Senin, Agustus 22, 2011

Toilet

Ini kisah tentang seorang online buddy. Dia seorang gay yang sudah ‘coming out’ dan aktif di LSM yang berkecimpung dalam LBGTIQ (lesbian, biseksual, gay, transgender, interseksual, queer). Bisa dimengerti jika dia lumayan ‘dikenali’ orang karena ke-coming-out-annya dan keaktifannya dalam LSM tersebut. Kita beri saja dia initial ‘A’.

Beberapa saat lalu A komplain tentang ‘perlakuan’ orang-orang yang tentu telah tahu bahwa dia seorang gay ketika dia memasuki public toilet. Orang-orang yang belum tahu bahwa dia adalah seorang gay tentu menganggapnya sebagai laki-laki hetero biasa, sehingga mereka tidak bertingkah yang berlebihan ketika A memasuki sebuah public toilet. Sedangkan bagi mereka yang tahu katanya sering memandangnya dengan sorot mata yang jijik ketika mereka melihat A masuk toilet dimana mereka sedang berada di dalamnya. Bahkan beberapa dari mereka akan langsung terbirit-birit lari keluar toilet seolah-olah A akan melakukan tindakan abusive kepada mereka. Padahal katanya – dan juga banyak orang lain – bahwa para gay ini mrmiliki ‘feeling’ yang kuat untuk mengetahui yang mana yang hetero dan yang mana yang bukan. Dan tentu saja mereka bukanlah abuser sehingga setiap kali melihat laki-laki lain yang berada di toilet akan mereka flirt atau lebih jauh lagi ‘abuse’. 

Akhir dari kisah ini, A mengharapkan di tempat-tempat umum hendaknya disediakan toilet yang lebih dari hanya terbagi menjadi dua ‘gents’ dan ‘ladies’ untuk menghindari ketidaknyamanan para gay dari sorot mata maupun tingkah laku yang menuduh mereka sebagai abuser.

Sementara itu aku punya seorang teman lain yang memiliki pengalaman lain lagi. Dia terlahir dengan memiliki fisik tubuh sebagai perempuan. Dalam perkembangannya dia lebih sering merasa sebagai laki-laki, yang bisa dikategorikan sebagai transeksual/transgender yang sering menggunakan ungkapan “terjebak pada tubuh yang salah”. Meski terlahir sebagai perempuan, secara sekilas banyak orang yang terkecoh melihat penampilannya yang lebih maskulin dibandingkan feminin. Ketika berada di sebuah daerah yang baru dia kunjungi, bukanlah hal yang aneh jika orang menyapanya ‘mas’ dan bukannya ‘mbak’. Beri saja dia initial ‘B’.

Nah, berkenaan dengan kisah A dengan toilet yang diskriminatif, B pun mengalami kejadian yang hampir mirip. Ketika berada di toilet umum, dia sering dipandang dengan sorot mata curiga dan jijik jika dia masuk ke ‘ladies’. Bahkan tak jarang, tiba-tiba dia dihampiri oleh mereka yang bertugas membersihkan toilet, “Salah masuk mas. Toilet untuk masnya sebelah sana!” sambil menunjuk ke ‘gents’. Ketika dia bilang dia perempuan, orang langsung menunjukkan sorot pandang yang tidak percaya, memandangnya dari rambut hingga kaki dengan pandangan menyelidik. Terkadang, tiba-tiba dia dihentikan oleh orang, dan diberitahu, “Salah. Toiletnya di sebelah sana.” Tanpa menggunakan ‘kata ganti’ yang jelas, sehingga dia tidak ‘ngeh’ kalau dia dianggap laki-laki oleh orang yang menyuruhnya pindah. Dia baru ‘ngeh’ ketika dia akan memasuki toilet yang satu lagi dimana dia melihat ada banyak laki-laki di dalam, sehingga dia pun buru-buru mundur.

Dan entah mengapa dengan pengalaman temanku ini, aku sering merasa harus bersyukur dikaruniai tubuh dan jiwa yang dianggap mayoritas sebagai ‘normal’. Waduuuhhh ... kalau aku sampai salah masuk ke ‘gents’ tentu ini disebabkan aku meleng tidak memperhatikan petunjuk dengan jelas.

Kesimpulan: perlu disediakan toilet khusus untuk gay dan transeksual female-to-male.

PT56 09.34 210811

Selasa, Juni 07, 2011

Sekolah Nasional Plus versus Sekolah Bertaraf Internasional

SEKOLAH NASIONAL PLUS VERSUS SEKOLAH BERTARAF INTERNASIONAL


*tulisan ini terinspirasi dari artikel yang berjudul “Harga untuk Sebuah Status: Ketika Kepentingan Kelas Mengalahkan Kepentingan Pendidikan Nasional” tulisan Fajri Siregar yang dimuat dalam Jurnal Perempuan nomor 66 yang bertajuk PENDIDIKAN UNTUK SEMUA.


Untuk memulai tulisan ini, aku kutipkan (tabel) perbandingan Sekolah Nasional Plus versus Sekolah Bertaraf Internasional yang dikutip Fajri Siregar dari skripsi Anita Dwi Ariyani berjudul “”Budaya Sekolah Bertaraf Internasional” FISIP UI.


Sekolah Nasional Plus
  1. Merupakan sekolah swasta
  2. Terbuka untuk masyarakat umum (tidak seperti sekolah internasional rujukan Departemen Pendidikan Nasional)
  3. Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar utama
  4. Menggunakan kurikulum selain kurikulum nasional
  5. Terdapat staf pengajar warga negara asing
  6. Memiliki akreditasi internasional (tentatif)

Sekolah bertaraf Internasional

  1. Sekolah negeri
  2. Menggunakan uang pangkal dan tes masuk yang berbeda dari program sekolah reguler negeri yang bersangkutan (atau sekolah negeri yang lain)
  3. Bilingual
  4. Menggunakan kurikulum selain kurikulum nasional
  5. Staf pengajar lokal

Berbeda dengan Fajri Siregar maupun Anita Dwi Ariyani yang menulis artikel/skripsi berdasarkan riset, aku menulis ini berdasarkan pengalaman pribadi. Sejak tahun ajaran 2008/2009 aku bekerja di sebuah sekolah yang nampaknya dalam artikel/skripsi yang kumaksud di atas dimasukkan dalam kategori Sekolah Nasional Plus, atau pihak penyelenggara sekolah sendiri melabelinya “an international school” tatkala di akhir tahun ajaran 2008/2009 kita telah mendapatkan akreditasi internasional, dan bahkan telah mendapatkan izin untuk menyelenggarakan tes IGCSE (International General Certificate of Secondary Education) untuk para siswa-siswinya di sekolah sendiri tanpa perlu mengirim siswa-siswinya ke Jakarta. Sertifikat yang dikeluarkan oleh University of Cambridge International Examinations ini memungkinkan mereka yang memilikinya untuk langsung melanjutkan kuliah di universitas di seluruh dunia. Di Semarang ada sebuah Sekolah Nasional Plus lain yang konon juga telah mendapatkan izin mengajarkan materi-materi ujian IGCSE namun belum bisa menyelenggarakan ujian sendiri. Siswa-siswnya masih harus berangkat ke Jakarta untuk itu.


SMA N 3 Semarang

 
SEKOLAH BERTARAF INTERNASIONAL


Kebetulan ketika Angie diterima di SMA N 3 Semarang tahun ajaran 2006/2007, sekolah yang bersangkutan dipilih oleh pemerintah untuk dijadikan pilot project sekolah bertaraf internasional. Istilah lainnya angkatan Angie dijadikan kelinci percobaan. Satu hal yang dikomplain secara berulang-ulang hingga angkatan Angie lulus tahun 2009 adalah bahwa angkatan Angie masih berlaku ‘rayonisasi’ sehingga jumlah NEM berapa pun waktu itu jika seorang siswa tinggal di dalam satu rayon dengan SMA N 3 akan tetap diterima.


Hal-hal lain yang kusoroti tentu adalah kesiapan human resources yang dimiliki. Tidak semua guru yang mata pelajarannya seyogyanya disampaikan 80% menggunakan Bahasa Inggris bisa berkomunikasi dalam bahasa ini dengan fasih. Sehingga mereka hanya sekedar mengucap salam dalam Bahasa Inggris, kemudian mengatakan, “Ok students, now you open your book on page so and so.” Setelah itu langsung switch dalam bahasa Indonesia. Ada juga seorang guru yang saking bingungnya materi apa yang akan diberikan, hanya memberikan materi-materi ajar dalam bentuk power point, tanpa menjelaskan apa pun, (the material was written in English for sure) kemudian membebani anak-anak untuk belajar sendiri.
 

FYI, angkatan Angie hanya menggunakan NEM untuk menentukan seorang siswa diterima atau tidak. Baru angkatan di bawah Angie pada waktu seleksi masuk ada tes khusus untuk menguji kemampuan Bahasa Inggris calon siswa, selain prioritas rayonisasi dihapuskan.


Setelah SMA N 3 Semarang, di tahun akademik berikutnya sekolah-sekolah ‘favorit’ lain pun kemudian mengikuti ‘fenomena’ mengadakan ‘program’ sekolah bertaraf internasional ini. Namun berbeda dengan SMA N 3 Semarang, sekolah-sekolah lain membatasi jumlah kelas yang direncanakan akan dikelola sebagai sekolah bertaraf internasional. Maka hal ini pun menyebabkan ‘gap’ antara kelas-kelas reguler dengan kelas-kelas ‘bertaraf internasional’; hal yang tidak ditemukan di SMA N 3 Semarang, karena seluruh kelas yang ada mengikuti program kelas bertaraf internasional.  Yang mungkin menimbulkan kesenjangan di SMA N 3 Semarang adalah perbedaan kelas akselerasi dan kelas reguler. Untuk kelas akselerasi para siswa hanya butuh waktu dua tahun untuk menyelesaikan SMA-nya, sehingga dibutuhkan kecerdasan dan kedisiplinan di atas rata-rata. Memang SPP kelas akselerasi lebih mahal dibandingkan kelas reguler namun hal ini tidak sangat menimbulkan kesenjangan di bidang kelas sosial.


Dengan semakin maraknya kelas-kelas ‘bertaraf internasional’ yang menggunakan bilingual dalam interaksi sehari-hari (atau bisa juga dikatakan 75% berbahasa Indonesia dan 25% berbahasa Inggris, hal ini lagi-lagi berhubungan dengan kekurangsiapan human resources yang ada), maka semakin banyak buku yang ditulis dan dipublikasikan yang menggunakan bilingual. Tentu saja buku-buku ini menggunakan kurikulum nasional yang penyajiannya satu halaman berbahasa Indonesia, di halaman sebelahnya berbahasa Inggris. Maka, jika dalam tabel yang ditulis oleh Anita DA sekolah bertaraf internasional menggunakan kurikulum selain kurikulum nasional, sekolah-sekolah sejenis yang ada di Semarang pelaksanaannya tidak seperti itu.
 

SEKOLAH NASIONAL PLUS


Fajri Siregar menyoroti beberapa mata pelajaran yang menyebabkan seorang anak yang belajar di Sekolah Nasional Plus siap menjadi warga negara dunia (bukan warga negara lokal Indonesia) seperti Sejarah, Geografi dan Civics (PPKn). Terutama untuk Civics, nilai yang ditanamkan pihak sekolah adalah suatu bentuk kewarganegaraan dunia (global citizenship). Pelajaran dan nilai yang disampaikan mendorong siswa untuk bisa memahami perbedaan kultural, dan bersikap toleran dalam menghargai perbedaan antar bangsa. Di sekolah tempat Fajri melakukan riset, ada mata pelajaran Indonesian Studies yang merangkum pelajaran Sejarah, Geografi (tentang Indonesia?) dan Bahasa Indonesia.

Fajri menyampaikan kritik bahwa dengan memberikan mata pelajaran dengan bahan ajar seperti yang dikemukakan di atas – terutama Civics – sekolah akan menghasilkan siswa-siswi yang tidak begitu mencintai bangsa sendiri, kurang memahami sejarah bangsa, dan kurang memiliki rasa nasionalisme yang bisa dipertanggungjawabkan.


Di sekolah tempat aku ikut mencerdaskan kehidupan bangsa, memang pelajaran Sejarah dan Geografi tidak membahas segala sesuatu yang langsung berkenaan dengan Indonesia. (Dan kita tidak memiliki mata pelajaran Indonesian Studies.) Karena hasil akhir yang akan dicapai adalah seorang siswa lulus IGCSE test, bahan ajar yang disampaikan adalah materi-materi yang diterbitkan oleh Cambridge University. Materi-materi Sejarah dan Geografi dari Cambridge University ini merangkum Sejarah dunia juga Geografi dunia.
 

Hasilnya memang mengecewakan. Selain mereka ‘hanya’ mengetahui bahwa Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945, di luar itu, nol. Jangan tanya tentang perang kemerdekaan yang terjadi setelah 1945, pemberontakan Kartosuwiryo tahun 1948, ‘masuknya’ Irian Barat tahun 1963, G30S PKI tahun 1965 dan lain-lain.


Setelah selama dua tahun ajaran 2008/2009 dan 2009/2010 tidak ada mata pelajaran Civics di kelas high school (7-12) mulai tahun ajaran 2010/2011, Civics diadakan, menggunakan buku terbitan lokal yang bilingual. You can guess response yang muncul dari para siswa => big disinterest.  But at least, memang dengan diadakannya mata pelajaran satu ini, para siswa mendapatkan eksposure apa-apa yang terjadi di dalam negeri sendiri. Tidak nol sama sekali.


Dari beberapa topik yang kubahas di kelas 9, apa yang dikhawatirkan oleh Fajri memang terlihat. Contoh: ketika membahas tentang klaim Malaysia atas batik dan beberapa cultural items yang lain, anak-anak kelas 9 lebih cenderung menyalahkan pemerintah yang tidak memberi perhatian yang cukup pada kekayaan-kekayaan budaya lokal yang kita miliki. Ketika kuingatkan tentang penjajahan secara kultural di bidang makanan (mereka lebih mengenal salad ketimbang lotek, spaghetti ketimbang bakmi, burger ketimbang serabi, dll), musik (lebih mengenal Justin Bieber ketimbang Sheila on Seven, lebih mengenal K-music ketimbang campursari, dll), tentu saja mereka tidak merasa dijajah sama sekali.


BAHASA INDONESIA


Kebetulan kita memiliki pelajaran Bahasa Indonesia yang tentu saja menggunakan buku terbitan lokal; empat sesi seminggu untuk kelas 1-9, dan dua sesi seminggu untuk kelas 10-12. Jika dibandingkan dengan English yang anak-anak dapatkan 10 sesi seminggu (dari kelas 1 sampai kelas 12) memang tidaklah seimbang.  Namun hal ini lebih bagus dibandingkan dengan sekolah dimana Fajri melakukan riset yang menggabungkan mata pelajaran Bahasa Indonesia ke dalam Indonesian Studies bersama dengan Sejarah dan Geografi.


Dikarenakan eksposure yang kurang, maka satu ‘kekurangan’ yang paling terlihat menonjol adalah penguasaan kosa kata, idiom, dan peribahasa dalam Bahasa Indonesia. Anak-anak terlihat lebih lihai dalam menulis maupun memberikan presentasi dalam English dibandingkan dalam Bahasa Indonesia, walaupun dalam percakapan sehari-hari mereka bisa menggunakan Bahasa Indonesia dengan lancar. Jika boleh memilih, mereka lebih mudah menuangkan pikiran dalam bahasa tulis maupun bahasa lisan (ketika harus memberikan presentasi) in English.


RELIGIOUS STUDIES


Selama dua tahun ajaran 2008/2009 dan 2009/2010 tidak ada ‘Religious Studies’ dalam kurikulum high school. Untuk primary school, anak-anak masih mendapatkannya dengan menggunakan bahan ajar yang menanamkan budi pekerti dan menghormati hak hidup orang lain.
 

Mulai tahun ajaran 2010/2011 kelas high school mulai mendapatkan mata pelajaran Religious Studies dengan bahan ajar yang diambil dari sini. Kelas 7-9 mendapatkan materi dari sini yang berbeda dengan kelas 10-12diambil dari sini. Khusus untuk kelas 10-12 bahannya berupa bahan ajar yang mempersiapkan anak-anak siap mengikuti IGCSE test. Namun intinya sama.

Seperti yang telah kutulis di beberapa post sebelum ini, anak-anak mempelajari lima jenis agama sekaligus, Hindu (kelas 10-12)/Buddha (kelas 7-9), Islam, Christianity, Judaism, dan Sikhism. Dalam hal ini, menurutku pribadi, bahan ajar di mata pelajaran Religious Studies memiliki poin positif lebih tinggi dalam hal nilai-nilai kehidupan (values in life) dibandingkan anak-anak yang bersekolah di sekolah yang memberikan bahan ajar sesuai dengan agama yang dianut seorang siswa saja. Anak-anak di sekolahku memiliki rasa toleransi yang lebih kepada anak-anak yang beragama lain. Jika yang diharapkan oleh para orang tua lebih menitikberatkan pada relijiusitas dari mata pelajaran Religious Studies, tentu saja bahan ajar yang diambil dari website di atas tidak sesuai. Untuk mengenal ritual-ritual lebih di masing-masing agama tentu saja menjadi tanggung jawab orang tua masing-masing.


KESIMPULAN
 

Masing-masing jenis sekolah memiliki keunggulan dan kekurangan yang berbeda. Tentu saja kita tidak bisa mengharapkan hasil yang 100% bagus di segala lini, terutama apakah akan mendidik anak-anak sebagai warga negara dunia atau warga negara lokal; apakah akan menjadikan anak-anak benar-benar bilingual sejati (atau bisa juga ditambahkan dengan bahasa asing lain) dengan kemampuan menulis dan berpidato yang setara di kedua bahasa. Pihak orangtua tentu saja tidak bisa begitu saja lepas tangan dan menyerahkan segalanya kepada pihak sekolah.

GL7 14.00 070611

Kamis, Mei 26, 2011

Tulang Rusuk oh Tulang Rusuk

Di lapak sebelah, Bulan Maria alias Lala menulis tentang bahwa dia tidak peduli dia tercipta dari tulang rusuk siapa, lelaki yang mana. ^_^ Bahwa konon ada dogma bahwa menikah itu ibadah, bahwa ada kepercayaan tentang setiap manusia punya pasangannya masing-masing sehingga menikah itu hukumnya kudu alias wajib. Bisa diklik di sini.


Lalu bagaimana dengan yang ternyata tak juga segera mendapatkan pasangan? Bagaimana pula dengan seorang laki-laki yang memiliki istri banyak? (Dia tak lagi memiliki tulang rusuk? karena telah dipakai olehNya untuk menciptakan perempuan-perempuan yang menjadi istrinya?)


Well, tulisan yang tentu bisa dimaknai lebih dari hanya satu interpretasi.



Anyway, aku penasaran dengan apa yang dia tulis 'fakta mengatakan jumlah perempuan lebih banyak dari jumlah laki-laki'. Hal ini membuatku browsing yang menghasilkan statistik di

sini

Total 119 630 913 (jumlah laki-laki) 118 010 413 (jumlah perempuan) 237 641 326 (jumlah total)



Check the site yah? Jelas bahwa jumlah laki-laki lebih banyak dibanding jumlah perempuan.



TULANG RUSUK



Seorang komentator menyebutkan bahwa penciptaan Hawa (perempuan) dari tulang rusuk Adam (laki-laki) itu bermakna bahwa mereka setara sehingga mereka akan berjalan bersisian. Bukan dari kepala, juga bukan dari kaki, agar tidak menginjak maupun diinjak. Persis apa yang ditulis di puisinya Kahlil Gibran.



Maka aku pun berkomentar bahwa dalam Alquran tak ada satu ayat pun yang menyebutkan bahwa Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam. Jika ada hadits yang menyebutkan demikian maka hadits itu tentu merujuk ke Kitab-Kitab suci yang diturunkan kepada Nabi-Nabi sebelum Muhammad. Dalam Jewish mythology disebutkan bahwa setelah menciptakan Adam, dan Adam kesepian di surga, Tuhan menciptakan manusia berjenis kelamin perempuan dari tanah, sama persis dengan Adam yang juga diciptakan dari tanah. Namanya Lilith. Konon karena sama-sama dibuat dari tanah, Lilith ini merasa setara dengan Adam. Jika berdebat dengan Adam, Lilith tidak pernah mau mengalah. Bahkan konon tatkala bercinta dan Adam menyuruh Lilith berbaring di bawahnya, Lilith pun protes keras. Maka Adam pun komplain kepada Sang Pencipta.



Tak mau membuat manusia ciptaanNya yang Dia bangga-banggakan di hadapan para malaikat maupun iblis ini merana, maka Tuhan pun membuang Lilith jauh-jauh. Sebagai gantinya, Tuhan menciptakan Hawa yang diambilkan dari tulang rusuk Adam. Merasa diciptakan dari tulang rusuk Adam, maka Hawa pun memiliki sifat penurut, mengalah dan sejenisnya. Adam pun bahagia hidup di surga bersama Hawa, sampai terjadi tragedi buah apel. Eh, khuldi yak?



Menyitir sebuah hadits misoginis yang menyebutkan bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk laki-laki, sedangkan 'tekstur' tulang rusuk itu bengkok, maka tidak heran jika perempuan pun 'bengkok' alias tidak lurus. Padahal Alquran kan mengatakan "jalanlah di jalan yang lurus". Maka yang bengkok-bengkok ini pun sifatnya 'salah'. Oleh sebab itu, hadits misoginis ini pun berbunyi, "Jika perempuan melakukan kesalahan, maka pukul lah ia agar lurus kembali." Nah ... holy shit banget kan?



What do you think of the background of my online buddy to write such a post?

What do you think of my idea when writing this? hihihihi ...



PT28 20.48 260511

Rabu, Mei 25, 2011

Jalur Sepeda dan Greenwash

Bermula dari status seorang online buddy, Agam Fatchurrochman, aku menulis ini. Statusnya berbunyi:

Jika greenwash adalah upaya mencuci kinerja buruk lingkungan dengan membuat kegiatan yang seolah-olah pro lingkungan, maka yg diresmikan Foke pagi ini dg jalur bersepeda 1,4 km di Blok M jelas greenwash. Hentikan pembangunan jalan tol, layang, perbaiki bis, angkutan umum, baru itu hijau. Foke off

Aku teringat sekitar satu tahun lalu Komunitas b2w Semarang bersibuk-ria mengadakan talk show yang membahas tentang pentingnya pembuatan bike lane atawa jalur sepeda di Semarang. Untuk hasil talkshow yang pertama, bisa dibaca di http://nana-podungge.blogspot.com/2010/04/jalur-sepeda-please.html Sedangkan untuk hasil talkshow yang kedua, bisa dibaca di http://nana-podungge.blogspot.com/2010/06/talk-show-jalur-sepeda-2.html Konon, pemerintah kota Semarang menjanjikan akan segera disediakan jalur sepeda di beberapa ruas jalan protokol di kota Semarang sebelum tahun 2012.

Para warga kota Semarang tentu tahu usaha pemerntah untuk menata ulang trotoar Jalan Pahlawan, dengan memindahkan para pedagang kaki lima dan membangun trotoar yang sangat indah. Katanya, di Jalan Pahlawan inilah nantinya jalur sepeda di kota Semarang yang pertama akan diresmikan.

trotoar 'baru' di sepanjang jalan Pahlawan Semarang

Kembali ke pernyataan Agam, pembangunan jalur sepeda ini nantinya akan benar-benar membangkitkan semangat warga kota Semarang untuk lebih mencintai lingkungan dengan mengurangi penggunaan kendaraan bermotor, ataukah akan menjadi pajangan belaka? yang nota bene berarti hanya menghambur-hamburkan uang saja? Apalagi jika seperti yang dinyatakan oleh Agam, pemerintah tetap saja membangun jalan-jalan tol baru -- yang tentu tidak dibangun untuk sepeda; pemerintah tetap saja tidak meningkatkan kualitas dan fasilitas transportasi umum; pemerintah terus saja menggenjot import atau produksi kendaraan bermotor dan membiarkan para distributor kendaraan bermotor mengiming-imingi masyarakat untuk bisa membeli kendaraan bermotor baru dengan uang muka sangat minim; para pejabat pemerintah tidak memberikan contoh yang sangat signifikan untuk mengurangi penghambur-hamburan BBM,

Konon di Bandung jalur sepeda tidak benar-benar dimanfaatkan oleh para warga sehingga duit milyaran rupiah untuk membangun itu pun terkesan mubazir.

Dan komunitas b2w pun (yang mau tidak mau dibebani sebagai sebuah komunitas yang menjadi tolok ukur 'pahlawan' pengurangan polusi) dirajai oleh mereka yang hanya memedulikan (pemasukan kocek) kepentingan pribadi.

'ruang tunggu sepeda' di Jogja

Pun, ide yang pernah digulirkan oleh para founding father komunitas bersepeda ini -- menjembatani kaum the haves dan the haves not -- tetap mengawang di udara. Akankah?

GL7 15.55 250511

Kamis, Mei 12, 2011

Exhibionism

Dikarenakan sebuah komen di status seorang teman -- yang mengatakan bahwa ekspresi kebahagiaan itu menular -- aku jadi browsing kata 'exhibionist' di bing.com (sekali-sekali ngebing, ga nggoogle terus-terusan.) (Can you guess what happened as the background so that I was spurred to browse this 'outstanding' word? )

Dan, aku mendapatkan informasi yang membuatku terkaget-kaget. Seingatku -- atau setahuku dari pengalaman maupun bacaan -- kata exhibionist dihubungkan pada kaum laki-laki yang menderita disorder tertentu yang membuat mereka merasakan 'urge' yang sangat kuat untuk memamerkan alat genital mereka dan mostly kepada perempuan. Hal ini tentu dilatarbelakangi oleh kultur heteroseksual yang dianggap 'normal'. (Seolah-olah tidak ada orang homoseksual yang menderita disorder yang satu ini?) Namun di  Exhibionism justru memberikan informasi seperti ini:

Public exhibitionism by women has been recorded since classical times, often in the context of women shaming groups of men into committing, or inciting them to commit, some public action.[2] The ancient Greek historian Herodotus gives an account of exhibitionism from the fifth century BC in The Histories.

Perhatikan kata 'women' yang memang sengaja kutebalkan. Lho kok malah perempuan yang dituju sebagai pelaku pamer aurat ini?

Memang aku pernah membaca tudingan orang-orang pada para perempuan yang (kebanyakan) bekerja di media sebagai salah satu pelaku exhibionism tatkala muncul di depan publik dengan mengenakan pakaian terbuka. Sedangkan jika dilihat dari kacamata para feminis, kebanyakan dari mereka itu -- misal host infotainment -- merupakan korban para produser yang ingin menjual acara mereka agar lebih banyak ditonton khalayak ramai dengan cara memamerkan keseksian para host.

Yang juga mencengangkan adalah reaksi apakah yang diharapkan oleh para pelaku exhibionist. Dari riset yang didapatkan dari 185 pelaku exhibionist, ada enam jawaban teratas:

The most common response was
“Would want to have sexual intercourse” (35.1%),  
“No reaction necessary at all” (19.5%),
“To show their privates also” (15.1%),
“Admiration” (14.1%), and
“Any reaction” (11.9%).
Only very few exhibitionists chose
“Anger and disgust” (3.8%)
“Fear” (0.5%)

Padahal selama ini setahuku, para pelaku exhibionist itu konon akan mendapatkan kepuasan ketika orang yang mereka pameri menunjukkan ekspresi ketakutan atau jijik. Konon, alat genital mereka akan semakin tegak -- berlaku hanya kepada kaum berpenis tentu saja. Kebalikannya, mereka akan sangat kecewa tatkala yang mereka pameri menunjukkan ekspresi biasa saja, apalagi jika dibarengi dengan kata-kata cemoohan, "Hanya segitu yang kau punya tapi kau punya nyali untuk pamer? malu-maluin!"

Seorang rekan kuliah dulu bercerita pengalamannya tatkala duduk di samping seorang exhibionist di sebuah bus kota. Dia kebetulan duduk di pojok dekat jendela paling depan. Yang duduk di sebelah kirinya tiba-tiba membuka restleting celananya dan mengeluarkan alat genitalnya. Temanku yang jijik sebenarnya namun tak mau membuat orang itu mendapatkan kepuasan mental jika temanku menunjukkan ekspresi wajah jijik, berusaha setenang mungkin, berkata, "Hah? hanya segitu punyamu? malu-maluin!" Dan orang itu pun dengan serta merta menutup kembali celananya sambil menunjukkan wajah malu.

Jika dihubungkan dengan hasil riset yang dimuat di wikipedia, lho kok beda jauh ya? Apakah kultur Barat dan Timur membedakan?

GL7 15.05 120511
mooning = salah satu 'jenis' exhibionism

Jumat, April 29, 2011

Horror Movies

Watching horror movies is never my cup of tea. My reason is simple: I watch movies to get entertainment and not to get frightened. Besides, my kind of favorite movies is those based on true story; such as Freedom Writers, North Country, Beautiful Mind, Changeling, etc. Well, in fact, not only to get entertainment do I (sometimes) watch movies, but also to learn some historical background of some events (e.g. Iron Jawed Angels), and get some moral values. I believe that there is a mutual relationship between 'life' in movies and 'life' in our real lives.

The first horror movie that I was willing to watch was THE HAUNTING IN CONNECTICUT because my students said that this movie was based on a true story. I watched it together with my students at school since we had topic 'Alive with Horror' in our English class. Well, the movie's plot was quite logical to me: a family moved to a house which was formerly a mortuary. The family soon becomes haunted by violent and traumatic events from supernatural forces occupying the house.
Well, since this was supposedly based on a true story, one can conclude that perhaps this 'event' was transferred into a movie to make people realize that it was always possible to happen where people were haunted by 'spirits' of people who did not die 'properly' or whose bodies did not get proper treatment. The spirits of these people wanted to 'take revenge' to the ones who made their souls 'rejected' to enter 'the sky' (or heaven?).

Emily Jenkins
This morning, in my English class -- with the same topic, 'Alive with Horror', I watched another horror movie: Case 39. The name chosen as the main character who had 'evil character' in her really attracted me: LILITH. It must have been taken from Jewish mythology about the first woman God created after creating Adam. Since Lilith was also created from 'soil' like Adam, she felt equal' to him. She did not easily submit herself to Adam. Even when having sex for the first time, Adam asked Lilith to be under him, she complained.
Getting a 'helpmate' who was rebellious like Lilith, Adam complained to God. God then banished Lilith and created another female creature who was exactly like what Adam wanted: submissive, weak, feminine. There came Eve. On the contrary of Lilith that had demonic and evil character, Eve was angelic.
The story of Case 39 was somewhat a twist. At the beginning, Lilith's parents were narrated to be insane people because they wanted to kill Lilith. Emily Jenkins -- a social worker whose job dealt with 'troubled children' -- saved Lilith from the murder trial done by her parents. Emily even officially asked to have the custody to take care of Lilith because she saw that Lilith felt secure with her.
Some cases of murder that happened next in fact involved Lilith. Lilith that at the beginning seemed so sweet and weak little girl changed to be someone evil when she did not get what she wanted: love from someone she needed.

Lilith
My very own question since the beginning watching this movie was simple: what made the producer make such a demonic character in a little girl? Had there been any real cases of a new born baby having evil spirit in him/her? A baby who then (indirectly) killed other members of the family after growing up? A baby who had the sixth sense -- just like indigo -- but was 'occupied' by evil spirit.
Realizing that Lilith herself had evil spirit in her, Emily visited Lilith's parents in the mental hospital to investigate. Lilith's father suggested Emily to kill Lilith.
Until the end, I didn't get any clue what made Lilith evil. So, honestly, I don't recommend this movie to be watched. .
PT56 23.17 290411

Kamis, April 28, 2011

Dugderan


"Jadilah orang Cina!" adalah judul sebuah cerpen yang termuat dalam kumpulan cerpen PETUALANGAN CELANA DALAM karangan Nugroho Suksmanto. Latar tempatnya ada di Semarang, terutama di daerah Pendrikan dan Magersari, dimana di perbatasan antara kedua daerah inilah sang pengarang lahir.
Cerpen diawali dengan paragraf berikut ini:
"Aku ingat betul pesan bapakku. Kalau ingin jadi pengusaha, aku harus jadi orang "Cina". Maksudnya tidak hanya bergaul dan memahami perilakunya, tetapi juga mendalami budayanya agar bisa sukses seperti mereka."
'warak' icon kota Semarang yang konon mewakili tiga etnis yang paling banyak ditemukan di Semarang, Jawa, Cina, dan Arab

Dalam kisah ini, Nugroho menceritakan pengalaman seorang anak laki-laki berusia awal belasan tahun sebelum bulan Ramadhan datang. Beberapa minggu sebelum Ramadhan, para penghuni Magersari sibuk melakukan berbagai macam kegiatan untuk mengumpulkan dalam rangka merayakan hari Lebaran, Hari Raya terbesar kaum Muslim. Telah menjadi tradisi dalam merayakan Lebaran dengan mengenakan baju baru, pergi keliling kota, makan dan minum sesuka hati. Untuk melakukan ini semua tentu orang butuh uang yang tidak sedikit.

Kegiatan apa sajakah yang dilakukan orang-orang Magersari untuk mengumpulkan uang? Mereka membuat mainan seperti warak ngendog, celengan (tabungan yang terbuat dari tanah liat dalam berbagai bentuk), membuat kue-kue, menjahit pakaian dan kemudian menjualnya pada event DUGDER. Sementara itu, bagi sebagian anak-anak nakal, mereka akan mencoba berjudi, misal main 'dadu kopyok', 'udar-bangkol, 'cap-sa'.
gerabah salah satu mainan 'khas' yang dijual di 'dugderan'

ZAMAN 'MODERN'

Sekarang, meski DUGDERAN masih diselenggarakan oleh pemerintah kota Semarang, 'grengseng'nya tak lagi seheboh seperti yang digambarkan oleh Nugroho Suksmanto dalam cerpennya ini. Orang-orang Semarang tak lagi melakukan hal yang sama dalam mengumpulkan uang untuk merayakan Lebaran -- misal membuat mainan, menerima jahitan pakaian -- mungkin karena sekarang para pegawai telah menerima THR dari tempat kerja mereka masing-masing. Mereka yang memang dalam kehidupan sehari-hari mencari uang dengan membuat mainan, menerima jahitan pakaian atau membuat kue-kue akan meneruskan 'pekerjaan' mereka ini meski tentu menjelang Lebaran omzet mereka akan meningkat pesat. Namun semua ini tak lagi langsung dihubungkan dengan tradisi DUGDERAN.
Anak-anak 'kota' dari kalangan menengah ke atas pun tak lagi tertarik untuk mengunjungi DUGDERAN ini. Konon kebanyakan para penjual yang 'mremo' berjualan berasal dari kota-kota lain di daerah Jawa Tengah. Tahun 2007 lalu terakhir kali aku menyambangi DUGDERAN yang waktu itu diselenggarakan di daerah POLDER Tawang, ada seorang penjual mainan mengaku datang dari Wonogiri. Setiap tahun dia memang khusus datang ke Semarang untuk ikutan mremo dalam tradisi DUGDERAN. Pada kesempatan lain mungkin dia akan berkunjung ke kota lain untuk berjualan mainan yang sama.
Btw, DUGDERAN datangnya masih lama yak?

GL7 14.14 270411
P.S.:
Sebagian merupakan terjemahan dari postinganku di Be a Chinaman!
Untuk mengetahui tentang tradisi 'dugderan' lebih dalam lagi, klik link ini.
Tulisanku tentang Jawa, Cina dan Arab klik link ini.