Kamis, Desember 23, 2010

Perempuan = Dekorasi?

PEREMPUAN = DEKORASI?

“Aku suka perempuan cerdas,” kata lelaki itu, di pertemuan yang pertama. Setelah obrolan antara aku dan dia berjalan selama kurang lebih dua jam.

Aku hanya tersenyum tipis. Ini bukan yang pertama kali seorang laki-laki ‘flirt’ aku dengan mengatakan hal tersebut.
“Perempuan cantik dan seksi itu bertebaran dimana saja. Aku bisa menemukan mereka di mana pun dan kapan pun. Tapi kalau perempuan cerdas? Nah ... that is really something,” tambahnya lagi.

“Tahukah engkau banyak laki-laki justru tidak menyukai perempuan yang cerdas?” sahutku dengan nada datar, untuk menunjukkan kepadanya bahwa rayuannya tidak mempan membuatku melambung ke awan.

Mimik wajahnya terlihat sedikit kaget mendengar perkataanku itu. Mungkin juga ditambah nada datar yang kupilih, plus tentu dia tidak menemukan rona muka malu-malu tapi nafsu di wajahku.

“Lelaki yang tidak menyukai perempuan cerdas tentu karena lelaki itu tidak pede, karena kalah cerdas.” Katanya.

“Memang ...” jawabku, tetap dengan nada datar, tanpa ekspresi berlebihan.

“Namun aku bukan tipe lelaki yang seperti itu Na. Meski mungkin pendidikan formalku tidak setinggi pendidikanmu, aku yakin aku ga kalah cerdas dibandingkan kamu, karena aku hobi membaca. Coba kalau kamu datang ke rumahku, kamu bisa meminjam buku-bukuku. Untuk membaca semuanya, kamu butuh lebih dari tiga tahun, itu dengan catatan satu hari kamu membaca satu judul buku.” Katanya, setengah membanggakan diri.

“Dan kamu juga bukan lelaki pertama yang merayuku dengan mengatakan hal yang sama,” sahutku tajam.

Aku ingat seorang mantan rekan kerja yang di mataku sangat cerdas namun memilih seorang istri yang di mataku kecerdasannya biasa-biasa saja, meski memiliki kecantikan luar yang sangat memikat. Setelah berkenalan dengan adiknya, perempuan, yang tak kalah cerdas, aku baru tahu alasannya. Di mata kakak laki-lakinya itu, perempuan hanyalah ‘dekorasi’. Dia cukup bangga tatkala berjalan didampingi oleh seorang perempuan yang jelita dan dikagumi oleh orang yang memandangnya. “Wah, mas, istrimu cantik sekali?”

 Alasan kedua, perempuan yang menjadi istrinya itu tipe perempuan yang berprinsip, “whatever my husband says, I will follow...” 

“Aku sadar hal tersebut ketika terjadi adu argumentasi yang lumayan alot di rumah, tatkala aku memutuskan untuk pergi ke Amerika untuk melanjutkan kuliah. Suamiku mendukung penuh, ayahku juga. Herannya yang tidak mendukung adalah ibuku dan kakak laki-lakiku itu. “ cerita sobatku. “ “Kakakku sempat bilang, bahwa kalau aku adalah istrinya, dia tidak akan membiarkan aku pergi ke Amerika. Seperti ibuku, dia lebih menyuruhku tinggal di Indonesia dan berkonsentrasi untuk memiliki anak. You know ...”

Laki-laki cerdas ternyata tidak selalu pede menghadapi perempuan cerdas. Meski tentu aku tahu ini hanya sekedar masalah pilihan hidup.

---------- ---------- ---------- ----------

“Aku heran dengan pendidikan Bahasa Inggris di negara kita ini. Dengan memberikan pelajaran Bahasa Inggris selama kurang lebih empat jam seminggu, dari kelas 1 SMP sampai kelas 3 SMA, seharusnya paling tidak seorang lulusan SMA mampu berbicara menggunakan Bahasa Inggris. Yah ... paling tidak dalam situasi yang ringan, misal menerima telpon, pesan makan di restoran, menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tidak rumit. Namun kenyataannya pada umumnya, aku ulangi lagi, pada umumnya, lulusan SMA masih banyak yang belum bisa menggunakan Bahasa Inggris dalam kegiatan sehari-hari. Nah ... kamu kan guru Bahasa Inggris. Apa pendapatmu?” tanya lelaki yang sama. Ini pertemuan kita berdua.

“Banyak alasan mengapa terjadi hal yang kamu kemukakan tadi. Tapi aku yakin, faktor guru memang sangat memegang peran penting dalam membuat seorang siswa suka belajar Bahasa Inggris atau tidak. Terutama guru yang mengajarkan Bahasa Inggris kepada seorang anak untuk pertama kali. Karena banyak di antara siswaku atau mahasiswaku yang mengaku mereka dulu tidak suka pelajaran Bahasa Inggris karena tatkala duduk di bangku SMP, mereka tidak menyukai gurunya. Setelah lulus kuliah, mau mencari pekerjaan, baru mereka kelabakan ingin memperdalam kemampuan Bahasa Inggris mereka. Bla bla bla ...”

Tatkala aku menjelaskan dengan serius, kulihat laki-laki di hadapanku itu menatap wajahku dengan tatapan mata yang, entah mengapa, aku menyimpulkan dia tidak mendengarkan penjelasanku dengan seksama. Tak lama kemudian, sambil tetap memandang wajahku dan tersenyum-senyum yang sayangnya aku tak mampu menangkap maknanya, dia menggerakkan tangannya, memberiku tanda untuk mendekat kepadanya, dan berbisik,

“Kamu tahu ga Na? Aku ga ndengerin apa yang kamu katakan. Aku malah asyik memandang indahnya lesung pipit di pipi kirimu. Kamu tahu kah kamu manis sekali kalau tersenyum?”

###

Ternyata dia sama saja dengan para lelaki lain yang menganggap perempuan hanyalah barang dekorasi yang cukup untuk dipandangi dengan nikmat. Dan bukan untuk didengarkan apa yang dia katakan, rangkaian argumentasi yang keluar dari otaknya!

“Aku menyukai perempuan cerdas,” yang dia katakan di pertemuan kita pertama hanyalah rayuan gombal kosong.
Bikin ENEG!

PT28 18.25 221210

Minggu, Desember 19, 2010

Car Free Day 19 Desember 2010 di Semarang


Catatan Tercecer dari Car Free Day 
 
Setelah tertunda satu minggu dari rencana semula, 'event' Car Free Day akhirnya di Semarang diselenggarakan pada tanggal 19 Desember 2010, dari pukul 05.00 sampai (katanya) pukul 10.00, dari bundaran Tugumuda sampai depan Mal Paragon. Setelah sekian minggu (atau bulan?) berlalu tanpa ada event bersama dengan teman-teman pesepeda Komunitas b2w Semarang khususnya, dan komunitas-komunitas lainnya, maka bagiku pribadi event CFD kali ini merupakan kesempatan 'langka' yang sangat berharga digunakan untuk berkumpul dengan teman-teman.

Ada beberapa kejadian yang ingin 'kulestarikan' lewat tulisan ini.

(1) Alhamdulillah banget beberapa merchandise yang dibawa ke venue oleh Darmawan a.k.a. Boil Lebon sang humas b2w Semarang laris manis, terdiri dari kaos jersey b2w Semarang dengan warna 'kebesaran' bike-to-work yakni kuning (harga Rp. 85.000,00); kaos b2w lain yang berwarna putih (harga Rp. 75.000,00); dan satu 'paket' yang berisi bike tag, sticker, plus pin (harga Rp. 20.000,00).

(2) Sebuah kejadian yang bagiku lumayan menyesakkan dada adalah tatkala ada seorang laki-laki usia paruh baya bertanya kepadaku, "Jualan kaos ya mbak?" Aku jawab, "Iya pak. Ini yang kuning kaos jersey b2w, ..." belum selesai aku berbicara, dia sudah memotong dengan mengatakan, "Saya bukan b2w, saya anggota komselis." Terus ngeloyor pergi. !@#$%^&*()_!@#$%^&*()

Kemudian orang yang sama mendekati teman yang lain, yang kebetulan sedang memasukkan bike tag, sticker, plus pin kedalam sebuah 'paket'. (NOTE: semua 'berhiaskan' logo b2w.) Kulihat orang itu membeli dua buah paket. Kebetulan sebelum orang tersebut pergi, ada seorang teman yang didapuk sebagai ketua komselis, nyamperin. Orang yang tak kukenal itu, menyodorkan dua buah paket bike tag dll tersebut ke ketua komselis sambil bertanya, sedikit ragu-ragu, "Mas, saya beli paket bike tag ini boleh? Kalau saya pasang di sepeda boleh?" Sang ketua komselis menjawab datar, "Boleh pak boleh ..."

Kesimpulanku: apa orang mengira b2w dan komselis itu sejenis aliran ya? Atau konon seperti komunitas b2w Jakarta yang sudah memiliki 'sempalan' yakni 'back to bike', dan anggotanya HARAM hukumnya untuk menyeberang komunitas?

Introspeksi diri: anggota b2w sebaiknya tidak berhenti mengampanyekan bahwa b2w bukanlah kumpulan pesepeda yang eksklusif. Semua orang boleh memasang bike tag b2w, tidak peduli mereka anggota komunitas sepeda lain, misal (di Semarang, SOC, Gagak Rimang, SMBC, Balung Tuwo, TendBir, you name it!) Semua orang juga boleh membeli dan mengenakan kaos jersey b2w. Slogan "APA PUN SEPEDANYA, YANG PENTING BERSEPEDA KEMANA PUN KITA PERGI" harus tetap didengungkan.

(3) Seorang lelaki yang membeli bike tag heran mengapa kita menjualnya kali ini, padahal beberapa tahun lalu kita membaginya gratis. Dia bercerita mendapatkan bike tag b2w gratis tahun 2008 (waktu kita mengadakan event rolling thunder pertama bareng SOC, kita memang sempat membagi bike tag gratis kepada para pesepeda yang kita temui waktu itu.) Namun bike tag yang dia miliki itu hilang karena dijatuhcintai orang yang tidak tahu caranya bagaimana memperoleh bike tag. Dan dia telah kehilangan bike tag DUA KALI! WAAAAHHH ...

(4) Setahuku penyelenggaraan CFD dari jam 5 pagi sampai jam 10 pagi. Namun ternyata baru pukul 9 'pagar betis' sudah pergi sehingga jalan Pemuda sudah dilewati kendaraan bermotor lagi. :-((

(5) Kenapa pak ketu om Salam Mesra ga keliatan tadi ya?

Yang mau nambahi, monggooooooooooo :)

See you on the following CFD!

Nana Podungge
Sekretaris b2w Semarang
PT56 12.00 191210

Selasa, November 30, 2010

Mari Bersepeda, demi Ibu Bumi


MARI BERSEPEDA, DEMI IBU BUMI

Dikarenakan artikel yang berasal dari alamat ini Bersepeda karena trend beredar di milis komunitas b2w, aku jadi bernostalgia dengan tulisan-tulisanku sendiri yang kutulis pada tahun 2008, tatkala aku adalah seorang newbie di jajaran para pesepeda ke kantor. Ada beberapa tulisan yang kuhasilkan waktu itu, mulai dari bagaimana seorang bernama Aluizeus Triyono (Aluizeus ) mempromosikan tentang bersepeda ke kantor di site-ku di multiply (Nana's Cyber Home  ); pertama kali komunitas b2w Semarang dibentuk (26 Juni 2008); pertama kali aku menjalani bersepeda ke kantor; keragu-raguan Angie, anakku, akan keberhasilan ‘gerakan moral’ pencinta lingkungan untuk memasyarakatkan bersepeda ke kantor; pertama kali CNR seorang diri; tulisan tentang pak Wargo, salah satu ‘role model‘ b2wer Semarang mengingat kekonsistenannya bersepeda ke kantor (4 kali sehari) dan jarak yang lumayan jauh ditempuh, 70 km pulang pergi setiap bersepeda ke kantor, promosi bike-to-work; dll, dll.

Di bawah ini kusertakan beberapa alamat postinganku di blog Serba Serbi Kehidupan

Bersepedaan yuk? Bersepedaan, yuk?
B2w Semarang B2w Semarang
Bike to work Bike to work
The First time The First Time ...
Ngepit menyang kantor Ngepit menyang kantor
Bike to work, yuk? Bike to work, yuk?
Promosi b2w Promosi b2w
Pengalaman 7 Juli 2008 (alias CNR sendirian pertama kali) CNR sendirian 7 Juli 2008
Sepedaku, sepedamu, sepedanya Sepedaku, sepedamu, sepedanya
Bikers on the street Bikers on the street
Bersepeda oh asyiknya Bersepeda, oh, asyiknya
Setelah berbike-to-work Setelah berbike-to-work

Setelah dua tahun berlalu, introspeksi apa yang bisa kulakukan?

Anggota komunitas b2w Semarang tentulah telah jauh berlipat ganda ketimbang ketika pertama kali kita berkumpul untuk ‘mendeklarasikan’ berdirinya komunitas b2w Semarang, yang waktu itu hanya dihadiri oleh 11 orang. Apakah dengan ini aku bisa menunjukkan kepada Angie bahwa keragu-raguannya akan keberhasilan gerakan moral pecinta lingkungan untuk mengurangi polusi udara dengan mengurangi penggunaan kendaraan bermotor tidak terbukti?

Jikalau kata ‘ngetren’ perlu digunakan untuk lebih menaikkan prestige para b2wer, bolehlah kita memakainya untuk lebih mempromosikan bersepeda ke kantor/kampus/sekolah. Namun mengingat segala sesuatu yang ‘trendy’ itu akhirnya akan menjadi ‘kuno’ dan tak lama kemudian akan ditinggalkan, sebaiknya memang kita lebih mempromosikan pentingnya kita bersepeda ke kantor; yakni untuk ikut mengurangi polusi udara, mengurangi ketergantungan kepada sumber daya alam yang satu saat nanti akan habis jika kita tidak menggunakannya secara cermat, sekaligus untuk lebih menjembatani antara the haves dan the haves-not; antara sang akademisi dengan para pekerja pabrik; antara pegawai negeri kelas menengah ke atas dengan para penjual siomay, dst.

Masih ingat kisah seorang teman yang bekerja di Indonesia Power tatkala dia mempromosikan bersepeda ke kantor kepada rekan-rekan kerjanya. Mereka menolak dengan alasan, “bersepeda mengingatkanku kepada masa sulit dulu, sekarang sudah enak masak disuruh sulit-sulit lagi nggenjot pedal sepeda? Sorry deh.”

Juga kisah seorang teman yang mengaku sebagai salah satu founding father b2w Indonesia (bahkan sebelum Om Toto yang sekarang berada di posisi nomor 1 b2w Indonesia) bergabung dengan komunitas b2w. “b2w ingin menjembatani antara kaum kaya dan kaum miskin. Namun apa daya tatkala kita berusaha untuk mengumpulkan dana dan disumbangkan kepada para penjual siomay tersebut untuk dibelikan sepeda yang lebih layak dan nyaman digunakan, mereka malah lebih memilih untuk menabungnya dan membelikan sepeda motor.”

By the way, di tempat kerjaku, aku sebagai trendsetter bersepeda ke kantor sejak Juli 2008, sampai sekarang aku tetaplah menjadi satu-satunya b2wer. Beberapa saat lalu ada seorang rekan kerja yang ngikut, namun tak lama kemudian dia berhenti. Alasan utama dia bersepeda ke kantor ternyata karena ingin menguruskan badan. Berhubung setelah sekian lama tak juga berkurang timbangan berat badannya, dia pun patah semangat.

Memang masih panjang perjalanan kita untuk ikut menyelamatkan bumi. AND DON’T GIVE UP EASILY. Kembali ke motto awal b2w ‘kalau ga kita mulai dari diri sendiri, lalu siapa?’

PBIS 11.49 301110

Jumat, November 05, 2010

Some pictures of Merapi's eruption

seorang anak sekolah segera lari setelah Merapi meletus

Tim pencari korban ...

Tim SAR sedang menyisiri daerah letusan untuk mencari korban yang barangkali tertimbun lahar dingin.
Tim relawan
Awan panas yang konon panasnya mencapai 500 derajat Celcius, yang dikenal oleh orang-orang sekitar sebagai 'wedus gembel'
Di Jalan P. DIponegoro Jogja, hari Jumat 5 November 2010
Banyak pohon tumbang di Muntilan karena tebalnya abu vulkanik yang menempel.
Keindahan yang berakibat korban yang terkenal semburan awan panasnya ...
Merapi

Merapi Meletus ...


Tadi pagi, tergelitik dengan sebuah status seseorang yang kebetulan berada di list FB-ku, aku menulis komentar seperti berikut ini:

hai manusia
tak sadarkah kau aku murka
karena perlakuanmu pada alam?

jangan salahkan aku untuk terus semburkan...
semua yang penuhsesaki perut bumi
kerna salahmu sendiri

maka
diamlah kau sekarang!

*merapi bersuara mewakili diri sendiri*

Status yang kukomentari menulis tentang sesuatu yang secara singkat memberi instruksi agar Merapi diam, alias berhenti meletus. Aku membacanya sebagai seorang manusia yang terdengar arogan untuk memerintahkan Merapi berhenti meletus. Itu sebab aku menulis komen seperti yang kutulis di atas.

Jawaban si pemilik status baru membuatku 'ngeh' bahwa dia menulis status tersebut sebagai sang Pencipta. dia menulis begini:

nana......mari kita flashback.
manusia diciptakan menjadi apa?
dan mahluk diciptakan menjadi apa?

...bahkan malaikat pun pernah bersujud.
merapi itu ladang syaitan kesesatan. karenanya, banyak timbul kemusyrikan

MERAPI. diam kau!

keren kan dia? bisa membaca kata Penciptanya? ck ck ck ck ... (atau bukannya sebenarnya dia seperti yang kutulis di sebuah note yang kuberi judul DOA, bahwa dalam berdoa manusia cenderung mendikte Tuhannya!) dia beranggapan bahwa sang Pencipta memiliki cara berpikir seperti makhluk ciptaanNya? dan dia pun lupa salah satu 'sifat Tuhan' adalah "mukhalafatul lilhawaditsi" => Allah itu tidak serupa dengan makhlukNya.

Manusia dan alam sama sama makhluk ciptaanNya (bagi yang percaya adanya Tuhan tentu saja). Namun konon karena kita adalah makhluk ciptaan yang paling unggul ~ dikarenakan kita dikaruniai akal pikiran ~ pun merasa layak memperlakukan alam semaunya. Sejak manusia dengan akalnya mampu menciptakan benda-benda, dia pun tak pelak telah merusak alam semesta (misal kendaraan bermotor telah menyebabkan polusi udara yang kian parah dari tahun ke tahun.)

Sementara itu, para pakar lingkungan percaya bahwa alam memiliki sifatnya sendiri untuk berkomunikasi, sekaligus untuk menyembuhkan diri.

Dan Merapi meletus adalah salah satu caranya berkomunikasi kepada kita, sesama makhluk Tuhan, bahwa alam yang telah rusak ini (siapa lagi yang merusaknya kalau bukan manusia?) perlu melakukan sesuatu untuk menyembuhkan diri. NATURE HAS ITS OWN AMAZING WAY TO HEAL ITSELF, meski butuh waktu yang tidak sebentar.

Sehingga, bagaimana mungkin kita menuduh Tuhan murka ke kita?
Mari kita perlakukan alam dengan bersahabat.

---------- ---------- ----------
PT56 22.22 051110

P.S.
Sedikit coretan tentang kegundahan dan keprihatinan. :-(

Minggu, Oktober 10, 2010

Sex outside wedlock, anyone?

Obrolan tentang TES KEPERAWANAN di milis yang kuikuti (Jurnal Perempuan) melebar menjadi semacam ajang curhat bagi beberapa anggota yang merasa tidak keberatan untuk berbagi pengalaman. Hal ini mengingatkanku pada tulisanku di blog tiga tahun yang lalu, yang kuberi judul FREE SEX: CO-CULTURE IN INDONESIA (ALREADY)? (Berdasarkan keberatan beberapa pihak, alamat postingan ini tidak kusertakan disini, namun teman-teman biisa browsing sendiri di beberapa alamat blogku.)

Hasil diskusi postingan tiga tahun lalu memang telah memberi jawaban bahwa free sex bukanlah hal yang 'baru' dilakukan oleh para remaja di Indonesia. (Betapa aku sampai terhenyak-henyak kaget manakala membaca diskusi ini di milis RUMAH KITA BERSAMA tiga tahun lalu.) Seorang rekan menuliskan pengalaman temannya yang melakukan itu di era tahun tujuhpuluhan! Hanya karena -- menurut pendapatku pribadi -- orang-orang di Indonesia ini hipokrit, 'kenyataan' bahwa para remaja -- maupun yang sudah dewasa -- melakukan hubungan seks pra nikah pun tentu tidak diakui. Maka jangan heran jika konon operasi agar selaput dara utuh kembali pun diminati banyak orang karena khawatir mendapatkan suami yang hanya menilai calon istrinya dari utuh tidaknya selaput dara. Atau paling tidak beberapa perempuan melakukan tindakan 'tricky' agar tatkala di malam pertama mereka melakukan hubungan seks dengan suami sah mereka mengeluarkan percikan darah. how pathetic. (dan nampaknya kaum laki-laki pun suka dibohongi seperti ini.)

Seperti hasil diskusi topik FREE SEX ini di milis RKB yang membuatku ternganga-nganga, hasil diskusi TES KEPERAWANAN di milis JP pun membuatku bengong. Benar-benar nampaknya remaja di Indonesia tak mau kalah dibandingkan negara-negara tetangga, misal Jepang. (Aku masih ingat film serial Jepang yang berjudul TOKYO LOVE STORY membuatku terhenyak karena betapa remaja Jepang dengan lihai telah 'meniru' kebiasaan remaja-remaja di belahan bumi Barat sana. Poor those western countries for being judged as immoral due to this free sex thing!)

Dalam postingan ini aku hanya ingin memaparkan 'sedikit' hasil diskusi di kedua milis yang kuikuti, tanpa merasa perlu membuat summarynya. Dan aku pun tidak membahas pro kontra wacana TES KEPERAWANAN.

Nana Podungge
PT56 19.00 101010

P.S.
Check out this cool site: CORONA

Minggu, Oktober 03, 2010

Feminis = Dekonstruktor


Apa pendapat anda jika seseorang mengaku sebagai feminis namun dia melakukan hal-hal yang mendukung kekerasan kepada sesama perempuan?

Tulisan ini merupakan reaksi dari diskusi di milis tentang seorang perempuan yang mengaku sebagai seorang feminis yang terlibat dalam poligami. Diskusi berawal dari sebuah tulisan di sebuah majalah yang dikenal sebagai corong Islam konvensional.

Di postingan yang berjudul “Feminisme a la Nana Podungge”,(klik http://nana-podungge.blogspot.com/search/label/Feminisme ) secara ringkas saya menulis sejarah gerakan perempuan untuk mensejajarkan diri dengan laki-laki, menggunakan sejarah gerakan perempuan di Amerika, mulai dari KTT perempuan pertama tahun 1848 di Seneca Falls, yang menghasilkan hak memilih perempuan Amerika dalam Pemilu tujuh puluh tahun kemudian (1920), gerakan perempuan aliran kedua pada tahun 1960-an yang dimotori oleh Betty Friedan, sampai ke gerakan posfeminisme dimana pada awalnya banyak pihak mengklaim gerakan posfeminisme ini sebagai anti klimaks gerakan perempuan. Tulisan kuakhiri dengan ‘menyederhanakan’ feminisme sebagai suatu ideologi dimana para perempuan menyadari bahwa tubuh dan pikiran mereka adalah milik mereka secara penuh. Apa pun yang mereka pilih, asal mereka dengan sadar melakukannya, tidak boleh orang lain ikut campur. Seorang perempuan berhak untuk memilih menjadi seorang ‘wanita karier’ yang mencurahkan seluruh perhatian, waktu, dan pikirannya kepada pekerjaannya. Sebaliknya, seorang perempuan pun berhak untuk memilih menjadi seorang ibu rumah tangga, dan lebih memilih mendedikasikan kehidupannya pada keluarga, suami dan anak-anak. Dengan syarat bahwa itu adalah pilihan yang dia ambil secara sadar, dan menerima konsekuensinya. Orang lain tidak berhak menghakimi pilihan itu. Seorang perempuan berhak untuk memilih melajang sampai usia kapan pun, jika dia merasa bahagia dengan kelajangannya. Sebaliknya, seorang perempuan pun berhak memilih untuk menikah. Tak satu pun pilihan akan membuat seorang perempuan kemudian berhak mendapatkan label sebagai ‘seorang perempuan sejati’ maupun ‘perempuan pecundang’ hanya karena pilihan hidupnya.

Bagaimana dengan seorang perempuan yang mengaku seorang feminis namun kemudian dia memutuskan untuk berbagi suami dengan perempuan lain?

Sebagai seorang feminis yang meyakini bahwa membuat pilihan hidup secara penuh berada di tangan perempuan, bagi saya, sebenarnya tidak masalah, karena itu adalah hidupnya sendiri. Yang menjadi masalah adalah jika kemudian perempuan itu menyitir ayat-ayat kitab suci, yang sayangnya berpotensial untuk mematikan nalarnya sebagai seorang manusia yang selayaknya mampu berpikir secara kritis, dan kemudian gembar-gembor di media massa, bahwa sebagai feminis dia ‘bangga‘ menjadi pelaku sekaligus korban poligami, dan mengajak perempuan lain untuk mengikuti jejaknya.

Gerakan feminisme – alias kesetaraan perempuan – berangkat dari teori dekonstruksi Derrida yang ingin mendekonstruksi kemapanan budaya patriarki. Mengapa harus didekonstruksi? Teori dekonstruksi ‘diciptakan’ oleh Derrida tentu karena dia melihat ada banyak carut marut dalam ‘kemapanan’ yang telah ada, untuk mengurangi – jika tidak bisa menghapus seluruhnya – ketimpangan-ketimpangan yang ada di balik kemapanan tersebut.

Jika teori dekonstruksi ini diaplikasikan dalam membaca surat An-Nisa ayat ketiga yang selama ini menjadi ‘senjata’ pelaku poligami, maka akan menghasilkan hukum poligami itu HARAM. (Lihat tulisanku yang berjudul “POLIGAMI” di http://nana-podungge.blogspot.com/2009/03/poligami.html ) Seorang feminis bisa dikatakan sebagai seorang pendobrak kemapanan, seorang dekonstruktor, bagaimana mungkin dia bisa mendukung kemapanan suatu gaya hidup yang menghasilkan kesengsaraan? Poligami lebih menghasilkan mudhorot daripada kebaikan. Perasaan para perempuan yang terlibat, perasaan anak-anak yang terkadang harus bersaing dengan anak-anak dari ibu yang lain demi mendapatkan perhatian dari sang ayah, belum lagi kekerasaan secara finansial.

Beberapa tahun lalu di milis “Perempuan” maupun milis “Jurnal Perempuan” sempat heboh tatkala seorang laki-laki yang semula dikenal berada di barisan terdepan gerakan kesetaraan jender tiba-tiba ‘terjungkal’ dengan masalah syahwat ini. (Di zaman ini, poligami lebih cenderung ke masalah selangkangan ketimbang ‘membantu para janda  miskin ataupun menyantuni anak-anak yatim’.) Dengan sangat tidak hormat laki-laki yang berinisial AA ini pun dipojokkan karena bahkan jika merunut ke beberapa persyaratan yang dicantumkan dalam surat nikah, dia sama sekali tidak berhak melakukan poligami: istri pertamanya masih segar bugar untuk terus ‘melayaninya’, dan dari istri pertamanya ini pun dia memiliki anak. Dan istri keduanya pun tidak merupakan seorang janda miskin yang perlu disantuni!

Siapa pun berhak mengklaim diri untuk menjadi feminis. Namun orang lain yang akan melihat apakah dia benar-benar mengimani ideologi feminisme atau hanya mengaku-aku saja. Majalah apa pun bisa memuat tulisan yang menggunakan sudut pandang apa pun, termasuk sudut pandang seorang feminis. Akan tetapi, orang-orang yang menggunakan kemampuan berpikir kritisnya akan mampu memilah dan memilih jenis bacaan apa saja yang memiliki kredibilitas.
Nana Podungge
~ an acclaimed feminist ~
PT56 19.49 031010