Minggu, April 24, 2011

Sang Pendobrak dan Sang Penurut

 
SANG PENDOBRAK DAN SANG PENURUT
Apresiasi atas film “?”

Tulisan ini akan berkonsentrasi pada dua tokoh perempuan yang ada dalam film “?” yang disutradarai dan diproduseri oleh Hanung Bramantyo, seorang sutradara film Indonesia yang sering menggunakan topik ‘agama’ dalam membuat film untuk menarik perhatian publik untuk menonton

Paling tidak ada dua jenis perempuan yang ada dalam kehidupan ini: sang pemberani/pendobrak yang kritis dan sang pengikut yang patuh.

RIKA:

Rika dikisahkan murtad dari agamanya – Islam – dikarenakan luka yang sangat mendalam dalam perkawinannya. Surat Annisa ayat 3 yang biasa dijadikan rujukan para pemuja syahwat sebagai ‘lampu hijau’ bagi mereka untuk berpoligami tentulah menjadi salah satu pemicu suami Rika untuk menikah lagi. Tiga syarat utama yang semula dianggap oleh pemerintah Indonesia menjadi ‘peredam’ agar para pemuja syahwat – namun bersembunyi di balik kedok agama – tidak mudah begitu saja berpoligami tidaklah menjadi penghalang. Tiga syarat utama itu yang tertulis dalam surat nikah orang Islam yaitu:
1.    Istri pertama tidak mampu memberikan keturunan
2.    Istri pertama tidak menjalankan kewajibannya sebagai istri
3.    Istri pertama tidak lagi mampu ‘melayani’ kebutuhan sang suami, entah karena sakit-sakitan atau sudah tua

Dalam kasus Rika yang di satu ‘scene’ ditunjukkan betapa hatinya terluka ketika suaminya meminta ijin Rika untuk menikah lagi, kita bisa menyimpulkan bahwa suaminya tidak berhak berpoligami karena jelas terlihat bahwa Rika telah memberinya keturunan – Rika dikisahkan memiliki seorang anak bernama Abi yang kemudian tinggal bersamanya setelah sang ayah pergi dari rumah; Rika pun tetap menjalankan kewajibannya sebagai istri, dan masih terlihat segar bugar yang tentu bisa kita simpulkan pula bahwa dia tidak memiliki masalah dalam hal ‘pelayanan’.

Luka hati Rika pada sang suami yang menggunakan kedok agama untuk berdua hati dalam pernikahannya membuat Rika mengambil jalan yang sangat ekstrim: pindah agama ke agama lain yang konon mengharamkan poligami. Kepada Surya – lelaki yang dekat dengannya setelah bercerai dengan suaminya – Rika mengatakan bahwa keputusannya pindah agama bukanlah dia mengkhianati Tuhan. Pernyataan Rika ini berarti bahwa dia sangat percaya dan yakin bahwa hanya ada satu Tuhan di alam semesta ini, untuk semua jenis agama, baik agama Ibrahimi maupun agama-agama jenis lain. Terbukti ketika dia diminta menulis apa yang dia pikirkan tentang Tuhan dalam kelas agama yang dia ambil sebelum dia dibaptis, dia menulis kesembilanpuluh sembilan sifat Tuhan yang termaktub dalam asmaul husna.
Luka hati seorang perempuan akan memberinya kekuatan untuk melakukan sesuatu yang terkadang tak pernah terpikirkan oleh orang-orang yang ada di sekitarnya. Dalam drama satu babak yang berjudul “Trifles” Susan Glaspell mengisahkan seorang istri yang akhirnya membunuh suaminya setelah hidup dalam pernikahan yang memaksanya hidup menjadi seseorang yang lain. (Check this link out.) Dalam drama “A Doll’s House” besutan Henrik Ibsen, Nora, sang tokoh perempuan, akhirnya memutuskan untuk pergi meninggalkan suami dan anak-anaknya dikarenakan kekecewaan yang beruntun hadir dalam hidupnya; suami yang tidak pernah mengapresiasi apa pun yang telah ia lakukan demi keluarga. Nora memutuskan melakukan satu hal yang waktu itu masih sangat tabu dilakukan oleh seorang perempuan.
Dalam kehidupan nyata, Charlotte Perkins Gilman – sang penggubah cerpen “The Yellow Wallpaper” – memutuskan untuk bercerai – pada abad ke 19 tersebut perceraian masih sangatlah dianggap menyalahi kodrat seorang perempuan di Amerika – ketika dia menyadari bahwa hidup dalam pernikahan dengan seorang suami yang tidak mendukungnya melakukan hal-hal yang membuatnya merasa lebih hidup telah membuatnya keluar masuk rumah sakit jiwa. Salah satu hal yang membuatnya merasa lebih hidup ini adalah Charlotte ingin dikenal sebagai dirinya sendiri, Charlotte Perkins, dibandingkan sebagai Mrs. Charles Walter Stetson.
Rika dalam film “?” mewakili para perempuan pemberani yang bersikap kritis.

MENUK

Menuk dikisahkan sebagai seorang istri yang taat dan saliha, tetap setia kepada suami yang menganggur dan tidak mengeluh. Justru dialah yang menghidupi keluarga dengan cara bekerja di sebuah restoran milik seseorang yang beretnis Cina. Meski Menuk berjilbab dia tetap merasa nyaman bekerja di sana karena sang pemilik restoran – Tan Kat Sun – memberinya kebebasan untuk tetap menjalankan perintah agama – dalam hal ini shalat – di lingkungan kerja. Restoran ini pun menyediakan dua jenis makanan – yang halal dan non halal. Tan Kat Sun dengan jeli mengajari para pegawainya untuk juga memisahkan peralatan-peralatan yang dipakai untuk memasak makanan yang halal dan non halal.

Seiring cerita berjalan, penonton akhirnya tahu bahwa ternyata sebelum menikah dengan Soleh, Menuk pernah menjalin kisah asmara dengan Hendra – anak sang pemilik restoran dan pewaris satu-satunya. Jika kemudian Menuk memilih menikahi Soleh dan bukan Hendra lebih disebabkan oleh agama yang sama. Menuk yang wanita saliha memilih menikahi Soleh yang Islam meski dia miskin dan pengangguran.

Pilihan Menuk ini membuat hati luka kedua laki-laki tersebut. Hendra menyesali mengapa hanya karena berbeda agama Menuk meninggalkannya. Di sisi lain, Menuk yang bekerja di restoran Tan Kat Sun pun kadang dicurigai oleh Soleh bahwa Menuk tetap bekerja di situ dikarenakan Hendra. Egonya sebagai laki-laki sering terluka tatkala melihat kenyataan bahwa dia tak mampu memberi nafkah lahir kepada istrinya, sementara di depan matanya dia melihat istrinya bekerja di restoran milik mantan kekasihnya, yang kaya raya.

Keteguhan Menuk untuk bergeming dalam menentukan pilihan ini menunjukkan tipe seorang perempuan yang patuh dan penurut pada ajaran (agama) yang dia terima.

PENDOBRAK versus PENURUT

Every human being is unique. Baik Rika maupun Menuk memiliki alasan-alasan tersendiri mengapa mereka mengambil satu keputusan yang sangat besar dalam hidupnya. No one is better than the other. No one is wrong or guilty. Setiap perempuan adalah perempuan sejati dalam versi masing-masing.

Terlihat dalam film bahwa keduanya kemudian mengambil resiko masing-masing dan bertanggungjawab atas pilihannya. Rika yang menjadi single parent tetap berusaha menjadi seorang ibu yang bertanggungjawab atas Abi anaknya. Abi yang semula khawatir bahwa sang bunda akan berubah setelah pindah agama membuktikan bahwa kasih sayang itu tidak berubah. Menuk yang memilih menikahi Soleh pun bertanggungjawab dengan pilihannya, tetap setia pada Soleh meski Soleh tak memberinya nafkah lahir yang layak. Dia pun tetap keukeuh dengan pendiriannya meski tiap hari dia bertemu dengan mantan kekasihnya di tempat kerja. Bahkan dia pernah meminta pada Hendra untuk tidak melampiaskan kekesalannya pada kegagalan kisah mereka dengan cara memusuhi Soleh.

Nana Podungge
PT56 20.31 240411

2 komentar:

Ada kesalahan di dalam gadget ini