Minggu, Maret 22, 2009

North Country


NORTH COUNTRY adalah sebuah film yang dibuat berdasarkan kisah nyata. Charlize Theron bermain apik sebagai Josey Aimes, sedangkan Glory, teman baik Josey diperankan oleh Frances McDormand. Film ini menggambarkan pelecehan seksual yang dilakukan terhadap para pekerja perempuan di sebuah perusahaan penambangan, Pearson Taconite and Steel Inc.
Ada dua hal yang cukup menonjol untuk diperhatikan dalam film ini. Pertama, perjuangan Josey untuk mendapatkan keadilan bagi semua pekerja perempuan di Pearson Taconite and Steel Inc. Yang kedua, kehidupan pribadi Josey sebagai single parent untuk membesarkan dan membahagiakan kedua anaknya.
Film ini mengawali kisahnya dengan menggambarkan pada tahun 1975 perusahaan penambangan di North Minnesota mulai menerima perempuan sebagai pegawai. Namun sampai tahun 1989 perbandingan pegawai laki-laki dan perempuan masih menunjukkan selisih yang sangat besar 30:1. Seperti di banyak negara lain di dunia ini, Amerika pun mengklasifikasikan pekerjaan sebagai pekerjaan laki-laki dan pekerjaan perempuan.

Bekerja di perusahaan penambangan termasuk dalam kategori pekerjaan laki-laki. Salah satu resiko tatkala seseorang memiliki pekerjaan yang ‘tidak termasuk gender’ yang dia miliki, maka orang itu pun akan dengan mudah diprotes atau bahkan dicemooh oleh masyarakat sebagai orang yang tidak ‘normal’. Contoh yang sangat mudah kita dapati adalah tatkala pertama kali seorang laki-laki bekerja di salon kecantikan—yang notabene diklasifikasikan sebagai pekerjaan ‘perempuan—maka laki-laki ini akan dengan mudah dicemooh oleh masyarakat sebagai orang yang tidak normal.
Josey Aimes pun mendapatkan tentangan yang sangat keras dari ayahnya untuk bekerja di Pearson Taconite and Steel Inc, meskipun Hank—sang ayah—telah bekerja di perusahaan tersebut puluhan tahun lamanya. Meskipun begitu, Josey tetap bersikeras untuk bekerja di perusahaan pertambangan tersebut. Satu alasan utama yang dia miliki: pekerjaan itu memberinya gaji yang cukup besar sehingga dia bisa menghidupi kedua anaknya dengan layak. Pekerjaan yang dia miliki sebelumnya—sebagai kapster sebuah salon—tidak memberinya banyak uang, sehingga dia terpaksa tinggal bersama kedua orang tuanya: satu hal yang sangat memalukan dalam kultur Amerika.
Ada dua alasan utama mengapa Hank tidak mengizinkan Josey bekerja di Pearson Taconite and Steel Inc.
Pertama, Hank merasa malu karena anak perempuannya melakukan pekerjaan yang seharusnya untuk laki-laki. Latar belakang anak pertama Josey yang lahir di luar perkawinan menyebabkan Hank semakin keras melarang Josey bekerja di situ. Kebungkaman Josey untuk memberitahukan siapa ayah anak pertamanya membuat Hank pun memandang Josey seperti para laki-laki umumnya: Josey adalah seorang perempuan yang brengsek. Dengan kecantikan yang dia miliki, Josey pun berpindah-pindah dari satu laki-laki ke laki-laki yang lain.
Satu pagi tatkala Josey datang ke rumah orang tuanya dengan membawa kedua anaknya, Hank menuduh, “Suamimu memukulmu karena mendapati kamu tidur dengan laki-laki lain?”
Kedua, ada perasaan tidak terima bahwa dia disaingi oleh anaknya yang perempuan dalam hal menerima gaji yang besar. Tatkala Josey mengatakan padanya, “I work in the same company as you. I got good money. I will buy a house for my children,” Hank memandangnya remeh dan berkata, “So now you feel as good as me?” Meskipun perempuan menerima penghasilan yang besar, laki-laki tetap tidak mau tersaingi dalam hal ini.
Selain itu, dengan lebih banyak perempuan yang diterima dalam perusahaan penambangan tersebut, terlihat kekhawatiran para laki-laki bahwa perempuan akan menggeser kedudukan mereka. Kedudukan sebagai ‘pencari nafkah’ mereka bisa jadi akan terancam.
Josey sang pemberani pun memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya manakala dia merasa bahwa pelecehan seksual yang dia terima dari rekan-rekan kerjanya telah membuatnya merasa tidak nyaman, walaupun dia membutuhkan uang untuk membesarkan anak-anaknya. Dia memutuskan keluar setelah dia lihat bahwa serikat pekerja di perusahaan tersebut tidak menawarkan bantuan, bahkan menganggap laporan Josey tentang pelecehan seksual yang dia terima sebagai sesuatu yang mengada-ada. Latar belakang Josey sebagai seorang perempuan yang hamil di luar pernikahan, dalam usia yang masih relatif muda, justru membuatnya dituduh sebagai perempuan penggoda, sehingga ‘pelecehan seksual’ pun terjadi.

Setelah keluar dari pekerjaannya, Josey melaporkan perusahaan pertambangan tersebut ke pengadilan tentang praktik pelecehan seksual yang dilakukan kepada semua pegawai perempuan. Setelah melalui sidang-sidang yang alot, berusaha meyakinkan teman-teman perempuannya untuk ikut mendukungnya, akhirnya kasus ini pun dimenangkan oleh pihak Josey. Kemenangan ini memiliki arti yang sangat penting karena di kemudian hari dibuatlah undang-undang yang melindungi para pegawai perempuan di perusahaan-perusahaan dari pelecehan seksual yang dilakukan di dalam perusahaan tersebut.
Siapapun tentu akan mengatakan bahwa Josey Aimes merupakan seorang perempuan yang kuat, tabah dan tangguh. Dia memilih mempertahankan kehamilannya yang terjadi tatkala dia duduk di bangku sekolah menengah meskipun kehamilannya adalah hasil perkosaan yang dilakukan oleh salah seorang gurunya. Bahkan dia pun memilih bungkam tatkala orang tuanya bertanya siapa yang menghamilinya. Untuk menjaga “nama baik” gurunya? Bagaimana mungkin seorang anak perempuan berusia belasan tahun merasa perlu menjaga nama baik guru yang telah memperkosanya?
Resiko dari memelihara kehamilan yang terjadi akibat perkosaan tentulah Josey akan selalu teringat peristiwa menyakitkan itu setiap kali dia memandang Sammy—anaknya. Dia tetap selalu berusaha untuk berada di samping Sammy tatkala dia membutuhkannya meskipun Sammy sering kali bersikap memusuhinya dikarenakan ‘termakan’ omongan orang di luar bahwa ibunya adalah seorang ‘perempuan penggoda’.
Sidang-sidang dalam pengadilan—dan usaha-usaha yang dilakukan oleh Pearson Taconite and Steel Inc untuk memenangkan kasus pelecehan seksual—justru telah membuat kasus perkosaan itu mencuat. Sammy yang terpuruk setelah mengetahui bahwa ayahnya adalah seorang pemerkosa akhirnya menyadari betapa besar cinta yang ibunda untuknya, betapa Josey Aimes sang ibu adalah seorang perempuan tangguh.
PT56 17.10 220309

4 komentar:

  1. Bahwa benar saja sering tidak cukup. Hak tidak akan pernah turun dari langit. Diperlukan tangga juang untuk mencapainya.

    BalasHapus
  2. Daku juga tinggal di north nih, ntar aku bikin filmnya juga ah, judulnya North Dublin xixixixixi...

    BalasHapus
  3. well, being woman is never easy, especially when you decide to go against the grain. people will always open up you past mistake (i don't thing pre-marital pregnacy is a mistake) whenever you want to do something good. bravo to jose then.
    but miss nana, we have to remember josey's experience and background (her education, her country, her culture etc)is completely different from ours here back in indonesia. postcolonially speaking, we can just copy cat josey's act without considering the different experiences and problems faced by our indonesia women.
    however, we do need a josey here to make the day. bravo miss nana

    BalasHapus
  4. To aroengbinang, you are completely right. People sometimes need to struggle to make what they believe is right come true.

    To Jeng Sri, jangan lupa aku dikirimin VCD originalnya yah? LOL.

    To Delvi, I also realize that the background of Josey's life is different from the culture here in Indonesia. Perhaps a woman working for a mining site will not get that harsh sexual harassment as what happened to Josey. However, the way people treated a woman who got pregnant out of wedlock in Josey's life is pretty much similar to Indonesian culture. Women are considered cheap bitch. :(

    BalasHapus

Ada kesalahan di dalam gadget ini