Rabu, Maret 21, 2012

doapagi

#doapagi

Aku ga ingat kapan terakhir kali aku berdoa. mungkin sejak aku sadar bahwa dalam kamus ‘lamaku’ bahwa berdoa berarti “mendikte tuhan untuk merealisasikan apa yang kuinginkan dan kuucapkan dalam doa itu” dan bukannya “memohon kemurahan tuhan agar mengabulkan apa yang kuminta”. Mungkin pada titik inilah aku kemudian bertransformasi dari seorang relijius konvensional menjadi seorang agnostik, dan bukan sekedar “muslim sekuler’. Kapan itu? Entahlah, aku sendiri tidak begitu ingat. Tapi, mungkin beberapa postingan yang berhubungan dengan “praying” bisa membantu mengingatkanku sendiri.

So, karena aku berhenti berdoa, apakah aku tak lagi memiliki harapan-harapan untuk masa depanku? Setujukah engkau kalau kukatakan bahwa berdoa itu berarti kita berharap untuk mendapatkan sesuatu yang baik untuk masa depan kita dan kita memohon pertolongan tuhan untuk membuatnya jadi nyata? Atau dalam titik yang lebih ekstrim, kita mendikte tuhan untuk mengabulkannya. )

Tentu saja aku masih memilik harapan (atau harapan-harapan) untuk masa depanku. Tapi, seperti yang orang bilang bahwa berdoa itu memiliki sugesti. Setelah berdoa, orang merasa bahwa mereka memiliki kekuatan yang lebih untuk membuat mimpi mereka menjadi nyata. Sehingga bisa dikatakan bahwa setelah berdoa, orang akan berusaha lebih keras untuk mencapai mimpi-mimpinya.

Bagaimana denganku? Aku lompati langkah berdoa itu. Setelah memiliki satu harapan – misalnya – aku akan langsung melompat ke langkah berikutnya: berusaha sebaik baik untuk merealisasikannya. Bukankah usaha inilah bagian yang paling penting dari menjadikan mimpi kita menjadi kenyataan?

Tetapi, semenjak aku sadar bahwa dalam banyak kasus, harapan-harapan itulah yang justru melukaiku ketika harapan itu tidak menjadi nyata; terutama ketika harapan itu berhubungan dengan orang lain; aku mulai mencoba mengerem diri agar tidak memiliki terlalu banyak harapan. Menjalani kehidupan dengan secukupnya. Melakukan yang harus aku lakukan. Seperti yang dipercaya oleh para spiritualis, apa pun yang kita lakukan kepada orang lain di alam semesta ini, sebenarnya kita melakukannya kepada diri kita sendiri.

Sementara itu ...

Beberapa minggu yang lalu, karena sesuatu hal aku membuka akun twitter yang sebenarnya kubuat kalau tidak salah di pertengahan tahun 2010, namun tak pernah kubuka lagi gara-gara buta twitter. sejak beberapa minggu yang lalu itu, aku entah mengapa mulai iseng twitteran sampai aku menemukan akun milik beberapa public figures yang kupikir – alias kuharapkan – akan membuka cakrawala pandangku, maka aku mulai memfollow mereka. Salah satunya adalah Ayu utami yang bukunya yang berjudul Si Parasit Lajang adalah salah satu buku paling terfavoritku. Dan aku selalu suka membaca buku-bukunya yang lain, mulai dari Saman, Larung, Bilangan Fu sampai Manjali dan Cakrabirawa.

Aku tidak tahu pandangan spiritualnya, memang. Satu hal yang aku tahu adalah dia menolak keras budaya patriarki. (Ha ha ... siapa pun yang membaca buku-bukunya tentu tahu hal ini lah.) 
Namun terus terang setelah ‘follow’ akun twitternya, aku terheran-heran waktu pertama kali mendapati tweet-nya yang berhubungan dengan doa, meski mungkin terdengar simpel. Misal, “#doapagi, lenturkanlah otot kami yang tegang”, “#doapagi, lumerkanlah lemak menggumpal ini”, sampai yang terdengar lebih serius, seperti “#doapagi, tajamkanlah pikiran kami dan lembutkanlah hati kami”.

Well, mungkin bisa dikatakan bahwa Ayu Utami adalah salah satu role modelku hingga tak mengherankan jika ‘out of nowhere’ aku mulai berpikir ‘doa’ apa ya yang bisa kupos di akun twitterku? :-P Postingan pertama tentang doa adalah ini "#morningpray, wish my yummy cappuccino will brighten up my day and the good rumor at school will come true”. Kalau dipikir-pikir, sebenarnya ga terlalu berbeda dari status yang kadang kutulis di akun fb, misal “my darling perfecto cappuccino, please brighten my day”. Hanya aku tidak melabelinya sebagai suatu doa.
Setujukah anda jika keberadaan social network – misal facebook – telah membuat orang semakin narsisis? Nah, ini juga terjadi pada diriku yang memang berbakat narsis. Maka, ide ‘baru’ tentang update status menggunakan istilah #doapagi (maupun #morningpray) memberiku kesempatan yang lebih untuk menarik perhatian my online buddies there. (ahh, excuses! )

Dan ternyata tak lama kemudian ketika membaca novel Ayu Utami yang barusan terbit beberapa minggu lalu, yang berjudul Cerita Cinta Enrico – yang bisa disebut sebagai novel biografi suaminya – aku mendapatkan jawaban dari pertanyaanku sendiri bagaimanakah pandangan spiritual seorang Ayu Utami. Jika dibandingkan dengan Enrico yang menganggap dirinya seorang ‘non believer’ (namun tetap berpikir ‘ribet’ tentang dosa ketika melakukan hubungan seksual), Ayu tetaplah seorang ‘believer’. Dia ‘hanya’ anti segala hal yang berbau ‘male-dominated’, misal peraturan pernikahan di Indonesia: suami adalah pemimpin rumah tangga dan istri adalah ibu rumah tangga.  Pemerintah tidak selayaknya ikut campur tangan dalam urusan keluarga warga negara. Biarkan masing-masing keluarga mengatur urusan dalam keluarga itu sendiri.

Bagaimana denganku? Percaya bahwa semua agama (atau hanya agama Ibrahimi ya?) adalah produk kultur patriarki, aku memutuskan untuk netral.

So? Meskipun aku mengaku sebagai seorang agnostic, di akun twitterku (yang kusinkronkan ke akun facebook), mungkin sesekali aku akan menulis #doapagi. Namun, tentu saja, ‘doa’ ini jauh dari apa yang di atas kusebut sebagai mendikte tuhan untuk melakukan ini itu. 

GL7 08.50 21031

check this link and this another link about praying  
gambar diambil dari sini 
versi English bisa dibaca di sebelah    

Some comments from next door site

maddypunyacerita wrote on Mar 20
Interesting thought :))

afemaleguest wrote on Mar 20
thank you Maddy :)

bambangpriantono wrote on Mar 20
:)

afemaleguest wrote on Mar 20
:) balik

srisariningdiyah wrote on Mar 20
nice...

orangjava wrote on Mar 20
nice...
Legi....hehehe

afemaleguest wrote on Mar 20
orangjava said
Legi....hehehe
sweet :)

srisariningdiyah wrote on Mar 20
nice...

afemaleguest wrote on Mar 20
nice...
aiiihhhh ... headshot nyaaa ^__^

rengganiez wrote on Mar 20
Keliatannya sejak menikah Ayu byk berubah :-D

afemaleguest wrote on Mar 20
Keliatannya sejak menikah Ayu byk berubah :-D
begitu ya? :)

rengganiez wrote on Mar 20
Hihihihihi

srisariningdiyah wrote on Mar 20
harusnya kamis kemarin pas aku siaran terakhir sebelum cuti, ini ayu utami yang aku wawancara, untuk bukunya yang ini... sayang dia telat dateng dan gak ada konfirmasi lagi tetep mau dateng apa engga, padahal dah aku kasih slot jam selanjutnya kalo emang mau, karna kebetulan kosong... hihihi padahal mau nanya2 yang aneh2 xixixixx

rembulanku wrote on Mar 20
doa yuk mbak, minta apa enake?
*make a list first* hehehehe

dinantonia wrote on Mar 22
i think we shud be praising, grateful and believing instead of asking when praying :)

mawarangel wrote on Mar 30
How your opini mba, when i "curhat" to God. I ask nothing, just want to membagi beban. Ketika teman yg paling aku percayai ternya melupakan aku... Is it a dictating also,,, :-(

afemaleguest wrote on Mar 30
Mawar,
of course not
you "just" curhat, right? not ask god to do something, let's say? :-D

Kamis, Maret 08, 2012

Perempuan Bali 1941





Aku mendapatkan gambar di atas dari salah satu online buddy di facebook.

Berikut ini adalah obrolan dengan beberapa teman di lapak yang sama.


  • Adiiwijaya Armand ya ampun mam,,,miris bgt photonya,,,
    5 hours ago ·

  • Nana Podungge kok miris Armand?
    itu kan alamiah :-)

    5 hours ago ·

  • Adiiwijaya Armand yaach miris mam,,masak terbuka gitu,, begitukah culture kita dulu,,,
    5 hours ago ·

  • Nana Podungge Indonesia beriklim hangat cenderung panas sedangkan Eropa dingin maka masuk akal jika orang Indonesia berpakaian terbuka sedang Eropa lebih tertutup

    guess what?

    sekarang kalo orang Indonesia tidak memakai bra, dibilang kebarat-baratan :-D

    5 hours ago ·

  • Tusing Tujuh Keliling Lbh seksi ditutupi ya mam hehehee
    4 hours ago ·

  • Nana Podungge lebih membuat orang penasaran kayak apa sih yang ditutupi itu? :-)
    4 hours ago ·

  • Adiiwijaya Armand eh iya juga yaa,,,,koq aneh,, jadi ketuker gitu,,hahah justru malah dibilang kebarat2an...
    4 hours ago ·

  • Mochd Nasir gak setuju klo culture indonesia spt itu, ada bberapa daerah yg penduduknya sdh menggunakan penutup badan (terutama jawa, terlebih dngn sudah masukknya agama islam di nusantara), dan perlu diingat bhw bra adalah alat penyangga payudara, bukan penutup aurat... jd masalah pake bra adalah pilihan, sedang memakai pakaian (penutup aurat) adalah kwajiban...afwan
    4 hours ago ·

  • Nana Podungge Armand,
    bener kata Ayu Utami, bra memiliki dua fungsi yang saling bertolak belakang, menutupi namun juga menonjolkan

    4 hours ago ·

  • Adiiwijaya Armand weits,,bener juga tuh mam... memakai atau tidak,,sing penting saya haturken selamat hari wanita sedunia yaa :)
    4 hours ago ·

  • Nana Podungge Mas Nasir,
    boleh setuju maupun tidak setuju kok
    bukankah di zaman sekarang ini sudah rancu mana budaya asli maupun import?

    di tahun tujuhpuluhan aku memiliki PRT yg tidak biasa memakai celana dalam dan bilang itu pun budaya import, perempuan Indonesia mengenakan 'popok' tertentu yang ditalikan di daerah perut ketika menstruasi, kalau tidak sedang mens ya tidak pakai apa-apa di balik kain yg dikenakan
    :-)

    4 hours ago ·

  • Nana Podungge Armand,
    thank you

    4 hours ago ·

  • Adiiwijaya Armand masama mam,,memakai atau tidak itu hak wanita, mau ikut budaya mana, itu hak mereka, sing penting gx seharusnya ada lagi pelanggaran hak hak di indonese ini.... :)
    3 hours ago ·

  • Nana Podungge dan saling menghormati pilihan orang lain Armand :-)
    3 hours ago · · 1

  • Adiiwijaya Armand Siap mam,,
    3 hours ago ·

  • Nana Podungge ‎^__^
    3 hours ago ·

  • Mochd Nasir penekanan sy pada pake bra/celana dlm Mbak... itu mmng pilihan... tp dlm hal ini menutup aurat adalah wajib... boleh jd seseorang tdk pake bra/cd ttp dia menutup aurat khan gak masalah.. asal tertutup, dan perlu diingat bahwa hak2 kita dibatasi oleh hak2 org lain artinya dr persinggungan hak2 tersbt ada bagian yg mnjadi kewajiban bagi yg semua pihak...
    3 hours ago · · 1

  • Nana Podungge Mas Nasir,
    dan menjaga mata adalah kewajiban semua orang bukan? :-)

    sebelum agama Islam diimport ke Indonesia, maka istilah 'aurat' tentu sangatlah berbeda :-)

    3 hours ago ·

  • Mochd Nasir
    lepas dari pemakaian kata aurat, bahwa menutup bagian tubuh sdh dikenal sejak zaman sebelum masehi, bukan hny krn alasan iklim atw cuaca, namun jg alasan estetika & kehormatan (wanita bngsawan yunani berpakaian lngkap bukan?).. jd menutup bagian tubuh adalah kebutuhan..sdgkan yg terjadi di masa lalu dibbrp daerah di indonesia adalah krn pemahaman kebutuhan sandang masih terbatas (blm berkembang, ex. wanita bali hny menutup bagian bawahnya saja, blm sampai pd paham bahwa menutup badan adlh menujukkan identitas & kehormatan)..
    sdg Islam tdk diimpor oleh siapapun krn tdk ada lembaga yg dgn nyata mendatangkannya, ia datang sebagai pengetahuan yg terus menyebar, sebagaimana pengetahuan lain yg berkembang di dunia.. yg kmdian lebih memperinci ttg mslh tutup-menutup badan..
    3 hours ago ·

  • Mochd Nasir akeh banget komene ya Mbak Nana Podungge... :)
    3 hours ago ·

  • Nana Podungge
    Mas Nasir,
    apa pun istilah yang dipakai, namun sejarah menunjukkan bahwa Islam -- dan juga agama2 lain yg diakui negara saat ini -- bukan "produk" lokal
    namun memang kita tidak bisa menghindari senggolan maupun pengaruh yang datang dari pihak luar

    mengenai "budaya" berpakaian, selalu ada perbedaan antara kaum "atas" dengan kaum "commoners", dan selalu pihak "commoners" menganggap kaum "atas" sebagai "role models", dalam segala hal

    :-)
    2 hours ago ·

  • Medy Soesetyo menurut nenek ku, paduan jarik jarik & kebaya awalnya jg tdk ada tambahan CD & BH... :).
    Krn malu & gengsi di sebut tdk beradab oleh bangsa Belanda... mk mulai memakai CD & BH... :)

    2 hours ago ·

  • Nana Podungge bro Medy,
    plus minder karena menjadi negara jajahan ya? negara yg menjajah dianggap lebih segalanya ;-)

    2 hours ago ·

  • AnanDa RanRanz Pratika kembenaaan pake jarik tok...kayak mbah2 tetangga ku dulu

  • Nana Podungge I can imagine that

  • AnanDa RanRanz Pratika waktu dulu aku gowes ultah solo, nyebrang bengawan solo ketemu nenek2 ga pake bra oq :D

  • Nana Podungge dia masih setia dengan tradisi zaman 'dulu'
    tidak terkontaminasi dengan mereka yg ingin merasa dianggap kebarat-baratan maupun kearab-araban ;-)


Some comments from my next door site, which will be closed down in some months.

martoart wrote on Mar 8
rirhikyu wrote on Mar 8
Thanks buat videonya cak
seneng aja liatnya, en seneng dengerin gamelannya dr awal sampek akhir :)
rirhikyu wrote on Mar 8
aih yg nazir....perasaan agama di indo mah import semua, kebudayaan dan tradisi dan kepercayaan itu yg bukan import
rengganiez wrote on Mar 8
simbahku ampe meninggal juga gak pernah pake bra..risih katanya...ya pake jarik kemben itu...
rudal2008 wrote on Mar 8
Weee....gambar dari temanku hehe...aku sudah melihatnya 3 tahun yg lalu.
orangjava wrote on Mar 8
Bumil...Hindu, Budha dari India, Kristen dari Europa, Islam dari Arab...
makanya bagaimana Budaya RI yang sekarang kacau balau....bahasa aja campur aduk....
orangjava wrote on Mar 8
Nuwun Mbah Martooooooooo, aku pernah lihat disini....dibioskop..sebelum Film Chaplin yang Skonk dimainkan...
rembulanku wrote on Mar 8
speechless
martoart wrote on Mar 8
foto dan video ini sebuah kewajaran pada eranya. mengkaji dari sudut pandang agama (saja) hanya membuat sebuah kewajaran menjadi asing, terlebih dari sudut agama yg tidak melingkupinya. tidak lah fair - untuk tidak bilang kurang ajar.

Kalau toh perempuan bali saat ini menutup dadanya, tentu bukan lantaran alasan agama untuk menutup aurat mereka, tak lain karena peradaban modernitas 'barat' yang lucunya sering dipandang minir oleh sementara penganti barat.

Perempuan menutup tubuh dengan alasan peradaban wajib kita syukuri dalam semangat kemanusiaan, tapi mereka yang tidak menutup tubuhnya dengan alasan peradaban pula, tak bisa kita adili dengan misal mengatakan jijik, primitif' 'ngeri', dst yg seringkali berbingkai moralitas agama.
afemaleguest wrote on Mar 8
suwun Kang Marto
^__^
orangjava wrote on Mar 8
Mbah yang di Irian, Dayak ??...Aku bebas aja..mau pake Kutang apa gak hak mereka, mau kerudungan seperti di Afghanistan silahkan hak mereka....
jadul1972 wrote on Mar 9
:)
mawarangel wrote on Mar 12
di Jakarta juga banyak kok neni2 No-Bra, malah kutangan dan sarung so perutnya ngablak (plus merokok pula)... God for shake, aku sih tidak 'berani' bilang mereka tidak 'berbudaya' atau ABG sekarang yg sekolahnya lebih tinggi dan pastinya lebih berbudaya tapi sukanya pakai pakaian yang nyangkut diatas puser plus celana super pendek. Intinya, menurut aku= budaya, pendidikan, agama, kemini-mini'an punya jalurnya masing-masih. *semoga masih nyambung, hehehe :p
afemaleguest wrote on Mar 13
^__^
afemaleguest wrote on Mar 13
@mawarangel,

sangat nyambung kok komennya :)
tatkala para remaja mulai mengenakan pakaian yang oleh kaum agamis diklaim sebagai budaya barat, ya mungkin mereka hanya mengikuti naluri mereka saja ya? :) lha wong ternyata 'aslinya' budaya lokal kita dulu justru lebih terbuka dibandingkan budaya barat beberapa abad lalu ...

btw, recently honestly kadang aku berpikir bagaimana kalau sampai sekarang orang-orang di Indonesia masih topless, jadinya bagaimana ya? tentu aku juga akan topless dong, biar tidak dianggap aneh, biar ga dianggap kebarat-baratan atau pun kearab-araban, hihihihi .. tentu aku ga akan ga pede ya? toh yang lain juga sama .. :-P