Seingatku tak pernah aku merasa begitu 'terlibat' dalam sebuah pemilihan umum, termasuk pemilihan presiden. Seperti kebanyakan orang, pilpres tahun ini memang demikian istimewa. Yes, you can guess, JOKOWI lah penyebab semua ini.
Aku termasuk orang yang apatis dalam kehidupan politik, sejak dulu. Jika dalam blognya Dee Lestari menulis bahkan sejak pertama kali dia ikut pemilu, dimana waktu itu hanya ada 3 kontestan, dan dia tahu cara curang Golkar memenangkan pemilu, dia telah menjadi golput semenjak usianya mencukupi untuk ikut berpartisipasi dalam pemilu. Aku tidak. Aku adalah tipe warga negara yang penurut, (duluuuuu). Sudah tahu Golkar selalu curang, ya aku tetap ikut mencoblos, sejak pertama kali aku berhak ikut.
Aku menjadi golput di pemilu 2004, ketika melihat bahwa reformasi yang didengung-dengungkan sejak tumbangnya orde baru tahun 1998, tidak menunjukkan perkembangan apa-apa dalam kehidupan perpolitikan di Indonesia. (Nampaknya begitu.) Okelah yang menang tidak lagi Golkar -- pemilu tahun 1999 dimenangkan PDIP, tahun 2004 dimenangkan Partai Demokrat -- namun korupsi, kolusi, dan nepotisme tetap marak. Bahkan mungkin kian marak, jumlah kasus korupsi kian meningkat. Entah kian meningkat atau karena sekarang sudah zaman internet, segala hal kian transparan. Atau karena pemimpin Indonesia tidak sediktator presiden Indonesia kedua yang berkuasa selama 32 tahun ya? Hukum tetaplah menajam ke bawah namun tumpul ke atas.
Aku menjadi golput lagi di tahun 2009. SBY terpilih lagi. Sialnya di periode kedua SBY segala hal justru memburuk. Kekerasan terhadap minoritas atas nama agama; kasus huk sum yang terkatung-katung; kian merajalelanya front-front yang menyalahgunakan nama agama. Capek banget rasanya membaca berita setiap hari.
JOKO WIDODO
Istilah satrio piningit mulai muncul setelah tumbangnya Orde Baru. Aku pun ikut berharap-harap cemas akan ada seorang satrio piningit yang ditunggu-tunggu. Sekian nama disebut, sekian orang diberi harapan besar. Sekian kekecewaan ternyata tetaplah menyertai.
Hal ini membuatku berpikir bahwa kekuasaan ternyata berdampak sangat buruk. Orang yang dulunya baik pun akan berubah menjadi tamak -- bisa jadi jahat -- jika memegang tampuk kekuasaan. Mungkin aku pun -- yang mengaku pada diri sendiri adalah orang baik -- akan berubah menjadi tamak jika berada di posisi yang sama.
Aku lupa kapan pertama kali aku mendengar nama JOKO WIDODO. Mungkin sekitar tahun 2010 ketika aku sedang menjadi salah satu 'jury' dalam satu event AFS (exchange students). Seorang calon siswa yang akan dikirim keluar negeri kebetulan berasal dari Solo. Ketika diminta berpidato tentang salah satu tokoh Indonesia yang menginspirasi, dia memilih walikota Solo yang lebih dikenal dengan nama Jokowi. That name absolutely didn't ring a bell at all to me. :)
Dan aku tetaplah apatis. Masak ada pejabat di Indonesia yang sama sekali tidak terlibat kasus korupsi, kolusi dan nepotisme? Barangkali belum ketahuan aja lah. :)
Tahun 2011 pertama kali aku berkunjung ke Solo dan menginap disana dua malam. Oh, kota ini berbeda ternyata. Aku terkesan dengan trotoarnya yang sangat friendly terhadap pejalan kaki, pesepeda, dan para penjual kaki lima. (Yang ada di sepanjang Jalan Slamet Riyadi.) Aku juga terkesan dengan Taman Balekambang dan bus wisata tingkat duanya. Pelaksanaan CFD (Car Free Day) juga jauh lebih terkesan rapi dibanding dengan pelaksanaan CFD di Semarang.
Karena kiprah Jokowi ya? Wow.
Di luar dugaan kemudian Jokowi 'dibawa' hijrah ke ibukota! Meski tidak secara langsung mengikuti perkembangan politik di tanah air, waktu pilgub di Jakarta tahun 2012, aku yakin Jokowi bakal menang. Aku tidak peduli apakah waktu itu yang membawa ke Jakarta adalah Jusuf Kalla, Megawati, atau bahkan Prabowo Subianto. Aku tidak peduli. Jokowi seemed an honest and hardworking person. And trustworthy too!
Waktu itu pun diam-diam aku mulai berharap jika memang Jokowi adalah orang yang jujur, pekerja keras dan memiliki kredibilitas tinggi terhadap pekerjaannya, mengapa dia tidak dicalonkan jadi presiden ya dalam pilpres tahun 2014? Tapi kan dia baru menjelang dua tahun menjadi gubernur Jakarta. Bakal diprotes banyak orang ga ya?
Harapanku yang sifatnya diam-diam itu ternyata disambut oleh beberapa orang yang kukenal lewat FB, salah satunya Muhammad Amin yang banyak dikritik juga dipuja para facebooker Indonesia karena status-status spiritualnya yang kontroversial. Awal tahun 2013, dia bahkan sudah mulai menyebar 'harapan' atau 'kampanye' di FB untuk membawa Jokowi ke kursi nomor satu di Indonesia.
Aku senang. Honestly. Ada harapan baru untuk masa depan Indonesia!
Namun aku belum 'tergerak' untuk ikutan mengkampanyekan Jokowi di media sosial.
Usai pileg bulan April 2014 dan melihat perolehan suara PDIP yang kurang dari 20% membuatku miris. Namun satu hal yang membuatku akhirnya ikutan 'berkampanye' (semampuku) lewat media sosial adalah ketika seorang facebooker yang ada di list pertemananku, yang di tahun 2010 lalu pernah lumayan dekat dan sok curhat, membaptis diri sebagai 'srikandi gerindra'. Entah mengapa aku tidak terima. LOL.
Maka mulailah aku ngeshare link-link berita positif tentang Jokowi, dan ... link-link berita negatif terhadap PS. LOL. Tidak hanya lewat FB namun juga twitter. Mendadak kehidupan media sosial-ku begitu menggairahkan! Tak ketinggalan juga tentu aku pun memasang foto "I stand on the right side" untuk foto profile.
Hanya itu yang bisa kulakukan untuk -- semoga bisa -- mendongkrak jumlah para voter untuk mencoblos Jokowi. Selain juga menulis status agar tidak menjadi golput. Jika di pilpres sebelumnya golput adalah satu cara protes kepada negara, tahun ini golput berarti membiarkan capres yang tidak layak dipilih mendapat keuntungan dari kecuekan warga negara.
Well, pilpres sudah selesai. Jokowi sudah dinyatakan menang oleh KPU, meski saat ini kubu capres yang kalah masih berupaya menjegal Jokowi di MK. Bahkan mungkin ga akan berhenti di MK. Kubu mereka mungkin akan meneror pemerintahan Jokowi dengan cara-cara kasar seperti yang selama ini mereka lakukan. Semoga barisan relawan Jokowi akan terus diberi kekuatan untuk mendampingi Jokowi, hingga akhirnya kubu capres sebelah mengakui bahwa Jokowi-lah pilihan tepat untuk membawa perubahan Indonesia ke arah yang lebih baik. (minimal bagiku hukum tak lagi tajam ke bawah namun tumpul ke atas; tak ada lagi diskriminasi terhadap kaum minoritas; semoga dilanjutkan dengan dibubarkannya front-front yang tidak jelas, hanya menyalahgunakan nama agama; KPK bekerja jauh lebih tegas dan tajam, tak ada perlindungan terhadap koruptor, meski pejabat tinggi sekalipun sehingga kasus korupsi berkurang atau menghilang sama sekali.)
Semoga pemerintahan Jokowi adalah titik tolak Indonesia baru, dipimpin oleh para pejabat yang memang hanya mengabdi untuk rakyat. Semoga!
PT56 21.40 15/08/2014
Jumat, Agustus 15, 2014
Selasa, Agustus 27, 2013
Primitif = ketinggalan zaman?
Satu kali di kelas "Cultural Eras" yang diampu oleh Professor Hugh Egan, kita membahas tentang Christopher Columbus yang di satu waktu dielu-elukan oleh 'history' (yang bisa diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia 'kisahnya') sebagai seorang 'penemu' benua Amerika jelang akhir abad 15. Waktu ditemukan oleh Columbus dan crew-nya, benua Amerika tidak benar-benar kosong tanpa penghuni, karena sudah ada yang mendiami benua yang maha luas itu: sekelompok (atau mungkin juga berkelompok-kelompok karena mereka terbagi dalam suku-suku) manusia yang kemudian oleh Columbus disebut sebagai kaum "Indian". Padahal ini adalah 'penamaan' yang salah. Columbus waktu itu dalam ekspedisi untuk mencari kawasan Hindia / India yang kaya akan rempah-rempah, namun kemudian kapalnya ter'dampar' di benua Amerika. Merasa sudah sampai di kawasan yang dia cari, maka Columbus dkk menyebut kelompok manusia yang ditemui di benua Amerika sebagai "Indian".
Menurut 'history' alias kisahnya Columbus dia menemukan benua Amerika dimana para penduduknya hidup secara 'primitif' karena mereka tidak paham bahasa yang digunakan oleh kaum 'Native American' ini; karena kaum Native American ini memiliki tradisi dan gaya hidup yang berbeda dengan Columbus dan crew-nya.
Apakah 'primitif' itu?
Menurut Free Dictionary kata primitif berarti
Menurut 'history' alias kisahnya Columbus dia menemukan benua Amerika dimana para penduduknya hidup secara 'primitif' karena mereka tidak paham bahasa yang digunakan oleh kaum 'Native American' ini; karena kaum Native American ini memiliki tradisi dan gaya hidup yang berbeda dengan Columbus dan crew-nya.
Apakah 'primitif' itu?
Menurut Free Dictionary kata primitif berarti
- not derived from something else, primary or basic
- (a) of or relating to an earliest or original state, (b) being little evolved from an early ancestral type
- characterized by simplicity or crudity
- of or relating to a nonindustrial, often tribal culture
Mengacu ke arti kata primitif di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa kaum 'Native American' dianggap masih asli, belum mendapatkan banyak pengaruh dari budaya luar. Mereka memiliki tradisi dan budaya sendiri, misal cara berpakaian (konon mereka belum pernah melihat 'pantalon' yang telah menjadi busana orang-orang Eropa waktu itu, sehingga tidak tahu bagaimana cara mengenakan celana panjang :) Di satu buku yang pernah kubaca, ketika orang Native American itu diberi hadiah berupa celana panjang, dan si orang Eropa tidak mengajarinya bagaimana cara mengenakannya, si orang Native American ini naik ke atas pohon, sementara seorang temannya memegangi celana panjang, untuk kemudian orang yang naik ke atas pohon melompat ke dalam celana. Cara yang sama sekali tidak praktis. :)), cara bersosialisasi, cara bertahan hidup (mereka sudah tahu cara bercocok tanam dan berburu yang lebih 'canggih' ketimbang orang-orang Eropa), hingga bahasa.
Semenjak Columbus 'menemukan' (yang di beberapa dekade terakhir kata 'menemukan' ini kemudian diganti 'menjajah' oleh orang-orang Amerika sendiri -- juga para sejara(h)wan terkini, lama kelamaan cara hidup orang-orang Native American berubah. Benua Amerika mungkin akan tetap sunyi jika Columbus tidak menemukannya, eh, menjajahnya. Namun mungkin kaum Native American akan tetap menjadi 'tuan' di tanah yang telah mereka diami sekian ratus tahun, dan tidak tereliminasi di 'reservation areas'.
Apakah kemudian kita bisa mengatakan bahwa yang 'primitif' itu jelek? Ketinggalan zaman?
*****
Beberapa abad setelah Columbus 'menemukan' Amerika dan kemudian berbondong-bondong orang Eropa -- diawali oleh orang-orang Inggris -- bermigrasi ke benua Amerika, orang-orang Eropa dari Portugal melakukan ekspedisi untuk mencari 'the real Hindia' dan menemukan rute ke Nusantara, masih dalam rangka berburu rempah-rempah.
Kita tentu tahu kelanjutan kisah ini. Orang-orang Portugis itu tidak hanya melakukan perdagangan rempah-rempah dengan nenek moyang kita di bumi Nusantara, namun tinggal untuk menjajah. Dan 'history' di benua Amerika tentu juga terjadi di bumi Nusantara. Orang-orang Belanda yang kemudian menggantikan kedudukan orang Portugis tentu juga menganggap nenek moyang kita 'primitif', primitif yang sayangnya telah mengalami degradasi makna, karena kata primitif dimaknai sebagai ketinggalan zaman. Tata cara kehidupan nenek moyang kita pun mengalami perubahan agar tidak ketinggalan zaman, tradisi 'asli' nenek moyang kita pun berangsur-angsur menghilang.
Salah satu tradisi yang hilang itu adalah cara berpakaian. Sangatlah dipahami jika nenek moyang kita berbusana yang terbuka -- misalnya topless -- karena kondisi negara kita yang tropis hingga cukup panas. Sementara itu para penjajah yang berasal dari negara yang berhawa dingin berpakaian lebih tertutup. Bisa dibayangkan jika kemudian nenek moyang kita -- terutama perempuan -- dijadikan 'tontonan' yang sangat eksotis bagi kaum penjajah. Dengan suka cita para kaum penjajah -- terutama laki-laki -- berbondong-bondong ke bumi Nusantara untuk mendapatkan tontonan gratis. (Ini bisa disimpulkan dari beberapa video yang diunggah di youtube.com misal di link ini If you are lucky, hope you still can open the link and watch it.)
*****
Di satu kesempatan ketika konsultasi tesis dengan dosen pembimbing yang juga dikenal sebagai budayawan Jogja -- Professor Bakdi Soemanto -- beliau bercerita satu kali diajak oleh beberapa orang yang juga dianggap 'budayawan' untuk melakukan satu misi khusus ke Papua. Pak Bakdi bertanya misi apakah itu.
"Misi kita kali ini istimewa, yaitu mengajak saudara-saudara kita yang masih terbelakang untuk lebih bermoral karena masih mengenakan busana yang terbuka. Kita akan mengajak mereka meninggalkan tradisi primitif mereka dan mulai mengenakan busana tertutup."
Apakah lantas kata primitif selalu berkonotasi tidak bermoral? Siapa yang memberi hak pada sekelompok orang yang merasa diri lebih tinggi dibanding yang lain hanya gara-gara tradisi dan budaya yang berbeda?
Dengan sengaja tulisan ini tidak kuakhiri dengan kesimpulan. The conclusion is in yours, readers.
Beberapa foto yang kuunduh dari internet bisa dilihat di bawah ini.
![]() |
| diunduh dari sana |
![]() |
| diunduh dari link ini |
![]() |
| diundah dari link situ |
![]() |
| diunduh dari link yang lain |
Sedikit kisah tentang koteka bisa dilihat disini.
Salam budaya! Nothing higher nothing lower!
GG 12.15 270813
Senin, Juli 08, 2013
JALAN RAYA : MILIK SIAPA?
JALAN
RAYA : MILIK SIAPA?
JALUR
SEPEDA DI KOTA SEMARANG
Dengan semakin semaraknya jalan raya dengan para pesepeda,
dan juga rasa ‘iri’ terhadap beberapa kota lain di Indonesia yang telah
memiliki jalur sepeda, di tahun 2010 (tanggal 11 April dan 6 Juni 2010) Komunitas
B2W (Bike to Work) Semarang mengadakan talk show yang diberi tajuk DESAK
PEMERINTAH SEMARANG UNTUK MENYEDIAKAN JALUR SEPEDA DI KOTA SEMARANG. Di talk
show yang kedua, Ari Purbono, selaku ketua Komisi B DPRD Jawa Tengah waktu itu (yang
juga diajukan sebagai calon wali kota Semarang oleh sebuah Partai Politik)
berjanji bahwa jalur sepeda akan segera direalisasikan. Guntur Risyadmoko,
salah satu keynote speaker dari Dinas Perhubungan mengiyakan pernyataan ini,
paling lambat akhir tahun 2011.
Awal
tahun 2012
![]() |
| jalur sepeda di Semarang, foto dijepret 7 Juli 2013 |
Jalur sepeda akhirnya memang ada di Semarang! Untuk
mewujudkan janji menyediakan jalur sepeda, pemerintah memilih Jalan Pemuda,
Jalan Pandanaran, Jalan Pahlawan, Jalan Ahmad Yani dan kawasan Simpang Lima,
jalan-jalan utama kota Semarang. Jalur sepeda yang ditandai dengan marka garis
berwarna kuning, dengan gambar sepeda di tengah-tengah, berada di sisi paling
kiri, lebar sekitar satu meter. Jalur sepeda ini bisa didapati di dua jalur
yang berlawanan, misal di Jalan Pemuda, di jalur yang menuju arah Utara, maupun
di jalur yang menuju arah Selatan.
Akan tetapi ketika ditelusuri, jalur sepeda itu tidak
benar-benar bisa dinikmati oleh para pesepeda, karena sering jalur itu justru
dipakai untuk parkir mobil maupun motor. Apalagi di Jalan Pandanaran dimana
terletak toko-toko yang berjualan makanan oleh-oleh asli Semarang. Di depan
toko-toko tersebut, tak lagi terlihat jalur sepeda, karena dipenuhi dengan
mobil yang berderet parkir.
Maka kemudian muncul tuduhan bahwa jalur sepeda ini akan
mematikan ladang rezeki tukang parkir. Atau menyulitkan para pemilik usaha
untuk menyediakan lahan parkir karena terbatasnya ruang yang ada.
Jika kemudian jalur sepeda itu tidak benar-benar
dimanfaatkan untuk melajunya para pesepeda, lantas untuk apakah jalur sepeda
itu disediakan? Hanya sekedar untuk menghamburkan uang rakyat? Lalu bagaimana
menyelesaikan masalah parkir?
REBUT
RUANG KOTA
Mulai pertengahan tahun 2010, ada gerakan “menyepedakan masyarakat”
dengan jargon REBUT RUANG KOTA! Tidak jelas siapa yang melontarkan ide yang
menggunakan istilah “critical mass” ini. Di Semarang event ini disebut
“Semarang Critical Mass Ride” yang dilaksanakan setiap hari Jumat terakhir tiap
bulan. Para pesepeda berkumpul di Jalan Pahlawan pukul 19.00 dan kemudian
bersepeda bersama-sama keliling kota, sesuai rute yang dipilih pada hari itu.
![]() |
| nite ride 30 Juli 2010 |
Sesuai dengan jargonnya, gerakan ini konon diharapkan akan
mampu merebut ruang kota hanya untuk para pesepeda, tak lagi ada tempat untuk
mereka yang menaiki kendaraan bermotor. Di awal penyelenggaraannya, ratusan
pesepeda yang hadir benar-benar memenuhi badan jalan di seluruh rute yang
dilewati, hingga tak menyisakan tempat bagi pengguna jalan lain, tanpa ada
“road captain” yang memimpin, tanpa “marshall” yang mengawasi para pesepeda,
juga tanpa “sweeper” yang mengecek apakah ada peserta yang ketinggalan.
Bisa dibayangkan betapa kesalnya para pengguna jalan lain
jika melihat kearoganan ini. Bukankah jalan raya itu milik bersama? Para
pengendara kendaraan bermotor, pesepeda, juga pejalan kaki? Alih-alih menarik
orang untuk beralih naik sepeda dan meninggalkan kendaraan bermotor mereka,
justru gerakan “rebut ruang kota” ini akan membuat orang tak simpatik dengan
para pesepeda. Akibatnya mereka akan tetap berkendaraan bermotor, tetap
membutuhkan bahan bakar yang bakal habis satu saat nanti, dan terus menyebabkan
polusi udara.
Sekitar dua tahun kemudian, “Semarang Critical Mass Ride”
tak lagi ada pengikutnya. Entah mengapa.
JALUR
SEPEDA DI PURWOKERTO
Bulan Maret 2013 aku dan Ranz berkesempatan gowes di kota
Purwokerto, dalam rangkaian bikepacking Solo – Purwokerto. Kita sangat terkesan
dengan jalur sepeda yang ada disana. Di salah satu jalan utamanya, Jalan
Jendral Sudirman, kita dapati jalur sepeda hanya di satu sisi. Di jalan yang
sama, di jalur yang berlawanan arah, di sisi paling pinggir kiri digunakan
untuk parkir kendaraan bermotor. Maka, tak ada kendaraan bermotor yang
menghalangi pesepeda menggunakan jalur yang disediakan buat mereka. Di beberapa
tempat, kita menemukan poster yang bertuliskan “keselamatan jalan tanggung
jawab kita semua; beri kesempatan pesepeda menggunakan lajurnya.”
| beri kesempatan pesepeda menggunakan lajurnya |
Ini adalah ide yang bagus untuk diterapkan di kota Semarang,
mungkin juga di kota-kota lain. Jalur sepeda tetap ada dan dimanfaatkan oleh
para pesepeda; lahan parkir di satu jalan pun tetap ada sehingga tidak
mematikan ladang rezeki para tukang parkir. Para pengendara kendaraan bermotor
pun tidak perlu bingung mencari tempat parkir.
PENUTUP
Undang-undang Republik Indonesia nomor 22 tahun 2009 pasal
106 ayat 2 menjelaskan bahwa “Setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor
wajib mengutamakan pejalan kaki dan pesepeda.” Ayat ini jelas mengatakan bahwa
jalan raya itu milik semua yang menggunakannya, para pengendara kendaraan
bermotor, pesepeda, juga pejalan kaki.
Dalam prakteknya, meski UU ini disahkan empat tahun lalu,
ayat tersebut kurang dikenal masyarakat dengan bukti masih banyak ditemukan
arogansi para pengendara kendaraan bermotor kepada para pesepeda, juga pejalan
kaki. Sebagai seorang praktisi bike-to-work maupun pehobi bikepacking, terlalu
banyak pengalaman tersingkirkan di jalanan, demi keselamatan diri dikarenakan
hanya dipandang sebelah mata oleh pengguna jalan lain. Namun, tetap, semua
orang berhak menggunakan jalan raya bersama-sama, dan saling menghormati
pengguna jalan lain.
Nana Podungge
seorang bike-to-worker dan bikepacker
PT56 19.00 070713
Kamis, Agustus 16, 2012
Female Genital Mutilation
Apa itu Female Genital Mutilation
Terdapat beberapa definisi mengenai Female Genital Mutilation (FGM):
1. Berdasarkan WHO information fact sheet No.241 June 2000, FGM merupakan semua prosedur termasuk pengangkatan sebagian atau seluruh bagian dari organ genital perempuan atau tindakan melukai lainnya terhadap organ genital perempuan baik untuk alasan budaya, agama, atau alasan lainnya yang tidak berkaitan dengan penyembuhan
2. Berdasarkan fact sheet no.23, Harmful Traditional Practices Affecting the Health of Women and Children yang dikeluarkan oleh Office of the High Commissioner for Human Rights, FGM adalah istilah yang dipakai mengacu pada tindakan pembedahan untuk mengangkat sebagian atau seluruh bagian organ genital perempuan yang paling sensitif.
3 Berdasarkan Stedman's medical Dictionary, 26th Edition, 1995 mutilasi didefinisikan sebagai perusakan atau tindakan melukai dengan mengangkat atau merusakkan bagian-bagian yang nyata terlihat atau bagian penting dari tubuh
Dari beberapa definisi diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa FGM adalah segala prosedur atau tindakan yang ditujukan untuk menghilangkan dan melukai sebagian atau seluruh organ genital dari perempuan.
Asal Mula Female Genital Mutilation
Menurut pendapat beberapa ahli, pada awalnya FGM berasal dari Mesir. Tujuan dilakukannya FGM ini adalah sebagai perayaan saat seorang perempuan mencapai kedewasaan. Praktik ini merupakan akulturasi budaya antara penduduk Romawi yang waktu itu banyak tinggal di Mesir.
Dahulunya masyarakat Romawi mempraktikkan FGM ini pada perempuan kalangan budak untuk meningkatkan daya jual mereka di pasar. Masyarakat Mesir kemudian mengadopsi kebudayaan ini dengan tujuan membuat perempuan-perempuan Mesir lebih diminati sekaligus untuk menjaga keperawanan. Selanjutnya FGM berkembang menjadi tradisi religi dan mulai dipraktikkan oleh kelompok agama dan seiring dengan berjalannya waktu, tradisi ini menjadi populer dan agama bukanlah satu-satunya alasan FGM dilakukan.
Tipe-Tipe Female Genital Mutilation
Ada empat macam tipe FGM menurut fact sheet no.23, Harmful Traditional Practices Affecting the Health of Women and Children:
1. Tipe I : Sirkumsisi (Circumcision)
Menghilangkan bagian permukaan, dengan atau tanpa diikuti pengangkatan sebagian atau seluruh bagian dari klitoris. Ketika prosedur ini dilakukan terhadap bayi perempuan atau anak kecil perempuan, bisa jadi bagian atau keseluruhan dari klitoris dan sekeliling jaringan (tissues) akan terbuang.
2. Tipe II : Eksisi (Excission)
Pengangkatan klitoris diikuti dengan pengangkatan sebagian atau seluruh bagian dari labia minora.
3. Tipe III : Infabulasi (Infibulation)
Merupakan excission yang diikuti dengan pengangkatan labia mayora serta menempelkan kedua sisi vagina dengan jalan menjahit atau menyatukan secara alami jaringan yang terluka dengan mempergunakan media berupa duri, sutera, atau benang dari usus kucing. Pada infabulation akan ditinggalkan lubang yang sangat kecil (kurang lebih sebesar kepala korek api) yang dipergunakan untuk sekresi dan keluarnya cairan menstruasi.
4. Tipe IV : Introsisi (Introcission)
Jenis FGM yang dipraktikkan oleh suku Pitta-Pitta Aborigin di Australia, dimana pada saat seorang perempuan mencapai usia puber, maka seluruh suku akan dikumpulkan dan seseorang yang dituakan dalam masyarakat akan bertindak sebagai pemimpin prosedur FGM. Lubang vagina perempuan tersebut akan diperlebar dengan jalan merobek dengan menggunakan tiga jari tangan yang diikat dengan tali dan sisi lain dari perineum yang akan dipotong dengan menggunakan pisau batu. Ritual ini biasanya akan diikuti dengan aktivitas seksual secara paksa dengan beberapa lelaki muda. Selain di Australia, introcission juga dipraktikkan di Meksiko Timur, Brazil, Peru, dan suku Conibos. Serta sebagian dari suku Pano Indian di bagian tenggara. Pada suku-suku tersebut operasi dilaksanakan oleh seorang perempuan yang dituakan dengan menggunakan pisau bambu, perempuan ini akan memotong jaringan sekitar selaput dara serta mengangkat bagian labia pada saat yang bersamaan membuka klitoris, tumbuhan obat akan dipergunakan untuk menyembuhkan diikuti dengan memasukkan objek berbentuk penis yang terbuat dari tanah liat.
Prosedur dan Usia Dilakukannya Female Genital Mutilation
Tidak ada prosedur standar dalam melakukan FGM, karena prosedur yang dipraktikkan oleh masyarakat dunia sangatlah bervariasi tergantung pada daerah, kebiasaan masyarakat serta adat-istiadat dimana perempuan tersebut tinggal. Sebagai contoh prosedur introcission yang dipraktekkan oleh suku Pitta-Patta Aborigin di Australia sangatlah berbeda dengan prosedur introcission yang dipraktekkan di Meksiko. Menurut Amnesti Internasional terdapat prosedur secara umum mengenai proses dilakukannya FGM yaitu:
1. Seorang perempuan yang akan melakukan FGM akan disuruh duduk di dalam air dingin untuk mematikan rasa di daerah yang akan dipotong serta mengurangi kemungkinan pendarahan. Pada umumnya perempuan tersebut tidak akan diberikan penghilang rasa sakit, perempuan tersebut akan dibuat tidak bergarak dengan cara dipegangi oleh perempuan-perempuan yang lebih tua, kaki perempuan tersebut akan
dibuka dengan lebar sehingga bagian vagina akan terekspos.
2. Mutilasi akan dilakukan dengan mempergunakan alat pemotong seperti pecahan kaca, besi tipis, gunting, silet atau benda-benda tajam lainnya. Bila tipe FGM yang dilakukan adalah infabulasi maka duri atau jahitan yang akan dipergunakan untuk menahan serta merapatkan kedua sisi dari labia mayora dan labia minora yang telah dipotong dengan terlebih dahulu menyelipkan bambu atau kayu untuk menciptakan lubang pada daerah yang dirapatkan.
3. Selanjutnya perempuan tersebut akan diikat kakinya dan dibiarkan tergantung selama kurang lebih 40 hari, untuk menyembuhkan luka penggunaan bubuk antiseptik dimungkinkan, tetapi biasanya dipergunakan salep yang mengandung campuran tumbuh-tumbuhan obat, susu, telur, abu atau kotoran yang dipercaya memiliki khasiat untuk menyembuhkan.
Bagi perempuan yang diinfabulasi tidak akan memiliki besar lubang vagina yang normal, lubang vagina ini menjadi sangat kecil kira-kira hanya sebesar kepala korek api dan tidak mungkin melakukan aktifitas seksual. Hal ini dimungkinkan karena tujuan utama dari dilakukannya infabulasi adalah menjaga keperawanan perempuan yang belum menikah.
Bila perempuan yang diinfabulasi hendak melakukan aktivitas seksual, maka ia harus dibuka kembali (defibulasi), dan nantinya dibuka lebih lebar lagi untuk kepentingan persalinan. Pada banyak kebudayaan, defibulasi ini akan dilakukan oleh seorang suami setelah mengetahui bahwa pengantinnya masih perawan. Proses defabulasi ini dilakukan dengan mempergunakan alat-alat tajam ataupun kuku dari sang suami sendiri. Defulasi oleh bidan hanya dilakukan bila sang suami mengijinkan. Proses ini dilakukan berulang-ulang sehingga perempuan juga akan merasakan kesakitan dan penderitaan yang berulang-ulang apalagi nantinya akan sangat berisiko terkena penyakit.
Mengenai tempat, pelaksanaan FGM ini biasanya dilakukan di rumah pribadi, tetangga, kerabat, pusat kesehatan, atau bila FGM dianggap sebagai proses inisiasi maka akan dipilih sungai atau pohon tertentu.
Prosedur FGM ini sangatlah menyakitkan, baik pada saat prosedur dilaksanakan maupun pada masa setelah prosedur selesai. Tetapi anehnya sebagian besar pelaku FGM adalah perempuan sendiri dan hanya sedikit kebudayaan yang memungkinkan prosedur ini dilakukan pria. Seperti halnya prosedur usia dilakukannya FGM juga bervariasi namun pada umumnya FGM biasa dipraktekkan pada perempuan yang berumur 4 sampai 10 tahun, walaupun di beberapa komunitas tertentu FGM ini dipraktekkan pada masa bayi atau ditunda sampai seorang perempuan akan menikah. Pada beberapa tempat terutama di pedesaan, orang yang melakukan pemutilasian ini yaitu dukun mutilasi atau bidan akan mendapat upah walaupun proses pelaksanaannya tanpa obat bius. Dalam proses FGM biasanya digunakan beberapa alat seperti pisau, pecahan gelas, pisau cukur, atau gunting. Namun, di negara-negara yang sudah berkembang FGM dilakukan secara higienis dengan menggunakan obat bius.
Alasan-Alasan dipraktikkannya Female Genital Mutilation
Ada beberapa alasan dilakukannya FGM yang dikelompokkan ke dalam empat alasan utama, yaitu:
1. Identitas budaya
Budaya dan tradisi merupakan alasan utama dilakukannya FGM, karena FGM menentukan siapa sajakah yang dapat dianggap sebagai bagian dari masyarakat, sehingga dianggap sebagai tahap inisiasi bagi seorang perempuan untuk memasuki tahap kedewasaan. Dalam masyarakat yang mempraktikan hal ini, FGM dianggap sebagai hal yang biasa dan seorang perempuan tidak akan dianggap dewasa sebelum melakukan FGM.
2. Identitas gender
FGM dianggap penting bagi seorang gadis bila ingin menjadi perempuan seutuhnya, praktik ini memberikan suatu perbedaan jenis kelamin dikaitkan dengan peran mereka di masa depan dalam kehidupan perkawinan. Pengangkatan bagian klitoris dianggap sebagai penghilangan organ di tubuh perempuan sehingga feminitas perempuan akan utuh dan sempurna, karena trauma yang didapatkan setelah proses ini berlangsung akan memengaruhi perempuan. FGM juga dianggap sebagai pemberian pelajaran kepada perempuan mengenai perannya dalam masyarakat.
3. Mengontrol seksualitas perempuan serta fungsi reproduksinya
FGM dipercaya dapat mengurangi hasrat seksual perempuan akan seks, sehingga dapat mengurangi terjadinya praktik seks di luar nikah. Kesetiaan seorang perempuan yang tidak dimutilasi terhadap pasangannya akan sangat diragukan oleh masyarakat. Dalam masyarakat yang mempraktikkan FGM, seorang perempuan yang tidak dimutilasi tidak akan mungkin mendapatkan jodoh.
4. Alasan kebersihan, kesehatan, dan keindahan
Alasan ini merupakan alasan pembenaran yang dipakai oleh banyak masyarakat di dunia untuk melakukan FGM. Mutilasi yang sering dikaitkan dengan tindakan penyucian atau pembersihan dalam masyarakat yang mempraktikan FGM. Seorang perempuan yang tidak dimutilasi dianggap tidak bersih dan tidak akan diperkenankan menyentuh makanan
atau air.
FGM sering sekali dipromosikan dapat meningkatkan kesehatan perempuan serta anak yang dilahirkannya, dikatakan bahwa perempuan yang melakukan FGM akan lebih subur serta mudah melahirkan. Pendapat ini lebih merupakan mitos yang dipercaya masyarakat saja dan tidak memiliki bukti medis. Dari penjelasan mengenai prosedur serta dampak FGM dapat dilihat bahwa FGM ini dapat membahayakan jiwa, kesehatan, dan kesuburan seorang perempuan.
Dampak Praktik Female Genital Mutilation
Dampak dilakukannya FGM adalah sebagai berikut:
1. Konsekuensi Medis
Perempuan yang menjalankan prosedur FGM sangat berisiko besar mengalami berbagai masalah serius baik fisik maupun psikis. Masalah kesehatan yang dapat ditimbulkan berkaitan dengan tingkat higienitas alat yang dipakai dalam prosedur, keahlian orang-orang yang melaksanakan prosedur tersebut, serta tahapan-tahapan prosedur FGM itu sendiri.
Dampak fisik yang ditimbulkan oleh FGM terbagi menjadi dampak jangka pendek.dan jangka panjang Dampak jangka pendek dari FGM meliputi pembengkakan pada jaringan sekitar vagina yang akan menghalangi proses pembuangan cairan, infeksi yang disebabkan pemakainan alat yang tidak steril, serta kontaminasi luka karena air seni, pendarahan parah dan shock, pembuluh darah dari klitoris dapat mengalami pendarahan,
terjadinya infeksi, tercemarnya darah oleh racun dari alat yang tidak steril, dan kerusakan pada jaringan di sekitar klitoris serta labia yang setelah beberapa waktu akan menyebabkan tersumbatnya urine yang berimplikasi pada infeksi serius.
Dampak jangka panjang yang ditimbulkan FGM yaitu infeksi saluran kencing. Hal ini disebabkan karena terdapatnya penyakit yang timbul karena adanya bakteri serta sisa-sisa sel darah putih dan juga karena infeksi yang berulang-ulang pada saluran reproduksi. Lubang vagina yang menjadi sempit akan menyebabkan terganggunya saluran menstruasi sehingga perempuan akan merasa sangat kesakitan karena penumpukan residu pada vagina. Dampak lain yang ditimbulkan adalah infeksi pelvic yang menyebabkan tersumbatnya tuba fallopi yang nantinya akan berakibat pada kemandulan.
Pada tipe infabulasi dampak jangka panjang yang ditimbulkan akan menjadi lebih serius yaitu infeksi pada saluran kencing dan ureter, kerusakan pada ginjal, infeksi saluran reproduksi yang disebabkan terganggunya siklus menstruasi, infeksi parah pada pelvic sehingga menyumbat tuba fallopi, perluasan jaringan yang terluka, keloid, sakit yang diderita pada saat berhubungan (making love), dan kesulitan pada saat melahirkan akibat hilangnya elastisitas serta saluran pelicin pada vagina. Perempuan yang diinfabulasi akan membutuhkan 15 menit untuk kencing dan periode menstruasi mencapai 10 hari, kadang-kadang karena sempitnya lubang ini darah menstruasi akan berkumpul di perut. Sehubungan dengan penularan penyakit berbahaya, FGM juga merupakan sarana yang berbahaya dan riskan bagi penularan virus HIV dan hepatitis, diakibatkan pemakaian alat yang tidak steril.
2. Konsekuensi Seksual
Secara seksual FGM berdampak pada rusaknya ransangan seksual pada perempuan. Hal ini disebabkan karena klitoris yang sudah dihilangkan akibat praktik FGM. Klitoris merupakan organ seksual utama pada perempuan yang memiliki banyak sekali syaraf yang sangat peka terhadap sentuhan, sedangkan bagian lain dari vagina hanya memiliki respon yang minim terhadap sentuhan. Dengan dihilangkannya klitoris pada FGM, maka secara otomatis ransangan seksual pada perempuan akan menurun secara drastis sehingga akan butuh waktu yang sangat lama bagi perempuan dalam berhubungan seks untuk mencapai orgasme bahkan tidak mampu sama sekali dalam mencapai orgasme.
Hal ini tidak hanya berdampak pada perempuan saja. Secara tidak langsung laki-laki juga terkena dampaknya. Sebagai contoh di Mesir dimana terjadi peningkatan laki-laki yang menggunakan narkotika akibat dari hanya sedikit sekali laki-laki sehat yang dapat membuat seorang perempuan yang dimutilasi klitorisnya mencapai orgasme.
1. Pengakuan dari seorang laki-laki Sudan tentang pengalaman seksualnya pada malam pertama perkawinannya.
"the first experience were very painful for her. For a long time we could not enjoy sex together, because it was a uniteral thing. It was I who had the orgasm. She only had fear and pain. I had had some experience, and knew either I would ruin the whole relationship, or with gentleness and patience I would eventually solve the problem. I love her very much, and for a long time, for several months, we both tried very hard to make it work. It was a nightmare. Of course I wanted sex. Everytime I approach her sexually, she bled. The wound I had caused was never able to heal. I felt horribly guilty. The whole thing was so abnormal. The thought that I was hurting someone I loved so dearly trouble me greatly. I felt like an animal. This is an experience that I would rather not remember."
2. Pengalaman Amina, seorang perempuan berusia 25 tahun dari Somali.
"I was infabulated when i was nine years old. I have had four operations to open up the infibulation for sexual relations with my husband since I got married four years ago but all this has been unsuccessful. Each time my husband comes near me the place close up. He cannot enter me. I have been through a lot of pain even to the point that I wanted to commit suicide. My husband unfortunately emotionally abuses me. He says I am a useless woman. It hurt me so much. I cannot speak to my family or to any member of the community. This will bring shame on my family. I need to see a psychologist, there will be gossip in the community and I will be dismissed as a mad person.
Dari kedua konsekuensi yang ditimbulkan oleh FGM, maka akan menimbulkan dampak yang ketiga yaitu konsekuensi psikologis yang akan diderita oleh perempuan yang melakukan FGM.
3. Konsekuensi Psikologis
Selain dampak fisik, FGM juga menimbulkan dampak psikis terhadap perempuan yang melakukan FGM. Dampak psikisnya yaitu perasaan cemas, takut, malu, serta perasaan dikhianati yang dapat menimbulkan dampak negatif jangka panjang pada kondisi psikis perempuan.
Berdasarkan penelitian beberapa ahli, shock dan trauma yang diderita dapat menyebabkan terbentuknya sifat pendiam dan penurut pada perempuan. Sifat-sifat ini dianggap baik bagi masyarakat yang mempraktikkan FGM. Walaupun di saat perayaan perempuan yang melakukan FGM akan mendapat hadiah akan menghilangkan sedikit trauma, namun dampak psikologis yang paling penting adalah perasaan merasa diterima sebagai bagian dari anggota masyarakat serta perasaan telah memenuhi persyaratan untuk
menikah.
Berikut pernyataan Dr. Nahid Toubia, seorang gynaecology yang telah melakukan penelitian terhadap hal ini terhadap pasiennya di sebuah klinik di Sudan:
"Thousand of women present themselves with vague complaints all metaphorically linked to their pelvises, which really means their genital since they are socially too shy to speak of their genitals. They complain of symptoms of anxiety and depression, loss of sleep, backache and many other complaints uttered in sad monotonous voices.
When I probe them a little, the flood of their pain and anxiety over their genitals, their sexual lives, their fertility and all the other physical and psychological complications of their circumcision is unbearable. These women are holding back a silent sream so strong, if uttered, it would shake the earth. Instead it is held back depleting their energy and darining their confidence in their abilities. Meanwhile the medical establishment treats them as malingerers and a burden on the health system and its resources.
*from many sources
050311
Terdapat beberapa definisi mengenai Female Genital Mutilation (FGM):
1. Berdasarkan WHO information fact sheet No.241 June 2000, FGM merupakan semua prosedur termasuk pengangkatan sebagian atau seluruh bagian dari organ genital perempuan atau tindakan melukai lainnya terhadap organ genital perempuan baik untuk alasan budaya, agama, atau alasan lainnya yang tidak berkaitan dengan penyembuhan
2. Berdasarkan fact sheet no.23, Harmful Traditional Practices Affecting the Health of Women and Children yang dikeluarkan oleh Office of the High Commissioner for Human Rights, FGM adalah istilah yang dipakai mengacu pada tindakan pembedahan untuk mengangkat sebagian atau seluruh bagian organ genital perempuan yang paling sensitif.
3 Berdasarkan Stedman's medical Dictionary, 26th Edition, 1995 mutilasi didefinisikan sebagai perusakan atau tindakan melukai dengan mengangkat atau merusakkan bagian-bagian yang nyata terlihat atau bagian penting dari tubuh
Dari beberapa definisi diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa FGM adalah segala prosedur atau tindakan yang ditujukan untuk menghilangkan dan melukai sebagian atau seluruh organ genital dari perempuan.
Asal Mula Female Genital Mutilation
Menurut pendapat beberapa ahli, pada awalnya FGM berasal dari Mesir. Tujuan dilakukannya FGM ini adalah sebagai perayaan saat seorang perempuan mencapai kedewasaan. Praktik ini merupakan akulturasi budaya antara penduduk Romawi yang waktu itu banyak tinggal di Mesir.
Dahulunya masyarakat Romawi mempraktikkan FGM ini pada perempuan kalangan budak untuk meningkatkan daya jual mereka di pasar. Masyarakat Mesir kemudian mengadopsi kebudayaan ini dengan tujuan membuat perempuan-perempuan Mesir lebih diminati sekaligus untuk menjaga keperawanan. Selanjutnya FGM berkembang menjadi tradisi religi dan mulai dipraktikkan oleh kelompok agama dan seiring dengan berjalannya waktu, tradisi ini menjadi populer dan agama bukanlah satu-satunya alasan FGM dilakukan.
Tipe-Tipe Female Genital Mutilation
Ada empat macam tipe FGM menurut fact sheet no.23, Harmful Traditional Practices Affecting the Health of Women and Children:
1. Tipe I : Sirkumsisi (Circumcision)
Menghilangkan bagian permukaan, dengan atau tanpa diikuti pengangkatan sebagian atau seluruh bagian dari klitoris. Ketika prosedur ini dilakukan terhadap bayi perempuan atau anak kecil perempuan, bisa jadi bagian atau keseluruhan dari klitoris dan sekeliling jaringan (tissues) akan terbuang.
2. Tipe II : Eksisi (Excission)
Pengangkatan klitoris diikuti dengan pengangkatan sebagian atau seluruh bagian dari labia minora.
3. Tipe III : Infabulasi (Infibulation)
Merupakan excission yang diikuti dengan pengangkatan labia mayora serta menempelkan kedua sisi vagina dengan jalan menjahit atau menyatukan secara alami jaringan yang terluka dengan mempergunakan media berupa duri, sutera, atau benang dari usus kucing. Pada infabulation akan ditinggalkan lubang yang sangat kecil (kurang lebih sebesar kepala korek api) yang dipergunakan untuk sekresi dan keluarnya cairan menstruasi.
4. Tipe IV : Introsisi (Introcission)
Jenis FGM yang dipraktikkan oleh suku Pitta-Pitta Aborigin di Australia, dimana pada saat seorang perempuan mencapai usia puber, maka seluruh suku akan dikumpulkan dan seseorang yang dituakan dalam masyarakat akan bertindak sebagai pemimpin prosedur FGM. Lubang vagina perempuan tersebut akan diperlebar dengan jalan merobek dengan menggunakan tiga jari tangan yang diikat dengan tali dan sisi lain dari perineum yang akan dipotong dengan menggunakan pisau batu. Ritual ini biasanya akan diikuti dengan aktivitas seksual secara paksa dengan beberapa lelaki muda. Selain di Australia, introcission juga dipraktikkan di Meksiko Timur, Brazil, Peru, dan suku Conibos. Serta sebagian dari suku Pano Indian di bagian tenggara. Pada suku-suku tersebut operasi dilaksanakan oleh seorang perempuan yang dituakan dengan menggunakan pisau bambu, perempuan ini akan memotong jaringan sekitar selaput dara serta mengangkat bagian labia pada saat yang bersamaan membuka klitoris, tumbuhan obat akan dipergunakan untuk menyembuhkan diikuti dengan memasukkan objek berbentuk penis yang terbuat dari tanah liat.
Prosedur dan Usia Dilakukannya Female Genital Mutilation
Tidak ada prosedur standar dalam melakukan FGM, karena prosedur yang dipraktikkan oleh masyarakat dunia sangatlah bervariasi tergantung pada daerah, kebiasaan masyarakat serta adat-istiadat dimana perempuan tersebut tinggal. Sebagai contoh prosedur introcission yang dipraktekkan oleh suku Pitta-Patta Aborigin di Australia sangatlah berbeda dengan prosedur introcission yang dipraktekkan di Meksiko. Menurut Amnesti Internasional terdapat prosedur secara umum mengenai proses dilakukannya FGM yaitu:
1. Seorang perempuan yang akan melakukan FGM akan disuruh duduk di dalam air dingin untuk mematikan rasa di daerah yang akan dipotong serta mengurangi kemungkinan pendarahan. Pada umumnya perempuan tersebut tidak akan diberikan penghilang rasa sakit, perempuan tersebut akan dibuat tidak bergarak dengan cara dipegangi oleh perempuan-perempuan yang lebih tua, kaki perempuan tersebut akan
dibuka dengan lebar sehingga bagian vagina akan terekspos.
2. Mutilasi akan dilakukan dengan mempergunakan alat pemotong seperti pecahan kaca, besi tipis, gunting, silet atau benda-benda tajam lainnya. Bila tipe FGM yang dilakukan adalah infabulasi maka duri atau jahitan yang akan dipergunakan untuk menahan serta merapatkan kedua sisi dari labia mayora dan labia minora yang telah dipotong dengan terlebih dahulu menyelipkan bambu atau kayu untuk menciptakan lubang pada daerah yang dirapatkan.
3. Selanjutnya perempuan tersebut akan diikat kakinya dan dibiarkan tergantung selama kurang lebih 40 hari, untuk menyembuhkan luka penggunaan bubuk antiseptik dimungkinkan, tetapi biasanya dipergunakan salep yang mengandung campuran tumbuh-tumbuhan obat, susu, telur, abu atau kotoran yang dipercaya memiliki khasiat untuk menyembuhkan.
Bagi perempuan yang diinfabulasi tidak akan memiliki besar lubang vagina yang normal, lubang vagina ini menjadi sangat kecil kira-kira hanya sebesar kepala korek api dan tidak mungkin melakukan aktifitas seksual. Hal ini dimungkinkan karena tujuan utama dari dilakukannya infabulasi adalah menjaga keperawanan perempuan yang belum menikah.
Bila perempuan yang diinfabulasi hendak melakukan aktivitas seksual, maka ia harus dibuka kembali (defibulasi), dan nantinya dibuka lebih lebar lagi untuk kepentingan persalinan. Pada banyak kebudayaan, defibulasi ini akan dilakukan oleh seorang suami setelah mengetahui bahwa pengantinnya masih perawan. Proses defabulasi ini dilakukan dengan mempergunakan alat-alat tajam ataupun kuku dari sang suami sendiri. Defulasi oleh bidan hanya dilakukan bila sang suami mengijinkan. Proses ini dilakukan berulang-ulang sehingga perempuan juga akan merasakan kesakitan dan penderitaan yang berulang-ulang apalagi nantinya akan sangat berisiko terkena penyakit.
Mengenai tempat, pelaksanaan FGM ini biasanya dilakukan di rumah pribadi, tetangga, kerabat, pusat kesehatan, atau bila FGM dianggap sebagai proses inisiasi maka akan dipilih sungai atau pohon tertentu.
Prosedur FGM ini sangatlah menyakitkan, baik pada saat prosedur dilaksanakan maupun pada masa setelah prosedur selesai. Tetapi anehnya sebagian besar pelaku FGM adalah perempuan sendiri dan hanya sedikit kebudayaan yang memungkinkan prosedur ini dilakukan pria. Seperti halnya prosedur usia dilakukannya FGM juga bervariasi namun pada umumnya FGM biasa dipraktekkan pada perempuan yang berumur 4 sampai 10 tahun, walaupun di beberapa komunitas tertentu FGM ini dipraktekkan pada masa bayi atau ditunda sampai seorang perempuan akan menikah. Pada beberapa tempat terutama di pedesaan, orang yang melakukan pemutilasian ini yaitu dukun mutilasi atau bidan akan mendapat upah walaupun proses pelaksanaannya tanpa obat bius. Dalam proses FGM biasanya digunakan beberapa alat seperti pisau, pecahan gelas, pisau cukur, atau gunting. Namun, di negara-negara yang sudah berkembang FGM dilakukan secara higienis dengan menggunakan obat bius.
Alasan-Alasan dipraktikkannya Female Genital Mutilation
Ada beberapa alasan dilakukannya FGM yang dikelompokkan ke dalam empat alasan utama, yaitu:
1. Identitas budaya
Budaya dan tradisi merupakan alasan utama dilakukannya FGM, karena FGM menentukan siapa sajakah yang dapat dianggap sebagai bagian dari masyarakat, sehingga dianggap sebagai tahap inisiasi bagi seorang perempuan untuk memasuki tahap kedewasaan. Dalam masyarakat yang mempraktikan hal ini, FGM dianggap sebagai hal yang biasa dan seorang perempuan tidak akan dianggap dewasa sebelum melakukan FGM.
2. Identitas gender
FGM dianggap penting bagi seorang gadis bila ingin menjadi perempuan seutuhnya, praktik ini memberikan suatu perbedaan jenis kelamin dikaitkan dengan peran mereka di masa depan dalam kehidupan perkawinan. Pengangkatan bagian klitoris dianggap sebagai penghilangan organ di tubuh perempuan sehingga feminitas perempuan akan utuh dan sempurna, karena trauma yang didapatkan setelah proses ini berlangsung akan memengaruhi perempuan. FGM juga dianggap sebagai pemberian pelajaran kepada perempuan mengenai perannya dalam masyarakat.
3. Mengontrol seksualitas perempuan serta fungsi reproduksinya
FGM dipercaya dapat mengurangi hasrat seksual perempuan akan seks, sehingga dapat mengurangi terjadinya praktik seks di luar nikah. Kesetiaan seorang perempuan yang tidak dimutilasi terhadap pasangannya akan sangat diragukan oleh masyarakat. Dalam masyarakat yang mempraktikkan FGM, seorang perempuan yang tidak dimutilasi tidak akan mungkin mendapatkan jodoh.
4. Alasan kebersihan, kesehatan, dan keindahan
Alasan ini merupakan alasan pembenaran yang dipakai oleh banyak masyarakat di dunia untuk melakukan FGM. Mutilasi yang sering dikaitkan dengan tindakan penyucian atau pembersihan dalam masyarakat yang mempraktikan FGM. Seorang perempuan yang tidak dimutilasi dianggap tidak bersih dan tidak akan diperkenankan menyentuh makanan
atau air.
FGM sering sekali dipromosikan dapat meningkatkan kesehatan perempuan serta anak yang dilahirkannya, dikatakan bahwa perempuan yang melakukan FGM akan lebih subur serta mudah melahirkan. Pendapat ini lebih merupakan mitos yang dipercaya masyarakat saja dan tidak memiliki bukti medis. Dari penjelasan mengenai prosedur serta dampak FGM dapat dilihat bahwa FGM ini dapat membahayakan jiwa, kesehatan, dan kesuburan seorang perempuan.
Dampak Praktik Female Genital Mutilation
Dampak dilakukannya FGM adalah sebagai berikut:
1. Konsekuensi Medis
Perempuan yang menjalankan prosedur FGM sangat berisiko besar mengalami berbagai masalah serius baik fisik maupun psikis. Masalah kesehatan yang dapat ditimbulkan berkaitan dengan tingkat higienitas alat yang dipakai dalam prosedur, keahlian orang-orang yang melaksanakan prosedur tersebut, serta tahapan-tahapan prosedur FGM itu sendiri.
Dampak fisik yang ditimbulkan oleh FGM terbagi menjadi dampak jangka pendek.dan jangka panjang Dampak jangka pendek dari FGM meliputi pembengkakan pada jaringan sekitar vagina yang akan menghalangi proses pembuangan cairan, infeksi yang disebabkan pemakainan alat yang tidak steril, serta kontaminasi luka karena air seni, pendarahan parah dan shock, pembuluh darah dari klitoris dapat mengalami pendarahan,
terjadinya infeksi, tercemarnya darah oleh racun dari alat yang tidak steril, dan kerusakan pada jaringan di sekitar klitoris serta labia yang setelah beberapa waktu akan menyebabkan tersumbatnya urine yang berimplikasi pada infeksi serius.
Dampak jangka panjang yang ditimbulkan FGM yaitu infeksi saluran kencing. Hal ini disebabkan karena terdapatnya penyakit yang timbul karena adanya bakteri serta sisa-sisa sel darah putih dan juga karena infeksi yang berulang-ulang pada saluran reproduksi. Lubang vagina yang menjadi sempit akan menyebabkan terganggunya saluran menstruasi sehingga perempuan akan merasa sangat kesakitan karena penumpukan residu pada vagina. Dampak lain yang ditimbulkan adalah infeksi pelvic yang menyebabkan tersumbatnya tuba fallopi yang nantinya akan berakibat pada kemandulan.
Pada tipe infabulasi dampak jangka panjang yang ditimbulkan akan menjadi lebih serius yaitu infeksi pada saluran kencing dan ureter, kerusakan pada ginjal, infeksi saluran reproduksi yang disebabkan terganggunya siklus menstruasi, infeksi parah pada pelvic sehingga menyumbat tuba fallopi, perluasan jaringan yang terluka, keloid, sakit yang diderita pada saat berhubungan (making love), dan kesulitan pada saat melahirkan akibat hilangnya elastisitas serta saluran pelicin pada vagina. Perempuan yang diinfabulasi akan membutuhkan 15 menit untuk kencing dan periode menstruasi mencapai 10 hari, kadang-kadang karena sempitnya lubang ini darah menstruasi akan berkumpul di perut. Sehubungan dengan penularan penyakit berbahaya, FGM juga merupakan sarana yang berbahaya dan riskan bagi penularan virus HIV dan hepatitis, diakibatkan pemakaian alat yang tidak steril.
2. Konsekuensi Seksual
Secara seksual FGM berdampak pada rusaknya ransangan seksual pada perempuan. Hal ini disebabkan karena klitoris yang sudah dihilangkan akibat praktik FGM. Klitoris merupakan organ seksual utama pada perempuan yang memiliki banyak sekali syaraf yang sangat peka terhadap sentuhan, sedangkan bagian lain dari vagina hanya memiliki respon yang minim terhadap sentuhan. Dengan dihilangkannya klitoris pada FGM, maka secara otomatis ransangan seksual pada perempuan akan menurun secara drastis sehingga akan butuh waktu yang sangat lama bagi perempuan dalam berhubungan seks untuk mencapai orgasme bahkan tidak mampu sama sekali dalam mencapai orgasme.
Hal ini tidak hanya berdampak pada perempuan saja. Secara tidak langsung laki-laki juga terkena dampaknya. Sebagai contoh di Mesir dimana terjadi peningkatan laki-laki yang menggunakan narkotika akibat dari hanya sedikit sekali laki-laki sehat yang dapat membuat seorang perempuan yang dimutilasi klitorisnya mencapai orgasme.
1. Pengakuan dari seorang laki-laki Sudan tentang pengalaman seksualnya pada malam pertama perkawinannya.
"the first experience were very painful for her. For a long time we could not enjoy sex together, because it was a uniteral thing. It was I who had the orgasm. She only had fear and pain. I had had some experience, and knew either I would ruin the whole relationship, or with gentleness and patience I would eventually solve the problem. I love her very much, and for a long time, for several months, we both tried very hard to make it work. It was a nightmare. Of course I wanted sex. Everytime I approach her sexually, she bled. The wound I had caused was never able to heal. I felt horribly guilty. The whole thing was so abnormal. The thought that I was hurting someone I loved so dearly trouble me greatly. I felt like an animal. This is an experience that I would rather not remember."
2. Pengalaman Amina, seorang perempuan berusia 25 tahun dari Somali.
"I was infabulated when i was nine years old. I have had four operations to open up the infibulation for sexual relations with my husband since I got married four years ago but all this has been unsuccessful. Each time my husband comes near me the place close up. He cannot enter me. I have been through a lot of pain even to the point that I wanted to commit suicide. My husband unfortunately emotionally abuses me. He says I am a useless woman. It hurt me so much. I cannot speak to my family or to any member of the community. This will bring shame on my family. I need to see a psychologist, there will be gossip in the community and I will be dismissed as a mad person.
Dari kedua konsekuensi yang ditimbulkan oleh FGM, maka akan menimbulkan dampak yang ketiga yaitu konsekuensi psikologis yang akan diderita oleh perempuan yang melakukan FGM.
3. Konsekuensi Psikologis
Selain dampak fisik, FGM juga menimbulkan dampak psikis terhadap perempuan yang melakukan FGM. Dampak psikisnya yaitu perasaan cemas, takut, malu, serta perasaan dikhianati yang dapat menimbulkan dampak negatif jangka panjang pada kondisi psikis perempuan.
Berdasarkan penelitian beberapa ahli, shock dan trauma yang diderita dapat menyebabkan terbentuknya sifat pendiam dan penurut pada perempuan. Sifat-sifat ini dianggap baik bagi masyarakat yang mempraktikkan FGM. Walaupun di saat perayaan perempuan yang melakukan FGM akan mendapat hadiah akan menghilangkan sedikit trauma, namun dampak psikologis yang paling penting adalah perasaan merasa diterima sebagai bagian dari anggota masyarakat serta perasaan telah memenuhi persyaratan untuk
menikah.
Berikut pernyataan Dr. Nahid Toubia, seorang gynaecology yang telah melakukan penelitian terhadap hal ini terhadap pasiennya di sebuah klinik di Sudan:
"Thousand of women present themselves with vague complaints all metaphorically linked to their pelvises, which really means their genital since they are socially too shy to speak of their genitals. They complain of symptoms of anxiety and depression, loss of sleep, backache and many other complaints uttered in sad monotonous voices.
When I probe them a little, the flood of their pain and anxiety over their genitals, their sexual lives, their fertility and all the other physical and psychological complications of their circumcision is unbearable. These women are holding back a silent sream so strong, if uttered, it would shake the earth. Instead it is held back depleting their energy and darining their confidence in their abilities. Meanwhile the medical establishment treats them as malingerers and a burden on the health system and its resources.
*from many sources
050311
Selasa, Juli 31, 2012
What is Wrong with F Word?
Guys and girls, you are not afraid of feminists, are you?
Tahun 2003
adalah tahun ‘awakening’ bagiku, tahun pertama
kali aku mengenal ideologi feminisme dan otakku menerimanya dengan terbuka. Ideologi
satu ini – bagiku – amatlah membebaskan bagi kaum perempuan untuk mengejar
menjadi dan melakukan apa pun yang ingin mereka mau. (Note: sebelumnya aku
hidup dalam batasan ‘hukum agama’ yang konon begitu kekal karena dijaga olehNya
hingga akhir zaman, sehingga tidak dimungkinkan – bahkan mungkin hukumnya haram
– ada interpretasi maupun bacaan yang ‘baru’, yang bisa jadi lebih
‘women-friendly’.)
Dan karena
ideologi feminisme ini sangat women-friendly, maka dengan serta merta ‘naively’
kupikir semua perempuan akan dengan mudah dan suka cita menerimanya. Mereka
akan dengan senang menyebut diri sebagai seorang feminis setelah memahami bahwa
laki-laki dan perempuan itu setara. Dalam segala hal. Kecuali di empat hal yang
dianggap kodrat perempuan, yakni menstruasi, mengandung, melahirkan, dan
menyusui.
Namun
ternyata kenyataannya tidak seperti itu. Bahkan seorang perempuan yang di kota
kelahiranku lumayan terkenal sebagai seseorang yang intens pada nasib perempuan
dengan jelas-jelas menolak ketika disebut sebagai seorang feminis. Ada semacam ‘alergi’
yang bisa kucium dari sikapnya itu: alergi terhadap sebutan ‘feminis’.
TIDAK
KENAL MAKA TIDAK SAYANG
Apakah
feminisme itu?
Meski
perjuangan untuk menyamakan hak-hak kaum perempuan dengan laki-laki telah
dimulai beberapa abad lalu, kata feminisme sendiri mulai muncul di akhir abad
sembilan belas di belahan bumi Eropa dan kemudian menular ke Amerika. Kata ‘feminisme’
hadir untuk mengacu ke ideologi yang mengusung persamaan hak antara laki-laki
dan perempuan, maka siapa pun yang berjuang untuk mewujudkan persamaan itu,
atau mendukung terwujudnya persamaan tersebut – bisa laki-laki maupun perempuan
– bisa disebut sebagai seorang feminis.
“I do not
label myself as a feminist although I am very much concerned with equality
between men and women. Instead, I call myself a humanist,” kata Harry Aveling
di satu seminar kebahasaan di Jogja satu dekade yang lalu.
Seperti
terkesan ada yang salah dengan penggunaan kata feminisme. Atau seperti ada
kesan negatif di balik kata ini. Mengapa? Okelah jika yang menolak disebut
feminis itu laki-laki, karena berpikir bahwa hanya perempuanlah yang concerned
terhadap persamaan hak perempuan dengan laki-laki. Dan mungkin khawatir jika
orang awam menyalahartikan istilah ‘feminis’ dengan ‘feminin’. J Inilah salah satu sebab mengapa
Jurnal Perempuan sebagai salah satu tombak utama mendidik masyarakat untuk
mengenal kesetaraan jender membuat jargon “LAKI-LAKI BARU” sebagai mitra kaum
perempuan yang sadar bahwa hak laki-laki dan perempuan sama.
Lalu
mengapa kaum perempuan pun – yang jelas-jelas mendukung paham kesetaraan jender
bahkan ikut berjuang demi perbaikan nasib kaum perempuan – juga menolak
menyebut – atau disebut – sebagai feminis?
Di
Indonesia mungkin mereka berpikir bahwa istilah feminis terlalu
kebarat-baratan. Dan istilah ‘kebarat-baratan’ mungkin membuat beberapa orang
alergi. Atau ‘definisi’ feminis yang hadir pada dekade enampuluhan masih
melekat di benak mereka : Kaum pejuang perempuan pada waktu itu dikenal sebagai
men-hater dan anti pernikahan. Mungkin Betty Friedan (dengan bukunya “The
Feminine Mystique” yang fenomenal) – yang dianggap sebagai ‘representative’
pejuang kesetaraan dan tokoh feminisme terkemuka di Amerika pada dekade
tersebut sering dituduh sebagai men-hater dan anti pernikahan sekaligus anti
pekerjaan rumah tangga sehingga banyak perempuan yang mengartikan feminisme
sebagai gerakan untuk membenci laki-laki, membenci institusi pernikahan dan
menolak mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Ditambah satu lagi: pengusung
lesbianisme.
Sekian
dekade telah berlalu. Orang-orang seharusnya mulai mengerti bahwa paham
feminisme tidak sepicik itu. Para pengusung ideologi ini seharusnya tahu bahwa
feminisme berarti perempuan berhak untuk memilih apa pun yang mereka inginkan
tanpa perlu dibatasi keperempuanan mereka. Perempuan berhak untuk menikah atau
pun tetap melajang. Perempuan berhak meraih pendidikan setinggi yang mereka
inginkan atau sebaliknya. Perempuan berhak untuk memilih bekerja di luar rumah
maupun menjadi ibu rumah tangga, dan resikonya ketika memilih untuk bekerja di
luar rumah, tentu sang suami harus mau bersama-sama bertanggungjawab
mengerjakan pekerjaan rumah tangga, bukannya dibebani tugas ganda: bekerja di
luar rumah dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga sementara sang suami hanya
ongkang-ongkang saja. Ketika memilih pekerjaan pun, perempuan berhak memilih
jenis karir mana pun yang mereka inginkan, tanpa ada batasan “karena kamu
perempuan, maka seyogyanya kamu bla bla bla ...” Selain itu perempuan juga berhak
untuk mengandung atau tidak, melahirkan secara alami atau tidak, dan kemudian
menyusui atau tidak. Dan tentu perempuan berhak untuk menjadi ‘straight’ maupun
‘lesbian’ tanpa perlu melihat ‘mainstream orientation’. Just follow their
calling.
Bukankah
ideologi feminisme sangat membebaskan kaum perempuan? Lalu mengapa menolak
menyebut – atau disebut – seorang feminis?
So, what
is wrong with F word?
Tak ada
cukup alasan bukan untuk membenci kaum feminis? Tak perlu alergi bukan untuk
mengaku diri sebagai seorang feminis? Kecuali mereka yang terus menerus
berkutat dengan keyakinan bahwa perempuan selayaknya dikurung di rumah atau pun
pandangan bahwa perempuan tidak boleh mengatur hidupnya sendiri. Atau kaum
laki-laki yang tidak pede menghadapi perempuan yang memiliki cara berpikir
merdeka, perempuan yang memiliki independensi yang tinggi. Jika mereka pede,
laki-laki itu akan sangat menikmati duduk sama rendah maupun berdiri sama
tinggi dengan kaum perempuan.
GL7 15.42
300712
Di bawah ini adalah komen yang masuk di lapak sebelah :
rembulanku wrote on Jul 31
wah ini bener2 ulasan :D
|
afemaleguest wrote on Jul 31
martoart said
aku masih melihatnya sebagai karena dia laki-laki Kang :)
eniwei, suwun komennya :-D |
afemaleguest wrote on Jul 31
waduuuuwww ... yang lagi keliling-keliling ...
sampe bingung sedang berada dimana? :-D |
afemaleguest said
"Feminism
encourages woman to leave their husband, kill their children, practice
witchcraft, destroy capitalism, and become lesbians".
Kalo itu yang ngomong seorang paus di abad pertengahan, kamu akan bisa memaklumi ketololannya, tapi jangan kaget, itu yang ngomong Pat Robertson, seorang politisi Amrik, tahun 1992! |
afemaleguest wrote on Jul 31
martoart said
hmmm ....
maka ketika aku ngeblog di blogsite yang berasal dari Eropa dulu ( di afemaleguest.blog.co.uk ) aku masih sering ketemu orang bule baik laki-laki maupun perempuan yang berpikiran begitu ... kirain orang barat sono lebih melek dari orang sini, ternyata podo wae :-D |
penuhcinta wrote on Jul 31
afemaleguest said
maka ketika aku ngeblog di blogsite yang berasal dari Eropa dulu ( di afemaleguest.blog.co.uk ) aku masih sering ketemu orang bule baik laki-laki maupun perempuan yang berpikiran begitu ... kirain orang barat sono lebih melek dari orang sini, ternyata podo wae :-D
Orang sini kalau konservatif garis keras ya sami mawon, mbak.
|
rengganiez wrote on Jul 31
Skg lagi rame RUU kesetaraan gender nih,mba...tentangannya luarrrrr biasaaaaaaaaa
|
afemaleguest wrote on Jul 31
iya betul ...
duh, karena kesibukan kerja, aku lama ga sempat nulis tentang hal itu lagi ... (ngelesss) |
afemaleguest wrote today at 2:41 PM
setahuku Gadis Arivia, salah satu 'pentolan' gerakan pembela perempuan di Indonesia, juga menikah ... dan masih banyak lagi :)
|
rengganiez wrote on Jul 31
Taruhannya udah tahun laluuuuu...ampe mulpid punya bos baru nehh...
Maap mb Nana diajak ngelantur nehhh...jadi ngomongin nagih taruhan |
rengganiez said
Maap mb Nana diajak ngelantur nehhh...jadi ngomongin nagih taruhan
Saking lamanya, keknya jadi bunga berbunga nih tagihane...
Anak dadi babonn.... Njuk sidane kapann...? Tar ter mulukkk jawabaneee, persis petasan... |
afemaleguest wrote today at 9:56 AM
ketika
seorang perempuan memilih untuk anti lelaki, itu haknya juga, asal dia
tidak menganggapnya sebagai keharusan bahwa perempuan-perempuan lain
juga harus anti lelaki, ini yang tidak pada tempatnya menurutku. kita
harus menghormati pilihan masing-masing orang :-)
Betty sendiri kan tidak anti lelaki, meski rumah tangganya harus berhenti di tengah jalan. yang bukan feminis juga banyak kan yg gagal rumsh tangganya :-) dalam kasus Betty, dia sebagai salah satu pelopor feminisme pada gelombang kedua, dimana "menikah" masih dianggap sesuatu yg wajib bagi perempuan, jika dia bukan seorang feminis tentu dia ga akan berani ambil langkah yg masih kontroversial pada zamannya :-) |
afemaleguest said
He..he.he..tergantung
orangnya, kalo yang antilelaki ini menjadi pemimpin otomatis dibawahnya
akan terpengaruh juga, begitulah hukum alam interaksi, kalo presidennya
plin plan maka anak buahnya juga ikut ikutan wakakakak
|
afemaleguest wrote today at 2:24 PM
eddyjp said
I
must say aku kurang setuju dalam hal ini ... anti lelaki maupun
pengagum lelaki itu adalah pilihan yang sangat personal, kalau seorang
pemimpin kemudian mempengaruhi anak buahnya untuk mengikuti jejaknya ...
apalagi memaksa ... he/she is not a good leader then.
seperti jika seorang pemimpin yang straight kemudian memaksa semua anak buahnya harus straight dan mendiskriminasi yang gay, dia bukan pemimpin yang baik, demikian juga sebaliknya. tetap harus ada saling menghormati dan memahami :) |
afemaleguest said
He..he.he.daku
setuju saja jika ini pada tatanan teori tapi dalam kenyataannya
berbeda, perempuan sebagai kelompok sangat cepat saling mempengaruhi,
entah orang yang demikian menarik orang yang sejenisnya (cara
berpikirnya) atau kemudian terpengaruh, ini hal yang biasa dan terjadi
juga didunia lelaki :)
|
afemaleguest wrote today at 2:46 PM
ah ... kok jadi menggeneralisasi begitu? laki-laki juga bisa menjadi seperti itu ...
|
afemaleguest said
Memang benar, tapi persaudaraan diantara perempuan lebih kuat dari lelaki.
|
wayanlessy wrote today at 3:04 PM
Dalam
ketidak tahuan saya tersebut, maka hanya dari apa yg saya alami
sepanjang perjalan hidup selama 34 th, nampaknya sama saja pak. Entah
kalau ada penjelasan scientific yg menjelaskan perbedaan itu..saya mau
sekali dibagi informasi tersebut. :)
|
afemaleguest said
Betty sendiri kan tidak anti lelaki, meski rumah tangganya harus berhenti di tengah jalan. yang bukan feminis juga banyak kan yg gagal rumsh tangganya :-) dalam kasus Betty, dia sebagai salah satu pelopor feminisme pada gelombang kedua, dimana "menikah" masih dianggap sesuatu yg wajib bagi perempuan, jika dia bukan seorang feminis tentu dia ga akan berani ambil langkah yg masih kontroversial pada zamannya :-)
Begini kata suaminya,
Indeed, Carl Friedan had been quoted as saying "She changed the course of history almost singlehandedly. It took a driven, super aggressive, egocentric, almost lunatic dynamo to rock the world the way she did. Unfortunately, she was that same person at home, where that kind of conduct doesn't work. She simply never understood this."[53] |
afemaleguest wrote today at 2:21 PM
eddyjp said
Indeed, Carl Friedan had been quoted as saying "She changed the course of history almost singlehandedly. It took a driven, super aggressive, egocentric, almost lunatic dynamo to rock the world the way she did. Unfortunately, she was that same person at home, where that kind of conduct doesn't work. She simply never understood this."[53]
hmmm
... kalau mengacu ke paragraf terakhir yang kutulis di postingan ini,
menurutku pribadi, Carl jelas bukan laki-laki yang pede menghadapi
seorang perempuan yang spektakuler seperti Betty. :) Dia tidak siap
menghadapi Betty yang berubah secara drastis dengan perjuangannya untuk
'mengubah dunia'.
Seorang Charlotte Perkins Gilman sampai menderita nervous breakdown berulang kali di pernikahannya yang pertama karena sang suami berharap seorang perempuan yang biasa-biasa saja, yang cukup menjadi seorang "nyonya bla bla bla ..." dan bukan terkenal dengan namanya sendiri. Di pernikahan yag kedua, Charlotte bertemu dengan seorang laki-laki yang mengerti apa yang dia perjuangkan, dan pede (smiling ...) maka pernikahannya pun lasted forever, sampai sang suami meninggal dunia, dimana dua tahun kemudian Charlotte menyusulnya. di Indonesia sendiri, ketika membaca KAJIAN BUDAYA FEMINIS karya Aquarini Priyatna Prabasmoro, Aquarini menulis komplain suaminya, "Mengapa kamu tidak seperti perempuan-perempuan yang lain? yang biasa-biasa saja? yang tidak meributkan peran perempuan seperti yang kau perjuangkan itu?" well .. kalimat tepatnya aku sudah lupa, tapi intinya begitu deh. Tapi, sampai sekarang aku tidak atau belum mendengar berita Aquarini bercerai kan ya? Berarti sang suami cukup pede menghadapi istri yang cara berpikirnya merdeka seperti Aquarini. hehehehehehe ... |
afemaleguest said
Daku
setuju, soal jodoh tuh memang sulit diduga, tapi daku percaya ini
memang untung untungan yah, ibarat kepala ikan ketemu ekor ikan, atau
salah satu memposisikan diri seperti ini, jika 22nya jadi kepala
biasanya mudah terjadi keributan.
|
afemaleguest wrote today at 2:36 PM
kepala?
oh well ... kenapa juga harus ada yang merasa harus mejadi kepala dan yang satunya berarti menjadi kaki atau ekor begitu? atau, paling tidak, tubuh? yang penting dalam relationship kan ada komunikasi yang cocok ... dan saling mengerti :) |
afemaleguest said
oh well ... kenapa juga harus ada yang merasa harus mejadi kepala dan yang satunya berarti menjadi kaki atau ekor begitu? atau, paling tidak, tubuh? yang penting dalam relationship kan ada komunikasi yang cocok ... dan saling mengerti :)
Teoritisnya
emang begitu, tapi dalam kenyataan lebih praktis seperti itu, ada
pemimpinnya tinggal pilih kalo laki tak bisa ya perempuan.
Kenapa kepala dan ekor, mungkin kerna keduanya itu yang menentukan kemana arah si ikan bergerak, walau ada sirip dibadan, jangan ditangkap secara harafiah. |
afemaleguest wrote today at 2:43 PM
eddyjp said
Kenapa kepala dan ekor, mungkin kerna keduanya itu yang menentukan kemana arah si ikan bergerak, walau ada sirip dibadan, jangan ditangkap secara harafiah.
ketika
kedua belah pihak sudah melebur menjadi satu, dengan komunikasi yang
lancar dan saling mengerti, ga ada lagi batasan antara kepala dan ekor
...
|
afemaleguest said
Setuju
tetapi secara fungsional itu memang terjadi, bisa bertukaran, tapi
memang kalo keduanya mempunyai personality kuat dan energi besar, maka
kemungkinan akan meledak sewaktu waktu.
|
afemaleguest wrote today at 2:51 PM
eddyjp said
nah ... disinilah salah satu 'fungsi' keberadaan cinta antara keduanya :)
|
afemaleguest wrote today at 2:33 PM
martoart said
setuju Kang ... kok jadi sampai ke fisik begitu ya?
hello Eddy ... apa jawabmu? |
wayanlessy wrote today at 2:26 PM, edited today at 2:34 PM
Melongo
baca tulisan keren ini dan komen2nya...lalu tepok tepok jidat sendiri
karena selama ini aku nggak pernah tahu kalau ada orang yg memaknai
feminisme sedemikian parah sampai dibilang anti pernikahan dan man hater
plus pendukung lesbianisme.
Selama ini aku mengartikan feminisme terlalu sederhana, pejuang pembebas perempuan dari penjara diskriminasi gender yg tidak adil. Bahkan dulu by default, aku merasa berhak menyebut diriku sebagai feminis, walau belakangan jadi ragu apakah aku 'cocok' disebut itu karena banyak temanku yg mengaku feminis, menilai aku kurang feminis. Karena apa? Karena aku menikah dan rajin sekali melakukan sinkronisasi schedule harian dgn suami dan karena aku berjilbab (Padahal dulu justru dgn jilbabku ini aku merasa feminis, sayangnya panjang penjelasannya dan agak personal) ...jadilah gara2 komentar beberapa teman feminis itu, aku berpikir..."hmm...iya ya...mungkin aku nggak pantas mengaku sebagai feminis?" (Argh! Jadi siapa yg salah sih? Oh..menggemaskan sekali! Aku dapat info begitu dari kalangan para feminis sendiri dan merasa lumayan malu 'patah hati' karena 'ditampik' ketika mengaku feminis) Terus terang,.mbak...penolakan para feminis itu terhadap kegeeranku yg mengaku-aku feminis sejak awal, jadi kontra produktif. Aku malah jd tak merasa "sekubu". Padahal aku sangat yakin bahwa aku adalah kaum perempuan yg juga ingin berjuang membebaskan diri dari diskriminasi gender. Tapi aku 'takut' ..sangat enggan dipermalukan lagi oleh jenis para feminis yg sempat meledekku bahwa aku nggak pantas disebut feminis. Well, jd bagiku, kata 'feminis' ini justru keren dan aku ingin sekali mengaku feminis. Bukan sejak aku kuliah, melainkan sejak aku SMP. Sejak aku selalu ingin melawan diskriminasi gender. 8 th belakangan ini saja justru aku merasa..mungkin aku nggak cukup pantas mengaku sebagai seorang feminis. Ehhh....kok aku.malah jd curhat abis gini...:p |
afemaleguest wrote today at 2:32 PM
wayanlessy said
haduh Lessy ... aku ikut-ikutan patah hati ... :'(
seperti patah hatiku ketika ada seorang teman di lapak sebelah yang cukup akrab denganku, rajin menulis tentang perempuan untuk website JIL beberapa tahun lalu, dengan kalem mengaku, "aku bukan feminis lho mbak Nana ..." duh! |
wayanlessy wrote today at 2:47 PM
Iyah
mbak..hiks...masih agak nyeri dan malu kalau ingat "kamu tuh nggak
cukup feminis untuk ngaku sebagai feminis karena ..liat aja..gampangnya,
kamu berjilbab!"
Aku yg tukang ngeyel dan pendebatpun dalam suasana patah hati karena ditampik keberpihakanku oleh sesama perempuan secara yg demikian cuma bisa terdiam dan berkata "baiklah". Maka ketika aku baca journal mbak Nana ttg pandangan banyak orang non feminis yg menganggap feminis itu anti pernikahan, man hater, menentang kodrat dan lain lain...aku bengong sejenak, sambil pijit2 dahi. |
afemaleguest wrote today at 2:53 PM
wayanlessy said
Aku yg tukang ngeyel dan pendebatpun dalam suasana patah hati karena ditampik keberpihakanku oleh sesama perempuan secara yg demikian cuma bisa terdiam dan berkata "baiklah". Maka ketika aku baca journal mbak Nana ttg pandangan banyak orang non feminis yg menganggap feminis itu anti pernikahan, man hater, menentang kodrat dan lain lain...aku bengong sejenak, sambil pijit2 dahi.
kalau
tidak salah Ibu Musdah Mulia juga dianggap salah satu pejuang perempuan
-- yang berarti seorang feminis -- dan dia berjilbab ya?
tak bantuin pijit-pijit dahi boleh? :) |
afemaleguest said
aku juga feminis meski ga berjilbab. so what?
|
wayanlessy said
mbak
lessyyy... aku pernah ktemu feminis berjilbab yg punya penjelasan kira2
begini, "jilbab membuatku tidak dievaluasi secara fisik oleh laki2"
walaupun penjelasan mbak lessy panjang & agak personal, tapi aku udah lama ngerti kalo jilbab bisa jadi penanda feminisme juga :) ada juga pendapat bahwa pakai jilbab krn kemauan sendiri, bukan disuruh/dipaksa oleh siapa2, jadi sama sekali tidak menyalahi prinsip feminisme. |
wayanlessy wrote today at 2:56 PM
Terimakasih
atas support dan sumbangan tulisan dengan uraiannya yg manis untuk
kegiatan menulis ttg Xenophobia ya mbak Nana dear.
Padahal lagi banyak kerjaan dan ..eih gmn laptopnya mbak udah diperbaiki jugakah? |
afemaleguest wrote today at 2:59 PM
wayanlessy said
Padahal lagi banyak kerjaan dan ..eih gmn laptopnya mbak udah diperbaiki jugakah?
setelah
Lessy kirim PM itu, aku langsung nulis, tapi belum sempat kuposting,
belum kusave ke flash disk, laptop terkena virus, dan mati total :'(
setelah kubawa ke service (yang salah kupilih), eh, malah semua data di C
dan D hilang ...
postingan ini tulisan yang kedua, menulis ulang, dengan mood yang tidak sama ... masih kesal pada tukang servisnya ... :) I am glad to participate in the event, dear Lessy ... :) ini ada diskusi yang asik di lapak sebelah, monggo disimak :) http://www.facebook.com/notes/sekar-suket/aku-bukan-feminist/10151469439162012
"Aku bukan seorang feminist,"Dengan santai kukatakan kalimat itu, yang segera disambut dengan seruan tak percaya dari teman-temanku. Bahkan ada yang bernada marah.
Saat itu kami berlimabelas sedang duduk di sekitar api unggun, di bawah langit yang berkilau permata, beberapa ratus kilometer dari kehidupan moderen. Lima belas orang, 6 perempuan dan 9 lelaki, yang benar-benar beragam, usia, warna, agama dan orientasi-orientasi yang menempatkan kami pada kotak-kotak yang berbeda dalam peradaban. Dua pasang suami istri berusia awal 40an, satu berkewarganegaran Amerika, anggota gereja Baptist, yang satu lagi dari Swiss menganut agama Buddha. Sepasang pasangan kekasih dari Jepang, mengaku atheist, dan sepasang lagi pasangan gay dari Inggris, Jason dan Adrian si tampan yang sempat membuatku menoleh dua kali. Selebihnya, adalah kami tujuh orang tanpa ikatan, 2 perempuan dan 3 laki-laki asli Australia, satu lelaki Brazil bermata hijau dan perempuan berkulit coklat bernama Dita, aku. Satu-satunya persamaan yang ada pada kami adalah kecintaan pada alam terbuka, telinga kami senantiasa rindu akan penggilan mengenal sang Bunda lebih mesra. Malam ini adalah malam terakhir penjelajahan kami belahan utara bumi Australia yang jelita dalam keliarannya. Aku tak ingat persis apa topik awal pembicaraan kami malam itu, tapi yang jelas topik ini menghangat, seperti selalu, ketika membicarakan tentang perempuan, keberadaannnya, kedudukannya dan perjuangannya dalam mencapai kesetaraan gender. Kami berlima belas, memiliki beragam pendapat dalam hal ini, walau pada dasarnya ada kesepakatan tentang perempuan sebagai mahkluk yang tak mungkin dipingirkan lagi. Aku tidak ikut menyumbang pendapat dalam diskusi yang kadang membelok ke arah perdebatan yang bersahabat ini, karena, pasti banyak yang tidak percaya, aku ini sebenarnya orangnya pendiam dan pemalu. Karena itu, agak tergagap aku, ketika pertanyaan dilontarkan padaku tentang bagaimana pendapatku tentang gerakan feminisme. "Aku bukan feminist," Begitu jawabanku. "Bullshit!, "salah seorang berkata. Ah, ya, Kylie si rambut pirang yang tak pernah segan mengemukakan pendapat, entah diminta atau tidak. "Kamu adalah perempuan yang paling merdeka yang pernah kukenal. Aku tahu tulisan-tulisanmu selalu mempertanyakan ketakadilan dan ketaksetaraan yang dialami perempuan. Dan aku tahu kegetiranmu setiap kali kamu mendengar kisah-kisah dari perempuan-perempuan teraniaya di shelter tempatmu bekerja". Itu si Darren, kawan lama yang mengajak aku serta dalam petualangan kali ini. Aku hanya nyengir, sangat tak nyaman merasakan 14 pasang mata menatapku menunggu penjelasan. "Aku bukan penentang feminisme, jangan salah sangka. Aku bisa seperti sekarang ini tak lepas dari kiprah para pejuang feminisme itu,"Kataku perlahan, sadar akan betapa sederhananya aku dibandingkan beberapa anggota kelompok ini yang menyandang gelar-gelar tinggi kependidikan. "Feminisme, adalah serangkaian pergerakan dan ideologi yang bertujuan memberi definisi, memperjuangkan tempat dan hak kesetaraan perempuan dalam hukum, pekerjaan dan pendidikan. Suatu usaha yang luar biasa, yang bisa kita lihat dampaknya di seluruh dunia. Suatu perjuangan yang masih belum selesai dan masih mendaki jalan yang curam." "Namun, feminisme, juga menciptakan pengkotakan baru dalam belantara manusia yang sudah terlalu banyak terkoyak oleh berbagai isme lain" Perempuan Jepang berwajah teduh itu menatapku. Katanya,"Jadi menurutmu, feminisme itu tidak perlu?" Aku menggeleng, mencoba mencari kata-kata yang tepat untuk menjelaskan apa yang ada di dalam benakku. "Gerakan feminisme itu mulia, mencoba mengangkat derajad perempuan, yang di sebagian besar kebudayaan dunia, dianggap sebagai mahkluk kelas dua. Hanya kembang kertas yang dipakai untuk hiasan, bisa dibuang ketika layu. Hanya seperti sarana untuk menghadirkan manusia-manusia baru ke dunia ini. Karena gerakan feminisme, di berbagai penjuru bumi, perempuan bisa mendapatkan pendidikan, bisa bekerja, bisa mempunyai hak pilih dalam politik, bisa mendapatkan pelayanan kesehatan. Mulia, sungguh!" Semua mengangguk setuju. "Tapi lain pihak, gerakan feminisme menempatkan perempuan pada posisi berseberangan dengan lelaki. Us against them. Yang tertindas melawan yang menindas. Terkadang mengalienasi diri bahkan terhadap perempuan juga. Bukankah kita sering mendengar perdebatan yang bersifat cela mencela, antara perempuan yang bekerja berhadapan dengan perempuan yang memilih menjadi ibu rumah tangga misalnya? Kesalahkaprahan, memang, tapi itu terjadi." Hanya suara angin gurun, dan derak detak kayu terbakar api unggun yang terdengar. "Seandainya, sejak awal, manusia memandang sesamanya sebagai sesama mahluk yang setara, yang saling membutuhkan, yang saling menghormati, yang saling mengasihi, tanpa mempermasalahkan perbedaan jenis kelamin....sama halnya dengan tak membedakan warna kulit, agama, orientasi seksual,...tentunya kita tak perlu berdiri berhadapan dalam posisi antagonis seperti ini. Perempuan dan laki-laki seharusnya tak berposisi bersebarangan, tetapi bersisian. Tak bertentangan, tapi bahu membahu." "Aku bukan feminis, aku memilih menjadi humanis. Dengan segala keterbatasanku, aku ingin memperjuangan kesetaraan manusia, lepas dari kotak-kotak yang merupakan ciptaan ratusan tahun peradaban itu." Serentak terdengar beberapa pendapat, entah mengiyakan ataupun menentang, aku tak perhatikan lagi, karena kantuk perlahan membuat kelopak mataku berat. Tapi dalam hati sempat terlintas pemikiran, apakah aku terlalu utopian? Apakah aku ini pemimpi? |
Langganan:
Postingan (Atom)







