KONON, semakin
sedikit 'age gap' antara orangtua dengan anak, hubungan antar keduanya semakin
harmonis.
Di antara ayah dan
ibundaku, aku lebih 'akrab' dengan ibuku. Jika melihat pernyataan di atas, beda
usiaku dengan ibu 23 tahun (NOTE: aku ingat pada satu waktu ibuku sibuk
mengurus akta kelahirannya karena belum punya, dan tanggal 8 Agustus 1944 yang
beliau pilih itu bukan berdasarkan fakta bahwa beliau memang lahir tanggal itu,
tapi aku tidak begitu ingat mengapa tanggal itu dipilih.) sedangkan dengan
ayahku kita beda usia 33 tahun. Meskipun begitu, 'kenyataan' ini menurutku
bukanlah alasan yang tepat mengapa aku lebih akrab dengan ibu ketimbang dengan
ayah. Alasan yang kurasa tepat adalah karena ibu lebih sering di rumah, (she
was a housewife) hingga lebih intens kita berkomunikasi; ini selain
alasan-alasan lain seperti aku pernah dalam kandungan ibuku selama kurang lebih
9 bulan dan aku minum air susunya lho ya.
Kulihat kebanyakan
kawan-kawanku juga memiliki kedekatan yang lebih dengan ibunya ketimbang dengan
ayahnya. Maka aku super heran ketika duduk di bangku SMA seorang kawan sekelas
terlihat jauh lebih akrab dengan sang ayah ketimbang dengan sang ibu. Jika dia
tahu kedua orangtuanya terlibat satu pertengkaran, misalnya, dia terlihat
sangat memusuhi ibunya; dia selalu melihat bahwa sang ayah adalah 'korban' dari
pertengkaran itu, dan bukan pemicu. :)
Akan tetapi,
sedekat-dekatnya aku dengan ibuku, hubungan kita tidak seharmonis hubunganku
dengan Angie, anak semata wayangku. Belajar dari hubunganku dengan ibuku, aku
memperlakukan Angie berbeda dengan cara ibuku memperlakukanku dulu waktu aku
masih kecil. Dulu, banyak hal yang aku merasa lebih nyaman bercerita kepada
seorang kawan dari pada kepada ibuku, misal naksir cowo. Aku tidak ingin hal
ini terjadi antara aku dan Angie. Itu sebab aku mencoba semampuku membuat Angie
merasa nyaman dan aman bercerita tentang apa saja kepadaku. I want to be the
first person Angie talks to when she finds something she thinks she needs to
talk. Well, tentu saja akan ada momen-momen dimana Angie akan curhat kepada
kawannya karena aku sedang super sibuk (sibuk dolan maksudku, lol) namun akan
ada saatnya dia akan curhat hal itu kepadaku.
Kebetulan salah
seorang kawan kerjaku sekarang seusia Angie, bahkan mereka dulu bersekolah di
sekolah yang sama, meski mereka dulu tidak berteman. Sebut saja kawan kerjaku
ini Y. ibunya ternyata berusia lebih muda dariku sekitar 3 tahun. Melihat
'sepak terjang' Y aku sempat heran karena nampak sekali dia kurang perhatian di
rumah sehingga selalu butuh perhatian di luar rumah. Pernikahan yang masih
seumur jagung dia gagalkan sendiri, kemudian terlihat grabbing any guy she
encounters in her life. Setelah kuselidiki (bukan) ala detektif, lol, kudapati
bahwa hubungannya dengan sang ibu tidak seharmonis hubunganku dengan Angie.
Hmmm … Dalam kasus ini, age gap yang sedikit antara Y dan ibunya tidak serta
merta berarti bahwa mereka memiliki komunikasi yang terbuka.
Aku menikah di usia
yang mungkin bisa dikategorikan (sangat) muda. Angie lahir sebelum usiaku genap
24 tahun.(well, di dekade
sembilanpuluhan usia segitu adalah usia yang sangat lumrah untuk menikah lah,
lol.) Di masa kini pun kulihat banyak kawan sekolah Angie yang sudah menikah di
usia yang sama dengan usiaku menikahi ayahnya Angie. Y memiliki anak di usia 24
tahun. Sementara Angie masih nampak nyaman-nyaman saja belum committed dengan
seorang laki-laki. Jika kawan-kawan sebayanya ada yang curhat ke Angie karena
mereka dikejar-kejar orangtuanya untuk segera menikah, Angie pendek saja
menjawab, "Lha gimana, ibuku ga pernah ngejar-ngejar aku harus segera
menikah kok." :) Sementara itu Angie sendiri sibuk memprotes mengapa
'mahar' itu diterjemahkan sebagai 'alat beli' dari pihak laki-laki ke
perempuan.
"Kata Ama,
(nenek-red) orang Jawa menyebutnya 'tukon' Sayang, memang pernikahan itu
sejenis proses jual beli. Jika dalam budaya patrilineal, si laki-laki membeli
perempuan, dalam budaya matrilineal si perempuan yang membeli yang laki-laki,
meski dalam prakteknya, si perempuan tetaplah pihak yang (bisa dianggap)
tertindas." kataku semalam.
Langsung kulihat
kegusaran di wajah Angie. "Angie ga mau hidup dalam status seperti
itu!" katanya. Hal ini langsung mengingatkanku pada Ayu Utami yang sempat
menghindari pernikahan selama puluhan tahun karena dalam UU Perkawinan di
Indonesia disebutkan bahwa suami adalah kepala keluarga. Ayu akhirnya menikahi
Erik Prasetya setelah tidak mendapati ayat yang seksis seperti itu dalam Kitab
Injil. (Pengakuan Ayu dalam novel otobiografinya PENGAKUAN EKS SI PARASIT
LAJANG.)
Well, as far as I
remember, aku tidak pernah berhasil 'mencekoki' paham feminisme pada Angie
secara langsung, ga pernah berhasil membuatnya membaca buku-buku feminisme yang
aku koleksi. Namun mungkin buku-buku bacaan yang dia pilih sendiri memberinya
ide what kinda relationship a husband-wife should have; misal PRINCESS DIARY
karya Meg Cabot. (aha … aku sih yang memperkenalkan buku ini ke Angie, 16 tahun
yang lalu.) Namun jenis-jenis bacaannyakian variatif dari tahun ke tahun.
Sampai saat ini, aku
tetap membebaskan Angie dari social pressure bahwa untuk membuat hidup
seseorang (kian) lengkap adalah dengan menikah plus punya anak. Dengan
kematangan psikologi yang dia memiliki, aku yakin Angie akan mampu memiliki
komunikasi yang terbuka dengan anaknya kelak.
Merupakan satu
keprihatinanku ketika menonton video pendek yang mempertunjukkan sekelompok
anak-anak usia belasan tahun yang ikut-ikutan demo karena mereka mengatakan
sesuatu seperti, "masak sudah menikah tidak boleh nge*e dengan istri
sendiri."
Jika bahkan sekelas
the so-called 'ulama' saja bilang bahwa marital rape itu tidak ada ("kan
perempuan tinggal tidur telentang? Atau tinggal ngangkang? Ga sakit kok."
katanya) apalagi anak-anak itu.
Bagi para perempuan
yang kebetulan mendapatkan suami yang selalu mau mengerti apakah sang istri
sedang mood 'bercinta' atau tidak, atau yang kebetulan suaminya selalu bisa
membangkitkan gairahnya meski dalam kondisi lelah seperti apa pun, berbahagia
lah. Namun ini tidak berarti bahwa semua perempuan seberuntung itu.
Sekian puluh tahun
yang lalu seorang kawan (yang pernah) akrab denganku mengeluh tentang perilaku
suaminya. Kebetulan sang suami bekerja sebagai pelaut, sehingga dia sering
keluar negeri. Biasanya dia bekerja selama 10 bulan, 2 bulan di rumah. Nah,
selama 2 bulan ini lah, kawanku tidak pernah berhenti melayani kebutuhan
seksual sang suami. Terkadang ada malam-malam yang kawanku ini sama sekali
tidak pernah bisa memejamkan mata karena harus terus menerus 'melayani' sang
suami. Aku tidak tahu apakah hal ini dibarengi dengan KDRT -- misal dipukul
atau apa kek -- tapi dia mengeluh bahwa 2 bulan saat suaminya di rumah adalah
saat-saat terburuk baginya. Padahal dia tahu ketika sedang berlayar, sang suami
juga punya 'simpanan' di beberapa negara di luar Indonesia.
Karena tidak tahan,
akhirnya dia pun mengajukan gugatan cerai. 'untunglah mereka beragama yang
membolehkan perceraian sehingga tidak sesulit mereka yang beragama Katolik,
misalnya, yang harus mengajukan pembatalan pernikahan sampai ke Vatikan dan
prosesnya butuh waktu berbulan-bulan.
Kawanku ini masih
tergolong 'beruntung'; perempuan yang mendapatkan perlakuan jauh lebih sadis
dari suaminya tentu lebih banyak lagi. Cari saja contohnya sendiri. Jika
kebetulan kalian berkawan dengan Tania Luna di facebook ini, bacalah kisah
seorang perempuan yang dia tulis. Sangat menyedihkan.
Marital rape does
exist, pals. Korbannya tidak hanya perempuan, laki-laki juga ada. Googling
saja.
Di Kabupaten Pangkep dan Bone, Sulawesi Selatan, hidup komunitas Bissu: kaum meta-gender yang mengabdi sebagai imam besar pada populasi Bugis setempat. Mereka bukan pria, bukan pula wanita. Namun, mereka memiliki banyak kelebihan, dan dipandang sebagai percampuran manusia dan dewa.
1001indonesia.net – Sebagian budaya Indonesia memiliki pemahaman yang lebih luas dan beragam mengenai gender daripada pandangan yang dominan saat ini yang melihat gender secara biner—pria dan wanita, maskulin dan feminin—dan tanpa mempertimbangkan jenis kelamin dan seksualitas lainnya.
Di Banyumas, misalnya, terdapat seni tari Lengger Lanang yang dimainkan oleh laki-laki yang berpenampilan dan berperilaku sebagai perempuan.
Di Sulawesi, masyarakat Toraja tradisional mengakui adanya gender ketiga, yang disebut to burake tambolang. Mereka percaya bahwa para pemimpin agama yang paling penting dalam budaya Toraja adalah seorang wanita, atau burake tattiku, dan seorang pria berpakaian sebagai seorang wanita, atau burake tambolang.
Hal yang serupa juga terjadi dalam masyarakat Bugis tradisional yang menempatkan kaum Bissu, yang merupakan kaum “meta-gender”, pada kedudukan yang terhormat.
Kelima gender tersebut menjadi bagian integral dari struktur agama dan budaya tradisional orang Bugis.
Dari kelima gender itu, Bissu menduduki posisi yang istimewa. Untuk menjadi Bissu yang merupakan “meta-gender”, seseorang harus mengakumulasi keempat ciri gender lainnya. Dengan kata lain, kaum Bissu memiliki gender tersendiri yang merupakan gabungan dari keempat gender lainnya. Dikatakan mereka bukan lelaki maupun perempuan, tapi memiliki kelebihan keduanya. Sementara Calabai dan Calalai setara dengan trans-gender.
Kekhususan gender yang dimiliki Bissu terlihat dari busana yang mereka kenakan. Pada upacara resmi, mereka mengenakan pakaian yang berbeda dengan busana yang dikenakan lelaki dan perempuan pada umumnya; dan sebagai pelengkap, mereka membawa badik sebagai simbol laki-laki serta memakai hiasan bunga di kepala sebagai simbol perempuan.
Bissu yang berarti orang suci, merupakan konsep yang berasal dari La Galigo. Menurut epos kuno Bugis tersebut, kehadiran Bissu sama tuanya dengan sejarah keberadaan umat manusia di muka bumi. Ketika dewa penguasa langit mengutus Batara Guru untuk turun ke bumi, dua Bissu diutus mendampinginya.
Bissu itulah yang kemudian mengatur semua urusan di dunia, mulai dari menciptakan bahasa, adat istiadat, dan hal-hal lainnya yang dibutuhkan manusia. La Galigo juga menggarisbawahi peran penting Bissu untuk menjaga keberlangsungan kerajaan.
Dalam mahakarya yang ditulis dalam bahasa Bugis kuno tersebut, Bissu juga menjadi tokoh sentral. Konon, saudara perempuan kembar Sawerigading, tokoh penting dalam Sureq Galigo, yakni We Tanriabeng, adalah seorang Bissu.
Sampai kedatangan Islam di Sulawesi pada abad ke-15, Bissu menjadi perwakilan paling agung dari Kerajaan Bugis dan Luwu. Mereka dipandang sebagai percampuran manusia dan dewa. Posisi mereka berada di tengah-tengah, untuk menjaga keseimbangan antara dunia atas dan dunia bawah.
Saat itu, Bissu tinggal di istana kerajaan dan berperan sebagai abdi dalem bagi raja-raja Bugis. Mereka memainkan peran yang penting, seperti menjadi penasihat raja beserta keluarganya, merawat pusaka-pusaka kerajaan, dan memimpin ritual-ritual penting di kerajaan.
Para Bissu juga berperan sebagai mediator antara manusia dan roh-roh gaib. Mereka bahkan memiliki bahasa sendiri untuk berkomunikasi dengan para dewata, leluhurnya, dan sesamanya. Bahasa itu kadang disebutnya sebagai Basa Ugi Galigo atau Basa torilangi’(Bahasa orang langit).
Foto: boombastis.com
Tidak sembarang orang bisa menjadi Bissu, harus ada panggilan spiritual. Hal ini tidak bisa direkayasa. Orang yang terpanggil menjadi Bissu juga mendapat semacam anugerah untuk dapat mengetahui basa torilangi, meski tidak ada yang mengajarkannya kepada mereka.
Layak tidaknya seseorang menjadi bissu sepenuhnya berdasarkan penilaian puang matoaatau puang lolo, pemimpin komunitas Bissu. Calon yang terpilih kemudian diwajibkan berpuasa (appuasa) selama sepekan hingga empat puluh hari. Setelah itu, ia bernazar (mattinja’) untuk menjalani prosesi irebba (dibaringkan) yang dilakukan di loteng bagian depan Bola Arajang (Rumah Pusaka).
Bola Arajang merupakan rumah panggung bercat hijau yang digunakan sebagai tempat menyimpan pusaka. Rumah keramat ini juga digunakan sebagai tempat pelaksanaan upacara adat pada waktu-waktu tertentu, seperti Mappalili, yaitu upacara turun ke sawah saat memasuki musim hujan.
Prosesi irebba bisa berlangsung 3–7 hari. Setelah itu, calon dimandikan, dikafani, dan dibaringkan berdasarkan hari yang dinazarkan. Di atasnya digantung sebuah guci berisi air. Selama disemayamkan, calon Bissu dianggap dan diperlakukan layaknya orang mati.
Pada hari yang dinazarkan, guci dipecahkan hingga airnya menyirami calon yang sedang menjalani prosesi irebba. Setelah melewati upacara sakral ini, ia resmi menjadi Bissu. Sejak itu, ia harus menjaga sikap, perilaku, dan tutur katanya, di antaranya dengan selalu tampil anggun dan menjaga kharisma serta senantiasa berlaku sopan.
Terpinggirkan
Pandangan positif terhadap Bissu mulai berubah beberapa dekade lalu. Seiring hancurnya kerajaan-kerajaan Bugis kuno dan masuknya Islam, peran kelompok ini perlahan terkikis. Mereka tidak lagi tinggal di istana dan memberi nasihat raja.
Mereka bahkan pernah dikejar-kejar untuk ditumpas oleh kelompok Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) pimpinan Kahar Muzakar. Mereka dianggap sebagai penyembah berhala.
Puang Matoa Saidi merupakan pemimpin komunitas Bissu. Semasa hidupnya, ia kerap diundang ke luar negeri untuk membacakan naskah kuno La Galigo. (Foto: Irmawati)
Kini, Bissu masih dapat dijumpai di beberapa daerah yang dahulunya merupakan bagian dari kerajaan Bugis, seperti di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) dan Kabupaten Bone di Sulawesi Selatan.
Namun, kaum yang memiliki posisi terhormat sebagai pemimpin spiritual di era Bugis kuno ini, kini kian terpinggirkan. Saat ini, komunitas Bissu yang mendiami tanah Segeri, Pangkep tinggal enam orang saja. Itu pun hanya lima orang yang menjalankan aktivitas kebissuandan mengikuti upacara-upacara adat.
Karena tak lagi hidup dari kerajaan, kini mereka harus menghidupi diri mereka sendiri. Sebab itu, para Bissu biasa melakukan pekerjaan-pekerjaan lain di luar kebissuansebagai mata pencaharian mereka.
Komunitas yang tetap teguh memegang adat, tradisi, dan kearifan lokal ini sempat mendunia dengan ikut sertanya Puang Matoa Saidi, pemimpin komunitas Bissu di Segeri, ke berbagai negara dalam pementasan ILa Galigo.
Pertunjukan itu disutradarai oleh Robert Wilson, seorang sutradara asal Amerika. Puang Matoa Saidi yang meninggal pada Selasa, 28 Juni 2011, menjadi narator utama dalam pementasan tersebut.
PEREMPUAN GILA: TEMA DALAM KARYA SASTRA
YANG TAK LEKANG OLEH ZAMAN
Pengantar
Bahwa kesusastraan memiliki nilai global diamini oleh para kritikus sastra. Pandangan bahwa kesusastraan memiliki tema-tema yang ‘everlasting’ dan cenderung berulang di abad-abad selanjutnya membenarkan apa yang dikatakan oleh Virginia Woolf “Books continue each other”. Tidak penting apakah karya sastra tersebut dihasilkan di belahan bumi Barat maupun Timur, di abad terdahulu maupun abad terkini.
Tulisan ini akan membandingkan dua cerita pendek yang dihasilkan oleh dua penulis perempuan yang hidup di belahan bumi yang berbeda dan abad yang berbeda pula. Cerita pendek yang pertama berjudul “The Yellow Wallpaper” ditulis oleh Charlotte Perkins Gilman, seorang pejuang kesetaraan jender pada zamannya, di tahun 1892 Amerika. Cerita pendek yang kedua berjudul “Jaring Laba-Laba” ditulis oleh Ratna Indraswari Ibrahim, seorang cerpenis yang produktif. “Jaring Laba-Laba” termasuk dalam Kumpulan Cerpen Pilihan Kompas 2004.
Sekilas tentang “The Yellow Wallpaper” dan “Jaring Laba-Laba” dan pengarangnya
Banyak kritikus mengatakan bahwa “The Yellow Wallpaper” ditulis berdasarkan pengalaman pribadi Charlotte Perkins Gilman. Gilman menulis cerpen ini sekitar tahun 1890-1892, pada masa-masa paling sulit dalam hidupnya setelah mengalami serangkaian ‘nervous breakdown’ dan akhirnya demi menyembuhkan diri sendiri, Gilman mengambil jalan yang dianggap sangat kontroversial pada abad tersebut: berpisah dengan suaminya, bepergian ke seluruh penjuru Amerika untuk memberikan ceramah tentang kesetaraan jender dan pentingnya kemandirian finansial bagi kaum perempuan, serta menulis.
“The Yellow Wallpaper” merupakan salah satu media yang ingin dia sampaikan ke publik bahwa bagi perempuan seperti dia, kebebasan berkreasi—misal dalam hal menulis—dan mengungkapkan stimulasi intelektual jauh lebih penting daripada mengerjakan tugas-tugas domestik sebagai seorang ‘ibu rumah tangga’ yang konvensional. Menulis merupakan proses penyembuhan penyakit psikologis yang diderita oleh seorang perempuan karena menulis adalah ‘a healing process of catharsis’.
Ratna Indraswari Ibrahim seorang cerpenis yang berdomisili di Malang. Dia telah menghasilkan ratusan cerpen yang dicetak di banyak media, seperti surat kabar dan majalah, dimana banyak dari cerpen tersebut kemudian dipublikasikan kembali dalam bentuk kumpulan cerpen. Banyak cerpen yang dia tulis bercerita tentang pengalaman perempuan dan banyak pula yang ditulis menggunakan sudut pandang feminis.
“Jaring Laba-Laba” berkisah tentang seorang perempuan yang akhirnya terjerumus ke rumah sakit jiwa setelah perjalanan hidupnya menggiringnya menjadi seorang ibu rumah tangga yang melulu hanya mengabdikan hidup untuk suami dan anaknya, tanpa memiliki kesempatan untuk mengeksplorasi intelektualitasnya yang cukup tinggi.
Kedua cerpen ini memiliki ending yang kontradiktif, dalam “The Yellow Wallpaper” sang narator tak bernama ini berhasil melepaskan dirinya dari penjara wallpaper dengan mencabik-cabiknya, sedangkan Dina, tokoh perempuan dalam “Jaring Laba-Laba” membiarkan dirinya terperangkap dalam jaring laba-laba. Wallpaper dan jaring laba-laba ini merupakan analogi kultur patriarki dimana kedua tokoh perempuan ini hidup.
“Madness” alias kegilaan merupakan tema yang selalu diulang-ulang ditulis dalam karya sastra sejak penulisan drama tragedi zaman Yunani Kuno. Namun pada abad kesembilan belas dan duapuluh, tema ini lebih difokuskan pada kehidupan kaum perempuan. Perempuan gila yang digambarkan dalam novel Jane Eyre karangan Charlotte Bronte, Mrs Dalloway karangan Virginia Woolf dan The Bell karangan Sylvia Plath memiliki karakter yang sama: sesosok figur yang penuh kemarahan yang tidak memiliki kemampuan untuk menekan penderitaannya dan mengungkapkannya dalam suatu hal yang bisa dipahami oleh masyarakat.
Menyikapi tema ini, Phyllis Chesler dalam bukunya Women and Madness menyatakan bahwa “because the mental health system is patriarchal, women are often falsely labelled as being "mad" if they do not conform to stereotypical feminine roles”. Perempuan sering dianggap gila tatkala mereka tidak mengikuti konsensus kultur patriarki tentang perempuan “sejati” sistem kesehatan mental itu sendiri bersifat patriarki. Kacamata patriarki merupakan satu-satunya yang dipakai dalam memandang kesehatan mental perempuan.
Tema utama dalam buku Phyllis Chesler ini sangat tepat dipakai untuk membidik apa yang terjadi kepada sang narator tanpa nama dalam “The Yellow Wallpaper” maupun Dina, tokoh perempuan dalam “Jaring Laba-Laba”. Sang narator tanpa nama ‘diistirahatkan’ dalam sebuah rumah yang terletak jauh dari masyarakat oleh suaminya yang dokter tatkala dia ‘gagal ‘ melakukan tugasnya sebagai seorang istri dan ibu dari anak yang baru saja dia lahirkan. Perempuan tanpa nama ini dikisahkan sebagai seorang perempuan yang lebih memilih menulis untuk mengungkapkan sisi intelektualnya. Hal ini dipandang sangat tidak lazim pada abad tersebut sehingga bisa dipahami jika dia pun dianggap gila oleh suami dan keluarganya yang lain. Untuk ‘menyembuhkan’nya, dia pun ‘dipenjara’ dalam rumah peristirahatan dimana dia tidak diperbolehkan bertemu dengan siapa pun kecuali suami dan saudara perempuannya yang bertugas mengasuh bayinya serta mengawasi sang narator tanpa nama agar dia tidak lagi melakukan kegiatan yang konon membuatnya kehilangan akal sehatnya: menulis.
Charlotte Perkins Gilman sengaja tidak memberi nama tokoh utama dalam cerpen ini untuk mengungkapkan betapa tidak pentingnya tokoh satu ini sehingga dia tidak layak memiliki nama; tidak layak memilik sebuah identitas pribadi selain sebagai ‘istri si fulan’ atau pun ‘ibu si fulan’. “The cult of true womanhood” saat itu masih sangat kental melingkupi kultur patriarki Amerika. Perempuan sejati haruslah mengikuti empat prinsip utama: piety (kerelijiusan), purity(kesucian), submission (kepatuhan), dan domesticity (domestikasi). Sang narator tanpa nama jelaslah telah melanggar empat prinsip utama ini. Dia dianggap tidak relijius karena tidak mendengarkan apa yang dikatakan oleh suaminya, seorang laki-laki (maskulin) yang pada tingkat tertentu dianggap memiliki kuasa di hadapan istrinya (feminin), seperti Jesus (maskulin) atas umat-Nya (feminin). Hal ini berkaitan erat dengan prinsip ketiga, yakni submission, dia tidak mematuhi apa yang dikatakan oleh suaminya: lebih memilih menulis padahal sang suami telah melarangnya melakukan kegiatan yang berhubungan dengan intelektualitas. Sang narator tanpa nama juga telah melanggar prinsip kedua, purity. Dia membiarkan otaknya tidak pure alias suci karena memikirkan hal-hal yang seharusnya tidak boleh dia pikirkan. Prinsip keempat—domesticity—merupakan satu hal yang terlihat dengan mata telanjang, titik kulminasi prinsip perempuan sejati yang telah dia langgar: dia lebih memilih menulis daripada melakukan tugas-tugas domestik kerumahtanggaan: mengurus rumah, suami, dan anak. ‘Dosa besar’ yang dia ungkapkan dalam kegiatan menulisnya adalah dia ingin membagi keresahan hatinya dengan para perempuan lain, ‘meracuni’ perempuan lain untuk setuju dengan cara berpikirnya: mengejar sisi intelektualnya dengan menulis lebih ‘fulfilling’ ketimbang melakukan pekerjaan rumah tangga.
Tema “Woman Madness” dalam “Jaring Laba-Laba”
Cerpen “Jaring Laba-Laba” menggambarkan perjalanan psikologis Dina dari seorang perempuan yang di awal cerita merupakan seorang perempuan yang mengejar kepuasan intelektual untuk mengisi hidupnya (dengan kuliah S2 di mancanegara), dan setelah menikah terpaksa meninggalkan sisi intelektualnya demi melakukan pekerjaan rumah tangga, sebagai istri dan ibu. Konstruksi kultur patriarki disuarakan oleh ibu sejak Dina masih kecil—dia harus menjaga kamarnya bersih dari sarang laba-laba karena dia perempuan, sedangkan kakaknya yang laki-laki boleh saja jika memiliki kamar yang kotor karena dia laki-laki. Konstruksi ini diteruskan oleh Bram, suaminya, setelah mereka kembali ke Indonesia. Mengacu ke penggambaran tokoh perempuan gila yang di abad kesembilan belas dan dua puluh sebagai perempuan histeris yang penuh kemarahan dan kesedihan dan tak mampu menemukan cara untuk mengungkapkan apa yang dia rasakan dalam hati untuk dipahami oleh masyarakat (dalam hal ini oleh Bram, anaknya, beserta tokoh ibu), akhirnya Dina pun ‘dipenjarakan’ di rumah sakit jiwa.
“The cult of true womanhood” yang sangat dominan mempengaruhi kultur patriarki Amerika pada abad sembilan belas sampai awal abad dua puluh masih terlihat jelas pada cerpen “Jaring Laba-Laba” yang ditulis di awal abad dua puluh satu Indonesia. Tokoh Dina tunduk (submission)) pada apa yang dikatakan oleh ibu dan suaminya untuk menjadi makhluk domestik (domesticity), namun dia sendiri merasa terpenjara di dalamnya. Karena patriarki merupakan satu-satunya kultur yang dianggap benar, Dina pun tak kuasa untuk menyuarakan kata hatinya. Tokoh Bram setali tiga uang dengan John, suami sang narator tanpa nama dalam “The Yellow Wallpaper” yang merasa dirinya telah menjadi suami yang baik. “Saya tidak tahu mengapa kau depresi? Apakah saya suami yang tidak baik? Saya tidak berselingkuh dengan siapa pun, sebisa-bisanya, saya ingin menjadi suami dan bapak yang baik.” Jika Bram memasukkan Dina ke rumah sakit jiwa, John mengisolasi istrinya di dalam sebuah rumah peristirahatan yang jauh dari mana pun.
Seperti yang ditulis pada bagian awal, ending cerita kedua cerpen ini agak kontradiktif. Dalam “The Yellow Wallpaper” sang narator dikisahkan ‘berhasil’ keluar dari wallpaper yang memenjarakannya. Para kritikus sastra memandang hal ini dari dua kacamata yang berbeda, sebagian berpendapat bahwa akhirnya sang narator benar-benar menjadi gila karena dia dikisahkan merangkak di seluruh penjuru kamarnya dimana wallpapernya telah berhasil dia cabik-cabik. Dia kunci pintu kamarnya dan membuang kuncinya sehingga John tidak berhasil masuk kamar untuk melihat apa yang terjadi kepada istrinya. Sebagian kritikus lain berpendapat bahwa akhirnya sang narator berhasil melepaskan diri dari kungkungan kultur patriarki yang disimbolkan oleh ‘wallpaper’ karena sang perempuan yang dilihat oleh sang narator berada di balik wallpaper telah berhasil keluar setelah wallpaper tersebut dicabik-cabik. Di akhir cerita “Jaring Laba-Laba” dikisahkan Bram dan anaknya menjemput Dina dari rumah sakit karena dokter menyatakan dia telah sembuh dan bisa kembali ke keluarganya. Pernyataan ‘sembuh’ dari dokter justru membuat Dina khawatir karena dia tak lagi bisa melihat jaring laba-laba yang disebabkan oleh rasa ‘cinta’ suami dan anaknya dalam bentuk pemaksaan mengerjakan tugas domestik rumah tangga. Oleh karena itu, tatkala dilihatnya Bram dan anaknya datang menjemputnya, Dina lebih memilih berlari menjauh. Hal ini bisa diintepretasikan bahwa Dina dengan sadar lebih memilih untuk tidak tunduk pada konstruksi kultur patriarki. Kembali ke rumah untuk menjadi istri dan ibu yang baik menurut kacamata patriarki akan membuat Dina kehilangan akal sehatnya lagi.
Kesimpulan
Kemiripan kisah dua cerpen ini membuat keduanya bisa dianggap sebagai karya sastra yang memiliki tema yang universal: woman madness alias perempuan gila. Perbedaan abad saat penulisan kedua cerpen tersebut menunjukkan bahwa bahkan di abad kedua puluh satu ini, dengan paham feminisme alias kesetaraan jender yang telah meluas ke seluruh penjuru dunia selama beberapa dekade ternyata tidak menunjukkan banyak perubahan pada sisi kehidupan perempuan. Masih ada kalangan masyarakat yang kultur patriarkinya sangat kental dan perempuan pun menjadi korban yang tidak akan pernah bisa dipahami.
Seorang guru tentu
tidak ingin membuat siswanya selalu tergantung kepadanya. Seorang guru
seharusnya mampu membuat seorang siswa menghadapi permasalahannya sendiri, satu
saat nanti. Jika berada di kelas, apalagi di awal pembelajaran satu ‘subject’,
tentu peran seorang guru sangat dibutuhkan. Namun, setelah beberapa saat,
sangat tidak bijaksana jika kemudian siswa itu terus menerus tergantung kepada
gurunya. Dia harus mampu mandiri.
Berpijak dari itulah
maka aku mulai membiasakan para siswaku untuk tidak selalu bergantung padaku,
terutama untuk sekedar tahu arti kata satu kata alias vocabulary (baru). Beberapa
tahun yang lalu, ketika smart phones belum memasyarakat, aku biasa membawa dua
tiga kamus ke dalam kelas, sehingga ketika ada siswa yang ingin bertanya arti
satu kata, aku hanya menyodorkan kamus (English – English dictionary)
kepadanya, dan memintanya untuk mencari tahu sendiri arti kata tersebut.
English – English dictionary
(kamus Bahasa Inggris yang artinya juga ditulis dalam Bahasa Inggris) juga
berguna untuk mengajari siswa untuk tahu bagaimana mengucapkan (to pronounce)
satu kata dengan benar, jadi tidak hanya untuk mencari tahu artinya.
Fungsi kamus (dalam
bentuk buku) ini tergeser oleh kamus elektronik, misal kamus “al**link”. Lebih mudah
mencari, tidak perlu ngubek-ngubek halaman, plus kamus “al**link” yang bagus
juga disertai feature bagaimana cara mengucapkan
kata itu.
Era kamus elektronik
pun akhirnya berlalu dengan adanya smart phones. Kemana pun kita berada,
biasanya telpon pintar ini akan kita bawa. Aku pun membolehkan siswaku membawa
hapenya ke dalam kelas, dan menggunakannya ketika pelajaran, terutama untuk
memfungsikan hape ini sebagai kamus.
Maka, tak ada lagi
label “kamus berjalan” disematkan kepadaku, karena fungsinya telah diambil alih
oleh hape. Untuk ini, aku sangat berterima kasih pada pencipta smart phones. LOL.
Guru (Bahasa
Inggris) juga manusia lho, tak melulu perlu difungsikan sebagai kamus berjalan.
LOL.
Beberapa minggu terakhir di sosial media -- utamanya facebook, mengingat aku 'aktif' hanya di satu sosmed ini -- telah terjadi perbincangan yang super hangat tentang topik satu ini: LGBTQ. Terakhir aku menulis di blog (yang sudah lama sekali :D) aku belum menambahkan huruf Q. Ternyata perkembangannya lumayan pesat, hingga para pemerhati -- selain mereka yang terlibat di dalamnya -- telah menambahkan huruf Q yang bisa dijabarkan sebagai "queer", namun ada juga yang membacanya sebagai "questioning". Kata "queer" mengacu ke "cross dressing" people, kalau di Indonesia kata ini diterjemahkan sebagai "waria". Sedangkan kata "questioning" lebih luas maknanya, mengacu ke seseorang yang belum memutuskan -- masih bertanya-tanya -- apa jenis kelamin plus orientasi seksualnya. Jika di tulisan ini, aku mengutip para antropolog bahwa manusia dibagi menjadi empat kategori, di link ini, voilaaa ... ternyata kategorinya bisa banyak sekali :) Isn't it very INTERESTING? As you can guess, orang-orang yang menuliskan opininya maupun hanya sekedar share link tentang hal-hal yang berkenaan dengan LGBTQ terbagi dalam beberapa kelompok, minimal 3 kelompok (1) setuju alias mendukung (2) kontra sekaligus mengutuk (3) tidak jelas. LOL. Yang kumasukkan dalam kelompok ketiga ini adalah mereka yang tidak mengutuk namun juga tidak mendukung. Lebih detilnya lagi, mereka tidak mendukung pernyataan bahwa ada sekian persen manusia yang terlahir di dunia dengan membawa gen tertentu yang akan "membawa" mereka menjelma LGBTQ, namun juga tidak mengutuk dengan alasan para LGBTQ itu harus dirangkul, dibimbing untuk "dikembalikan" ke the so-called 'kodrat': bahwa yang terlahir dengan alat kelamin penis berarti mereka laki-laki hingga WAJIB hanya tertarik kepada perempuan, dan sebaliknya, yang terlahir dengan memiliki alat kelamin vagina otomatis mereka adalah perempuan dengan konsekuensi WAJIB bahwa mereka hanya boleh dan bisa tertarik kepada laki-laki.
Perbincangan tentang LGBTQ ini kian menarik ketika seorang AA Gym ikut bersuara untuk memboikot LINE hanya karena LINE menyediakan stiker yang mendukung LGBTQ. Lucunya, konon, dia menyuarakan pemboikotan ini lewat akun facebooknya, padahal jelas-jelas Mark Zuckerberg adalah pendukung LGBTQ. Mengapa dia tidak memboikot facebook sekalian? :) Dan orang-orang yang masuk dalam friendlist-ku di facebook ada yang memamerkan momen ketika mereka uninstall LINE dari hape mereka gegara adanya stiker yang mendukung LGBTQ. Manusia memang lucu :) Atau mereka naif dan tidak mau tahu mereka telah memamerkan ketidaktahuan mereka? :D IB180 16.48 13/02/2016 Pic was taken from this site :)
Sesungguhnyalah
tidak ada beda dari praktik poligami dengan selingkuh. Keduanya mengacu ke
kenyataan bahwa salah satu dari pasangan suami/istri telah melabuhkan hatinya
pada orang lain, tak lagi menyetiai pasangan awal yang telah (mungkin) mereka
pilih sendiri untuk mereka nikahi. Apa pun alasan yang mereka gunakan ketika
melabuhkan hati ke dermaga lain ini.
Lalu bedanya
apa dong?
Bedanya
adalah jika praktik poligami 'dilindungi' (interpretasi kaum lelaki atas) Surat
An-Nisa ayat 3, sehingga lelaki pun merasa berhak untuk melakukannya. Apalagi
jika interpretasi "kamu
boleh menikahi dua, tiga, perempuan yang kamu pilih" bersifat
egoistis (plus konyol) yakni merupakan perintah
Tuhan kepada kaum lelaki. Hal ini berarti menafikan lanjutan ayat tersebut yang
berbunyi "Namun jika kamu
takut tak bisa berbuat adil, maka nikahilah hanya satu perempuan saja." Plus
ayat 129 dari surat yang sama yang bisa diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia
sebagai, "... meskipun
kamu ingin berbuat adil, kamu tidak akan bisa ..."
FYI,
poligami disini maknanya poligini, yakni satu laki-laki dengan lebih dari 1
istri. Sedangkan poliandri tak diperkenankan, kecuali jika kata
"perempuan" dalam ayat 3 itu bisa juga diterjemahkan sebagai
"laki-laki" atau "suami". :-D
Bagaimana
dengan selingkuh? Tentu saja tak satu ayat pun membolehkannya. Maka,
terlihatlah secara jelas diskriminasi kepada kaum perempuan. Laki-laki (bahkan)
dilindungi untuk berpindah ke lain hati, sedangkan perempuan tidak. Laki-laki
(mungkin) akan mendapatkan pujian sebagai lelaki sejati, sedangkan perempuan
akan dikategorikan sebagai 'bitch', perempuan binal, nakal, dan sejenisnya.
Inilah
mengapa aku setuju pada pendapat Ayu Utami bahwa dia tidak mendukung poligami,
karena jelas-jelas telah terjadi praktik kekerasan terhadap kaum perempuan, dan
atas nama agama, pelakunya tidak diganjar hukuman (berupa masuk neraka,
misalnya). Sebaliknya, Ayu Utami lebih pro ke selingkuh, karena itu berarti
baik laki-laki maupun perempuan sama-sama melakukan kesalahan, tak satu pun
dilindungi ayat alquran. Jika laki-laki harus kehilangan nama baiknya di
masyarakat, perempuan pun sama. Jika laki-laki mendapatkan applause, perempuan
pun juga. LOL. Equal. :-D