Selasa, Februari 16, 2010

Transgender

“God never made mistakes in creating human beings!”
("Tuhan tidak pernah melakukan kesalahan tatkala menciptakan manusia!")

Beberapa tahun yang lalu pernyataan ini diucapkan oleh salah satu siswaku tatkala aku meminta kelas itu untuk berdiskusi tentang homoseksualitas / transgender / transseksualisme. Aku sempat menyitir apa yang ditulis oleh seorang transseksual dalam buku yang berjudul "Transseksualisme" "Saya terlahir terjebak dalam tubuh yang salah." Kelas itu berisi beberapa mahasiswa salah satu universitas negeri di Semarang. Aku membagi siswa-siswa itu dalam beberapa kelompok untuk berdiskusi tentang hal tersebut. Latar belakang diskusi ini adalah 'gosip' tentang salah satu celebrity Indonesia yang konon adalah seorang gay. KM -- inisial sang celebrity -- ini sendiri selalu mengelak tentang orientasi seksualnya secara terbuka.

Dan sebagai salah satu yang berada pada jajaran 'acclaimed feminist' harus aku katakan bahwa gerakan feminisme tidak bisa dipisahkan dari gerakan LGBT -- Lesbian/Gay/Biseksual/Transgender -- karena sama-sama termasuk kelompok minoritas. Ini sebab aku pun tertarik pada issue LGBT.

Menyadari bahwa aku menghadapi sekelompok mahasiswa yang mungkin akan antipati pada jalan berpikirku yang ngepro kebebasan memilih orientasi seksual, aku harus menjawab pernyataan salah satu mahasiswaku itu dengan hati-hati dan bijaksana.

Tentu saja aku pun haqqul yakin bahwa Tuhan tidak pernah melakukan kesalahan dalam menciptakan alam semesta ini, termasuk manusia. Lantas siapa yang melakukan kesalahan? Manusia itu sendiri. Dalam kasus ini, misal tatkala manusia membuat kategori jenis kelamin 'hanya' ada dua jenis: laki-laki (manusia yang dilahirkan dengan memiliki penis) dan perempuan (manusia yang dilahirkan dengan memiliki vagina, rahim, dan payudara) dan kemudian membatasi bahwa yang dianggap 'normal' hanyalah tatkala laki-laki tertarik pada perempuan, dan perempuan tertarik pada laki-laki: ketertarikan secara romantis, seksual, dan sensual. Di luar dua kategori ini, pasti salah, alias 'tidak normal'. Berpikir bahwa tidak selayaknya manusia merasa dilahirkan dalam tubuh yang salah tentu sangatlah 'narrow-minded', karena hal ini berarti menafikan adanya perspektif yang lain.

Berdasarkan riset yang telah dilakukan, para anthropologist mengklasifikasikan manusia menjadi empat kategori, berdasarkan orientasi seksualitasnya:

  • Laki-laki (baca: makhluk berpenis) tertarik kepada perempuan (baca: makhluk bervagina)
  • Perempuan tertarik kepada laki-laki
  • Laki-laki tertarik kepada laki-laki
  • Perempuan tertarik kepada perempuan
Pengaruh agama samawi yang sangat kuat (Yahudi, Nasrani, Islam) menyempitkan keempat kategori di atas hanya menjadi dua kategori, yang pertama dan kedua. Ajaran agama membuat kategori ketiga dan keempat dianggap tidak normal, atau bahkan melawan hukum alam.

Pemerintah kolonial Belanda membawa pengaruh ini ke Indonesia. Hasilnya beberapa komunitas di Indonesia yang dulunya memberikan posisi terhormat kepada para kaum homoseksual terpojokkan, bahkan menghilang perlahan-lahan. Komunitas ini misalnya: komunitas 'bissu' di Makassar, 'warok gemblak' di Jawa Timur, 'dalaq' di Madura, 'shaman' di Dayak Ngaju, dll. Selain itu, pengaruh kuat dua agama samawi yang dibawa ke Indonesia -- Nasrani dan Islam -- membuat komunitas-komunitas tersebut terpinggirkan dan mendekati kepunahan. Padahal, sebelum kedua agama samawi itu diimpor ke Indonesia, dan sebelum pemerintah kolonial Belanda menjajah bumi Nusantara, komunitas-komunitas tersebut sangat dihormati di masyarakat.

Bukankah sudah saatnya kita mau memahami perspektif lain sehingga kita tahu apa yang mereka rasakan dan merasakan empati?

Irshad Manji (seorang feminis Muslim 'scholar' yang mengaku diri sebagai lesbian) mengatakan, "“Bukankah Tuhan sangat bisa dengan keMahaKuasaan-Nya menjadikanku untuk tidak menjadi seorang lesbian?” (Jurnal Perempuan nomor 58) Kenyataan mengatakan seorang Irshad Manji adalah seorang lesbian. Ada campur tangan Tuhan di balik ini.

Nana Podungge
-- sang feminis yang seorang hetero --
PBIS 11.11 160210
(artikel dalam bahasa Inggris bisa dibaca di sini)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar