Kamis, Mei 12, 2011

Exhibionism

Dikarenakan sebuah komen di status seorang teman -- yang mengatakan bahwa ekspresi kebahagiaan itu menular -- aku jadi browsing kata 'exhibionist' di bing.com (sekali-sekali ngebing, ga nggoogle terus-terusan.) (Can you guess what happened as the background so that I was spurred to browse this 'outstanding' word? )

Dan, aku mendapatkan informasi yang membuatku terkaget-kaget. Seingatku -- atau setahuku dari pengalaman maupun bacaan -- kata exhibionist dihubungkan pada kaum laki-laki yang menderita disorder tertentu yang membuat mereka merasakan 'urge' yang sangat kuat untuk memamerkan alat genital mereka dan mostly kepada perempuan. Hal ini tentu dilatarbelakangi oleh kultur heteroseksual yang dianggap 'normal'. (Seolah-olah tidak ada orang homoseksual yang menderita disorder yang satu ini?) Namun di  Exhibionism justru memberikan informasi seperti ini:

Public exhibitionism by women has been recorded since classical times, often in the context of women shaming groups of men into committing, or inciting them to commit, some public action.[2] The ancient Greek historian Herodotus gives an account of exhibitionism from the fifth century BC in The Histories.

Perhatikan kata 'women' yang memang sengaja kutebalkan. Lho kok malah perempuan yang dituju sebagai pelaku pamer aurat ini?

Memang aku pernah membaca tudingan orang-orang pada para perempuan yang (kebanyakan) bekerja di media sebagai salah satu pelaku exhibionism tatkala muncul di depan publik dengan mengenakan pakaian terbuka. Sedangkan jika dilihat dari kacamata para feminis, kebanyakan dari mereka itu -- misal host infotainment -- merupakan korban para produser yang ingin menjual acara mereka agar lebih banyak ditonton khalayak ramai dengan cara memamerkan keseksian para host.

Yang juga mencengangkan adalah reaksi apakah yang diharapkan oleh para pelaku exhibionist. Dari riset yang didapatkan dari 185 pelaku exhibionist, ada enam jawaban teratas:

The most common response was
“Would want to have sexual intercourse” (35.1%),  
“No reaction necessary at all” (19.5%),
“To show their privates also” (15.1%),
“Admiration” (14.1%), and
“Any reaction” (11.9%).
Only very few exhibitionists chose
“Anger and disgust” (3.8%)
“Fear” (0.5%)

Padahal selama ini setahuku, para pelaku exhibionist itu konon akan mendapatkan kepuasan ketika orang yang mereka pameri menunjukkan ekspresi ketakutan atau jijik. Konon, alat genital mereka akan semakin tegak -- berlaku hanya kepada kaum berpenis tentu saja. Kebalikannya, mereka akan sangat kecewa tatkala yang mereka pameri menunjukkan ekspresi biasa saja, apalagi jika dibarengi dengan kata-kata cemoohan, "Hanya segitu yang kau punya tapi kau punya nyali untuk pamer? malu-maluin!"

Seorang rekan kuliah dulu bercerita pengalamannya tatkala duduk di samping seorang exhibionist di sebuah bus kota. Dia kebetulan duduk di pojok dekat jendela paling depan. Yang duduk di sebelah kirinya tiba-tiba membuka restleting celananya dan mengeluarkan alat genitalnya. Temanku yang jijik sebenarnya namun tak mau membuat orang itu mendapatkan kepuasan mental jika temanku menunjukkan ekspresi wajah jijik, berusaha setenang mungkin, berkata, "Hah? hanya segitu punyamu? malu-maluin!" Dan orang itu pun dengan serta merta menutup kembali celananya sambil menunjukkan wajah malu.

Jika dihubungkan dengan hasil riset yang dimuat di wikipedia, lho kok beda jauh ya? Apakah kultur Barat dan Timur membedakan?

GL7 15.05 120511
mooning = salah satu 'jenis' exhibionism

1 komentar:

Ada kesalahan di dalam gadget ini