Jumat, Juli 10, 2009

Pernikahan Dini



Agar tidak melebar dari tujuan utama penulisan ini, mengingat banyaknya definisi ‘usia dini’ dalam ungkapan ‘pernikahan dini’ maka penulis membatasi definisi ‘pernikahan dini’ sebagai sebuah pernikahan yang dilakukan oleh mereka yang berusia di bawah usia yang dibolehkan untuk menikah dalam Undang-Undang Perkawinan nomor 1 tahun 1974, yaitu minimal 16 tahun untuk perempuan dan 18 tahun untuk laki-laki.
Lebih lanjut lagi, tulisan ini lebih memfokuskan pada pernikahan dini yang dilakukan oleh seorang perempuan.

Pernikahan dini memang bukanlah sebuah fenomena baru dalam kehidupan, baik di Indonesia, maupun di belahan bumi yang lain. Di zaman dahulu, merupakan sesuatu yang lumrah manakala seorang perempuan menikah di bawah usia 15 tahun. Pro dan kontra tentang pernikahan dini kembali mencuat setelah setahun yang lalu muncul pemberitaan yang kontroversial pernikahan Pujiono Cahyo Widianto atau yang lebih dikenal sebagai Syekh Puji yang berusia 43 tahun dan Ulfah Lutfiana yang berusia 12 tahun ketika melangsungkan pernikahan.

Orang yang pro kebanyakan mengacu ke pernikahan Nabi Muhammad dengan Aisyah yang konon masih berusia 7 tahun tatkala dipinang oleh Nabi. Mereka mengatakan ‘there is nothing wrong’ untuk hal ini, sambil membeberkan kaidah hukum syara ini dan itu. Selalu dilatarbelakangi oleh agama (Islam). Sedangkan yang kontra memberikan alasan yang lebih kompleks.

Kesehatan

Bagi kebanyakan masyarakat di kultur Indonesia, pernikahan dianggap sebagai suatu ‘tiket’ untuk melakukan hubungan seks. Istilah ‘malam pertama yang ditunggu-tunggu oleh para pengantin baru’ merupakan salah satu ‘bukti’ bahwa pernikahan dianggap sebagai ‘pintu pembuka’ untuk melakukan hubungan seks.

Dalam sebuah talkshow yang bertajuk “pencegahan dan deteksi dini kanker leher rahim dan payudara”, Dr Nugroho Kampono SpOg dari FKUI mengatakan bahwa hubungan seks yang dilakukan oleh perempuan yang berusia kurang dari 20 tahun akan beresiko meningkatkan kemungkinan terkena kanker leher rahim. Pada usia remaja, sel-sel leher rahim belum matang. Jika leher rahim ini terus menerus terpapar human papiloma virus atau HPV, sel-sel tersebut akan tumbuh menyimpang dan menjadi kanker.

Leher rahim ada dua lapis epitel, epitel skuamosa dan epitel kolumner. Pada sambungan kedua epitel terjadi pertumbuhan yang aktif, terutama pada usia muda. Epitel kolumner akan berubah menjadi epitel skuamosa. Perubahannya disebut metaplasia. Kalau ada HPV menempel, perubahan menyimpang menjadi displasia yang merupakan awal dari kanker. Pada usia lebih tua, di atas 20 tahun, sel-sel sudah matang, sehingga resiko makin kecil.” Kata beliau.

Pernikahan dini memang bukan satu-satunya faktor penyebab kanker leher rahim. Faktor lain misalnya terlalu sering melahirkan, merokok, dan berganti-ganti pasangan seks. Meskipun begitu, hal ini menunjukkan satu hal: sebaiknya pernikahan dini dihindari.
Selain kanker leher rahim, tubuh perempuan remaja juga belum siap untuk mengandung dan kemudian melahirkan. Jika dari seks yang dilakukan sang perempuan hamil, sangat mungkin jika kemudian terjadi kematian terhadap bayi yang dikandung, maupun sang ibu saat melahirkan, yang disebabkan kehamilan di usia muda.

Menstruasi yang selama ini dipandang sebagai penanda kedewasaan secara biologis bagi kaum perempuan dianggap oleh para ahli tidak selayaknya menjadi tolok ukur. Tubuh perempuan tetap mengalami pertumbuhan setelah menstruasi pertama. Organ-organ di dalam tubuh perempuan tetap mengalami perkembangan, sampai usia 20 tahun, seperti yang dikemukakan di atas.

Di masa lalu, saat dunia kedokteran belum maju seperti sekarang, masyarakat belum tahu resiko melakukan hubungan seks di usia remaja. Ditambah lagi belum banyak hiburan yang bisa mudah ditemui, sehingga pernikahan pun dilakukan pada usia yang relatif lebih muda dibandingkan sekarang: seks dipandang sebagai satu-satunya hiburan yang murah meriah.

Psikologis

Permasalahan yang menimpa pasangan yang sudah menikah biasanya jauh lebih kompleks dibandingkan permasalahan yang menimpa pada seseorang yang masing single. Untuk itu dibutuhkan kematangan psikologis yang cukup sebelum menyongsong kehidupan baru. Untuk hidup berdua saja dibutuhkan kematangan psikologis, apalagi jika kemudian hadir anak-anak yang dihasilkan dari seks yang dilakukan.

Keadaan psikis orang tua yang belum matang akan sangat mempengaruhi cara mereka mengasuh anak-anak yang dilahirkan. "Yang namanya mendidik anak itu perlu pendewasaan diri, jadi harus ada kematangan dan pemahaman diri untuk dapat memahami anak. Kalau masih kekanak-kanakan, maka mana bisa sang ibu mengayomi anaknya. Yang ada hanya akan merasa terbebani karena di satu sisi masih ingin menikmati masa muda dan di sisi lain dia harus mengurusi keluarganya," kata Rudangta Arianti Sembiring, Psi, staff pengajar di UKSW, seorang psikolog yang sangat concerned di bidang psikologi anak.

Pelanggaran hak anak

UU nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak menyebutkan bahwa yang disebut anak-anak adalah mereka yang berusia di bawah 18 tahun. Orang tua yang menikahkan anak mereka yang masih berusia di bawah 18 tahun berarti telah melanggar undang undang tersebut. Orang tua seharusnya memberikan perlindungan kepada anak mereka, dan bukannya melakukan hal yang sebaliknya, misal “menjual” sang anak demi menaikkan derajat kehidupan sang orang tua, dengan menikahkannya pada seseorang yang kaya raya (misal kasus Puji – Ulfa).


Tri Lestari Dewi Saraswati, Direktur Lembaga Studi dan Pengembangan Perempuan dan Anak Yogyakarta mengatakan menikahkan seorang anak di bawah usia 18 tahun berarti orang tua telah melanggar lima hak anak. Lima hak tersebut yaitu:

Pertama, hak untuk mendapatkan pendidikan. Banyak kasus menunjukkan setelah menikah, seorang anak berhenti sekolah. Apalagi kultur di Indonesia menunjukkn banyak sekolah menolak anak-anak yang sudah menikah untuk menuntut ilmu di institusi mereka. Zaman sekarang memiliki pendidikan tinggi sangat membantu seseorang untuk mandiri secara finansial. Jika seorang perempuan terpaksa berhenti sekolah karena menikah, hal ini berarti membuat perempuan tersebut bergantung. Jelas akan terlihat ketimpangan antara suami dan istri di kemudian hari.
Pendidikan juga memiliki andil besar untuk membuat seseorang lebih dewasa secara psikologis. Kedewasaan psikologis ini juga merupakan hal yang penting dimiliki oleh seseorang sebelum memulai kehidupan baru, dan untuk mendidik anak nantinya.

Kedua, hak untuk berpikir dan berekspresi. Seorang anak yang dipaksa untuk menikah di usia dini membuatnya kehilangan hak untuk berpikir dan berekspresi menurut apa yang mereka pikir dan rasakan. Semula mereka harus menuruti apa yang dikehendaki oleh orang tua. Kemudian, jika mereka dinikahkan kepada laki-laki yang jauh lebih tua, mereka harus menuruti apa yang dikatakan oleh suami mereka.

Ketiga, hak untuk menyatakan pendapat dan didengarkan pendapatnya. Hal ini merupakan kelanjutan hak kedua di atas.

Keempat, hak untuk memanfaatkan waktu luang, dan bergaul dengan teman sebaya, bermain, dan berkreasi. Seorang perempuan yang terpaksa menikahi laki-laki yang jauh lebih tua akan langsung ‘terperangkap’ dengan kewajiban-kewajiban sebagai istri, sehingga kehilangan waktu remajanya.

Kelima, hak perlindungan. Dalam hal pernikahan dini, sering orang tua sendiri yang telah menghilangkan hak perlindungan yang seharusnya didapatkan oleh seorang anak. Seorang anak sering merasa harus mematuhi apa yang dikatakan oleh orang tuanya, demi untuk mendarmabaktikan diri kepada orang tuanya. Padahal UU nomor 23 tahun 2002 menyebutkan bahwa mereka yang melakukan pelanggaran perlindungan anak bisa terjerat pidana penjara lima sampai limabelas tahun.

Masa lalu versus masa kini

Banyak pihak mempertanyakan mengapa pernikahan dini harus dipermasalahkan lagi sekarang mengingat masih banyak lapisan masyarakat yang menganggapnya sebagai sesuatu yang lumrah dilakukan.

Masing-masing zaman memiliki tantangannya sendiri-sendiri. Jika dulu orang boleh menganggap sesuatu hal yang lumrah jika seorang perempuan menikah di usia di bawah 15 tahun, sekarang kemajuan di bidang kedokteran telah menunjukkan sebaiknya pernikahan dini dihindari demi kemaslahatan bersama.

Jika dulu perempuan tidak perlu memiliki pendidikan tinggi, tuntutan zaman sekarang seorang perempuan pun sebaiknya memiliki pendidikan tinggi. Menggantungkan hidup kepada suami secara finansial—seberapa mapan pun sang suami—bukanlah merupakan sesuatu yang sebaiknya dilakukan pada saat sekarang. Jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, misal sang suami meninggal dan sang perempuan harus berjuang sendiri, maka pendidikan yang diperoleh akan sangat membantu.

Membiarkan seorang perempuan menikmati masa remajanya akan mempengaruhi kematangan psikisnya sehingga dia pun akan tumbuh menjadi pribadi yang matang dan siap menjadi seorang ibu yang akan mengasuh anak-anak dengan sebaik-baiknya.

Pernikahan Puji – Ulfa yang kontroversial menjadi penyulut hebohnya media dan masyarakat umum tentang dampak buruk pernikahan dini karena media sekarang lebih mudah diakses oleh masyarakat, dan Puji dikenal sebagai seseorang yang eksentrik yang menyukai sensasi.

Tulisan ini sengaja tidak mengupas dari segi yang pro pernikahan dini, terutama yang mengacu ke pernikahan Nabi Muhammad dan Aisyah. Untuk mementahkan anggapan (yang sudah meluas selama berabad-abad) bahwa Nabi menikahi Aisyah di usia yang masih sangat dini, kunjungi blog ku di alamat berikut ini:

http://themysteryinlife.blogspot.com/2009/07/berapa-usia-aisyah-ketika-dinikahi-nabi.html

Nana Podungge
PT56 19.44 080709

Referensi:

http://www.kompas.com/read/xml/2008/11/13/16014770/pernikahan.dini.langgar.hak.anak

http://lifestyle.okezone.com/index.php/ReadStory/2008/10/29/29/158639/ketahui-risiko-pernikahan-dini-yuk

http://www.kompas.com/read/xml/2008/11/13/10014864/bolehkan.pernikahan.dini.uu.perkawinan.perlu.direvisi

http://dinkes-kotasemarang.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=74&Itemid=35

Rabu, Juni 24, 2009

Feminsime versus Perkawinan



Apakah ideologi feminisme menolak perkawinan?

Memang sebagian feminis (terutama para penganut feminisme radikal) yang berpendapat bahwa perkawinan adalah sebuah institusi yang sering melakukan penindasan terhadap kaum perempuan. Terlebih undang-undang perkawinan (terutama yang beragama Islam) di Indonesia menyebutkan bahwa

 dalam perkawinan suami memiliki peran sebagai pencari nafkah dan perempuan sebagai ibu rumah tangga. Hal ini berarti seorang suami harus menyokong kehidupan keluarga secara finansial dan seorang istri harus mengurusi rumah tangga. Dengan catatan sebatas kemampuan seorang suami. Seorang istri tidak selayaknya memprotes.
 Dalam perkawinan seorang suami memiliki peran sebagai pemimpin dan pembimbing keluarga dan istri menghormati serta mematuhi suami.
 Dalam perkawinan seorang suami melindungi istri dan anak-anak, sedangkan istri mengurusi rumah tangga.
 Dalam perkawinan seorang suami mencari solusi segala permasalahan yang muncul dalam keluarga dan seorang istri mendukung solusi suami serta mematuhinya.
 Dalam perkawinan seorang suami diharapkan untuk membantu pekerjaan istri dalam mengurusi rumah tangga.


Jika dilihat sekilas, apa yang tertera dalam surat kawin di atas nampak baik-baik saja. Namun jika memperhatikan lebih dalam dan membaca ‘between the lines’ atau yang tersirat, kita akan melihat ketidakseimbangan posisi perempuan dan laki-laki dalam perkawinan. Mari kita kupas satu per satu.

Poin pertama, ketentuan bahwa seorang laki-laki berperan sebagai pencari nafkah dan seorang perempuan sebagai ibu rumah tangga merupakan suatu penindasan. Penggunaan kata ‘sebatas kemampuan’ dalam pemberian nafkah kepada seorang istri, bisa menimbulkan kesempatan (dalam kesempitan) bagi kaum laki-laki untuk melakukan kekerasan secara finansial terhadap istri. Apalagi dengan iming-iming yang biasa diberikan oleh para ulama, “Perempuan yang saleha adalah perempuan yang menerima seberapa pun nafkah yang diberikan oleh sang suami. Untuk itu dia akan diberi hadiah surga.” Ditambah lagi kultur patriarki menyebarkan ‘doktrinasi’, “Perempuan yang cerdas dan baik adalah perempuan yang mampu mengelola keuangan keluarga dengan baik.”
Jika seorang laki-laki kebetulan tidak beruntung tidak mendapatkan nafkah yang cukup untuk diberikan kepada keluarga, sang istri harus memahaminya. Seorang istri yang saleha, baik, dan cerdas harus mengupayakan suatu cara bagaimana agar dapur tetap mengebul. Bagi mereka yang familiar dengan karya sastra, bisa mengacu ke drama yang berjudul A DOLL’S HOUSE karangan Henrik Ibsen, dimana Nora (yang pernah menjadi lugu) berusaha sekuat tenaga bagaimana dia harus mengelola keuangan keluarga.

Poin pertama ini sebenarnya bisa juga diinterpretasikan mengandung penindasan kepada kedua belah pihak—laki-laki dan perempuan. Mereka tidak bisa memilih peran yang mana yang lebih cocok. Jika mereka memilih sebaliknya (sang suami menjadi ‘househusband’ dan sang istri sebagai ‘breadwinner’), maka tak pelak masyarakat sekitar akan ‘menghukum’ mereka dengan label ‘tidak lazim’. Untuk tulisan khusus tentang ‘househusband’ bisa klik alamat
http://afeministblog.blogspot.com/search/label/househusband

Di era seperti sekarang dimana banyak perempuan yang memiliki kesempatan untuk memiliki karier yang bagus dan nafkah yang lebih dari cukup, mereka tetap mendapatkan ‘beban’ untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga, karena surat kawin menyatakan begitu. Hal ini membuat beban seorang istri lebih besar.

Poin yang kedua menunjukkan penindasan yang cukup jelas. Kata siapa hanya laki-laki yang bisa menjadi pemimpin? Akan lebih baik dan bebas bias gender bila pernyataan itu diganti menjadi “dalam perkawinan suami dan istri memimpin dan membimbing anak-anak bersama-sama, dan saling menghormati. Pernyataan MENGHORMATI SATU SAMA LAIN hendaknya digarisbawahi sehingga tak ada satu pihak pun yang perlu merasa tertindas. Ada banyak kasus penindasan yang disebabkan oleh pernyataan, “seorang suami mencintai istrinya dan istrinya menghormati suaminya.” Salah satu kasus: seorang temanku mendapatkan komplain dari sang suami, “Kamu tidak menganggapku sebagai laki-laki lagi? Sehingga kamu tidak mau mendengarkan kata-kataku?” Sebuah kalimat yang bisa kita interpretasikan sebagai, “Kamu tidak menghormati aku lagi.” Kalimat yang sangat ‘tricky’ yang herannya sangat manjur untuk membuat temanku diam saja dan menyalahkan diri bahwa dia telah menjadi seorang perempuan yang tidak saleha dan tidak baik.

MENGHORMATI SATU SAMA LAIN bisa juga diterapkan pada poin yang ketiga. Jika seorang suami menghormati hak-hak istri—juga anak-anak—secara otomatis perlindungan terhadap istri dan anak-anak pun berlaku. Melakukan pekerjaan rumah tangga bersama-sama akan lebih terlihat indah dan romantis, daripada sang suami hanya memandang sang istri sibuk melakukan ini itu sambil berbisik, “Kamu memang diciptakan untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga sayangku. Sedangkan aku terlahir untuk memandang keindahan yang terwujud dalam dirimu tatkala melakukan pekerjaan rumah tangga.” Di Indonesia, dan juga masih berlaku di banyak negara lain, pekerjaan semacam memasak, mencuci pakaian, menyeterika, dan membersihkan rumah masih dianggap sebagai tanggung jawab perempuan di rumah.

Poin keempat sangatlah menindas hak-hak kaum perempuan. Tatkala menghadapi suatu permasalahan, bukankah sebaiknya suami dan istri berdiskusi bersama, menimbang keuntungan dan kekurangan bersama, kemudian mengambil keputusan bersama. Suami dan istri memilik hak yang sama untuk mengeluarkan pendapat mereka. Mengambil keputusan bersama dan melakukannya bersama untuk kebaikan bersama akan lebih indah dibandingkan jika sang suami yang mengambil keputusan kemudian sang istri mematuhinya. Tak ada pihak yang merasa tertindas.

Poin terakhir bagus. Namun, jika dihubungkan dengan poin yang pertama—bahwa istri memiliki peran sebagai pengurus rumah tangga, mengerjakan pekerjaan rumah tangga—banyak suami akan mengelak melakukan hal ini, dengan alasan, “Itu bukan tugasku sebagai suami.” Selain itu, pembagian tugas berdasarkan jenis kelamin masih sangat kuat dalam kultur kita. Masih banyak orang yang menganggap seorang suami yang membantu pekerjaan rumah tangga sebagai suami yang mengagumkan.

Berdasarkan pemikiran yang tersebut di atas, sangatlah dimaklumi jika para pejuang perempuan menginginkan perubahan dalam dokumen surat kawin, agar lebih ‘women friendly’; agar lebih tercipta suasana yang kondusif dalam perkawinan.

Kembali pernyataan yang tertulis di awal artikel ini, perkawinan tidaklah selalu merupakan institusi yang melakukan penindasan kepada kaum perempuan, atau kepada kedua belah pihak—suami dan istri. Jika keduanya benar-benar saling menghormati—terlepas dari apa yang tertulis dalam surat kawin—tak akan ada satu pihak pun yang akan merasa tertindas. Bukanlah hal yang tidak mungkin bagi seorang perempuan feminis untuk menikah, apabila dia menemukan laki-laki yang feminis pula (dengan kata lain mendukung kesetaraan laki-laki dan perempuan).

Nana Podungge
Terjemahan dari artikel yang berjudul “Is feminism against marriage?” yang bisa diakses di http://afeministblog.blogspot.com/2007/05/is-feminism-against-marriage.html
PT56 20.02 230609

Quarrel among Couples


Beberapa minggu lalu aku sempat ngobrol dengan seorang teman. Dia bilang dia sedang kesal kepada suaminya yang membuat mereka bertengkar berlarut-larut. Aku kaget setelah tahu masalahnya sebenarnya (bagiku) sepele saja: apakah mereka perlu membeli korden jendela yang baru. Temanku bilang dia kepengen beli, mumpung ada korden dengan harga murah. Suaminya bilang, mereka tidak membutuhkan korden baru. Toh mereka merencanakan akan pindah ke tempat lain, kalau mereka mendapatkan tempat lain yang lebih representatif untuk tempat tinggal.

Berhubung sudah beberapa tahun aku menjomblo, sehingga tidak pernah terlibat pertengkaran-pertengkaran ‘sepele’ (namun bisa berakibat ‘besar’) antar suami istri, aku tidak melihat ‘keuntungan’ mengapa temanku dan suaminya harus bertengkar.

“Why don’t you just listen to him? Toh nanti kalian akan pindah? What’s the point of your being stubborn to buy that curtain?” tanyaku, heran. LOL.

“Nampaknya karena aku pengen ngeyel aja lah. To get his attention, probably.” Jawabnya, ringan. “Aku tahu dia yang benar. Tapi aku pengen beli korden itu, mumpung murah.” Katanya lagi.

Beberapa tahun lalu, seorang teman lain cerita kepadaku betapa dia kesal pada suaminya, karena sesuatu hal. Rasa kesal ini membuatnya enggan berkomunikasi pada suaminya. Dan hal ini merembet ke masalah tempat tidur. Dia enggan bercinta dengan suaminya, dan sok tidak menginginkannya.

Meskipun sekarang aku jomblo, aku pernah punya pengalaman serupa, sehingga aku beri dia saran untuk segera menyelesaikan permasalahan itu, dan tidak membiarkannya berlarut-larut.
“You two directly talk to each other about it. Be open with each other. Ga usah pakai sok gengsi siapa yang salah siapa yang benar. You had better not challenge yourself, ‘it is okay for me to get divorced.’”
Sok banget toh si Nana ini? LOL.

Waduh ... Nana nggosip. LOL.
Tapi aku yakin masalah yang nampaknya sepele dalam satu hubungan (apalagi dalam pernikahan), jika dibiarkan lama-lama bisa menjadi besar. Tatkala masalah-masalah sepele berakumulasi, suatu saat akan memuncak, dan bisa berakibat sangat fatal.

What’s the point of getting married if not to have a life partner? A soulmate? So, why should get involved in quarrel? Moreover in fight?
PT56 21.35 210609

Selasa, Juni 23, 2009

Nana Podungge on the Jakarta Globe

Nana Podungge on the Jakarta Globe

http://thejakartaglobe.com/lifeandtimes/blogging-in-english/313712

 

by Michelle Udem

 

Blogging In English

 

Michael Jubel Hutagalung, a Web designer based in Bandung, West Java, started Jubel and the Unessential, an English-language blog, primarily to improve his written English. The blog offers Hutagalung’s random musings on Indonesia’s politics and culture.

 

Within a year of Hutagalung starting the blog in October 2007, the traffic to the site was so high that it was exceeding the bandwidth limit on the platform he was using, and he had to move his blog to another host. The traffic explosion, mostly from Indonesians living abroad, gave him an incentive to do more than just improve his English skills.

 

“I want to tell the world what Indonesia’s really like — how the people really live,” Hutagalung said. But readers may not always get much on how Indonesians are living on an up-to-the-minute basis, or even about the day-to-day concerns of his countrymen.

 

Hutagalung last posted on Monday, after a two-month hiatus, filling readers in on his university plans and his personal debate in choosing between studying in London or the Netherlands.

 

The total number of Indonesian bloggers is difficult to quantify due to the constant deletion and activation of blog accounts. A top Indonesian-language blogger and internet publisher, Enda Nasution, says that Indonesia has about one million bloggers, based on blogger.com information, Wordpress information and blogs hosted personally — there are about 20 blogging communities in Indonesia, one in ever major city.

 

For Indonesians blogging in English, many are simply interested in trying to reach an audience beyond their own country and to give a perspective not available in the foreign media. Out of the 10 bloggers listed here, seven do not have a degree in English, nor have they studied abroad.

 

Budi Putra, a freelance writer and full-time, self-employed blogger living in Bintaro, South Jakarta, writes in English about new gadgets from an Indonesian perspective. Though many of his topics involve global technology news, he feels he provides a unique perspective as an Indonesian.

 

“My main demographic is both Indonesians and foreigners, especially those who love technology and digital life issues … Blogging is about conversation, so I want to talk to them through my blog. That’s why my blog’s tagline is ‘Talk With Me.’ ”

 

Hutagalung and Putra’s blogs focus on specific topics, but the majority of the Indonesians bloggers writing in English are diarists, who post as the mood strikes.

 

Devi Girsang, a 22-year-old medical student born, raised and living in Jakarta, operates the site “It’s My Life,” last updated May 5. With a tagline, “Love & Tears. Laugh & Cry. Achievements & Regrets. Welcome To My Life!” Girsang’s blog ranges from discussions on everyday topics such as poor customer service to inquiries on why people do bad things.

 

Such topics written from an Indonesian perspective and in English help readers realize that people worldwide run into the same problems and share the same emotional inquiries.

 

In another blog, “Republikbabi,” 23-year-old Calvin Sidjaja from Bandung posts updates about growing up with a mixed heritage in Indonesia. On his blog, Sidjaja discusses the role of mixed heritage Indonesians, such as Dutch-Indonesians and Chinese-Indonesians. He delves into the history of mixed heritages in Indonesia and how society views these people today.

 

“Many international students were helped because of the personal essays [on my blog],” he said.

 

But the Internet is not always the safest place to express personal and sometimes controversial opinions.

 

Girsang has “been accused of being an ‘American-wannabe’ from an anonymous commenter,” and Sidjaja notices how any type of neutral post he writes on religion always causes controversy.

 

Regardless of the hate mail and negative feedback, the bloggers find that voicing their thoughts and opinions in English is beneficial. “Though difficult to write in English, I like challenges. I love the rhythm of English words. It’s more personal and subjective,” Budi Putra explains.

 

To these bloggers, writing in English is their key to communicating to the outside world as they find freedom in abandoning their own tongue for just a few moments a week or month.

 

“Bahasa can be so difficult because of the formality of the language. I can express myself more casually in English” Girsang said.

These ten English-language blogs appear in the top 50 Indonesian blogs tracked by Web site www.indonesiamatters.com

 

Three Popular Blogs Written by Expats Living in Indonesia:

 

These three blogs written by expatriates living in Indonesia are ranked in the top six on blogs.indonesiamatters.com.

 

1. Brandon Hoover

thejavajive.com/blog

Consisting of high-resolution photographs, Brandon Hoover’s blog takes a look at Indonesia’s natural beauty and his life here as an American. Aesthetically pleasing, Hoover’s blog illustrates how Indonesia has influenced his thoughts and photography. A fan of Indonesia, Hoover’s blog provides an American’s perspective on the joys of living in the country.

 

2. Jakartass

jakartass.blogspot.com

Jakartass, written by a Westerner living in Jakarta, consists of witty posts chronicling the life of an expatriate in Jakarta. Posts on the blog discuss local news as well as personal experiences illustrating quirks in Indonesian culture. Most recent posts discuss power cuts in Jakarta and a list of books by bloggers. Information on Indonesian acronyms and slang words are found on the sidebar of the blog.

 

3. Treespotter

Treespotter.blogspot.com

Treespotter is a personal blog containing posts mostly on daily life in Indonesia and current, local events. Posts include idiosyncrasies in Jakarta culture, such as how there is always a place to smoke. The personal posts are both entertaining and in depth, while the posts pertaining to politics are written from an outsider’s point of view.

 

 

Ten Blogs by Indonesians Who Are Writing in English:

 

These ten English-language blogs appear in the top 50 Indonesian blogs tracked by Web site www.indonesiamatters.com.

 

1. Michael Hutagalung

michaelhutagalung.com

Web designer Michael Hutagalung maintains a blog that consists of his personal perspectives, his design portfolio and discussions on Wordpress themes and Indonesian social issues. His blog offers readers the opportunity to learn about the Wordpress program as well as read an Indonesian perspective on the upcoming election.

 

2. Budi Putra

budiputra.com

Blogger Budi Putra of this self-titled blog provides commentary on local news and technology gadgets. Mixing local technological news, such as Indonesia’s launch of digital TV, Putra also updates readers on more esoteric news such as the discovery of Indonesian sea horses. Technologically-savvy Putra comments on how information from the upcoming election will be broadcast via SMS.

 

3. Devi Girsang

devigirsang.blogspot.com

Attracting both Jakartans and foreigners, Devi Girsang’s personal blog gives insight into the life of a young, Indonesian medical student. Girsang blogs on topics ranging from laptop malfunctions to bus-riding etiquette. Girsang’s blog gives expatriates the opportunity to observe a young Indonesian’s experiences, while peers can relate or rebut Girsang’s critiques of Jakarta culture and society.

 

4. Merlyna Lim

merlyna.org/blog

Blogging from her home in Arizona, Merlyna Lim’s blog focuses on her craft as an artist and her thoughts on both Indonesian and American issues. In between posts of her personal drawings and collages, Lim touches on local topics such as the construction of urban space in Bandung and internationally relatable topics such as inequalities within society.

 

5. Martin Manurung

martinmanurung.com

Martin Manurung’s self-titled blog covers topical news issues in Jakarta. Providing his own commentary and critique of social, economic and political topics, Manurung tries to counterbalance foreign media reports that he feels are often “misleading.” Straying away from gossip, Manurung’s blog gives foreigners an inside look from a local’s perspective.

 

6. Calvin Michel Sidjaja

republikbabi.com

Touching on sensitive topics such as his search for his family tree and being of mixed heritage, Calvin Sidjaja’s blog consists of posts on his personal life and experiences. Sidjaja’s Indonesian heritage is a main theme of his blog, a topic that many young adults can relate to.

 

7. Ecky

cisayong-girl.blogspot.com

Known on her blog as Ecky, the blogger writes from Australia. Though she mostly posts on personal subjects such as shower rituals and the perks of being a woman, Ecky also writes about the difficulties that come with change and leaving the comfort of her home country, Indonesia. Ecky also posts topical news from Jakarta, such as the upcoming election and President Obama’s effect on Indonesians.

 

8. Carla Ardrian

socialindividualist.blogspot.com

Blogging on various topics from gardening to photography, Carla Ardrian provides an Indonesian perspective on everyday things. Accommodating her Indonesian readers, Carla posts innovative recipes and political commentary, while foreigners may be more attracted to her travel and cultural tips. One of Carla’s posts comments on her experience of receiving incorrect directions as a tourist in Bali.

 

9. Nana Podungge

afeministblog.blogspot.com

Nana Podungge’s most recent post on her blog, “A Feminist Blog,” discusses the topic of religion. Podungge considers herself a secular Muslim. Her religious views are mixed with the other main focus of her blog, a woman’s role in society. A unique combination, Podungge’s blog provides insight into controversial topics.

 

10. Martha

mamahit.net/blog

“Frank and Martha’s Blog,” written by Martha, captures the life of a young family in Jakarta. Martha’s updates illustrate the charms shared by all families worldwide, such as receiving her first written letter from her elementary school-aged son. Chronicling the life of a mother, Martha shares her thoughts on baking experiences, the workplace and raising a young child.

Senin, Mei 18, 2009

Kuliah


Beberapa tahun yang lalu, di salah satu buku yang dipakai untuk bahan belajar di tempat kerjaku ada sebuah kasus yang cukup menarik untuk bahan diskusi: seorang perempuan yang ‘pursue’ pendidikannya di college di usia yang tidak bisa dikatakan masih muda—let’s say middle-aged. Dia tidak malu dengan ‘usianya yang tak lagi muda’ dan statusnya sebagai seorang perempuan yang sudah menikah. Apalagi suami dan anak-anaknya mendukungnya. Latar belakang: dia adalah (‘hanya’) seorang ibu rumah tangga.

Mengingat topik pembahasan utama adalah pendidikan dan jenis ‘learner’ (someone is either a visual learner, an audio learner, or a kinesthetic learner, or a combination of those three kinds of learner), maka diskusi tidak pernah melebar ke pembahasan gender. And I was not a feminist yet at that time. :)

Sampai saat ini yang masih kuingat dari sekian banyak diskusi di kelas adalah kata-kata seorang siswa, a guy, still single, but already an employee, perhaps he was around thirty. “What is the point of this woman to pursue her study if after that she just would stay home and continue being a housewife? I am of opinion that she just wastes her time, energy, as well as her husband’s money.”

Nampaknya ide ‘self-actualization’ bagi seorang perempuan belum bisa dia pahami. Self-actualization bagi seorang perempuan tidak melulu hanya bisa dicapai dari melakukan hal-hal yang ‘feminin’ such as memasak, menjahit, dan mungkin berkebun. Belajar di sekolah—apalagi di perguruan tinggi—tentulah bersifat ‘maskulin’ mengingat pada satu waktu seorang Kartini dan Dewi Sartika merasa perlu mendirikan sekolah khusus untuk perempuan karena sekolah yang ada pada waktu itu tidak bersahabat dengan perempuan.

Dan tentu menurut Abraham Maslow, kebutuhan memenuhi ‘self-actualization’ tidak hanya milik laki-laki saja; perempuan juga perlu menggapainya.

***

Tatkala aku berhadapan dengan beberapa mahasiswa yang ‘usianya sudah tidak muda lagi’ (baca -> above thirty years old), aku tengarai kebanyakan dari mereka adalah employees. Alasannya tentu jelas: kenaikan jenjang karier mereka. Yang aku sedihkan adalah: nampak jelas bahwa whether they grasp the new knowledge they get is not important for them.

Beberapa minggu yang lalu, seorang mahasiswaku bilang, “Ms. Nana, saya kan rajin datang ke kelas. Nanti kalau hasil test saya jelek, kehadiran saya di kelas bisa menaikkan nilai saya ga?”
Aku tengarai she is above fifty years old. Latar belakangnya: dia seorang pegawai sebuah bank swasta. Her English is not really good, sehingga bisa dipastikan dia harus bekerja keras untuk memahami aku yang berbicara menggunakan Bahasa Inggris melulu. Tambah lagi, mata kuliah yang kuajar sering dianggap sulit bagi mahasiswa: ‘Telaah Drama’ dan ‘Telaah Puisi’.

Tentu aku bukan seorang heartless teacher, meskipun aku sedih mendengarnya. I did appreciate her frankness, though. Aku ingin para mahasiswaku mendapatkan nilai bagus karena memang mereka paham, bukan karena belas kasihan. :(

***

Aku masih menunggu hadirnya seorang mahasiswa yang kuliah karena mereka mencintai ilmu pengetahuan.
PT56 22.12 160509

Rabu, Mei 13, 2009

Seandainya Antasari Berpoligami


Judul di atas tentu saja murni bukan ideku, namun aku hanya mencomot dari salah satu message yang kuterima di sebuah milis yang kuikuti. Kontan saja ‘thread’ satu ini menjadi bahan diskusi yang hangat. Tidak mengherankan pula jika pada perkembangannya yang lebih disorot adalah masalah poligami yang selalu kontroversial, bukan kasus Antasari yang konon terlibat cinta segitiga dengan Nasruddin Zulkarnaen dan Rani Juliani yang mengakibatkan kematian Nasruddin.

Artikel yang dikirim ke milis merupakan comotan dari koran ‘Waspada’ yang ditulis oleh seorang perempuan yang mengaku sebagai wartawan koran yang bersangkutan. Merupakan kebetulan belaka jika si wartawan ini memiliki embel-embel gelar ‘Hj’ di depan namanya. Wartawan ini memiliki nama marga ‘Tarigan’.

Aku selalu percaya betapa dahsyatnya dampak media kepada pembaca maupun konsumennya. (Ini salah satu trigger yang sangat kuat mengapa aku blogging.) Jika si pembaca artikel tersebut menelannya mentah-mentah dan memahaminya secara bulat, tanpa menggunakan ‘critical thinking’ alias berpikir secara kritis, betapa pembodohan terhadap masyarakat tidak akan pernah berhenti.

Seperti yang dikatakan oleh Pastor Gustav Briegleb kepada Christine Collins dalam film ‘Changeling’ (film yang berdasarkan kisah nyata), “Pembaca (koran Times) yang menggunakan akalnya bisa langsung tahu perbedaannya. Sayangnya lebih dari setengah pembaca tersebut tidak menggunakan akalnya.”

Apalagi jika sang wartawan yang menulis artikel tersebut tidak menggunakan akal sehatnya, hanya bermodalkan idiom ‘harta, tahta, wanita’ sebagai godaan terberat bagi laki-laki sukses, kemudian menulis artikel dan diberi judul kontroversial “Andai Antasari Berpoligami”. Seolah-olah jika Antasari berpoligami, maka Nasruddin tidak akan terbunuh. Seolah-olah jika Antasari berpoligami, maka dia tidak akan terjerembab ke dalam bui.

Sebenarnya talking about politics is not my cup of tea. Meskipun sebagai seorang claimed-feminist, aku pun setuju dengan salah satu ‘slogan’ kaum feminis, “the personal is political”. By the way, aku ngeblog juga merupakan salah satu cara untuk menyampaikan sesuatu untuk mereka yang menggunakan ‘critical thinking’ mereka. 
PT56 22.50 120509

Rabu, Mei 06, 2009

Nana b2w



Nana Podungge si empunya blog ini bisa dikategorikan sebagai salah satu pelestari lingkungan, meski hanya di lingkup kecil saja. “Better than nothing at all” kan? 
Bagaimanakah cara seorang Nana ikut melestarikan lingkungan?

BIKE TO WORK!

Aku tidak pernah berhobi naik sepeda sebetulnya. Itu sebabnya aku hanya menganggap sebelah mata tatkala seseorang menyapa di blogku yang beralamat di http://afemaleguest.multiply.com sekitar satu tahun yang lalu; mengajakku gabung di komunitas b2w.

“B2w apaan sih?” tanyaku pada seorang teman. Kebetulan aku bertanya kepada orang salah karena temanku ini pun tidak tahu singkatan apakah b2w itu. :)

Setelah tahu bahwa b2w merupakan singkatan dari BIKE TO WORK, aku pun tetap tidak mempedulikannya. “Aku biking di fitness center aja deh,” demikian aku berkata pada diri sendiri waktu itu.

Namun rupanya Tuhan berkehendak lain. LOL. Terutama setelah adikku pun bergabung dengan komunitas b2w, kemudian mempraktekkan naik sepeda ke kantor, mengikuti jejak kakak laki-laki kita yang sudah mempraktekkan naik sepeda ke kantor sejak awal tahun 2008.

Semenjak bergabung dengan komunitas b2w di akhir bulan Juni 2008, aku pun ber-bike-to-work sejak Juli 2008. Alasan-alasan yang kumiliki adalah (bisa jadi merupakan alasan klise di kalangan anggota b2w di seluruh dunia):
 Mengurangi polusi udara yang semakin menggila, terutama di Indonesia dimana masyarakatnya sering merasa gengsi untuk naik sepeda. Kebanyakan dari mereka merasa lebih ‘terhormat’ tatkala naik kendaraan bermotor. Orang-orang Jepang yang menciptakan kendaraan bermotor, baik roda dua maupun roda empat. Namun bukan rahasia bila mereka sendiri lebih memilih naik subway atau pun public transportation yang lain tatkala berangkat bekerja maupun ke sekolah/kampus.

 Mengurangi ketergantungan kepada BBM, yang berarti ikut membantu pemerintah, khususnya, atau seluruh dunia, umumnya, untuk menyimpan this so-called non renewable resources untuk anak cucu di kemudian hari. Mungkinkah bahan bakar sebangsa bensin dan solar hanya akan menjadi dongeng belaka seribu tahun nanti? Kalau ternyata iya, bahan bakar seperti apa yang bakal diciptakan oleh anak cucu kita nanti? (seandainya TIME MACHINE ada, aku mau melongok di masa itu. )

 Dengan alasan yang sama di point kedua, namun untuk kepentingan diri sendiri, yakni mengurangi pengeluaran. Lumayan uang untuk beli bensin bisa dipakai untuk beli buku atau nraktir Angie eating out. 

 Melakukan olah raga sekalian perjalanan menuju ke dan pulang dari kantor. Sebelum sibuk dengan jadual kerja sekarang ini (07.00-15.00 dan 17.00-19.00), aku masih bisa gabung dengan sebuah fitness center untuk berolahraga. Sekarang jelas tidak ada waktu lagi. Maka b2w merupakan solusi yang sangat praktis sebagai pengganti olah raga di fitness center. Teman-teman b2w lain ada yang bilang, “rekreasi yang murah”, karena mereka sekaligus menikmati pemandangan jalan-jalan yang mereka lewati tatkala bersepeda. Aku tidak. Bukan melulu karena mataku belor. Namun lebih aku orang yang suka melamun. LOL.

Selain berbike to work, akhir-akhir ini aku pun mulai menolak pemberian tas plastik tatkala aku membeli sesuatu di toko maupun mini market. Aku tidak menolak pemberian tas plastik hanya tatkala aku belanja bulanan, yang butuh tas plastik besar. Kalau hanya membeli roti-roti yang kadang kubawa untuk bekal (juga untuk Angie) di mini market, aku selalu memasukkan roti-roti maupun botol minuman ke dalam backpack b2wku tersayang, dan mengembalikan tas plastik kepada kasir, yang biasanya menerimanya dengan mimik wajah heran. 

Gardening? Wah, sayangnya gardening is not my cup of tea. 
Bersepeda dan mengurangi penggunaan tas plastik lumayan membantu melestarikan lingkungan kan?
PT56 20.20 050509