Minggu, Juli 04, 2010

Hegemoni Sastra


Hegemony is the political, economic, ideological or cultural power exerted by a dominant group over other groups, regardless of the explicit consent of the latter.


Hegemony adalah satu kekuatan politik, ekonomi, ideologi maupun budaya yang dinyatakan oleh satu kelompok dominan atas kelompok-kelompok lain, meskipun kelompok-kelompok lain tersebut tidak menyetujuinya. Lebih lanjut lagi, memasuki abad ke-20, Antonio Gramsci, seorang ilmuwan politik menyatakan bahwa hegemoni budaya menunjukkan dominasi kekuatan satu kelompok ‘penguasa’ budaya untuk ‘memaksa’ kelas-kelas sosial di bawahnya untuk menerima dan mengadopsi nilai-nilai kelompok para penguasa yang borjuis.

Bagaimana dengan hegemoni dalam sastra? Tentu saja memiliki karakter yang sama. Para ‘penguasa’ bidang sastra yang ‘mungkin’ didominasi oleh mereka yang memiliki gelar doktor maupun profesor sastra pun melemparkan wacana yang sama. Mereka merasa lebih mumpuni untuk menentukan ‘ini puisi bagus’ atau ‘ini puisi kacau’, dlsb. Pertanyaan berikutnya adalah, “apakah the so-called sang penguasa selalu benar? Padahal sastra sendiri bukanlah satu bidang yang bisa dikalkulasi secara kuantitatif. Misal: “penggunaan metafora dalam bait ini jumlahnya hanya sekian ... berarti puisi ini jelek ...” atau “ah, terlalu mudah tertebak ini puisi berkisah tentang apa ... berarti puisi ini super jelek.” Sebaliknya, “wow, metafora bertaburan dalam puisi ini, maka KEREN” atau “puisi ini, ahh ... sulit sekali dipahami karena terlalu indah merangkai kata-kata ...maka SUPER DUPER KEREN!”

Hal ini mengingatkanku pada sebuah kelas ketika masih duduk di bangku kuliah, dosenku yang hanyamendapatkan gelar master American Studies di US bercerita tentang pengalamannya berkunjung ke sebuah galeri lukisan tatkala dia berada di negara Paman Sam tersebut. Banyak orang yang terkagum-kagum dengan lukisan yang dipamerkan, namun tatkala ditanya apa ‘cerita’ lukisan tersebut, mereka tidak paham. “Pokoknya kalau tidak mudah dipahami itu keren! Itu yang disebut SENI.” Kilah mereka. Kisah yang paling konyol adalah ketika seorang pengunjung terkagum-kagum dengan sebuah lukisan, kemudian berkoar-koar tentang lukisan tersebut kepada dosenku, “bla bla bla ...” tak disangka tak dinyana, tak lama kemudian sang pelukis lukisan itu datang, kemudian berkata, “Maaf, lukisan ini tergantung terbalik.”

==========================

Berikut ini adalah terjemahan artikel tulisanku yang kumuat di High Literature versus Popular Literature

Dalam kelas “Popular Literature” yang kuikuti tatkala duduk di bangku kuliah American Studies Universitas Gadjah Mada, dalam sebuah sesi kita berdiskusi tentang dikotomi “popular literature” (sastra populer yang sering dianggap sebagai sastra kelas rendah) versus “high brow literature” atau sastra tingkat tinggi. Bagaimanakah kisahnya hingga dikotomi ini eksis? Siapakah yang merasa memiliki hak untuk menentukan yang manakah sastra ngepop yang mana sastra tinggi. Pula, bagaimanakah kisahnya sehingga orang-orang tersebut merasa memiliki privilege tersebut?

Para kritikus sastra mengatakan bahwa jika sebuah karya dihasilkan hanya untuk menuruti apa yang diinginkan oleh publik – misalnya hanya untuk ‘fun’, tak memiliki makna yang mendalam – maka karya tersebut dikategorikan sebagai sastra ngepop. Selain itu, para kritikus juga mengatakan karya sastra ngepop mengacu ke karya yang ditulis hanya untuk kebutuhan komersial belaka, karena sang pengarang butuh uang.

Menjelang akhir abad 19, tatkala budaya menulis cerpen mulai merebak di seantero Amerika, banyak pengarang yang berpindah haluan, demi menghasilkan uang dengan cepat, daripada harus menulis novel yang butuh waktu lama. Tentu saja hal ini dicibir oleh para kritikus sastra zaman tersebut karena cerpen dianggap sangat dangkal karena ukurannya yang pendek. Salah satu pengarang yang ikut muncul di era awal penulisan cerpen tersebut adalah Jack London, seorang pengarang realis yang karyanya “The Call of the Wild” akhirnya dikategorikan sebagai salah satu hasil sastra KANON. Namun tatkala membaca karya-karya Jack London, siapa yang akan mengatakan bahwa karyanya dangkal? Di awal muncul cerpen-cerpen London di surat kabar, para kritikus mencibirnya. Namun pada beberapa dekade berikutnya, para kritikus sastra pun telah mensejajarkannya dengan para novelis klasik, sebangsa Nathaniel Hawthorne.

Kebalikan dari sastra ngepop, jika sebuah karya ditulis demi idealisme sang pengarang yang ingin dia komunikasikan kepada masyarakat, sehingga memiliki makna yang dalam di balik apa yang tersurat, bukan melulu untuk memenuhi apa yang diinginkan oleh publik, maka karya tersebut dikategorikan dalam “high-brow literature” atau sastra tingkat tinggi. Selain itu, parameter sastra tingkat tinggi adalah tatkala sebuah karya pantas dimasukkan kedalam kategori sastra kanon. Di Amerika, kanon ini mengacu ke antologi-antologi besar seperti Norton Anthology, Heath Anthology, dll. Pertanyaan berikutnya adalah: siapa yang memiliki ‘privilege’ untuk memilih karya yang mana yang layak masuk ke antologi-antologi tersebut?

Penerbitan THE NORTON ANTHOLOGY OF LITERATURE BY WOMEN bisa dianggap sebagai salah satu perjuangan kaum perempuan untuk memasukkan karya-karya perempuan sebagai hasil karya sastra tingkat tinggi. Dalam bagian pengantar dari edisi pertama yang terbit pada tahun 1985, Sandra M. Gilbert dan Susan Gubar menulis:

“… no single anthology has represented the exuberant variety yet strong continuity of the literature that English speaking women have produced between the fourteenth century and the present. In the NORTON ANTHOLOGY OF LITERATURE BY WOMEN, we are attempting to do just that.”

“ ... tak satu pun antologi yang menyajikan hasil karya para pengarang perempuan yang sangat banyak dan variatif yang ditulis sejak abad keempat belas sampai sekarang. Dalam NORTON ANTHOLOGY OF LITERATURE BY WOMEN, kita berusaha untuk menyajikannya.”

“Complementing and supplementing the standard Norton anthologies of English and American literature, NALW should help readers for the first time to appreciate fully the female literary tradition which, for several centuries, has coexisted with, revised, and influenced male literary models.”

“Untuk melengkapi standard Anthologi Norton atas karya sastra Inggris dan Amerika, NALW bertujuan membantu para pembaca untuk mengapresiasi tradisi kesusastraan perempuan yang telah hadir bersama dengan kesusastraan hasil karya pengarang laki-lakiselama beberapa abad.”

Lebih lanjut lagi, pada edisi keenam The Norton Anthology of American Literature yang tebit pada tahun 2003, Nina Baym, editor umum menulis pada kata pengantar:

“That the “untraditional” authors listed above have now become part of the American literary canon shows that canons are not fixed, but emerge and change.”

“Bahwa para pengarang yang tidak biasanya termasuk dalam daftar pengarang karya sastra kanon menunjukkan bahwa kanon tidak memiliki standard yang kaku, namun sesuai zaman, dia akan memunculkan standard-standard baru.”

Kesimpulannya, pada akhirnya lama kelamaan dikotomi antara karya sastra ngepop dan yang konon memiliki nilai tinggi akan menghilang. Terserah kepada publik untuk menilai dan memilih karya yang mana yang akan mereka baca. Masyarakat yang dewasa akan menentukan selera mereka sendiri. Sedangkan tulisan-tulisan yang dianggap buruk akan ditinggalkan para pembaca.

PT56 10.42 040710

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini