang suami tidak begitu sukses dalam karirnya.

“Is it difficult to be an author as well as a wife?” tanya Jane polos.

Pertanyaan yang terdengar innocent bagiku ini mengingatkanku pada dua hal.

Pertama, Nh Dini. Di awal tahun 2008 aku berkesempatan menghadiri sebuah” acara berbincang-bincang dengan Nh Dini, dimana pada waktu itu beliau juga mempromosikan novelnya yang berjudul “Argenteuil”. Aku sempat bertanya bagaimana dia bisa mengingat semua kisah detil dalam hidupnya yang kemudian dia tulis dalam karya novel yang dia beri label “cerita kenangan” yang berarti otobiografinya. Sedikit latar belakang, Nh Dini pernah menikah dengan seorang Konsul yang tentu membuatnya sangat sibuk. Nh Dini menjelaskan bahwa (mantan) suaminya tahu kegemarannya menulis sehingga dia diperbolehkan meluangkan waktu untuk menulis apa-apa yang ingin dan perlu dia tulis dalam diary. “Konsensus” umum yang berlaku dalam masyarakat bahwa setelah menikah maka pasangan hidupmu lah yang menjadi diary ‘hidup’ tempatmu mengadu, berkisah dan lain sebagainya (sehingga ada juga ‘kepercayaan’ bahwa kebanyakan perempuan yang menjadi seorang istri sebaiknya meninggalkan kebiasaan menulis diary untuk beralih berbincang dengan suaminya) tidak berlaku dalam diri seorang Nh Dini. Dia tetap menulis, dimana catatan-catatannya ini sangat berguna ketika dia menulis novel “cerita kenangan”.

Nh Dini paling tidak telah membuktikan bahwa “it is possible to be an author as well as a wife at the same time.” :) Meskipun toh akhirnya Jane Austen tidak menikah hingga di akhir hidupnya.

Kedua, Anna Wickham. Penyair dari Inggris (1884-1947) menulis dalam bait pertama puisinya yang berjudul “Dedication of the Cook”:
If any ask why there’s no great She-Poet,
Let him come live with me, and he will know it:
If I’d indite an ode or mend a sonnet,
I must go choose dish or tie a bonnet;
Dalam salah satu percakapan antara Jane dan Tom, Tom menyatakan bahwa tidaklah mungkin seorang perempuan akan menjadi seorang penulis sehandal laki-laki. Tak seorang pun penulis perempuan akan mencapai kesuksesan yang setara dengan laki-laki. Namun Tom tidak menyebutkan alasannya mengapa.

Jika pernyataan Tom ini dikaitkan dengan apa yang ditulis oleh Anna Wickham pada bait pertama di atas, ada hubungan antara profesi menulis dengan ‘kewajiban’ seorang perempuan sebagai istri.

Namun ketika Jane bertanya kepada Mrs. Radcliffe, “Is it difficult to be an author as well as a wife?” tidak dijawab secara gamblang oleh seorang Mrs. Radcliffe.

Bagi para pecinta karya-karya Jane Austen, film “Becoming Jane” lumayan menjadi tontonan yang sedikit memberi gambaran bagaimana seorang Jane Austen akhirnya menjadi seorang penulis. Dia tidak jadi menikahi Tom lelaki yang dicintainya meski miskin, namun juga tidak menikahi Mr. Wisley yang kaya raya yang mengaku mencintainya bukan karena dia berpikir bahwa akan sulit menjadi seorang penulis sekaligus seorang istri. Dia memutuskan untuk tidak menikahi Tom karena dia tahu Tom harus bekerja untuk menafkahi keluarga dan adik-adiknya. Jane juga tetap menolak menikahi Mr. Wisley karena dia tidak mau menikah tanpa rasa cinta.

PT56 13.10 211211

Rabu, November 09, 2011

Idul Adha versus Vegetarian

Beberapa hari lalu menjelang Idul Adha, beranda ef be ku penuh dengan status-status yang kontradiktif, seperti yang terbaca di judul postingan ini. Sebagian dengan gencar menulis betapa pentingnya mengurangi konsumsi daging -- terutama daging binatang yang berkaki empat -- demi ikut mengurangi semakin cepatnya pemanasan global menghanguskan bumi. Di sisi lain orang-orang menulis tentang ikut merayakan Idul Adha dengan memotong kambing atau pun binatang lain yang dianjurkan demi berbagi dengan sesama, terutama para kaum miskin yang mungkin hanya bisa makan daging binatang berkaki empat satu tahun sekali, yakni pada hari raya Idul Adha.


Berhubung waktu kecil aku bersekolah di madrasah ibtidaiyah, aku lumayan hafal di luar kepala mengapa 'diwajibkan'  bagi kaum Muslim yang mampu untuk 'berkorban' dengan menyembelih satu kambing atau tujuh orang bersama berkorban seekor sapi. Minimal sekali dalam seumur hidup. Kalau mau setiap tahun sekali tentu lebih baik (?). 'Korban' kambing (atau sepertujuh sapi) yang telah kita korbankan konon nantinya akan membuat perjalanan menyeberang 'jembatan' menuju surga akan menjadi secepat kilat. Dan semua ini bermula dari kisah Ibrahim yang konon mendapatkan wahyu untuk menyembelih Ismail, anak yang dia tunggu kehadirannya selama beratus tahun. (konon, duluuuu para Nabi selain Isa dan Muhammad hidup hingga ratusan tahun umurnya).


My parents telah memberi contoh kepada anak-anaknya untuk berkorban setahun sekali, dengan menyisihkan uang tiap bulan demi bisa membeli seekor kambing ketika Idul Adha datang. Ini menunjukkan bahwa mampu atau tidak mampu bersifat relatif (seperti juga untuk melaksanakan 'ibadah' naik haji ke Mekkah).


Meskipun begitu, di rumah, yang suka makan daging kambing hanya my parents. Anak-anak tidak begitu suka. Aku pribadi tidak anti makan daging kambing, namun 'hanya' bisa menikmati makan sate kambing. Jenis masakan lain yang bahan utamanya kambing, aku lebih memilih untuk menghindarinya. No any special reason. Hanya karena tidak begitu suka saja.


Ketika aku membaca novel AKAR karya Dewi Lestari (Dee) dimana sang tokoh utama dikisahkan setengah 'cenayang'. Di salah satu 'scene' ditulis betapa dia ketakutan ketika dia melewati sebuah lapangan dimana disana berkumpul binatang-binatang yang siap disembelih karena mata-mata binatang itu menyorotkan ketakutan yang luar biasa. Si tokoh yang 'cenayang' ini merasa sorot mata ketakutan itu 'tertransfer' kedalam dirinya, hingga dia bisa tahu persis ketakutan seperti apa yang dirasakan oleh para binatang itu.


Mungkin aku yang terhipnotis cara Dee melukiskan 'adegan' itu, atau keseluruhan kisah dalam novel AKAR itu. Namun itulah pertama kali aku baru bisa melihat dan mencoba memahami bahwa binatang-binatang itu pun merasakan ketakutan ketika akan disembelih. (Jadi ingat si psikopat dalam film CHANGELING yang menangis ketakukan ketika akan dihukum gantung, tanpa ingat bagaimana dengan sadis dia telah membunuh anak-anak kecil tak berdosa, hanya demi kepuasan psikologisnya semata.)


Untunglah aku tidak pernah begitu menikmati makan daging berkaki empat, meski aku bukan seorang veggie.


Ketika berkisah tentang hal ini kepada Angie, dia pun bertanya, "Don't you think that also happens to chickens, Ma?" FYI, Angie sama sekali menghindari makan daging kambing. Kalau rendang daging sapi masih doyan dia. :)


Absolutely, that makes sense too. Call me a hypocrate then because I still often consume chicken. :-(


Itulah sebabnya ketika my FB buddies berkontradiktif menyikapi Idul Adha, aku memilih apatis. Mulai dari status-status yang menaifkan para pengikut Ibrahim (betapa goblog seorang ayah yang bersedia mengorbankan anaknya demi sebutan 'nabi'), betapa goblog mereka yang percaya binatang yang dikorbankan di dunia ini akan menyelamatkan diri ketika menyeberang jembatan di akhirat ini (lha gimana? aku pernah 'percaya' je ... :-D bukankah semua agama meminta para pengikutnya percaya without reserve? iman itu hanya ada percaya dan percaya. ) sampai status para pendukung pengurangan pemotongan binatang demi menyelamatkan bumi.


Namun akhirnya aku 'terprovokasi' juga menulis komen di sebuah status yang menertawakan para 'veggie' yang dia sebut sebagai 'pahlawan kesiangan'; mosok binatang yang dibela hanya kambing dan sapi maupun kerbau? namun tetap saja  membunuh nyamuk, kecoa dan binatang-binatang kecil lain.


hadeeeehhhhh .... :-P


PT28 16.58 081111

Some comments from my other blog:


bambangpriantono wrote on Nov 8
Wis komeng nang FB
pertamaz ah

afemaleguest wrote today at 12:56 PM
yaaa ;-)

martoart wrote on Nov 8
afemaleguest said
mosok binatang yang dibela hanya kambing dan sapi maupun kerbau? namun tetap saja  membunuh nyamuk, kecoa dan binatang-binatang kecil lain.

kirain banyolan tolol itu berhenti pada "kenapa makan tomat? tomat kan juga punya rasa sakit?".
ternyata masih ada.
(ya tentu banyolan tolol tetap ada selama orang tolol masih bercokol di bumi)

orangjava wrote on Nov 8
martoart said
kirain banyolan tolol itu berhenti pada "kenapa makan tomat? tomat kan juga punya rasa sakit?".
ternyata masih ada.

(ya tentu banyolan tolol tetap ada selama orang tolol masih bercokol di bumi)
T O L O L....???opo To ...........Lol...........??

martoart wrote on Nov 8
orangjava said
T O L O L....???opo To ...........Lol...........??

Mau bilang To'ol aja bingung pak Dhe?

orangjava wrote on Nov 8
martoart said
Mau bilang To'ol aja bingung pak Dhe?

Ora bingung ming ling lung.....gek wegah aku..........gak ono gawean.....To LOL kan lain hehehe

martoart wrote on Nov 8
orangjava said
To LOL kan lain hehehe

http://multiply.com/mu/martoart/image/1/photos/13/600x600/17/go-blog-to-lol.jpg?et=W%2CuEwzNHARsPZzHal5pQNQ&nmid=356658660
orangjava wrote on Nov 8
martoart said
http://multiply.com/mu/martoart/image/1/photos/13/600x600/17/go-blog-to-lol.jpg?et=W%2CuEwzNHARsPZzHal5pQNQ&nmid=356658660
Hahahaha Go Blog...same like To LOL...hehehehe

afemaleguest wrote today at 12:58 PM
martoart said
kirain banyolan tolol itu berhenti pada "kenapa makan tomat? tomat kan juga punya rasa sakit?".
ternyata masih ada.
(ya tentu banyolan tolol tetap ada selama orang tolol masih bercokol di bumi)
sigh. ...

afemaleguest wrote on Nov 8
Kang Marto,
punya tulisan tentang Idul Adha ga?
:-D
bukan tentang bisnis naik hajinya lho ya? tapi tentang pemotongan binatang

martoart wrote on Nov 8
afemaleguest said
Kang Marto,
punya tulisan tentang Idul Adha ga?
:-D
bukan tentang bisnis naik hajinya lho ya? tapi tentang pemotongan binatang
lagi dilanda kemalasan nasional nih...
pengin pijit.

afemaleguest wrote today at 12:59 PM
martoart said
lagi dilanda kemalasan nasional nih...
pengin pijit.

hadeeeeehhhh

wayanlessy wrote on Nov 8, edited on Nov 8
Sama mbaaa...aku juga ga suka makan daging kambing.

Mau komen sedikit OOT ah..

Dulu, aku bertanya apa hewan hewan qurban yg di lapangan surau ketakutan akan dipotong?
Lalu ibuku bilang bahwa kambing dan sapi sapi yg baik hati yg dipotong saat idul Adha merasa bersyukur dan gembira sekali akan dipotong sebagai hewan qurban..karena nasibnya jelas akan dibagi bagikan untuk derma konsumsi bagi yg membutuhkan..dibanding ia mati dipotong di penjagalan mesin untuk kornet di pabrik besar bersama ratusan sapi lainnya.
Makanya aku kecil dulu berani mengelus elus hewan qurbanku dan menyaksikan pertumpahan darahnya. Sekarang mah ogah.

Herannya sampai sekarang aku masih "meyakini" apa kata ibuku tersebut bahkan memakainya sbg analogi yg mensugesti keinginanku jika nanti aku mati dan jasadku masih bisa dimanfaatkan untuk donor dan didermakan pada yg membutuhkan untuk kebaikan dan ilmu pengetahuan. (Sebuah kontradiksi dengan keyakinanku akan sakitnya jenazah yg pemulasarannya harus hati hati -->selain kontradiksi, juga sebuah kaitan juga yg menjembatani dua kondisi berbeda tapi dipakai juga:- Hewan qurban masih hidup, aku sudah mati - tapi sama sama sakit saat golok memotong kulit).

Bedanya, aku bisa menyatakan "consent" tanda kesetujuanku untuk dipotong potong sementara kambing dan sapi maupun hewan i.e. ternak lainnya tidak.(hmm?)

Manusia punya taring sih ya? Sehingga dalam dunia hewan dia pada dasarnya bukan vegetarian. Jadi inget si Singa di film Madagascar yg kemudian jd doyan sushi dan perubahan diet sang Singa digambarkan sebagai happy ending..soalnya ga ada karakter ikan di film itu ya kl ga salah? Seiring kali ya, dengan para veggie pecinta hewan yg membunuh nyamuk kecoak cicak tikus ular dan kepinding yg mampir ke sekitaran mereka?

Jadi...imho, .."kepentingan" bisa banget memanipulasi atau katakanlah mempengaruhi respon dan sensitifitas thdp rasa sakit makhluk lain dan rasa "baik" yg tercipta saat memangsa?

wayanlessy wrote on Nov 8
Uppps.....ya ampun..pas udah disubmit rupanya panjang ih komenku...
permisi ya mbak numpang menuh2in tempatmu mbak..

orangjava wrote on Nov 8
wayanlessy said
Uppps.....ya ampun..pas udah disubmit rupanya panjang ih komenku...
permisi ya mbak numpang menuh2in tempatmu mbak..
Hahaha, was soll das heissen bitte???

rembulanku wrote today at 1:09 AM
simboku dapat lumayan dari tetangga dan saudara
fiewh.... beberapa hari ini aroma gule bikin aku kliyengan..

meski bukan vegatarian tapi aku ogah nyentuh


afemaleguest wrote today at 1:28 PM
rembulanku said
simboku dapat lumayan dari tetangga dan saudara
fiewh.... beberapa hari ini aroma gule bikin aku kliyengan..

meski bukan vegatarian tapi aku ogah nyentuh

Lala,
kebetulan yg diantar ke rumah daging sapi, bukan kambing, jadi aku makan deh, and ga kliyengan, hihihihi

onit wrote today at 2:11 AM, edited today at 2:18 AM
afemaleguest said
Si tokoh yang 'cenayang' ini merasa sorot mata ketakutan itu 'tertransfer' kedalam dirinya, hingga dia bisa tahu persis ketakutan seperti apa yang dirasakan oleh para binatang itu.
jangankan cenayang. penelitian ilmiahnya udah ada kok. pada ayam pula. emang mereka itu ketakutan. dan cara mengurangi ketakutan si ayam adalah dgn membiusnya sblm disembelih. itulah pilihan negara2 barat (& negara maju lainnya). katanya: daging hewan yg stress efeknya gak bagus utk kesehatan.

dan lagi ada perdebatan antara org beragama dgn pengguna bius utk hewan sembelihan itu. menurut org beragama, doa (contoh: bismilah) udah cukup utk meringankan penderitaan hewan2 itu. sedangkan menurut pengguna bius, itu tetap kejam. walaupun masing2 pihak masih ngotot, ada yg ambil posisi tengah: dibius+didoakan.

onit wrote today at 2:15 AM
afemaleguest said
mosok binatang yang dibela hanya kambing dan sapi maupun kerbau? namun tetap saja  membunuh nyamuk, kecoa dan binatang-binatang kecil lain.
aku gak tega bunuh semut, laba2, dll tapi kok masih makan ikan (&kadang ayam) ya? :p

ps: kalo aku nyemprot obat nyamuk di kamar, itu salah si nyamuk masuk2 kamarku, bukan aku bunuh secara langsung huehehe

orangjava wrote today at 5:40 AM
onit said
aku gak tega bunuh semut, laba2, dll tapi kok masih makan ikan (&kadang ayam) ya? :p

ps: kalo aku nyemprot obat nyamuk di kamar, itu salah si nyamuk masuk2 kamarku, bukan aku bunuh secara langsung huehehe

Hati² dengan yang namanya *obat nyamuk* DDT itu racun dan juga buat Manusia....di Jerman (EU) dah lama dilarang!!

onit wrote today at 1:55 PM
orangjava said
Hati² dengan yang namanya *obat nyamuk* DDT itu racun dan juga buat Manusia....di Jerman (EU) dah lama dilarang!!
obat nyamuk jaman skrg byk yg ga pake ddt mbah :)
waktu awal 90-an ada merek yg ngeluarin tanpa ddt, dan itu yg lgsg dipilih oleh ortuku. skrg2 malah ortuku pake obat nyamuk elektrik yg cukup boros (pendingin ruangan = mengusir nyamuk wkwkwkwk).

afemaleguest wrote today at 3:23 PM
orangjava said
Hati² dengan yang namanya *obat nyamuk* DDT itu racun dan juga buat Manusia....di Jerman (EU) dah lama dilarang!!
Pak Dhe yang diinget obat nyamuk zaman kapan yaaaa ...
hihihihihihi ...

afemaleguest wrote today at 1:25 PM
Onit,
aku juga tidak pernah membunuh binatang-binatang kecil itu. khusus nyamuk aku terpaksa membunuhnya setelah dia menggigit dan menghisap darahku, salah sendiri ngusilin aku duluan, hehehehe

btw, aku pakai obat nyamuk elektrik, bukan yang semprotan. :-D

agamfat wrote today at 6:06 AM
Nyate domba, lebih empuk tanpa prengus. Vegetarian baik juga. Di Arab sana kan ternak cum ada domba, nggak ada sapi, ayam, dsb. Jadi itu mungkin juga mekanisme agar uang juga berputar ke peternak yg biasanya miskin.

afemaleguest wrote today at 1:31 PM
agamfat said
Nyate domba, lebih empuk tanpa prengus. Vegetarian baik juga. Di Arab sana kan ternak cum ada domba, nggak ada sapi, ayam, dsb. Jadi itu mungkin juga mekanisme agar uang juga berputar ke peternak yg biasanya miskin.

selalu ada bau bisnis ya Gam?
sama dengan penyelenggaraan "ibadah" haji, hehehehehe

rirhikyu wrote today at 8:53 AM
fiuhhh.. fiuhhh.. nyimak ae deh

afemaleguest wrote today at 1:32 PM
rirhikyu said
fiuhhh.. fiuhhh.. nyimak ae deh
monggo BuMil :-D

afemaleguest wrote today at 1:10 PM
Lessy dear,
the way your Mom convinced you was absolutely very impressive to the little Lessy ;-) and in my opinion until now you still believe in it, it must be because you always adore your Mom ;-)

on the contrary, my parents only taught me to sacrifice one goat on Idul Adha to follow Ibrahim's path. period. and the teaching that human beings are the best creation of God, higher than animals, surely made the little Nana not think from the animals' point of view. I was absolutely not critical when a little. and when I was about to criticize something, my parents as well as my teachers in primary school directly silenced me by saying, "I know better than you do because I am older."

and coincidentally, I read AKAR at the time when I had "converted" to be (candidate) agnostic, letting myself criticize any (religious) teachings I got when a kid.

thank you for sharing your impressive Mom's story. ^__^

afemaleguest wrote today at 1:20 PM
lovely to know that there has been a scientific research about it, Onit, thanks. ;-)

cara pembunuhan dengan pembiusan terlebih dahulu, ini juga termasuk salah satu topik yg dibahas di status beberapa teman. orang Indon yg merasa bahwa membaca basmalah saja dan penggunaan pisau tajam sudah cukup dan toh para binatang itu akan bahagia karena dikorbankan demi Sang Penciptanya (seperti Ismail yg konon lega lillahi taala) tentu menertawakan cara pembiusan binatang itu sebelum disembelih. "masak pemotongan hewan utk Idul Adha disamakan dengan pemotongan hewan yg akan dikonsumsi orang-orang kafir di Eropa?" kata salah satu dari mereka dengan nada sinis.

capek deeeehhhh
   

onit wrote today at 2:02 PM
afemaleguest said
"masak pemotongan hewan utk Idul Adha disamakan dengan pemotongan hewan yg akan dikonsumsi orang-orang kafir di Eropa?" kata salah satu dari mereka dengan nada sinis.

paling ga demen sama kalimat2 kayak gini bah! kalo mo disama2in mah apa2 bisa disamain :p "kang, ente makan daging kan tu orang kafir juga makan daging" huehehe.. sesama manusia kok sibuk mencari perbedaan. coba dibagi artikel ini aja deh http://pormadi.wordpress.com/2011/11/05/2181/

afemaleguest wrote today at 2:41 PM
Onit,
di salah satu milis yg kuikuti, kita sudah pernah membahasnya, thanks anyway for the link ^__^

Selasa, Oktober 25, 2011

Buku Pelajaran Sejarah

Baru tahun akademik ini aku ketiban sampur mengajar mata pelajaran "Sejarah" di kelas 12. Dikarenakan belum ada buku yang ditulis secara bilingual, maka kita menggunakan buku yang hanya ditulis dalam Bahasa Indonesia.Sekolah memilih menggunakan buku Sejarah terbitan Y*dh*****a.
Memasuki term kedua ini pembahasan 'baru' (atau 'telah' ya?) sampai bab dua, yakni "Perkembangan Perekonomian dan Politik Indonesia".
Mungkin karena anak-anak yang telah terkondisi menggunakan English dalam interaksi sehari-hari di sekolah sehingga ketika diskusi menggunakan Bahasa Indonesia menjadi kaku, atau mungkin karena mereka terbiasa menggunakan buku-buku terbitan luar negeri sehingga selalu saja masalah 'bosan' menimpa diskusi di kelas, atau instead of breaking the mirror for my ugly face, I must admit that I am so boring to teach the material.
Kemarin salah satu siswa kelas 12 -- if you follow my note/blog perhaps you will know my favorite student in 'Religious Studies class -- komplen. Ada dua hal yang dia kemukakan:
  1. "Miss, this book or this subject is not supposed to be called as "Sejarah Indonesia", instead it is supposed to be called "Sejarah Politik Indonesia".
  2. "Miss, don't you think that history book must be free from anybody's opinion?" sambil menunjuk beberapa contoh kalimat yang memang jelas-jelas tidak hanya mengungkap 'fakta' yang ada melainkan juga opini sang penulis.
Kebetulan tahun akademik lalu aku mengajar 'History' kelas 7 dimana kita menggunakan buku terbitan C**br****e. Untuk komplen point kedua aku bisa langsung membandingkan bahwa dalam buku terbitan Cambridge, jika akan mengacu 'opini', maka yang dikemukakan dalam buku adalah opini historian baik di masa lalu (ketika suatu peristiwa terjadi) yang kemudian dikomparasikan dengan opini historian di masa kini, sehingga kita bisa mengkaji suatu peristiwa dari beberapa sudut pandang. Dan, memang tak bisa ditemukan kalimat-kalimat yang bias opini si penulis buku.
Sedangkan untuk point pertama, dalam buku terbitan C**br****e, ketika membahas suatu peristiwa, misal perang bla bla bla ... maka akan disinggung juga kehidupan masyarakat di daerah dimana perang terjadi,bagaimana masyarakat menjadi korban, dan lain sebagainya. Sehingga pembahasan menjadi menarik karena tidak melulu membahas 'konferensi Malino' terjadi di satu tempat pada tanggal sekian sampai tanggal sekian, tanpa explanasi yang jelas mengapa konferensi tersebut diselenggarakan, dan bagaimana dampak konferensi tersebut terhadap masyarakat yang tinggal di daerah tersebut.
As simple as that.
WEW.
GL7 09.44 261011

Minggu, Agustus 21, 2011

Toilet

Ini kisah tentang seorang online buddy. Dia seorang gay yang sudah ‘coming out’ dan aktif di LSM yang berkecimpung dalam LBGTIQ (lesbian, biseksual, gay, transgender, interseksual, queer). Bisa dimengerti jika dia lumayan ‘dikenali’ orang karena ke-coming-out-annya dan keaktifannya dalam LSM tersebut. Kita beri saja dia initial ‘A’.

Beberapa saat lalu A komplain tentang ‘perlakuan’ orang-orang yang tentu telah tahu bahwa dia seorang gay ketika dia memasuki public toilet. Orang-orang yang belum tahu bahwa dia adalah seorang gay tentu menganggapnya sebagai laki-laki hetero biasa, sehingga mereka tidak bertingkah yang berlebihan ketika A memasuki sebuah public toilet. Sedangkan bagi mereka yang tahu katanya sering memandangnya dengan sorot mata yang jijik ketika mereka melihat A masuk toilet dimana mereka sedang berada di dalamnya. Bahkan beberapa dari mereka akan langsung terbirit-birit lari keluar toilet seolah-olah A akan melakukan tindakan abusive kepada mereka. Padahal katanya – dan juga banyak orang lain – bahwa para gay ini mrmiliki ‘feeling’ yang kuat untuk mengetahui yang mana yang hetero dan yang mana yang bukan. Dan tentu saja mereka bukanlah abuser sehingga setiap kali melihat laki-laki lain yang berada di toilet akan mereka flirt atau lebih jauh lagi ‘abuse’. 

Akhir dari kisah ini, A mengharapkan di tempat-tempat umum hendaknya disediakan toilet yang lebih dari hanya terbagi menjadi dua ‘gents’ dan ‘ladies’ untuk menghindari ketidaknyamanan para gay dari sorot mata maupun tingkah laku yang menuduh mereka sebagai abuser.

Sementara itu aku punya seorang teman lain yang memiliki pengalaman lain lagi. Dia terlahir dengan memiliki fisik tubuh sebagai perempuan. Dalam perkembangannya dia lebih sering merasa sebagai laki-laki, yang bisa dikategorikan sebagai transeksual/transgender yang sering menggunakan ungkapan “terjebak pada tubuh yang salah”. Meski terlahir sebagai perempuan, secara sekilas banyak orang yang terkecoh melihat penampilannya yang lebih maskulin dibandingkan feminin. Ketika berada di sebuah daerah yang baru dia kunjungi, bukanlah hal yang aneh jika orang menyapanya ‘mas’ dan bukannya ‘mbak’. Beri saja dia initial ‘B’.

Nah, berkenaan dengan kisah A dengan toilet yang diskriminatif, B pun mengalami kejadian yang hampir mirip. Ketika berada di toilet umum, dia sering dipandang dengan sorot mata curiga dan jijik jika dia masuk ke ‘ladies’. Bahkan tak jarang, tiba-tiba dia dihampiri oleh mereka yang bertugas membersihkan toilet, “Salah masuk mas. Toilet untuk masnya sebelah sana!” sambil menunjuk ke ‘gents’. Ketika dia bilang dia perempuan, orang langsung menunjukkan sorot pandang yang tidak percaya, memandangnya dari rambut hingga kaki dengan pandangan menyelidik. Terkadang, tiba-tiba dia dihentikan oleh orang, dan diberitahu, “Salah. Toiletnya di sebelah sana.” Tanpa menggunakan ‘kata ganti’ yang jelas, sehingga dia tidak ‘ngeh’ kalau dia dianggap laki-laki oleh orang yang menyuruhnya pindah. Dia baru ‘ngeh’ ketika dia akan memasuki toilet yang satu lagi dimana dia melihat ada banyak laki-laki di dalam, sehingga dia pun buru-buru mundur.

Dan entah mengapa dengan pengalaman temanku ini, aku sering merasa harus bersyukur dikaruniai tubuh dan jiwa yang dianggap mayoritas sebagai ‘normal’. Waduuuhhh ... kalau aku sampai salah masuk ke ‘gents’ tentu ini disebabkan aku meleng tidak memperhatikan petunjuk dengan jelas.

Kesimpulan: perlu disediakan toilet khusus untuk gay dan transeksual female-to-male.

PT56 09.34 210811

Selasa, Juni 07, 2011

Sekolah Nasional Plus versus Sekolah Bertaraf Internasional

SEKOLAH NASIONAL PLUS VERSUS SEKOLAH BERTARAF INTERNASIONAL


*tulisan ini terinspirasi dari artikel yang berjudul “Harga untuk Sebuah Status: Ketika Kepentingan Kelas Mengalahkan Kepentingan Pendidikan Nasional” tulisan Fajri Siregar yang dimuat dalam Jurnal Perempuan nomor 66 yang bertajuk PENDIDIKAN UNTUK SEMUA.


Untuk memulai tulisan ini, aku kutipkan (tabel) perbandingan Sekolah Nasional Plus versus Sekolah Bertaraf Internasional yang dikutip Fajri Siregar dari skripsi Anita Dwi Ariyani berjudul “”Budaya Sekolah Bertaraf Internasional” FISIP UI.


Sekolah Nasional Plus
  1. Merupakan sekolah swasta
  2. Terbuka untuk masyarakat umum (tidak seperti sekolah internasional rujukan Departemen Pendidikan Nasional)
  3. Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar utama
  4. Menggunakan kurikulum selain kurikulum nasional
  5. Terdapat staf pengajar warga negara asing
  6. Memiliki akreditasi internasional (tentatif)

Sekolah bertaraf Internasional

  1. Sekolah negeri
  2. Menggunakan uang pangkal dan tes masuk yang berbeda dari program sekolah reguler negeri yang bersangkutan (atau sekolah negeri yang lain)
  3. Bilingual
  4. Menggunakan kurikulum selain kurikulum nasional
  5. Staf pengajar lokal

Berbeda dengan Fajri Siregar maupun Anita Dwi Ariyani yang menulis artikel/skripsi berdasarkan riset, aku menulis ini berdasarkan pengalaman pribadi. Sejak tahun ajaran 2008/2009 aku bekerja di sebuah sekolah yang nampaknya dalam artikel/skripsi yang kumaksud di atas dimasukkan dalam kategori Sekolah Nasional Plus, atau pihak penyelenggara sekolah sendiri melabelinya “an international school” tatkala di akhir tahun ajaran 2008/2009 kita telah mendapatkan akreditasi internasional, dan bahkan telah mendapatkan izin untuk menyelenggarakan tes IGCSE (International General Certificate of Secondary Education) untuk para siswa-siswinya di sekolah sendiri tanpa perlu mengirim siswa-siswinya ke Jakarta. Sertifikat yang dikeluarkan oleh University of Cambridge International Examinations ini memungkinkan mereka yang memilikinya untuk langsung melanjutkan kuliah di universitas di seluruh dunia. Di Semarang ada sebuah Sekolah Nasional Plus lain yang konon juga telah mendapatkan izin mengajarkan materi-materi ujian IGCSE namun belum bisa menyelenggarakan ujian sendiri. Siswa-siswnya masih harus berangkat ke Jakarta untuk itu.


SMA N 3 Semarang

 
SEKOLAH BERTARAF INTERNASIONAL


Kebetulan ketika Angie diterima di SMA N 3 Semarang tahun ajaran 2006/2007, sekolah yang bersangkutan dipilih oleh pemerintah untuk dijadikan pilot project sekolah bertaraf internasional. Istilah lainnya angkatan Angie dijadikan kelinci percobaan. Satu hal yang dikomplain secara berulang-ulang hingga angkatan Angie lulus tahun 2009 adalah bahwa angkatan Angie masih berlaku ‘rayonisasi’ sehingga jumlah NEM berapa pun waktu itu jika seorang siswa tinggal di dalam satu rayon dengan SMA N 3 akan tetap diterima.


Hal-hal lain yang kusoroti tentu adalah kesiapan human resources yang dimiliki. Tidak semua guru yang mata pelajarannya seyogyanya disampaikan 80% menggunakan Bahasa Inggris bisa berkomunikasi dalam bahasa ini dengan fasih. Sehingga mereka hanya sekedar mengucap salam dalam Bahasa Inggris, kemudian mengatakan, “Ok students, now you open your book on page so and so.” Setelah itu langsung switch dalam bahasa Indonesia. Ada juga seorang guru yang saking bingungnya materi apa yang akan diberikan, hanya memberikan materi-materi ajar dalam bentuk power point, tanpa menjelaskan apa pun, (the material was written in English for sure) kemudian membebani anak-anak untuk belajar sendiri.
 

FYI, angkatan Angie hanya menggunakan NEM untuk menentukan seorang siswa diterima atau tidak. Baru angkatan di bawah Angie pada waktu seleksi masuk ada tes khusus untuk menguji kemampuan Bahasa Inggris calon siswa, selain prioritas rayonisasi dihapuskan.


Setelah SMA N 3 Semarang, di tahun akademik berikutnya sekolah-sekolah ‘favorit’ lain pun kemudian mengikuti ‘fenomena’ mengadakan ‘program’ sekolah bertaraf internasional ini. Namun berbeda dengan SMA N 3 Semarang, sekolah-sekolah lain membatasi jumlah kelas yang direncanakan akan dikelola sebagai sekolah bertaraf internasional. Maka hal ini pun menyebabkan ‘gap’ antara kelas-kelas reguler dengan kelas-kelas ‘bertaraf internasional’; hal yang tidak ditemukan di SMA N 3 Semarang, karena seluruh kelas yang ada mengikuti program kelas bertaraf internasional.  Yang mungkin menimbulkan kesenjangan di SMA N 3 Semarang adalah perbedaan kelas akselerasi dan kelas reguler. Untuk kelas akselerasi para siswa hanya butuh waktu dua tahun untuk menyelesaikan SMA-nya, sehingga dibutuhkan kecerdasan dan kedisiplinan di atas rata-rata. Memang SPP kelas akselerasi lebih mahal dibandingkan kelas reguler namun hal ini tidak sangat menimbulkan kesenjangan di bidang kelas sosial.


Dengan semakin maraknya kelas-kelas ‘bertaraf internasional’ yang menggunakan bilingual dalam interaksi sehari-hari (atau bisa juga dikatakan 75% berbahasa Indonesia dan 25% berbahasa Inggris, hal ini lagi-lagi berhubungan dengan kekurangsiapan human resources yang ada), maka semakin banyak buku yang ditulis dan dipublikasikan yang menggunakan bilingual. Tentu saja buku-buku ini menggunakan kurikulum nasional yang penyajiannya satu halaman berbahasa Indonesia, di halaman sebelahnya berbahasa Inggris. Maka, jika dalam tabel yang ditulis oleh Anita DA sekolah bertaraf internasional menggunakan kurikulum selain kurikulum nasional, sekolah-sekolah sejenis yang ada di Semarang pelaksanaannya tidak seperti itu.
 

SEKOLAH NASIONAL PLUS


Fajri Siregar menyoroti beberapa mata pelajaran yang menyebabkan seorang anak yang belajar di Sekolah Nasional Plus siap menjadi warga negara dunia (bukan warga negara lokal Indonesia) seperti Sejarah, Geografi dan Civics (PPKn). Terutama untuk Civics, nilai yang ditanamkan pihak sekolah adalah suatu bentuk kewarganegaraan dunia (global citizenship). Pelajaran dan nilai yang disampaikan mendorong siswa untuk bisa memahami perbedaan kultural, dan bersikap toleran dalam menghargai perbedaan antar bangsa. Di sekolah tempat Fajri melakukan riset, ada mata pelajaran Indonesian Studies yang merangkum pelajaran Sejarah, Geografi (tentang Indonesia?) dan Bahasa Indonesia.

Fajri menyampaikan kritik bahwa dengan memberikan mata pelajaran dengan bahan ajar seperti yang dikemukakan di atas – terutama Civics – sekolah akan menghasilkan siswa-siswi yang tidak begitu mencintai bangsa sendiri, kurang memahami sejarah bangsa, dan kurang memiliki rasa nasionalisme yang bisa dipertanggungjawabkan.


Di sekolah tempat aku ikut mencerdaskan kehidupan bangsa, memang pelajaran Sejarah dan Geografi tidak membahas segala sesuatu yang langsung berkenaan dengan Indonesia. (Dan kita tidak memiliki mata pelajaran Indonesian Studies.) Karena hasil akhir yang akan dicapai adalah seorang siswa lulus IGCSE test, bahan ajar yang disampaikan adalah materi-materi yang diterbitkan oleh Cambridge University. Materi-materi Sejarah dan Geografi dari Cambridge University ini merangkum Sejarah dunia juga Geografi dunia.
 

Hasilnya memang mengecewakan. Selain mereka ‘hanya’ mengetahui bahwa Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945, di luar itu, nol. Jangan tanya tentang perang kemerdekaan yang terjadi setelah 1945, pemberontakan Kartosuwiryo tahun 1948, ‘masuknya’ Irian Barat tahun 1963, G30S PKI tahun 1965 dan lain-lain.


Setelah selama dua tahun ajaran 2008/2009 dan 2009/2010 tidak ada mata pelajaran Civics di kelas high school (7-12) mulai tahun ajaran 2010/2011, Civics diadakan, menggunakan buku terbitan lokal yang bilingual. You can guess response yang muncul dari para siswa => big disinterest.  But at least, memang dengan diadakannya mata pelajaran satu ini, para siswa mendapatkan eksposure apa-apa yang terjadi di dalam negeri sendiri. Tidak nol sama sekali.


Dari beberapa topik yang kubahas di kelas 9, apa yang dikhawatirkan oleh Fajri memang terlihat. Contoh: ketika membahas tentang klaim Malaysia atas batik dan beberapa cultural items yang lain, anak-anak kelas 9 lebih cenderung menyalahkan pemerintah yang tidak memberi perhatian yang cukup pada kekayaan-kekayaan budaya lokal yang kita miliki. Ketika kuingatkan tentang penjajahan secara kultural di bidang makanan (mereka lebih mengenal salad ketimbang lotek, spaghetti ketimbang bakmi, burger ketimbang serabi, dll), musik (lebih mengenal Justin Bieber ketimbang Sheila on Seven, lebih mengenal K-music ketimbang campursari, dll), tentu saja mereka tidak merasa dijajah sama sekali.


BAHASA INDONESIA


Kebetulan kita memiliki pelajaran Bahasa Indonesia yang tentu saja menggunakan buku terbitan lokal; empat sesi seminggu untuk kelas 1-9, dan dua sesi seminggu untuk kelas 10-12. Jika dibandingkan dengan English yang anak-anak dapatkan 10 sesi seminggu (dari kelas 1 sampai kelas 12) memang tidaklah seimbang.  Namun hal ini lebih bagus dibandingkan dengan sekolah dimana Fajri melakukan riset yang menggabungkan mata pelajaran Bahasa Indonesia ke dalam Indonesian Studies bersama dengan Sejarah dan Geografi.


Dikarenakan eksposure yang kurang, maka satu ‘kekurangan’ yang paling terlihat menonjol adalah penguasaan kosa kata, idiom, dan peribahasa dalam Bahasa Indonesia. Anak-anak terlihat lebih lihai dalam menulis maupun memberikan presentasi dalam English dibandingkan dalam Bahasa Indonesia, walaupun dalam percakapan sehari-hari mereka bisa menggunakan Bahasa Indonesia dengan lancar. Jika boleh memilih, mereka lebih mudah menuangkan pikiran dalam bahasa tulis maupun bahasa lisan (ketika harus memberikan presentasi) in English.


RELIGIOUS STUDIES


Selama dua tahun ajaran 2008/2009 dan 2009/2010 tidak ada ‘Religious Studies’ dalam kurikulum high school. Untuk primary school, anak-anak masih mendapatkannya dengan menggunakan bahan ajar yang menanamkan budi pekerti dan menghormati hak hidup orang lain.
 

Mulai tahun ajaran 2010/2011 kelas high school mulai mendapatkan mata pelajaran Religious Studies dengan bahan ajar yang diambil dari sini. Kelas 7-9 mendapatkan materi dari sini yang berbeda dengan kelas 10-12diambil dari sini. Khusus untuk kelas 10-12 bahannya berupa bahan ajar yang mempersiapkan anak-anak siap mengikuti IGCSE test. Namun intinya sama.

Seperti yang telah kutulis di beberapa post sebelum ini, anak-anak mempelajari lima jenis agama sekaligus, Hindu (kelas 10-12)/Buddha (kelas 7-9), Islam, Christianity, Judaism, dan Sikhism. Dalam hal ini, menurutku pribadi, bahan ajar di mata pelajaran Religious Studies memiliki poin positif lebih tinggi dalam hal nilai-nilai kehidupan (values in life) dibandingkan anak-anak yang bersekolah di sekolah yang memberikan bahan ajar sesuai dengan agama yang dianut seorang siswa saja. Anak-anak di sekolahku memiliki rasa toleransi yang lebih kepada anak-anak yang beragama lain. Jika yang diharapkan oleh para orang tua lebih menitikberatkan pada relijiusitas dari mata pelajaran Religious Studies, tentu saja bahan ajar yang diambil dari website di atas tidak sesuai. Untuk mengenal ritual-ritual lebih di masing-masing agama tentu saja menjadi tanggung jawab orang tua masing-masing.


KESIMPULAN
 

Masing-masing jenis sekolah memiliki keunggulan dan kekurangan yang berbeda. Tentu saja kita tidak bisa mengharapkan hasil yang 100% bagus di segala lini, terutama apakah akan mendidik anak-anak sebagai warga negara dunia atau warga negara lokal; apakah akan menjadikan anak-anak benar-benar bilingual sejati (atau bisa juga ditambahkan dengan bahasa asing lain) dengan kemampuan menulis dan berpidato yang setara di kedua bahasa. Pihak orangtua tentu saja tidak bisa begitu saja lepas tangan dan menyerahkan segalanya kepada pihak sekolah.

GL7 14.00 070611

Kamis, Mei 26, 2011

Tulang Rusuk oh Tulang Rusuk

Di lapak sebelah, Bulan Maria alias Lala menulis tentang bahwa dia tidak peduli dia tercipta dari tulang rusuk siapa, lelaki yang mana. ^_^ Bahwa konon ada dogma bahwa menikah itu ibadah, bahwa ada kepercayaan tentang setiap manusia punya pasangannya masing-masing sehingga menikah itu hukumnya kudu alias wajib. Bisa diklik di sini.


Lalu bagaimana dengan yang ternyata tak juga segera mendapatkan pasangan? Bagaimana pula dengan seorang laki-laki yang memiliki istri banyak? (Dia tak lagi memiliki tulang rusuk? karena telah dipakai olehNya untuk menciptakan perempuan-perempuan yang menjadi istrinya?)


Well, tulisan yang tentu bisa dimaknai lebih dari hanya satu interpretasi.



Anyway, aku penasaran dengan apa yang dia tulis 'fakta mengatakan jumlah perempuan lebih banyak dari jumlah laki-laki'. Hal ini membuatku browsing yang menghasilkan statistik di

sini

Total 119 630 913 (jumlah laki-laki) 118 010 413 (jumlah perempuan) 237 641 326 (jumlah total)



Check the site yah? Jelas bahwa jumlah laki-laki lebih banyak dibanding jumlah perempuan.



TULANG RUSUK



Seorang komentator menyebutkan bahwa penciptaan Hawa (perempuan) dari tulang rusuk Adam (laki-laki) itu bermakna bahwa mereka setara sehingga mereka akan berjalan bersisian. Bukan dari kepala, juga bukan dari kaki, agar tidak menginjak maupun diinjak. Persis apa yang ditulis di puisinya Kahlil Gibran.



Maka aku pun berkomentar bahwa dalam Alquran tak ada satu ayat pun yang menyebutkan bahwa Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam. Jika ada hadits yang menyebutkan demikian maka hadits itu tentu merujuk ke Kitab-Kitab suci yang diturunkan kepada Nabi-Nabi sebelum Muhammad. Dalam Jewish mythology disebutkan bahwa setelah menciptakan Adam, dan Adam kesepian di surga, Tuhan menciptakan manusia berjenis kelamin perempuan dari tanah, sama persis dengan Adam yang juga diciptakan dari tanah. Namanya Lilith. Konon karena sama-sama dibuat dari tanah, Lilith ini merasa setara dengan Adam. Jika berdebat dengan Adam, Lilith tidak pernah mau mengalah. Bahkan konon tatkala bercinta dan Adam menyuruh Lilith berbaring di bawahnya, Lilith pun protes keras. Maka Adam pun komplain kepada Sang Pencipta.



Tak mau membuat manusia ciptaanNya yang Dia bangga-banggakan di hadapan para malaikat maupun iblis ini merana, maka Tuhan pun membuang Lilith jauh-jauh. Sebagai gantinya, Tuhan menciptakan Hawa yang diambilkan dari tulang rusuk Adam. Merasa diciptakan dari tulang rusuk Adam, maka Hawa pun memiliki sifat penurut, mengalah dan sejenisnya. Adam pun bahagia hidup di surga bersama Hawa, sampai terjadi tragedi buah apel. Eh, khuldi yak?



Menyitir sebuah hadits misoginis yang menyebutkan bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk laki-laki, sedangkan 'tekstur' tulang rusuk itu bengkok, maka tidak heran jika perempuan pun 'bengkok' alias tidak lurus. Padahal Alquran kan mengatakan "jalanlah di jalan yang lurus". Maka yang bengkok-bengkok ini pun sifatnya 'salah'. Oleh sebab itu, hadits misoginis ini pun berbunyi, "Jika perempuan melakukan kesalahan, maka pukul lah ia agar lurus kembali." Nah ... holy shit banget kan?



What do you think of the background of my online buddy to write such a post?

What do you think of my idea when writing this? hihihihi ...



PT28 20.48 260511

Ada kesalahan di dalam gadget ini