Rabu, Desember 22, 2010

Perempuan = Dekorasi?

PEREMPUAN = DEKORASI?

“Aku suka perempuan cerdas,” kata lelaki itu, di pertemuan yang pertama. Setelah obrolan antara aku dan dia berjalan selama kurang lebih dua jam.

Aku hanya tersenyum tipis. Ini bukan yang pertama kali seorang laki-laki ‘flirt’ aku dengan mengatakan hal tersebut.
“Perempuan cantik dan seksi itu bertebaran dimana saja. Aku bisa menemukan mereka di mana pun dan kapan pun. Tapi kalau perempuan cerdas? Nah ... that is really something,” tambahnya lagi.

“Tahukah engkau banyak laki-laki justru tidak menyukai perempuan yang cerdas?” sahutku dengan nada datar, untuk menunjukkan kepadanya bahwa rayuannya tidak mempan membuatku melambung ke awan.

Mimik wajahnya terlihat sedikit kaget mendengar perkataanku itu. Mungkin juga ditambah nada datar yang kupilih, plus tentu dia tidak menemukan rona muka malu-malu tapi nafsu di wajahku.

“Lelaki yang tidak menyukai perempuan cerdas tentu karena lelaki itu tidak pede, karena kalah cerdas.” Katanya.

“Memang ...” jawabku, tetap dengan nada datar, tanpa ekspresi berlebihan.

“Namun aku bukan tipe lelaki yang seperti itu Na. Meski mungkin pendidikan formalku tidak setinggi pendidikanmu, aku yakin aku ga kalah cerdas dibandingkan kamu, karena aku hobi membaca. Coba kalau kamu datang ke rumahku, kamu bisa meminjam buku-bukuku. Untuk membaca semuanya, kamu butuh lebih dari tiga tahun, itu dengan catatan satu hari kamu membaca satu judul buku.” Katanya, setengah membanggakan diri.

“Dan kamu juga bukan lelaki pertama yang merayuku dengan mengatakan hal yang sama,” sahutku tajam.

Aku ingat seorang mantan rekan kerja yang di mataku sangat cerdas namun memilih seorang istri yang di mataku kecerdasannya biasa-biasa saja, meski memiliki kecantikan luar yang sangat memikat. Setelah berkenalan dengan adiknya, perempuan, yang tak kalah cerdas, aku baru tahu alasannya. Di mata kakak laki-lakinya itu, perempuan hanyalah ‘dekorasi’. Dia cukup bangga tatkala berjalan didampingi oleh seorang perempuan yang jelita dan dikagumi oleh orang yang memandangnya. “Wah, mas, istrimu cantik sekali?”

 Alasan kedua, perempuan yang menjadi istrinya itu tipe perempuan yang berprinsip, “whatever my husband says, I will follow...” 

“Aku sadar hal tersebut ketika terjadi adu argumentasi yang lumayan alot di rumah, tatkala aku memutuskan untuk pergi ke Amerika untuk melanjutkan kuliah. Suamiku mendukung penuh, ayahku juga. Herannya yang tidak mendukung adalah ibuku dan kakak laki-lakiku itu. “ cerita sobatku. “ “Kakakku sempat bilang, bahwa kalau aku adalah istrinya, dia tidak akan membiarkan aku pergi ke Amerika. Seperti ibuku, dia lebih menyuruhku tinggal di Indonesia dan berkonsentrasi untuk memiliki anak. You know ...”

Laki-laki cerdas ternyata tidak selalu pede menghadapi perempuan cerdas. Meski tentu aku tahu ini hanya sekedar masalah pilihan hidup.

---------- ---------- ---------- ----------

“Aku heran dengan pendidikan Bahasa Inggris di negara kita ini. Dengan memberikan pelajaran Bahasa Inggris selama kurang lebih empat jam seminggu, dari kelas 1 SMP sampai kelas 3 SMA, seharusnya paling tidak seorang lulusan SMA mampu berbicara menggunakan Bahasa Inggris. Yah ... paling tidak dalam situasi yang ringan, misal menerima telpon, pesan makan di restoran, menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tidak rumit. Namun kenyataannya pada umumnya, aku ulangi lagi, pada umumnya, lulusan SMA masih banyak yang belum bisa menggunakan Bahasa Inggris dalam kegiatan sehari-hari. Nah ... kamu kan guru Bahasa Inggris. Apa pendapatmu?” tanya lelaki yang sama. Ini pertemuan kita berdua.

“Banyak alasan mengapa terjadi hal yang kamu kemukakan tadi. Tapi aku yakin, faktor guru memang sangat memegang peran penting dalam membuat seorang siswa suka belajar Bahasa Inggris atau tidak. Terutama guru yang mengajarkan Bahasa Inggris kepada seorang anak untuk pertama kali. Karena banyak di antara siswaku atau mahasiswaku yang mengaku mereka dulu tidak suka pelajaran Bahasa Inggris karena tatkala duduk di bangku SMP, mereka tidak menyukai gurunya. Setelah lulus kuliah, mau mencari pekerjaan, baru mereka kelabakan ingin memperdalam kemampuan Bahasa Inggris mereka. Bla bla bla ...”

Tatkala aku menjelaskan dengan serius, kulihat laki-laki di hadapanku itu menatap wajahku dengan tatapan mata yang, entah mengapa, aku menyimpulkan dia tidak mendengarkan penjelasanku dengan seksama. Tak lama kemudian, sambil tetap memandang wajahku dan tersenyum-senyum yang sayangnya aku tak mampu menangkap maknanya, dia menggerakkan tangannya, memberiku tanda untuk mendekat kepadanya, dan berbisik,

“Kamu tahu ga Na? Aku ga ndengerin apa yang kamu katakan. Aku malah asyik memandang indahnya lesung pipit di pipi kirimu. Kamu tahu kah kamu manis sekali kalau tersenyum?”

###

Ternyata dia sama saja dengan para lelaki lain yang menganggap perempuan hanyalah barang dekorasi yang cukup untuk dipandangi dengan nikmat. Dan bukan untuk didengarkan apa yang dia katakan, rangkaian argumentasi yang keluar dari otaknya!

“Aku menyukai perempuan cerdas,” yang dia katakan di pertemuan kita pertama hanyalah rayuan gombal kosong.
Bikin ENEG!

PT28 18.25 221210

Sabtu, Desember 18, 2010

Car Free Day 19 Desember 2010 di Semarang


Catatan Tercecer dari Car Free Day 
 
Setelah tertunda satu minggu dari rencana semula, 'event' Car Free Day akhirnya di Semarang diselenggarakan pada tanggal 19 Desember 2010, dari pukul 05.00 sampai (katanya) pukul 10.00, dari bundaran Tugumuda sampai depan Mal Paragon. Setelah sekian minggu (atau bulan?) berlalu tanpa ada event bersama dengan teman-teman pesepeda Komunitas b2w Semarang khususnya, dan komunitas-komunitas lainnya, maka bagiku pribadi event CFD kali ini merupakan kesempatan 'langka' yang sangat berharga digunakan untuk berkumpul dengan teman-teman.

Ada beberapa kejadian yang ingin 'kulestarikan' lewat tulisan ini.

(1) Alhamdulillah banget beberapa merchandise yang dibawa ke venue oleh Darmawan a.k.a. Boil Lebon sang humas b2w Semarang laris manis, terdiri dari kaos jersey b2w Semarang dengan warna 'kebesaran' bike-to-work yakni kuning (harga Rp. 85.000,00); kaos b2w lain yang berwarna putih (harga Rp. 75.000,00); dan satu 'paket' yang berisi bike tag, sticker, plus pin (harga Rp. 20.000,00).

(2) Sebuah kejadian yang bagiku lumayan menyesakkan dada adalah tatkala ada seorang laki-laki usia paruh baya bertanya kepadaku, "Jualan kaos ya mbak?" Aku jawab, "Iya pak. Ini yang kuning kaos jersey b2w, ..." belum selesai aku berbicara, dia sudah memotong dengan mengatakan, "Saya bukan b2w, saya anggota komselis." Terus ngeloyor pergi. !@#$%^&*()_!@#$%^&*()

Kemudian orang yang sama mendekati teman yang lain, yang kebetulan sedang memasukkan bike tag, sticker, plus pin kedalam sebuah 'paket'. (NOTE: semua 'berhiaskan' logo b2w.) Kulihat orang itu membeli dua buah paket. Kebetulan sebelum orang tersebut pergi, ada seorang teman yang didapuk sebagai ketua komselis, nyamperin. Orang yang tak kukenal itu, menyodorkan dua buah paket bike tag dll tersebut ke ketua komselis sambil bertanya, sedikit ragu-ragu, "Mas, saya beli paket bike tag ini boleh? Kalau saya pasang di sepeda boleh?" Sang ketua komselis menjawab datar, "Boleh pak boleh ..."

Kesimpulanku: apa orang mengira b2w dan komselis itu sejenis aliran ya? Atau konon seperti komunitas b2w Jakarta yang sudah memiliki 'sempalan' yakni 'back to bike', dan anggotanya HARAM hukumnya untuk menyeberang komunitas?

Introspeksi diri: anggota b2w sebaiknya tidak berhenti mengampanyekan bahwa b2w bukanlah kumpulan pesepeda yang eksklusif. Semua orang boleh memasang bike tag b2w, tidak peduli mereka anggota komunitas sepeda lain, misal (di Semarang, SOC, Gagak Rimang, SMBC, Balung Tuwo, TendBir, you name it!) Semua orang juga boleh membeli dan mengenakan kaos jersey b2w. Slogan "APA PUN SEPEDANYA, YANG PENTING BERSEPEDA KEMANA PUN KITA PERGI" harus tetap didengungkan.

(3) Seorang lelaki yang membeli bike tag heran mengapa kita menjualnya kali ini, padahal beberapa tahun lalu kita membaginya gratis. Dia bercerita mendapatkan bike tag b2w gratis tahun 2008 (waktu kita mengadakan event rolling thunder pertama bareng SOC, kita memang sempat membagi bike tag gratis kepada para pesepeda yang kita temui waktu itu.) Namun bike tag yang dia miliki itu hilang karena dijatuhcintai orang yang tidak tahu caranya bagaimana memperoleh bike tag. Dan dia telah kehilangan bike tag DUA KALI! WAAAAHHH ...

(4) Setahuku penyelenggaraan CFD dari jam 5 pagi sampai jam 10 pagi. Namun ternyata baru pukul 9 'pagar betis' sudah pergi sehingga jalan Pemuda sudah dilewati kendaraan bermotor lagi. :-((

(5) Kenapa pak ketu om Salam Mesra ga keliatan tadi ya?

Yang mau nambahi, monggooooooooooo :)

See you on the following CFD!

Nana Podungge
Sekretaris b2w Semarang
PT56 12.00 191210

Senin, November 29, 2010

Mari Bersepeda, demi Ibu Bumi


MARI BERSEPEDA, DEMI IBU BUMI

Dikarenakan artikel yang berasal dari alamat ini Bersepeda karena trend beredar di milis komunitas b2w, aku jadi bernostalgia dengan tulisan-tulisanku sendiri yang kutulis pada tahun 2008, tatkala aku adalah seorang newbie di jajaran para pesepeda ke kantor. Ada beberapa tulisan yang kuhasilkan waktu itu, mulai dari bagaimana seorang bernama Aluizeus Triyono (Aluizeus ) mempromosikan tentang bersepeda ke kantor di site-ku di multiply (Nana's Cyber Home  ); pertama kali komunitas b2w Semarang dibentuk (26 Juni 2008); pertama kali aku menjalani bersepeda ke kantor; keragu-raguan Angie, anakku, akan keberhasilan ‘gerakan moral’ pencinta lingkungan untuk memasyarakatkan bersepeda ke kantor; pertama kali CNR seorang diri; tulisan tentang pak Wargo, salah satu ‘role model‘ b2wer Semarang mengingat kekonsistenannya bersepeda ke kantor (4 kali sehari) dan jarak yang lumayan jauh ditempuh, 70 km pulang pergi setiap bersepeda ke kantor, promosi bike-to-work; dll, dll.

Di bawah ini kusertakan beberapa alamat postinganku di blog Serba Serbi Kehidupan

Bersepedaan yuk? Bersepedaan, yuk?
B2w Semarang B2w Semarang
Bike to work Bike to work
The First time The First Time ...
Ngepit menyang kantor Ngepit menyang kantor
Bike to work, yuk? Bike to work, yuk?
Promosi b2w Promosi b2w
Pengalaman 7 Juli 2008 (alias CNR sendirian pertama kali) CNR sendirian 7 Juli 2008
Sepedaku, sepedamu, sepedanya Sepedaku, sepedamu, sepedanya
Bikers on the street Bikers on the street
Bersepeda oh asyiknya Bersepeda, oh, asyiknya
Setelah berbike-to-work Setelah berbike-to-work

Setelah dua tahun berlalu, introspeksi apa yang bisa kulakukan?

Anggota komunitas b2w Semarang tentulah telah jauh berlipat ganda ketimbang ketika pertama kali kita berkumpul untuk ‘mendeklarasikan’ berdirinya komunitas b2w Semarang, yang waktu itu hanya dihadiri oleh 11 orang. Apakah dengan ini aku bisa menunjukkan kepada Angie bahwa keragu-raguannya akan keberhasilan gerakan moral pecinta lingkungan untuk mengurangi polusi udara dengan mengurangi penggunaan kendaraan bermotor tidak terbukti?

Jikalau kata ‘ngetren’ perlu digunakan untuk lebih menaikkan prestige para b2wer, bolehlah kita memakainya untuk lebih mempromosikan bersepeda ke kantor/kampus/sekolah. Namun mengingat segala sesuatu yang ‘trendy’ itu akhirnya akan menjadi ‘kuno’ dan tak lama kemudian akan ditinggalkan, sebaiknya memang kita lebih mempromosikan pentingnya kita bersepeda ke kantor; yakni untuk ikut mengurangi polusi udara, mengurangi ketergantungan kepada sumber daya alam yang satu saat nanti akan habis jika kita tidak menggunakannya secara cermat, sekaligus untuk lebih menjembatani antara the haves dan the haves-not; antara sang akademisi dengan para pekerja pabrik; antara pegawai negeri kelas menengah ke atas dengan para penjual siomay, dst.

Masih ingat kisah seorang teman yang bekerja di Indonesia Power tatkala dia mempromosikan bersepeda ke kantor kepada rekan-rekan kerjanya. Mereka menolak dengan alasan, “bersepeda mengingatkanku kepada masa sulit dulu, sekarang sudah enak masak disuruh sulit-sulit lagi nggenjot pedal sepeda? Sorry deh.”

Juga kisah seorang teman yang mengaku sebagai salah satu founding father b2w Indonesia (bahkan sebelum Om Toto yang sekarang berada di posisi nomor 1 b2w Indonesia) bergabung dengan komunitas b2w. “b2w ingin menjembatani antara kaum kaya dan kaum miskin. Namun apa daya tatkala kita berusaha untuk mengumpulkan dana dan disumbangkan kepada para penjual siomay tersebut untuk dibelikan sepeda yang lebih layak dan nyaman digunakan, mereka malah lebih memilih untuk menabungnya dan membelikan sepeda motor.”

By the way, di tempat kerjaku, aku sebagai trendsetter bersepeda ke kantor sejak Juli 2008, sampai sekarang aku tetaplah menjadi satu-satunya b2wer. Beberapa saat lalu ada seorang rekan kerja yang ngikut, namun tak lama kemudian dia berhenti. Alasan utama dia bersepeda ke kantor ternyata karena ingin menguruskan badan. Berhubung setelah sekian lama tak juga berkurang timbangan berat badannya, dia pun patah semangat.

Memang masih panjang perjalanan kita untuk ikut menyelamatkan bumi. AND DON’T GIVE UP EASILY. Kembali ke motto awal b2w ‘kalau ga kita mulai dari diri sendiri, lalu siapa?’

PBIS 11.49 301110

Jumat, November 05, 2010

Some pictures of Merapi's eruption

seorang anak sekolah segera lari setelah Merapi meletus

Tim pencari korban ...

Tim SAR sedang menyisiri daerah letusan untuk mencari korban yang barangkali tertimbun lahar dingin.
Tim relawan
Awan panas yang konon panasnya mencapai 500 derajat Celcius, yang dikenal oleh orang-orang sekitar sebagai 'wedus gembel'
Di Jalan P. DIponegoro Jogja, hari Jumat 5 November 2010
Banyak pohon tumbang di Muntilan karena tebalnya abu vulkanik yang menempel.
Keindahan yang berakibat korban yang terkenal semburan awan panasnya ...
Merapi

Merapi Meletus ...


Tadi pagi, tergelitik dengan sebuah status seseorang yang kebetulan berada di list FB-ku, aku menulis komentar seperti berikut ini:

hai manusia
tak sadarkah kau aku murka
karena perlakuanmu pada alam?

jangan salahkan aku untuk terus semburkan...
semua yang penuhsesaki perut bumi
kerna salahmu sendiri

maka
diamlah kau sekarang!

*merapi bersuara mewakili diri sendiri*

Status yang kukomentari menulis tentang sesuatu yang secara singkat memberi instruksi agar Merapi diam, alias berhenti meletus. Aku membacanya sebagai seorang manusia yang terdengar arogan untuk memerintahkan Merapi berhenti meletus. Itu sebab aku menulis komen seperti yang kutulis di atas.

Jawaban si pemilik status baru membuatku 'ngeh' bahwa dia menulis status tersebut sebagai sang Pencipta. dia menulis begini:

nana......mari kita flashback.
manusia diciptakan menjadi apa?
dan mahluk diciptakan menjadi apa?

...bahkan malaikat pun pernah bersujud.
merapi itu ladang syaitan kesesatan. karenanya, banyak timbul kemusyrikan

MERAPI. diam kau!

keren kan dia? bisa membaca kata Penciptanya? ck ck ck ck ... (atau bukannya sebenarnya dia seperti yang kutulis di sebuah note yang kuberi judul DOA, bahwa dalam berdoa manusia cenderung mendikte Tuhannya!) dia beranggapan bahwa sang Pencipta memiliki cara berpikir seperti makhluk ciptaanNya? dan dia pun lupa salah satu 'sifat Tuhan' adalah "mukhalafatul lilhawaditsi" => Allah itu tidak serupa dengan makhlukNya.

Manusia dan alam sama sama makhluk ciptaanNya (bagi yang percaya adanya Tuhan tentu saja). Namun konon karena kita adalah makhluk ciptaan yang paling unggul ~ dikarenakan kita dikaruniai akal pikiran ~ pun merasa layak memperlakukan alam semaunya. Sejak manusia dengan akalnya mampu menciptakan benda-benda, dia pun tak pelak telah merusak alam semesta (misal kendaraan bermotor telah menyebabkan polusi udara yang kian parah dari tahun ke tahun.)

Sementara itu, para pakar lingkungan percaya bahwa alam memiliki sifatnya sendiri untuk berkomunikasi, sekaligus untuk menyembuhkan diri.

Dan Merapi meletus adalah salah satu caranya berkomunikasi kepada kita, sesama makhluk Tuhan, bahwa alam yang telah rusak ini (siapa lagi yang merusaknya kalau bukan manusia?) perlu melakukan sesuatu untuk menyembuhkan diri. NATURE HAS ITS OWN AMAZING WAY TO HEAL ITSELF, meski butuh waktu yang tidak sebentar.

Sehingga, bagaimana mungkin kita menuduh Tuhan murka ke kita?
Mari kita perlakukan alam dengan bersahabat.

---------- ---------- ----------
PT56 22.22 051110

P.S.
Sedikit coretan tentang kegundahan dan keprihatinan. :-(

Minggu, Oktober 10, 2010

Sex outside wedlock, anyone?

Obrolan tentang TES KEPERAWANAN di milis yang kuikuti (Jurnal Perempuan) melebar menjadi semacam ajang curhat bagi beberapa anggota yang merasa tidak keberatan untuk berbagi pengalaman. Hal ini mengingatkanku pada tulisanku di blog tiga tahun yang lalu, yang kuberi judul FREE SEX: CO-CULTURE IN INDONESIA (ALREADY)? (Berdasarkan keberatan beberapa pihak, alamat postingan ini tidak kusertakan disini, namun teman-teman biisa browsing sendiri di beberapa alamat blogku.)

Hasil diskusi postingan tiga tahun lalu memang telah memberi jawaban bahwa free sex bukanlah hal yang 'baru' dilakukan oleh para remaja di Indonesia. (Betapa aku sampai terhenyak-henyak kaget manakala membaca diskusi ini di milis RUMAH KITA BERSAMA tiga tahun lalu.) Seorang rekan menuliskan pengalaman temannya yang melakukan itu di era tahun tujuhpuluhan! Hanya karena -- menurut pendapatku pribadi -- orang-orang di Indonesia ini hipokrit, 'kenyataan' bahwa para remaja -- maupun yang sudah dewasa -- melakukan hubungan seks pra nikah pun tentu tidak diakui. Maka jangan heran jika konon operasi agar selaput dara utuh kembali pun diminati banyak orang karena khawatir mendapatkan suami yang hanya menilai calon istrinya dari utuh tidaknya selaput dara. Atau paling tidak beberapa perempuan melakukan tindakan 'tricky' agar tatkala di malam pertama mereka melakukan hubungan seks dengan suami sah mereka mengeluarkan percikan darah. how pathetic. (dan nampaknya kaum laki-laki pun suka dibohongi seperti ini.)

Seperti hasil diskusi topik FREE SEX ini di milis RKB yang membuatku ternganga-nganga, hasil diskusi TES KEPERAWANAN di milis JP pun membuatku bengong. Benar-benar nampaknya remaja di Indonesia tak mau kalah dibandingkan negara-negara tetangga, misal Jepang. (Aku masih ingat film serial Jepang yang berjudul TOKYO LOVE STORY membuatku terhenyak karena betapa remaja Jepang dengan lihai telah 'meniru' kebiasaan remaja-remaja di belahan bumi Barat sana. Poor those western countries for being judged as immoral due to this free sex thing!)

Dalam postingan ini aku hanya ingin memaparkan 'sedikit' hasil diskusi di kedua milis yang kuikuti, tanpa merasa perlu membuat summarynya. Dan aku pun tidak membahas pro kontra wacana TES KEPERAWANAN.

Nana Podungge
PT56 19.00 101010

P.S.
Check out this cool site: CORONA

Minggu, Oktober 03, 2010

Feminis = Dekonstruktor


Apa pendapat anda jika seseorang mengaku sebagai feminis namun dia melakukan hal-hal yang mendukung kekerasan kepada sesama perempuan?

Tulisan ini merupakan reaksi dari diskusi di milis tentang seorang perempuan yang mengaku sebagai seorang feminis yang terlibat dalam poligami. Diskusi berawal dari sebuah tulisan di sebuah majalah yang dikenal sebagai corong Islam konvensional.

Di postingan yang berjudul “Feminisme a la Nana Podungge”,(klik http://nana-podungge.blogspot.com/search/label/Feminisme ) secara ringkas saya menulis sejarah gerakan perempuan untuk mensejajarkan diri dengan laki-laki, menggunakan sejarah gerakan perempuan di Amerika, mulai dari KTT perempuan pertama tahun 1848 di Seneca Falls, yang menghasilkan hak memilih perempuan Amerika dalam Pemilu tujuh puluh tahun kemudian (1920), gerakan perempuan aliran kedua pada tahun 1960-an yang dimotori oleh Betty Friedan, sampai ke gerakan posfeminisme dimana pada awalnya banyak pihak mengklaim gerakan posfeminisme ini sebagai anti klimaks gerakan perempuan. Tulisan kuakhiri dengan ‘menyederhanakan’ feminisme sebagai suatu ideologi dimana para perempuan menyadari bahwa tubuh dan pikiran mereka adalah milik mereka secara penuh. Apa pun yang mereka pilih, asal mereka dengan sadar melakukannya, tidak boleh orang lain ikut campur. Seorang perempuan berhak untuk memilih menjadi seorang ‘wanita karier’ yang mencurahkan seluruh perhatian, waktu, dan pikirannya kepada pekerjaannya. Sebaliknya, seorang perempuan pun berhak untuk memilih menjadi seorang ibu rumah tangga, dan lebih memilih mendedikasikan kehidupannya pada keluarga, suami dan anak-anak. Dengan syarat bahwa itu adalah pilihan yang dia ambil secara sadar, dan menerima konsekuensinya. Orang lain tidak berhak menghakimi pilihan itu. Seorang perempuan berhak untuk memilih melajang sampai usia kapan pun, jika dia merasa bahagia dengan kelajangannya. Sebaliknya, seorang perempuan pun berhak memilih untuk menikah. Tak satu pun pilihan akan membuat seorang perempuan kemudian berhak mendapatkan label sebagai ‘seorang perempuan sejati’ maupun ‘perempuan pecundang’ hanya karena pilihan hidupnya.

Bagaimana dengan seorang perempuan yang mengaku seorang feminis namun kemudian dia memutuskan untuk berbagi suami dengan perempuan lain?

Sebagai seorang feminis yang meyakini bahwa membuat pilihan hidup secara penuh berada di tangan perempuan, bagi saya, sebenarnya tidak masalah, karena itu adalah hidupnya sendiri. Yang menjadi masalah adalah jika kemudian perempuan itu menyitir ayat-ayat kitab suci, yang sayangnya berpotensial untuk mematikan nalarnya sebagai seorang manusia yang selayaknya mampu berpikir secara kritis, dan kemudian gembar-gembor di media massa, bahwa sebagai feminis dia ‘bangga‘ menjadi pelaku sekaligus korban poligami, dan mengajak perempuan lain untuk mengikuti jejaknya.

Gerakan feminisme – alias kesetaraan perempuan – berangkat dari teori dekonstruksi Derrida yang ingin mendekonstruksi kemapanan budaya patriarki. Mengapa harus didekonstruksi? Teori dekonstruksi ‘diciptakan’ oleh Derrida tentu karena dia melihat ada banyak carut marut dalam ‘kemapanan’ yang telah ada, untuk mengurangi – jika tidak bisa menghapus seluruhnya – ketimpangan-ketimpangan yang ada di balik kemapanan tersebut.

Jika teori dekonstruksi ini diaplikasikan dalam membaca surat An-Nisa ayat ketiga yang selama ini menjadi ‘senjata’ pelaku poligami, maka akan menghasilkan hukum poligami itu HARAM. (Lihat tulisanku yang berjudul “POLIGAMI” di http://nana-podungge.blogspot.com/2009/03/poligami.html ) Seorang feminis bisa dikatakan sebagai seorang pendobrak kemapanan, seorang dekonstruktor, bagaimana mungkin dia bisa mendukung kemapanan suatu gaya hidup yang menghasilkan kesengsaraan? Poligami lebih menghasilkan mudhorot daripada kebaikan. Perasaan para perempuan yang terlibat, perasaan anak-anak yang terkadang harus bersaing dengan anak-anak dari ibu yang lain demi mendapatkan perhatian dari sang ayah, belum lagi kekerasaan secara finansial.

Beberapa tahun lalu di milis “Perempuan” maupun milis “Jurnal Perempuan” sempat heboh tatkala seorang laki-laki yang semula dikenal berada di barisan terdepan gerakan kesetaraan jender tiba-tiba ‘terjungkal’ dengan masalah syahwat ini. (Di zaman ini, poligami lebih cenderung ke masalah selangkangan ketimbang ‘membantu para janda  miskin ataupun menyantuni anak-anak yatim’.) Dengan sangat tidak hormat laki-laki yang berinisial AA ini pun dipojokkan karena bahkan jika merunut ke beberapa persyaratan yang dicantumkan dalam surat nikah, dia sama sekali tidak berhak melakukan poligami: istri pertamanya masih segar bugar untuk terus ‘melayaninya’, dan dari istri pertamanya ini pun dia memiliki anak. Dan istri keduanya pun tidak merupakan seorang janda miskin yang perlu disantuni!

Siapa pun berhak mengklaim diri untuk menjadi feminis. Namun orang lain yang akan melihat apakah dia benar-benar mengimani ideologi feminisme atau hanya mengaku-aku saja. Majalah apa pun bisa memuat tulisan yang menggunakan sudut pandang apa pun, termasuk sudut pandang seorang feminis. Akan tetapi, orang-orang yang menggunakan kemampuan berpikir kritisnya akan mampu memilah dan memilih jenis bacaan apa saja yang memiliki kredibilitas.
Nana Podungge
~ an acclaimed feminist ~
PT56 19.49 031010

Selasa, September 14, 2010

HYPERMARKET

Kuimpor dari blogku di Serba-serbi Kehidupan: HYPERMARKET
Kutulis tiga tahun yang lalu, sebelum DP Mall di Jalan Pemuda Semarang buka :)

DPRD Usulkan Standar Harga Eceran Carrefour” adalah satu headline di harian Suara Merdeka hari Kamis 6 September 2007 di bagian SEMARANG METRO. Judul ini mengingatkanku pada satu kuliah yang kuikuti dari dosen tamu Prof. Kenneth Hall, yakni “American Capitalism”. Kehadiran hypermarket di Amerika telah mematikan banyak toko kecil yang biasanya berupa toko usaha keluarga, yang kadang-kadang disebut Mom and Pop’s Store. Contoh bagus bisa dilihat dalam film yang lumayan lama, “You’ve Got Mail” dimana si tokoh perempuan akhirnya harus menutup toko buku miliknya yang mungil karena kehadiran hyper bookstore tepat di sampingnya. Toko buku yang lebih mengedepankan strategi kekeluargaan kepada para pelanggan ini akhirnya harus tutup, karena zaman yang telah berubah dan orang tidak mementingkan lagi strategi seperti ini.

Jika hypermarket telah mematikan banyak toko kecil di Amerika, aku setuju dengan beberapa pedagang yang diwawancarai oleh Suara Merdeka tentang ketidakkhawatiran mereka akan pelanggan yang bakal lari ke DP Mall—supermall baru yang terletak dekat dengan gedung bersejarah Semarang, Lawangsewu. Mengapa? Karena jelas kultur Indonesia yang berbeda dengan kultur di Amerika. Contoh yang paling kongkrit, juga disebutkan dalam artikel tersebut, yaitu kecenderungan masyarakat Indonesia yang membeli eceran—karena miskin. Misal: membeli rokok satu batang karena tidak mampu membeli rokok langsung satu pak. Mana bisa membeli rokok satu batang di mall? Mana ada orang Amerika membeli rokok hanya satu batang, meskipun di Mom and Pop’s Store? Kata Michael Sunggiardi, presenter utama dalam seminar “SOLUSI IT MURAH UNTUK DUNIA BISNIS” yang diselenggarakan oleh Unika Soegijapranata hari Selasa 4 September 2007, bahkan di Sudan negara yang konon lebih miskin daripada Indonesia saja menjual rokok eceran minimal dalam hitungan 5 dan kelipatannya. Apalagi di Amerika negara super power itu yang aku yakin semua penduduknya mampu membeli lisensi Microsoft sehingga tidak perlu membajak seperti orang-orang di Indonesia.

Bisa jadi harga-harga barang pokok yang dijual di Carrefour, yang terletak di DP Mall, lebih murah beberapa ratus rupiah dibandingkan di toko-toko kecil. Namun tentu orang yang keuangannya pas pasan akan berpikir beberapa kali sebelum memutuskan belanja di Carrefour jika tahu bahwa biaya parkir konon dihitung perjam, dan bukan per satu kali parkir. Belum lagi jarak yang lebih jauh dari rumah sehingga membutuhkan waktu ekstra untuk berbelanja. Hal ini pun bisa jadi mempengaruhi keinginan orang untuk pergi berbelanja ke mall manapun.

PT56 21.37 060907

Tiga tahun kemudian ...

Pasar tradisional Bulu yang lokasinya lumayan dekat dengan DP Mall tetap buka, tidak kehilangan pelanggan tetapnya. Jika di awal buka DP Mall, seolah-olah keramaian Semarang yang biasanya berkisar di daerah Simpanglima pada akhir pekan atau hari-hari libur lain pindah ke Jalan Pemuda (baca => DP Mall), sampai kemacetan di jalan Pemuda mencapai puluhan kilometer, beberapa minggu kemudian DP Mall sudah sepi. Orang-orang Semarang nampaknya tetap tumplek bleg di Simpanglima.

Setelah Paragon City Mall buka bulan April lalu -- tidak jauh dari lokasi DP Mall -- kuamati pasar tradisional Prembaen -- yang jaraknya hanya beberapa mete dari Paragon -- tetap dikunjungi oleh para pelanggan setianya.

Jika kuhubungkan dengan tulisanku tiga tahun lalu, ternyata kehadiran 'pasar-pasar modern' di Semarang tidak begitu saja mematikan pasar-pasar tradisional yang ada. Mungkin membutuhkan waktu beberapa dekade lagi? Mengingat yang hobi jeng-jeng di mall adalah para youngsters. Dan ... jika kuhubungkan dengan tulisan yang berjudul "Penjajahan Ideologi dan Budaya", hmmm ... tetap saja menyedihkan. :'( Kecenderungan manusia sebagai makhluk sosial tidak bisa menghindari perubahan dunia?

Nana Podungge
PT56 15.18 140910

Minggu, Agustus 15, 2010

Feminisme: budaya Barat?

Feminisme: budaya Barat?

NOTE: mengingat kata feminisme ‘ditemukan’ pada tahun 1891 untuk mengacu ke gerakan kesetaraan jender kaum perempuan di Amerika, maka kata ‘feminisme’ di judul ini bisa juga dibaca sebagai “kesetaraan jender: budaya Barat?”
“Feminisme adalah gaya hidup orang Barat. Oleh karena itu, kita sebagai orang Timur tidak selayaknya ikut-ikutan mengamininya, karena feminisme bukanlah budaya kita sendiri. Bisa juga ditambahkan bahwa ajaran feminisme itu bertentangan dengan ajaran agama Islam. Itulah sebabnya maka kita sebagai Muslim di belahan bumi Timur dilarang membolehkan budaya asing ini masuk ke dalam kehidupan kita.”

Seberapa sering anda mendapatkan pernyataan yang demikian itu? Atau mungkin justru andalah yang menyatakan keragu-raguan yang seperti itu? Untuk menghadapi keraguan seperti itu (yang kudapatkan dari salah satu postinganku di blog Nana's Cyber Home beberapa tahun lalu) aku sitir definisi budaya dari “World Book 2005” versi digital:
“Culture is a term used by social scientists for a way of life. … People are not born with any knowledge of a culture. They generally learn a culture by growing up in a particular society. … Therefore, one of its characteristics is that culture is acquired through learning, not through biological inheritance. Children take on the culture in which they are raised through enculturation.“

“Kebudayaan adalah sebuah istilah yang digunakan oleh para ilmuwan sosial yang mengacu ke gaya hidup. Seseorang lahir tanpa membawa budaya apa pun. Dia akan mempelajari sebuah budaya di tengah masyarakat dimana dia tinggal. Oleh karena itu, salah satu karakteristik budaya adalah bahwa hal tersebut diperoleh dari pembelajaran, bukan dari warisan biologis. Anak-anak menyerap kebudayaan dengan cara mereka dibesarkan melalui enkulturasi.”

Ribuan tahun yang lalu nenek moyang kita berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, dari Timur ke Barat, atau mungkin juga sebaliknya sambil membawa gaya hidup (budaya) mereka. Ketika era nomaden usai (dengan ditemukannya teknologi pertanian oleh kaum perempuan) nenek moyang kita mulai menetap di satu tempat sambil mengembangkan gaya hidup mereka, berdasarkan cara berpikir mereka yang disesuaikan dengan kondisi dan iklim tempat mereka tinggal. Hal ini menyebabkan kebudayaan di satu tempat nampak berbeda dengan kebudayaan di tempat lain.

Sementara itu bias jender telah ada sangat lama. “Penemuan” atau pun “pembentukan” agama-agama Ibrahimi pun menguatkan bias jender ini karena para pencetus agama-agama tersebut adalah kaum laki-laki. Itulah sebabnya, tidak di Barat maupun di Timur, kebudayaan yang berkembang – dengan diwarnai oleh kehadiran agama-agama Ibrahimi tersebut – memiliki satu kesamaan: marjinalisasi terhadap kaum perempuan.

Mungkin anda masih ingat kejayaan negara-negara beragama Islam ribuan tahun yang lalu. Banyak ilmuwan Islam menciptakan banyak hal. (Coba cari saja di google, misal dengan menggunakan kata kunci “Muslim scientist inventions”) Namun, perseteruan antara ketiga agama Ibrahimi tersebut – demi untuk mendapatkan label agama yang paling benar, yang kemudian membuat negara-negara tersebut keasyikan berperang – membuat mereka tertinggal di belakang para ilmuwan Barat. Itulah sebabnya ketika negara-negara Barat maju pesat dengan penemuan-penemuan ilmuwan mereka, negara-negara Timur bisa dikatakan masih dalam era kegelapan.

Berkaitan dengan itu, sangatlah dipahami jika para perempuan di belahan bumi Barat terlebih dahulu mulai menanyakan kemarjinalan posisi mereka di masyarakat dibandingkan para perempuan di belahan bumi Timur. Namun, untuk kemudian mengatakan bahwa ideologi feminisme hanya milik Barat sangatlah tidak pas.

Seperti yang kutulis dalam postigan yang berjudul “Feminisme a la Nana Podungge”, perjuangan kaum perempuan Amerika pertama kali ditandai dengan diselenggarakannya KTT Perempuan yang pertama di Seneca Falls tahun 1848. Mesin cetak dan perusahaan penerbitan di negara Barat tentu jauh lebih maju ketimbang negara Timur – misal Indonesia – pada waktu itu. Meski kaum perempuan Amerika diserang dengan adanya “the Cult of True Womanhood” (pengkultusan perempuan sejati) dimana salah satu ‘prinsip’nya adalah perempuan tidak selayaknya menulis, karena menulis itu termasuk ranah maskulin (konon kata ‘pen’ berasal dari kata ‘penis’) di pertengahan abad sembilan belas tersebut, di sana masih bisa ditemukan tulisan-tulisan perempuan.

Di Indonesia, pada masa yang sama, sangat sedikit perempuan yang bisa menikmati ‘kemewahan’ mendapatkan pendidikan. Bisa dipahami jika mereka belum bisa menuangkan protes mereka dalam bentuk tulisan. Untunglah kita memiliki R. A. Kartini sebagai contoh. Dia memberontak belenggu budaya yang mengungkungnya melalui surat-surat yang dia kirimkan kepada teman-temannya di negeri Belanda. Aku yakin protes Kartini ini disebabkan oleh buku-buku berbahasa Belanda yang dia terima dan baca, dimana dia kemudian membandingkan kondisi perempuan di negara Eropa – Amerika pada waktu itu dengan kondisi perempuan di bumi Nusantara.

Sangatlah melecehkan jika dikatakan bahwa kaum perempuan di belahan bumi Timur tak selayaknya berjuang untuk mendapatkan kesetaraan jender. Dengan kata lain, kaum perempuan di belahan bumi Timur dianggap tidak sepantasnya merasa mereka termarjinalisasi, dengan alasan “kesetaraan jender itu milik Barat”.

Di awal kelahirannya, gerakan kesetaraan jender kaum perempuan ini memang dimotori oleh kaum perempuan berkulit putih yang berasal dari kalangan kelas menengah masyarakat sehingga terkesan gerakan mereka tidak mewakili suara seluruh perempuan sedunia. Oleh sebab itu, untuk mengakomodasi suara-suara perempuan lain, yang tidak berkulit putih juga tidak berasal dari kelas menengah, muncullah gerakan-gerakan lain, misal ekofeminisme dan feminisme multikultural yang mewakili perempuan kulit berwarna. Kemunculan gerakan-gerakan ini membuat ideologi feminisme sebagai sesuatu yang sangat membumi, yang sangat dekat dengan kehidupan kaum perempuan dimana saja, termasuk mereka yang tinggal di negara berkembang, seperti Indonesia.

Kebudayaan memang sering dijadikan kambing hitam untuk menolak sesuatu yang baru. Kata kebudayaan terkadang memang disalahgunakan agar manusia bisa menggunakan hak-haknya untuk menilai sesuatu. Seperti yang ditulis dalam World Book, kebudayaan diperoleh melalui cara pembelajaran, bukan melulu menerima begitu saja tanpa enkulturasi. Jika seseorang memiliki cara pandang yang lain dari masyarakat kebanyakan, menggunakan metode pembelajaran mereka sendiri, menggunakan logika mereka sendiri, apa yang salah?

Untuk mengakhiri tulisan ini, apakah ideologi feminisme – dengan ide kesetaraan jender sebagai ‘anak’nya – merupakan budaya Barat maupun Timur tidak lagi penting. Yang lebih penting adalah menggunakan cara berpikir dan kesadaran kita untuk memandang sebuah gaya hidup sesuai atau tidak dalam kehidupan kita. Langkah berikutnya adalah saling menghormati nilai-nilai norma yang dianut oleh orang lain sehingga orang lain pun menghormati kita.

P.S.: Terjemahan dari tulisan yang berjudul “Feminism: A Western Culture?” yang kutulis pada tanggal 21 Januari 2008. The English version can be viewed at Feminism: Western Culture?
Nana Podungge
PT56 14.59 150810


Rabu, Agustus 11, 2010

Tonggak Kebangkitan

“Ideologi Feminisme” sebagai tonggak kebangkitan kaum perempuan lebih mencintai diri sendiri.

Tulisan di bawah ini merupakan terjemahan dari tulisanku yang berjudul “Feminism Ideology” yang bisa di akses di Feminism Ideology kutulis empat tahun yang lalu.

Tatkala membaca buku berjudul KAJIAN BUDAYA FEMINIS karya Aquarini Priyatna (diterbitkan oleh Jalasutra pada tahun 2006), aku terkaget-kaget berulang kali: betapa kita berdua memiliki pengalaman yang sama sebagai sesame perempuan yang merasa mendapatkan ‘awakening’ alias pencerahan dalam ideology feminism. Satu hal aku setuju padanya bahwa seorang perempuan tidak perlu membaptis dri menjadi seorang feminis terlebih dahulu untuk menyadari hak-hak yang mereka miliki dalam kultur patriarki ini. Meskipun begitu, untuk dirinya sendiri, Aquarini merasa perlu untuk ‘mengumumkan’ kepada public sikap politik hidupnya sebagai seorang feminis – aku juga merasakan hal yang sama – untuk menekankan bahwa dia tidak mengikuti ‘jalan setapak’ yang diikuti oleh banyak perempuan Indonesia yang mengimani par a pendukung status quo kultur patriarki.

Pengalamanku ketika rajin ngeblog di A Feminist Blog yang bermarkas besar di Inggris, aku banyak berinteraksi dengan para pengunjung blog yang berasal dari daratan Eropa yang membuatku menyimpulkan bahwa kaum perempuan di belahan bumi Barat sana menyadari kesejajaran posisi  mereka dengan kaum laki-laki, mereka pun nampaknya menikmati hidup mereka tanpa harus selalu berhubungan dengan laki-laki yang konon berhak merasa memiliki mereka, membuat keputusan untuk hidup mereka sendiri, tanpa bertanya pada laki-laki apakah mereka setuju atau tidak. Untuk itu mereka tidak perlu menjadi seorang ‘declared feminist’ seperti yang kulakukan – yang juga dilakukan oleh Aquarini. Namun Indonesia bukanlah Eropa. Masih banyak orang-orang Indonesia yang awam dengan apa yang disebut sebagai ‘kodrat perempuan’ misalnya. (‘Pernyataan’ bahwa perempuan adalah makhluk ‘kasur – sumur – dapur’ kodratkah? BUKAN! Itu hanyalah konstruksi social belaka!)
Tulisan ini terinpirasi oleh artikel Aquarini yang berjudul “Menulis Saya – Perjalanan Menuju Diri yang Baru”.

Perempuan pelu mencintai diri mereka sendiri dengan cara menyediakan waktu luang khusus untuk diri mereka sendiri tanpa harus melibatkan suami dan anak-anak. Kultur di Indonesia yang kuamati selama ini – terutama kultur Jawa dimana aku lahir dan dibesarkan – menyatakan bahwa setelah memutuskan untuk menikah, perempuan tak lagi selayaknya memiliki waktu luang dimana mereka berhak melakukan apa saja sesuka mereka yang tidak terhubung dengan posisi mereka sebagai seorang istri maupun ibu. Mereka harus mendedikasikan seluruh waktu mereka untuk keluarga. Mereka ‘hanya’ berhak menikmati waktu luang tatkala suami pergi bekerja dan anak-anak pergi sekolah; ini khusus bagi mereka para penyandang label ‘ibu rumah tangga’. Waktu luang ini pun harus mereka gunakan untuk mengerjakan segala macam pekerjaan rumah tangga, mulai dari bersih-bersih rumah, mencuci, memasak, dlsb. Jika mereka beruntung karena memiliki PRT (pekerja rumah tangga) yang mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga mereka, mungkin mereka akan memiliki waktu luang untuk mengikuti kegiatan sosial, seperti arisan di daerah rumah sekitar, dharma wanita, atau pun berbelanja ke mall, dengan catatan: suami mereka mengizinkan. Jika tidak? Tinggal di rumah.

Konsensus ini telah berlaku selama beberapa puluh tahun (atau mungkin berabad-abad?) Jika seorang perempuan tidak mematuhinya, serta merta masyarakat – bahkan termasuk kaum perempuan itu sendiri – akan melabelinya sebagai ‘perempuan yang tidak baik’.
Aquarini hampir saja menolak beasiswa yang diberikan kepadanya untuk melanjutkan studinya ke Inggris karena dia tidak berani meninggalkan suami dan anak-anaknya.
Pada tahun 2006 seorang sobat lamaku harus rela dipergunjingkan orang-orang di sekitarnya manakala dia pergi ke Amerika setelah mendapatkan beasiswa – dengan catatan suaminya telah membolehkannya pergi – hanya karena dia lebih memilih pergi demi studi ketimbang ‘berusaha’ untuk memberikan keturunan kepada suaminya setelah mereka menikah selama kurang lebih enam tahun.

Tahun 2002, seperti Aquarini pun aku hampir tidak jadi mengambil beasiswa yang kudapatkan dengan alasan yang sama: (mantan) suami yang keberatan kutinggal ke luar kota dan anakku.

Tahun 2003 seorang sobat lamaku yang lain tidak jadi melanjutkan kuliahnya ke Jogjakarta (dia tinggal di Semarang) karena suaminya keberatan melepasnya pergi. Dia pun mengiyakan keinginan suaminya – tidak mau ditinggal pergi oleh istrinya – dengan alasan, “Demi kebahagiaan suamiku”.

Seperti Aquarini yang menganggap ideologi feminisme sebagai tonggak kebangkitan dalam hidupnya, untuk lebih mencintai dirinya sendiri, aku pun menganggap kuliahku di American Studies UGM (karena ketika kuliah inilah aku berkenalan dengan ideologi feminisme) sebagai tonggak kebangkitanku untuk lebih mencintai diriku sendiri, menghargai hak-hakku sendiri sebagai perempuan, sekaligus membunuh karakter yang dulu pernah kuciptakan untuk diriku sendiri sebagai ‘angel of the house’. Aku hanyalah manusia biasa, seperti yang diungkapkan oleh Henrik Ibsen dalam dramanya yang terkenal “A Doll’s House”:
HELMER: Before all else, you are a wife and a mother.
NORA: I don’t believe that any longer. I believe that before all else I am a reasonable human being.
A Doll’s House, by Henrik Ibsen, (1999:68)

Seorang perempuan yang bersedia membiarkan dirinya terperangkap dalam posisi “mulia” sebagai seorang istri dan suami, biasanya telah melupakan kenyataan bahwa dia hanyalah seorang manusia biasa. Dengan mudah dia akan berusaha mengikuti konsensus-konsensus yang ada dalam kultur patriarki, meski tak sedikit kaum perempuan itu yang merasa tidak bahagia.

Aku berharap kaum perempuan Indonesia lebih menyadari hak-hak yang mereka miliki untuk melakukan apa saja yang mereka butuh lakukan, tanpa harus merasa terbebani akan dicap sebagai perempuan yang tidak baik. Aku pun juga berharap kaum laki-laki Indonesia lebih merasa percaya diri untuk melihat kaum perempuannya mengejar karier setinggi yang mereka inginkan sehingga kaum laki-laki tidak memenjarakan mereka dalam penjara sebagai ‘perempuan yang baik-baik’.

Nana Podungge
PT56 16.16 110810

Senin, Agustus 02, 2010

Beragama secara Sosial

Beragama secara sosial, sebetulnya, menyalahi sejarah kelahiran agama itu sendiri. Hampir sebagian besar agama lahir karena sikap yang resisten terhadap praktek sosial yang ada. Dengan kata lain, sejarah kelahiran agama adalah sejarah penyimpangan dari norma yang berlaku. Sejarah agama adalah sejarah "kekafiran", yakni kekafiran terhadap kebiasaan yang ada pada suatu waktu. (Ulil Abshar-Abdalla)

Tatkala membaca kalimat di atas, di satu milis yang kuikuti (topik utama sebenarnya adalah “mempertanyakan puasa”), aku teringat dua hal. Yang pertama tentang seorang teman kos waktu aku kuliah S1 dulu. Aku tinggal di sebuah kos yang terletak di Jalan Kaliurang Km 5. Jumlah penghuni kos sekitar 18 perempuan, rata-rata seusia denganku, atau lebih tua 2-4 tahun. Seingatku hanya ada satu di antara kita yang beragama Katolik.

Di antara yang beragama Islam, ada satu yang dengan konsisten tidak menjalankan ibadah shalat lima waktu. Aku dan kebanyakan temanku yang waktu itu cara berpikirnya masih seperti Fahri Anwar, LOL, tentu merasa sangat prihatin karena kita yakin tentu dia akan berteman dengan setan di neraka setelah hari kiamat nanti. Oleh karena itu, beberapa hal kita lakukan bersama untuk ‘menyentilnya’ agar dia mau menjalankan shalat lima waktu.

Pertama, kita memberi ‘mandat’ kepada teman sekamarnya (kebetulan dia menyewa kamar berdua, beda denganku yang hanya sendirian saja menyewa satu kamar) untuk menyentilnya. Bagaimana caranya? Temanku—sebut saja namanya Jujuk—membaca Alquran dan terjemahannya keras-keras setelah shalat Maghrib di kamar agar teman yang tidak shalat itu—sebut saja namanya Eva—mendengarnya. Jujuk dengan sengaja memilih ayat-ayat Alquran (terjemahannya) dimana (konon, bagi yang mengimani) Allah berfirman agar manusia menjalankan shalat lima waktu dengan teratur. Kalau tidak nerakalah tempatnya, dibakar bersama segala bentuk jin dan setan, kekal di dalamnya. Tentu saja kita bermaksud agar Eva takut dengan siksaan api neraka itu jika tidak shalat, sehingga dia akan shalat.

Apa yang terjadi setelah itu? Eva memilih ngeluyur di ruang TV atau ruang tamu tatkala waktu shalat Maghrib tiba dan dirasanya Jujuk akan ‘menyindirnya’.

Tidak berhasil dengan cara tersebut, aku dan teman-teman menggunakan cara lain. Waktu Eva merayakan ulang tahun, kita mengumpulkan uang untuk membelikannya satu hadiah. Tepat di hari ulang tahunnya, kita ajak dia jalan-jalan ke Kaliurang, sambil membawa berbagai macam makanan dan minuman, kita mengadakan pesta kecil untuknya. Di tengah-tengah acara makan-makan dan nyanyi, tak lupa kita serahkan kado ultah untuk Eva. Eva nampak senang. Namun setelah dia buka kado itu, wajahnya nampak sedikit kesal dan kecewa. Isinya: mukena dan sajadah!

Setelah balik ke kos, dia sempat komplain ke Jujuk, “Kenapa sih teman-teman kok gitu? Sudah tahu aku tidak shalat aku diberi mukena dan sajadah? Mubazir kan? Mending juga aku ga usah diberi apa-apa aku ga bakal tersinggung.”
Aku sudah lupa apa yang dikatakan Jujuk kepadanya.

Beberapa bulan kemudian, tatkala bulan Ramadhan datang untuk pertama kali kita menjalani puasa bersama di kos, aku dan teman-teman terheran-heran melihat Eva begitu antusias menyambut bulan Ramadhan. “Dia ga shalat, ngapain juga dia heboh begitu menyambut puasa?” pikir kita.

Ternyata Eva ikut menjalankan ibadah puasa bersama. Dia mengaku meskipun dia tidak shalat secara teratur, dia selalu menjalankan ibadah puasa, dan bolong hanya waktu dia sedang menstruasi saja. Wah! Jujuk sempat menegurnya dengan mengatakan, “Sia-sia saja puasamu kalau tidak dibarengi dengan shalat. Ibadah itu harus dijalankan bersama-sama, tidak bisa kamu memilih yang mana yang ingin kamu lakukan.”

Malamnya, tatkala kita rame-rame mau menghadiri shalat tarawih bersama di Gelanggang Mahasiswa UGM (waktu itu UGM belum punya masjid kampus yang megah itu, yang sekarang terletak di daerah Kuningan, sebelah Tenggara Fakultas Ilmu Budaya), ternyata Eva dengan malu-malu bilang dia ingin ikut bersama kita. Akhirnya mukena dan sajadah yang kita berikan kepadanya, dia pakai juga. LOL.

Beragama secara sosial, eh? Melakukan ritual agama karena tekanan sosial?

Satu tahun lalu, dalam rangka menyambut kedatangan bulan Ramadhan, aku menulis sebuah artikel untuk mengingat masa kecilku di bulan Ramadhan. Tatkala aku post tulisan itu di blog http://afemaleguest.blog.co.uk dimana kebanyakan pengunjung berasal dari Eropa, seorang teman blog bertanya, heran, “Why did you teach Angie to do such a foolish thing? To starve yourself/herself? What’s the point?” Jika aku menjawab, “Agar masuk surga, atau agar terhindar dari api neraka” tentu aku akan ditertawakan olehnya. LOL. Jawabanku adalah, “I live in Indonesia, where social pressures to do religious teachings are very big. Later after Angie grows up and can use her own common sense, I let her choose what she wants to do. I don’t want her to be judged irreligous or evil or ‘naughty’ by her friends. I am still worried if her mental is not strong yet with that. Let her follow the mainstream first.”

Temanku masih heran, namun dia tidak mendesakku untuk memberikan jawaban yang masuk akal buatnya. LOL.

Hal kedua yang kuingat berdasarkan kalimat “Sejarah agama adalah sejarah "kekafiran", yakni kekafiran terhadap kebiasaan yang ada pada suatu waktu.”

Aku teringat waktu kuliah di American Studies dan mempelajari sejarah awal ‘terbentuknya’ negara Amerika. Para imigran “pertama” adalah kaum yang konon disebut ‘The Pilgrim” yang menaiki kapal Mayflower di awal abad ke-17. Di antara kaum “The Pilgrim” itu ada sekolompok orang yang menamakan diri mereka kaum “Puritan” yang memegang peran sangat penting dalam pembentukan awal koloni-koloni yang berjumlah 13 itu. Kaum “Puritan” ini terpaksa meninggalkan tanah leluhurnya karena mereka merasa tidak bisa menjalankan agama yang mereka yakini dikarenakan raja Inggris yang sangat memaksakan agama yang dia anut untuk seluruh rakyat Inggris. Sejarah kaum Puritan ini bisa dikatakan sebagai sejarah “kekafiran” mereka terhadap agama yang diyakini oleh para penguasa Inggris di sekitar abad 16-17. Kediktatoran raja Inggris yang menganggap mereka sebagai Kaum Pembangkang/Pembelot atau “The Dissenter” membawa mereka ke the New Land yang “ditemukan” oleh Columbus beberapa abad sebelumnya. Kaum Puritan ini beralasan ingin mendapatkan kebebasan beragama sesuai dengan apa yang meraka yakini.

Setelah berimigrasi ke Amerika, sayangnya mereka pun melakukan hal yang sama dengan raja Inggris, yakni sewenang-wenang kepada mereka yang tidak meyakini agama yang sama dengan mereka. Tidak hanya kepada “penduduk asli” yang mereka sebut suku Indian, juga kepada para imigran lain yang tidak meingimani kepercayaan kaum Puritan, kaum Puritan ini bertindak persis dengan raja yang mereka benci.

Kembali ke topik utama tulisan ini “beragama secara sosial”, kapankah manusia akan bersikap dewasa terhadap agama yang mereka anut, tidak memaksakan kebenaran absolut yang mereka yakini kepada orang lain, dan menghormati agama orang lain, juga menghormati orang lain yang memilih untuk tidak melakukan ritual agama apapun.

-- Nana Podungge yang (pernah) relijius karena tekanan sosial, dan sekarang memilih menjadi sekuler karena ‘fatwa’ dari dalam hati sendiri –
PT56 22.12 130907

Fanatik

Ketika pertama kali berkenalan dengan ideologi feminisme tahun 2003, aku begitu terpesona dengan ide-ide yang terkandung di dalamnya (karena aku menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang menghantuiku bertahun-tahun, yang karena indoktrinasi agama yang sangat kuat yang kuterima sejak kecil membuatku tak berani berpikir bahwa sebenarnya ide perempuan adalah makhluk nomor dua setelah laki-laki hanyalah hasil bentukan konstruksi sosial dan bukanlah diciptakan oleh Tuhan) sehingga aku tak bersedia membaca buku-buku/artikel-artikel yang tidak ditulis dari perspektif feminis. Dengan sengaja aku menghindari berbagai macam tulisan yang ditulis untuk mengukuhkan status quo budaya patriarki. Sebelum aku memutuskan untuk membeli sebuah buku/novel/jurnal, aku harus memastikan dulu bahwa buku/novel/jurnal tersebut ditulis oleh para penulis feminis, atau paling tidak bebas dari bias gender.

Karena itulah seorang teman dekatku menertawakanku atas tindakanku yang menurutnya menggelikan ini. “Hal ini menunjukkan bahwa hati kecilmu sendiri masih merasa khawatir bahwa kamu akan menemukan ideologi lain lagi yang akan mematahkan kepercayaanmu pada ideologi feminisme.” Katanya.
Tatkala membeli buku-buku yang berkaitan dengan Feminisme dan Islam, kebetulan aku menemukan buku-buku tulisan Fatima Mernissi dan Riffat Hassan (diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia dengan judul “Setara di Hadapan Allah”), Qasim Amin (judulnya diterjemahkan menjadi “Matinya Perempuan”), Nawal El Sadawi (novel berjudul “Perempuan di Titik Nol” dan bukunya yang berjudul “Perempuan dalam Budaya Patriarki”), dll. Dalam artikelnya yang berjudul “Menyikapi Feminisme dan Isu Gender”, Dr. Syamsuddin Arif ternyata melabeli mereka sebagai “Feminis Muslim Radikal”. Seradikal apakah ide yang mereka lontarkan kepada khalayak ramai? Menurutku tentu saja tidak seradikal Mary Daly ataupun Germaine Greer yang memutuskan untuk menjadi homoseksual yang sampai sekarang masih dianggap melenceng dari “norma sosial yang normal”.

Ternyata, dalam proses pembentukan diri menjadi seorang feminis, “perkenalanku” dengan ideologi feminisme telah memanjakan diriku sendiri dengan ide-ide liberal (dan mungkin pula “radikal”) untuk memenuhi karakterku sebagai seorang rebel (penentang) selain untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang telah memenuhi otakku semenjak kecil. Bila bagi banyak orang Indonesia kata LIBERAL dicurigai sebagai sesuatu yang berkonotasi negatif, di mataku kata ini menjadi begitu menarik untuk dipelajari. Hal ini membuatku membaca lebih banyak buku yang lebih bervariatif, termasuk buku-buku yang tentu bakal kena sensor oleh guru-guruku tatkala masih duduk di bangku Madrasah Ibtidaiyah (SD Islam), mungkin juga orang tuaku sendiri. 

Keingintahuanku yang besar apakah Tuhan cenderung untuk memilih agama mana yang akan Dia ridhai perlu mendapatkan jawaban. Aku ingat chat yang kulakukan beberapa kali dengan beberapa orang yang tinggal di belahan bumi yang lain tentang “kebenaran absolut” atas satu agama, seseorang berkata, “Bagaimana mungkin seseorang akan percaya bahwa hanya agamanyalah yang benar? Dan pada saat yang bersamaan banyak orang lain lagi yang berpendapat sama, dari agama yang berbeda. Bagaimana mungkin begitu banyak orang mengklaim hal yang sama?”

Selain itu, keyakinanku bahwa Tuhan Yang Maha Esa itu benar-benar Maha Penyayang, dan bukan Maha Penghukum maupun Maha Pemarah telah mendorongku untuk membaca buku lebih banyak lagi. Juga keyakinanku bahwa cara berpikir manusia yang sok tahu itu tentulah sangat jauh berbeda dengan cara berpikir Tuhan yang bukan makhluk, melainkan sang Khalik. Kita sering berpikir (atau menuduh) bahwa Tuhan Yang Maha Esa akan melakukan ini itu, sesuai dengan cara berpikir kita yang tentu sebagai makhluk sangatlah terbatas.

Dan, tanpa kusadari aku mulai meninggalkan sikapku yang menggelikan di tahun 2003 lalu itu. Aku tak lagi memenjarakan diri untuk membaca buku-buku yang ditulis menggunakan perspektif feminis maupun yang ditulis oleh para Muslim fanatik yang dengan mudah menuduh agama atau keyakinan lain sebagai sesat hanya karena mereka tidak beragama Islam. Tentu saja pada saat yang bersamaan aku juga geli (dan kasihan) pada mereka yang beragama Non-Islam yang beranggapan bahwa Islam maupun agama-agama lain (yang tidak mereka peluk) sebagai agama yang sesat. Hal yang menyedihkan pula bagiku karena kemudian hal tersebut membuat mereka sibuk menjelek-jelekkan agama lain dan menghasut agar orang-orang tersebut untuk murtad. 

Siapa tahu di atas sana Tuhan yang kita perjuangkan (dalam agama masing-masing) justru sedih melihat makhluk-Nya berperang untuk hal-hal yang sebenarnya tidak perlu sampai mengeluarkan darah, mengorbankan jiwa dan raga. 

Atau seperti yang pernah kudiskusikan dengan seorang teman kerjaku yang beragama Kristen, “Eh, siapa tahu ya Tuhan di atas sana malah menertawakan kita yang merasa sok paling benar dalam agama kita.”
Aku tak lagi memenjarakan diri dengan bacaan-bacaan tertentu karena:

  1. Aku memiliki keyakinan yang kuat bahwa keberadaan ideologi feminisme membantu mengurangi penindasan yang dilakukan kepada kaum perempuan. Selain itu, ideologi ini juga membantu melepaskan beban berat di pundak laki-laki yang dipaksa untuk menjadi pencari nafkah utama dalam budaya patriarki.
  2. Aku memiliki keyakinan yang kuat bahwa Tuhan tidak pilih kasih atas umat-Nya yang beragama tertentu. Aku tetap memilih untuk beragama Islam karena aku pun memiliki keyakinan yang kuat pada agama yang telah kupeluk sejak aku lahir. Satu hal yang tentu sangat berbeda dibandingkan kondisiku di waktu lalu: aku Islam karena orang tuaku beragama Islam, seolah-olah aku tidak memiliki pilihan lain. Saat ini aku Islam karena pilihanku sendiri.

Namun aku bukanlah seorang fanatik. Aku bukan seorang feminis fanatik. Banyak teman perempuan yang kukenal lewat milis maupun dari blogging yang mengatakan mereka tidak perlu merasa menjadi seorang feminis hanya untuk berpendirian bahwa perempuan setara dengan laki-laki. Yang penting mereka tahu hak-hak dan kewajiban laki-laki dan perempuan. Aku juga bukan seorang Muslim yang fanatik yang harus memusuhi (meskipun hanya dalam hati, apalagi ditunjukkan dalam tindak tanduk yang nyata dalam kehidupan sehari-hari) orang-orang lain agama. 

Sekitar satu tahun yang lalu aku menemukan satu pepatah bijak mengenai fanatisme ini di salah satu blog seorang teman dari Inggris:
A fanatic is one who can't change his mind and won't change the subject.
Seseorang yang fanatik adalah seseorang yang tidak dapat mengubah cara berpikirnya, dan tidak akan mengubah topik pembicaraannya. 

Kataku sendiri, seorang fanatik hanya mempertontonkan kesempitan nalarnya.

Sir James Dewar mengatakan,
Minds are like parachutes; they only function when they are open.
Otak itu seperti parasut; dia hanya berfungsi tatkala terbuka.
Seorang fanatik membiarkan nalarnya terus tertutup yang berarti otaknya tak berfungsi dengan baik.
Nana Podungge
PT56 11.30 210607

Minggu, Juli 18, 2010

SMALL TALK


Kurang lebih setahun yang lalu aku telah menulis tentang SMALL TALK ini. You can check it here Apakah Anda sudah Menikah? Kali ini dengan mahasiswa yang berbeda, aku memiliki kisah yang berbeda pula, yang ingin kubagi dengan teman-teman di sini.

Seperti yang kutulis di artikel setahun lalu, ‘small talk’ akan sangat tergantung dengan berada dimana seseorang memulai percakapan dengan seseorang yang baru pertama kali dia temui dalam hidupnya. Hari Sabtu 17 Juli kemarin, di kelas Conversation 3 yang kuampu, ada 6 mahasiswa, yang kebetulan terdiri dari 5 perempuan – semua semester 2 menjelang 3 – dan satu laki-laki – semester 4 menjelang 5. Si satu-satunya laki-laki bercerita sebuah unforgettable experience yang dia miliki. Kisahnya seperti ini.

Dia tinggal di Semarang saat ini, sedangkan orangtuanya tinggal di Kudus. Satu hari dia pulang ke Kudus naik motor, sendirian. Di satu tempat dia berhenti, bukan karena lelah, namun dia hanya ingin berhenti. Di dekat dia memarkirkan motor, dia lihat ada seorang laki-laki memakai sarung dan kemeja – menunjukkan dia baru pulang dari masjid. Kebetulan tak jauh dari tempat itu memang ada sebuah masjid. Si laki-laki bersarung ini terlihat sedang asyik berbincang dengan seorang laki-laki lain berpakaian seragam satpam. Setelah meminta izin kepada kedua orang ini, mahasiswaku ikut nongkrong di dekat situ, sembari mendengarkan perbincangan kedua orang tersebut. Dari perbincangan itu, mahasiswaku berkesimpulan bahwa kedua orang itu belum saling kenal sebelumnya.

Yang mengherankan dari bahan obrolan itu – mengingat topik di kelas yang kita bahas adalah SMALL TALK alias basa-basi yang biasa kita perbincangkan di awal perkenalan dengan seseorang – mahasiswaku bercerita bahwa kedua orang itu justru saling curhat tentang broken family yang mereka miliki. Kurang komunikasi antar suami istri yang mengakibatkan kurang harmonisnya hubungan mereka berdua. Hal ini kemudian merembet ke hubungan seks yang menjadi hambar, yang buntutnya lama-lama tak ada lagi hubungan seks antara suami istri tersebut. Akhirnya sang suami pun berkunjung ke lokalisasi.

Kedua laki-laki itu begitu terbuka kepada satu sama lain, meski mereka belum saling kenal dengan baik. Mahasiswaku yang baru berumur 21 tahun mengaku hanya mendengarkan mereka berdua saling berkisah, dan kedua laki-laki tersebut tidak keberatan. Setelah selesai melampiaskan segala rasa yang menyesak di dada, mereka berdua pun pergi. Mahasiswaku melanjutkan perjalanannya ke Kudus.

Hal ini membuat para mahasiswa berjenis kelamin perempuan terheran-heran – aku juga – mengapa begitu mudah para laki-laki itu bercerita secara terbuka tentang rahasia keluarga mereka? Padahal itu adalah pertemuan mereka yang pertama? Bahkan tanpa saling memperkenalkan nama masing-masing.

Seorang mahasiswi kemudian bercerita tentang sepupunya yang kebetulan berjenis kelamin laki-laki. Dia amati sepupunya ini pun memiliki sifat yang sama mudahnya memulai percakapan dengan orang lain, juga berkisah tentang sesuatu yang menurut para perempuan ini tak selayaknya dikisahkan kepada orang asing.

Ketika tiba waktuku untuk berbagi pengalaman ‘berbicang dengan orang asing’, aku memilih sebuah peristiwa yang terjadi di atas bus patas N*******a dari Jogja ke Semarang, pada satu hari di tahun 2005. Aku duduk di bangku paling belakang, sebelah kanan pojok. Kutaruh backpack yang kubawa di sebelah kiri, karena kebetulan tidak ada orang yang duduk di situ. Tak lama kemudian, ada seorang laki-laki – kutaksir usianya berkisar 45-48 tahun – datang, duduk di bangku sebelah kiri backpackku.



Setelah bus meninggalkan terminal Jombor, aku mulai membuka-buka JURNAL PEREMPUAN nomor 41 yang bertajuk SEKSUALITAS. Pilihanku jatuh pada artikel yang membahas “Seksualitas Lesbian”. Entah karena tertarik pada kegiatanku membaca di atas bus, atau sempat melirik judul tajuk SEKSUALITAS yang terpampang di cover depan, laki-laki itu menyapaku, “Apa kepalanya ga pusing mbak membaca di atas bus yang sedang berjalan?”

Aku, “Engga. Sudah biasa kok pak.”

Dia, ”Buku apa itu ya mbak? Boleh saya lihat?”

Aku, “Jurnal Perempuan pak.” Sambil menjulurkan buku kepada orang itu.

Setelah menerima buku itu, dan membaca judul tajuk SEKSUALITAS di cover depan, aku langsung mengamati sorot matanya yang berubah! Aku dapati nafsu seksual di mata itu. Kulihat dia menelan ludah, kemudian membolak-balik buku itu sejenak, mengembalikan buku itu kepadaku, sambil berkata, dengan nada (mendadak) sedikit flirt, “Buku bagus!”

(Can you guess what was in his mind???)

Terus terang aku langsung merasa tidak nyaman karena sorot matanya yang tiba-tiba terlihat bernafsu tatkala menatapku. Dan aku sendiri tidak yakin apa yang ada di benaknya tatkala mengatakan, “Buku bagus.” Apa benar dia tahu apa isi jurnal itu, hanya dengan sekilas melihat judul? Kalau iya, mengapa harus ada sorot mata bernafsu itu?

Aku berusaha tenang, sembari melanjutkan bacaan “Seksualitas Lesbian”. Aku sempat berpikir kalau laki-laki itu berani bertingkah kurang ajar kepadaku, akan kulemparkan sepatuku yang berhak 5 cm ke kepalanya!

Untunglah ternyata dia diam saja, dan tidak bertingkah yang berlebihan, selain sedikit bertanya ini itu, khas SMALL TALK, aku dalam perjalanan kemana. Di Jogja aku ngapain, di Semarang aku ngapain, bla bla bla. Sesampai di Secang, mataku mulai lelah, maka aku hentikan membaca. Aku taruh buku di pangkuanku. Mengetahui hal itu, ternyata laki-laki tersebut meminta izin untuk meminjamnya. Aku berikan buku itu kepadanya, sementara aku memejamkan mata, terserang kantuk.

Sekitar 30 menit kemudian tatkala bus memasuki daerah Ambarawa, aku baru menyadari kalau laki-laki itu menghilang. “Waduh, lha bukuku gimana nasibnya?” Ah ... ternyata diam-diam dia taruh buku itu di atas backpackku. Aku menyimpulkan laki-laki itu telah turun di suatu tempat.

Sesampai di terminal Banyumanik, Semarang, di antara kerumunan penumpang lain, aku melihat laki-laki itu! Sebelum turun dari bus, kita sempat beradu pandang, namun kemudian dia buru-buru memalingkan wajahnya.

Ha ha! Again, can you guess what was in his mind?

Kisah ini telah kutulis di blog di What makes people think of pornography? beberapa tahun silam.

Nana Podungge
PT56 17.35 180710

Jumat, Juli 16, 2010

Hermenetik - Teori Interpretasi




‘Hermeneutics’ adalah studi teori interpretasi; bisa jadi seni interpretasi maupun praktek interpretasi. Traditional hermeneutics -- dimana Biblical hermeneutics termasuk di dalamnya – mengacu ke studi interpretasi teks-teks tertulis, terutama di bidang kesusastraan, agama, dan hukum. Modern hermeneutics melingkupi tidak hanya teks-teks tertulis, namun segala sesuatu yang mengalami proses diinterpretasi. Hal ini termasuk komunikasi verbal dan non verbal. Ketika kita membaca sesuatu, kita akan mendapatkan sebuah interpretasi. Ketika membacanya kembali, akan selalu mungkin terjadi bahwa kita akan mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam lagi dimana akhirnya akan membawa kita ke sebuah interpretasi yang jauh lebih menyeluruh. Tatkala kita sampai ke interpretasi yang menyeluruh ini, sangatlah mungkin bahwa hasil interpretasi tersebut dipengaruhi oleh apa yang kita simpan dalam otak maupun memori kita: bacaan-bacaan yang telah kita baca, interpretasi-intepretasi yang kita hasilkan sendiri dari kegiatan membaca atau mengamati segala hal yang terjadi di sekitar kita, pengalaman kita sendiri maupun pengalaman orang lain yang kita dengar atau lihat, dll. Maka tidaklah mengherankan jika kemudian muncullah pertanyaan: adakah suatu interpretasi yang objektif, lepas dari segala yang telah kita simpan dalam otak maupun memori kita, lepas dari segala indoktrinasi yang telah dia terima sepanjang hidupnya, juga lepas dari segala pengalaman hidupnya. Tentu saja jawabannya adalah TIDAK.

Dalam bidang kesusastraan, teori hermeneutics ini tentu sangat mendukung adanya multi-interpretasi dari sebuah karya sastra. Apalagi dengan sangat luwesnya sebuah karya sastra dianalisis, tergantung teori mana yang kita gunakan, mulai dari teori klasik yang diajukan oleh Aristotle – expressive theory: berdasarkan pemikiran pengarang; pragmatic theory: berdasarkan pemikiran pembaca; mimetic theory: pemikiran bahwa karya sastra merupakan tiruan apa yang terjadi di masyarakat; dan objective theory: teori yang berdasarkan semata-mata pada karya sastra itu sendiri – sampai ke teori-teori sastra yang lebih modern, seperti Historical & Biographical Criticism, New Criticism, Russian Formalism, Structuralism, sampai ke Marxism, Feminism, Reader-Response Theory, Deconstruction, Psychoanalytic Criticism, Postcolonialism, etc. Dengan pemaparan yang sangat kuat, berdasarkan teori yang kita pilih, hampir tidak mustahil kita bisa menghasilkan interpretasi apa pun yang kita ingini. Bahkan, dengan teori The Death of the Author milik Roland Barthes, seorang kritikus sastra bisa menafikan keberadaan seorang pengarang di balik karya sastra yang dihasilkannya. ”The essential meaning of a work depends on the impressions of the reader, rather than the “passions” or “tastes” of the writer, “a text’s unity lies not in its origins, or its creator”, but in “its destination” or it audience.”

Dalam ranah spiritualitas, hal ini pun berlaku. ‘Kedewasaan’ spiritualitas seseorang tentu amatlah ditentukan oleh seberapa banyak seseorang membaca, seberapa banyak variasi bahan bacaannya, seberapa banyak seseorang mengalami ‘guncangan-guncangan’ spiritualitas, yang bisa jadi disebabkan oleh pengalaman bergaul dengan orang-orang yang memiliki pengalaman spiritualitas yang berbeda, bahkan mungkin kontradiktif, kesediaan diri untuk membuka otak dan mata hati bahwa tidak ada interpretasi tunggal dalam memahami Kitab Suci, (contoh yang paling ‘mudah’ dalam hal ini misalnya pemahaman seseorang atas ayat ‘lakum dinukum waliyadin’ bisa jadi menghasilkan interpretasi yang berbeda dengan orang lain, yang disebabkan oleh pengalaman spiritualitas yang berbeda). Maka, tidaklah mengherankan jika seorang Amina Wadud berani mengutarakan pendapatnya bahwa seorang perempuan boleh menjadi imam shalat Jumat, meski ditentang oleh banyak ulama; seorang Irshad Manji dengan berani mengaku sebagai seorang lesbian padahal dia adalah seorang Islam scholar; seorantg Siti Musdah Mulia membolehkan seorang perempuan Muslim untuk menikah dengan lelaki non Muslim, dlsb. Pengalaman spiritualitas yang berbeda, didukung dengan teori hermeneutics tatkala menafsirkan suatu ayat sangat memungkinkan hal ini terjadi.


Untuk mengakhiri tulisan ini, yang paling penting adalah menghormati pendapat orang lain, tidak serta merta menghakimi pendapat orang lain salah tanpa berusaha memahami mengapa seseorang berpendapat seperti itu terlebih dahulu, juga tanpa bersifat oppressive terhadap sebuah komunitas yang mungkin merupakan sekelompok minoritas. Mari kita ciptakan dunia yang lebih aman, tentram, dan damai.


Nana Podungge


PT56 21.45 160710

Minggu, Juli 04, 2010

Hegemoni Sastra


Hegemony is the political, economic, ideological or cultural power exerted by a dominant group over other groups, regardless of the explicit consent of the latter.


Hegemony adalah satu kekuatan politik, ekonomi, ideologi maupun budaya yang dinyatakan oleh satu kelompok dominan atas kelompok-kelompok lain, meskipun kelompok-kelompok lain tersebut tidak menyetujuinya. Lebih lanjut lagi, memasuki abad ke-20, Antonio Gramsci, seorang ilmuwan politik menyatakan bahwa hegemoni budaya menunjukkan dominasi kekuatan satu kelompok ‘penguasa’ budaya untuk ‘memaksa’ kelas-kelas sosial di bawahnya untuk menerima dan mengadopsi nilai-nilai kelompok para penguasa yang borjuis.

Bagaimana dengan hegemoni dalam sastra? Tentu saja memiliki karakter yang sama. Para ‘penguasa’ bidang sastra yang ‘mungkin’ didominasi oleh mereka yang memiliki gelar doktor maupun profesor sastra pun melemparkan wacana yang sama. Mereka merasa lebih mumpuni untuk menentukan ‘ini puisi bagus’ atau ‘ini puisi kacau’, dlsb. Pertanyaan berikutnya adalah, “apakah the so-called sang penguasa selalu benar? Padahal sastra sendiri bukanlah satu bidang yang bisa dikalkulasi secara kuantitatif. Misal: “penggunaan metafora dalam bait ini jumlahnya hanya sekian ... berarti puisi ini jelek ...” atau “ah, terlalu mudah tertebak ini puisi berkisah tentang apa ... berarti puisi ini super jelek.” Sebaliknya, “wow, metafora bertaburan dalam puisi ini, maka KEREN” atau “puisi ini, ahh ... sulit sekali dipahami karena terlalu indah merangkai kata-kata ...maka SUPER DUPER KEREN!”

Hal ini mengingatkanku pada sebuah kelas ketika masih duduk di bangku kuliah, dosenku yang hanyamendapatkan gelar master American Studies di US bercerita tentang pengalamannya berkunjung ke sebuah galeri lukisan tatkala dia berada di negara Paman Sam tersebut. Banyak orang yang terkagum-kagum dengan lukisan yang dipamerkan, namun tatkala ditanya apa ‘cerita’ lukisan tersebut, mereka tidak paham. “Pokoknya kalau tidak mudah dipahami itu keren! Itu yang disebut SENI.” Kilah mereka. Kisah yang paling konyol adalah ketika seorang pengunjung terkagum-kagum dengan sebuah lukisan, kemudian berkoar-koar tentang lukisan tersebut kepada dosenku, “bla bla bla ...” tak disangka tak dinyana, tak lama kemudian sang pelukis lukisan itu datang, kemudian berkata, “Maaf, lukisan ini tergantung terbalik.”

==========================

Berikut ini adalah terjemahan artikel tulisanku yang kumuat di High Literature versus Popular Literature

Dalam kelas “Popular Literature” yang kuikuti tatkala duduk di bangku kuliah American Studies Universitas Gadjah Mada, dalam sebuah sesi kita berdiskusi tentang dikotomi “popular literature” (sastra populer yang sering dianggap sebagai sastra kelas rendah) versus “high brow literature” atau sastra tingkat tinggi. Bagaimanakah kisahnya hingga dikotomi ini eksis? Siapakah yang merasa memiliki hak untuk menentukan yang manakah sastra ngepop yang mana sastra tinggi. Pula, bagaimanakah kisahnya sehingga orang-orang tersebut merasa memiliki privilege tersebut?

Para kritikus sastra mengatakan bahwa jika sebuah karya dihasilkan hanya untuk menuruti apa yang diinginkan oleh publik – misalnya hanya untuk ‘fun’, tak memiliki makna yang mendalam – maka karya tersebut dikategorikan sebagai sastra ngepop. Selain itu, para kritikus juga mengatakan karya sastra ngepop mengacu ke karya yang ditulis hanya untuk kebutuhan komersial belaka, karena sang pengarang butuh uang.

Menjelang akhir abad 19, tatkala budaya menulis cerpen mulai merebak di seantero Amerika, banyak pengarang yang berpindah haluan, demi menghasilkan uang dengan cepat, daripada harus menulis novel yang butuh waktu lama. Tentu saja hal ini dicibir oleh para kritikus sastra zaman tersebut karena cerpen dianggap sangat dangkal karena ukurannya yang pendek. Salah satu pengarang yang ikut muncul di era awal penulisan cerpen tersebut adalah Jack London, seorang pengarang realis yang karyanya “The Call of the Wild” akhirnya dikategorikan sebagai salah satu hasil sastra KANON. Namun tatkala membaca karya-karya Jack London, siapa yang akan mengatakan bahwa karyanya dangkal? Di awal muncul cerpen-cerpen London di surat kabar, para kritikus mencibirnya. Namun pada beberapa dekade berikutnya, para kritikus sastra pun telah mensejajarkannya dengan para novelis klasik, sebangsa Nathaniel Hawthorne.

Kebalikan dari sastra ngepop, jika sebuah karya ditulis demi idealisme sang pengarang yang ingin dia komunikasikan kepada masyarakat, sehingga memiliki makna yang dalam di balik apa yang tersurat, bukan melulu untuk memenuhi apa yang diinginkan oleh publik, maka karya tersebut dikategorikan dalam “high-brow literature” atau sastra tingkat tinggi. Selain itu, parameter sastra tingkat tinggi adalah tatkala sebuah karya pantas dimasukkan kedalam kategori sastra kanon. Di Amerika, kanon ini mengacu ke antologi-antologi besar seperti Norton Anthology, Heath Anthology, dll. Pertanyaan berikutnya adalah: siapa yang memiliki ‘privilege’ untuk memilih karya yang mana yang layak masuk ke antologi-antologi tersebut?

Penerbitan THE NORTON ANTHOLOGY OF LITERATURE BY WOMEN bisa dianggap sebagai salah satu perjuangan kaum perempuan untuk memasukkan karya-karya perempuan sebagai hasil karya sastra tingkat tinggi. Dalam bagian pengantar dari edisi pertama yang terbit pada tahun 1985, Sandra M. Gilbert dan Susan Gubar menulis:

“… no single anthology has represented the exuberant variety yet strong continuity of the literature that English speaking women have produced between the fourteenth century and the present. In the NORTON ANTHOLOGY OF LITERATURE BY WOMEN, we are attempting to do just that.”

“ ... tak satu pun antologi yang menyajikan hasil karya para pengarang perempuan yang sangat banyak dan variatif yang ditulis sejak abad keempat belas sampai sekarang. Dalam NORTON ANTHOLOGY OF LITERATURE BY WOMEN, kita berusaha untuk menyajikannya.”

“Complementing and supplementing the standard Norton anthologies of English and American literature, NALW should help readers for the first time to appreciate fully the female literary tradition which, for several centuries, has coexisted with, revised, and influenced male literary models.”

“Untuk melengkapi standard Anthologi Norton atas karya sastra Inggris dan Amerika, NALW bertujuan membantu para pembaca untuk mengapresiasi tradisi kesusastraan perempuan yang telah hadir bersama dengan kesusastraan hasil karya pengarang laki-lakiselama beberapa abad.”

Lebih lanjut lagi, pada edisi keenam The Norton Anthology of American Literature yang tebit pada tahun 2003, Nina Baym, editor umum menulis pada kata pengantar:

“That the “untraditional” authors listed above have now become part of the American literary canon shows that canons are not fixed, but emerge and change.”

“Bahwa para pengarang yang tidak biasanya termasuk dalam daftar pengarang karya sastra kanon menunjukkan bahwa kanon tidak memiliki standard yang kaku, namun sesuai zaman, dia akan memunculkan standard-standard baru.”

Kesimpulannya, pada akhirnya lama kelamaan dikotomi antara karya sastra ngepop dan yang konon memiliki nilai tinggi akan menghilang. Terserah kepada publik untuk menilai dan memilih karya yang mana yang akan mereka baca. Masyarakat yang dewasa akan menentukan selera mereka sendiri. Sedangkan tulisan-tulisan yang dianggap buruk akan ditinggalkan para pembaca.

PT56 10.42 040710
Ada kesalahan di dalam gadget ini