Selasa, Januari 17, 2012

Jalur Sepeda di Semarang

Dan satu kali aku dikejutkan dengan postingan sebuah foto di grup 'b2w Semarang' maupun 'Komselis' yang menunjukkan bahwa JALUR SEPEDA telah hadir di kotaku tercinta, Semarang!

jepretan Mas Budenk
Rasa haru segera meruak karena aku teringat usaha Komunitas b2w Semarang untuk 'mendesak' pemerintah kota untuk menyediakan jalur sepeda, demi keamanan pesepeda di Semarang -- me included for sure -- ketika bersepeda, baik ketika sedang bike to work (alias berangkat kantor naik sepeda) maupun ketika sedang berolahraga di akhir pekan. Pertama, kita mengadakan TALK SHOW JALUR SEPEDA pada tanggal 11 April 2010 yang ktia selenggarakan di halaman depan McD Mall Ciputra. (Check the link at http://nana-podungge.blogspot.com/2010/04/jalur-sepeda-please.html ) Talk show yang kedua kita selenggarakan pada tanggal 6 Juni 2010 di halaman kantor koran Kompas di Jalan Menteri Supeno.

spanduk yang b2w Semarang buat di tahun 2010
WOW! akhirnya impian para pesepeda Semarang pun terwujud.
AKAN TETAPI ...
Ternyata nampaknya apa yang dikatakan oleh seorang online buddy di FB yang tinggal di Bandung tentang jalur sepeda di Bandung pun terulang di Semarang. :( Jalur sepeda yang tersedia tidak digunakan sebagaimana mestinya. You can guess by the very first picture I posted above. Jalur sepeda yang telah disediakan oleh pemerintah kota Semarang di sepanjang Jalan Pandanaran, seputaran Simpanglima dan Jalan Pahlawan hanyalah hiasan belaka.
Pemerintah kota Semarang tidak serius menyediakan jalur sepeda demi keamanan pesepeda? Sang wali kota sekarang hanyalah mengejar pencitraan semata?

sebuah mobil berplat merah diparkir di jalur (supposed to be) sepeda
Hari Senin 16 Januari 2012 untuk pertama kali aku berbike-to-work ke kantorku yang 'baru' yakni di Jalan Majapahit (tepatnya di daerah Gayamsari) sekitar pukul setengah lima sore. Sepanjang jalan Pandanaran yang telah ada jalur sepeda mungkin tidak sampai 25% dari sepanjang jalan itu yang bisa benar-benar kulewati dengan naik sepeda dengan tenang. 75% dari seluruh jalur ditempati oleh mobil-mobil parkir. :( Demikian juga di seputar Simpanglima. Apalagi ketika aku pulang sekitar pukul setengah delapan malam. Bisa dikatakan hampir 90% di 'jalur sepeda' di kawasan Simpanglima dipenuhi mobil-mobil parkir.
Karena lahan parkir tidak tersedia? Para penyedia bisnis tidak paham apa arti 'jalur sepeda'? Ataukah mereka tidak peduli dengan adanya jalur sepeda?

Berapa banyak dana yang telah dikeluarkan oleh pihak pemerintah kota untuk mengecat jalan-jalan tersebut dan para pesepeda tetap terjepit di sela-sela kendaraan bermotor?
Rasa haruku berubah menjadi satu kesedihan. :'(

Nana Podungge
seorang b2wer Semarang
GL7 15.45 17/01/2012

Komen dari lapak sebelah

orangjava wrote on Jan 17
Disini bisa dihajr sama yang naik sepeda....itu namanya kurang ajar dan bisa didenda tinggi....Buta Huruf tuh orang mana pegawai negeri...
afemaleguest wrote on Jan 17
orangjava said
Disini bisa dihajr sama yang naik sepeda....itu namanya kurang ajar dan bisa didenda tinggi....Buta Huruf tuh orang mana pegawai negeri...
aaahhh ...
I wish I could just crash those cars ...
hikkkssss
orangjava wrote on Jan 17
aaahhh ...
I wish I could just crash those cars ...
hikkkssss
stone-throwing!!!!!!!
afemaleguest wrote on Jan 17
orangjava said
stone-throwing!!!!!!!
yeah ... itulah yang ingin kulakukan :'(
orangjava wrote on Jan 17
yeah ... itulah yang ingin kulakukan :'(
Do It for Your RIGHT.......
srisariningdiyah wrote on Jan 17
ini udah ada di berita di televisi beberapa waktu lalu deh, tentang jalur sepeda khusus di semarang
afemaleguest wrote on Jan 17
Jeng Ari,
waduuuhhh aku ga nonton tipi
beritanya bagus atau jelek ya?
onit wrote on Jan 17, edited on Jan 17
mbak nana, kalo di sini jalur sepeda ada 2 jenis:
1) yg sebelahan dgn trotoar, ada pembatasnya
2) yg di atas aspal (seperti yg ada di semarang)

biasanya no.2 terletak di jalan2 sepi (daerah perumahan, jalannya sempit2), dan emang buat mobil parkir. kalo ada yg parkir sih biasanya aku meliuk aja ke bagian yg dilewati mobil, dgn aman krn biasanya gak banyak mobil.

nah, pada kasus di semarang, itu terletak di jalan lebar, tapi ada tandanya p dicoret tak? kalau ada tandanya p dicoret, maka berarti mobil itu melanggar si tanda dilarang parkir. kalo gak ada, mustinya sah2 aja si mobil parkir di situ, karena itu bagian dari aspal (badan jalan).

tambahan: lain halnya kalo mobil itu berjalan. gak boleh di atas jalur sepeda.
afemaleguest wrote on Jan 18
onit said
1) yg sebelahan dgn trotoar, ada pembatasnya
aku ingat ketika aku masih duduk di bangku SMA -- tahun lapan puluhan -- di beberapa ruas jalan kota Semarang memiliki slow lane yang ada pembatasnya, misal di Jalan Pandanaran, Jalan Sugiyopranoto, Jalan Pemuda, Jalan Indraprasta, Jalan Mataram, dll ...

aku ingat waktu masih SMA dulu -- sebelum bokap membelikanku sepeda motor -- aku kadang jalan kaki sepulang sekolah, maka aku berjalan sepanjang Jalan Pemuda dan Jalan Sugiyopranoto, aku merasa aman karena ada pembatas.

aku lupa kapan 'pembatas' itu mulai hilang untuk memperlebar jalan raya. Sekarang yang masih ada di Jalan Indraprasta dan sepanjang Jalan Mataram, namun as you can guess, jalur itu tak lagi bisa dipakai oleh pejalan kaki ataupun pesepeda karena dipakai parkir mobil, motor, dll. di sore hari, jalur itu dipenuhi pedagang kaki lima ...

jika memang pemerintah serius ingin mengembalikan slow lane yang khusus untuk pejalan kaki dan pesepeda, lakukan dengan sesungguh hati dong, ga cuma menggambar jalan dan tidak melakukan hal-hal lain, misal sosialisasi, pengawasan, dll.

waktu b2w Semarang mengadakan talk show tahun 2010 lalu kita sadar penuh bahwa bisa jadi jalur sepeda itu akan mengurangi pendapatan para 'tukang parkir yang mungkin liar' karena mereka tak lagi bisa mendapatkan pendapatan dari menjadi tukang parkir, but, kembalikan lagi kepada pemerintah how to solve it. jangan hanya untuk pencitraan menggambari jalan untuk seolah-olah menunjukkan ada jalur sepeda but then doing nothing more.
afemaleguest wrote on Jan 18
onit said
biasanya no.2 terletak di jalan2 sepi (daerah perumahan, jalannya sempit2),
hmmm ... ini yang kuingat ada di beberapa ruas jalan di Jogja waktu aku gowes dari jalan Kaliurang ke daerah Gedong Kuning -- sekitar 10 kilometer mungkin -- ketika aku melewati jalan-jalan sempit.

entahlah apakah akan dilakukan juga 'penggambaran' ini di ruas-ruas jalan sempit di Semarang
martoart wrote on Jan 17
sebuah mobil berplat merah diparkir di jalur (supposed to be) sepeda
panggil anak2 freestyle bmx untuk menjadikannya media latihan halang rintang.
orangjava wrote on Jan 17
martoart said
panggil anak2 freestyle bmx untuk menjadikannya media latihan halang rintang.
Sambil bawa piso buat nyoret cet........
afemaleguest wrote on Jan 18
martoart said
panggil anak2 freestyle bmx untuk menjadikannya media latihan halang rintang.
terrific idea :)

btw, haruskah kita menunggu ada peraturan mobil dilarang parkir di sepanjang jalur sepeda sehingga para pengendara bmx merasa aman dan tertantang melakukannya?
rembulanku wrote on Jan 17
fasilitas kota ditambahi tapi intine pemerintahe serius rak?
maksudnya, siap turunkan aparat buat bantu mentertibkan lalu lintas
sanksi bila ada pelanggaran, sosialisasi, dsb
afemaleguest wrote on Jan 18
fasilitas kota ditambahi tapi intine pemerintahe serius rak?
maksudnya, siap turunkan aparat buat bantu mentertibkan lalu lintas
sanksi bila ada pelanggaran, sosialisasi, dsb
iya La, harusnya ada tindakan lanjut, minimal sosialisasi dan pengamatan dari pihak yang berkepentingan
agamfat wrote on Jan 17
persis walikota jakarta selatan tuh, pencitraan
afemaleguest wrote on Jan 18
agamfat said
persis walikota jakarta selatan tuh, pencitraan
huuuffffttt T.T

Rabu, Desember 21, 2011

Dosa Waris

Istilah ‘dosa waris’ dalam bidang pendidikan pertama kali kudengar dari seorang (ex) rekan kerja mungkin sekitar satu dekade yang lalu. Mengingat kita adalah guru Bahasa Inggris, contoh yang paling sering kita bahas waktu itu adalah pronunciation yang salah. Jika seorang guru salah mengajarkan pronunciation sebuah kata, (mungkin dikarenakan malas ngecek kamus), maka bisa dipastikan anak didiknya akan salah juga cara membaca kata tersebut. Jika anak didiknya ternyata menjadi guru, dan ‘take it for granted’ tanpa ngecek kamus, dia juga akan mengajarkan cara membaca yang salah.


Misal waktu aku duduk di bangku SMP, guru Bahasa Inggrisku mengajari cara membaca ‘flour’ seperti tulisannya /flour/. Guru waktu SMA juga membacanya sama, maka kupikir memang begitulah cara membacanya. Sampai akhirnya aku menjadi guru, bertemu sebuah buku dimana di dalamnya berisi berbagai jenis games, salah satunya adalah ‘homophones’. Yang dimaksud ‘homophones’ dalam Bahasa Inggris adalah ada dua atau lebih kata yang cara membacanya sama namun penulisannya berbeda, misal /eyes/ dengan /ice/, /two/ dengan /too/ atau /to/. Nah, di lembar game ini lah aku menemukan kata /flour/ yang disamakan pronunciationnya dengan /flower/. Tentu saja aku kaget dan langsung ngecek kamus. To my surprise, I just realized sekian tahun aku pun telah membaca kata ‘flour’ dengan salah.

Satu kata lain lagi adalah kata ‘vehicle’. Guru SMA-ku membacanya /vihaikel/. Waktu kuliah S1 dengan pede aku membacanya /vihaikel/. Di satu kesempatan, aku disalahkan oleh seorang teman sekelas, karena katanya cara membacanya adalah /vi’ikel/. Karena tidak terima (mosok guruku salah?) aku langsung ngecek kamus, dan mendapati ... memang guruku yang salah cara membacanya.

Kalau “hanya” salah pronunciation begini (mungkin) masih bisa dimaafkan; toh tidak menimbulkan kesalahan fatal yang bisa menyebabkan seseorang kehilangan nyawa.

Yang lebih parah tentu adalah ketika seorang guru memberikan informasi yang salah kepada siswanya. Siswa menerima informasi itu apa adanya, dengan berbaik sangka, “masak guruku yang cerdas ini salah memberikan pengetahuan?” Namun ternyata memang sang guru mendapatkan informasi yang salah ketika (mungkin) masih duduk di bangku kuliah, took it for granted, dan memberikan pengetahuan yang salah itu kepada siswa-siswanya di kemudian hari.

Sebagai contoh:

Ketika kuliah S1, aku menerima jenis teori sastra masih sangatlah ‘terbatas’, teori yang merunut ke zaman ‘baheula’ dimana sebuah karya sastra hanya bisa digali dengan menggunakan empat pendekatan (alias teori),yakni pendekatan ‘ekspresif’, ‘objective’, ‘pragmatik’, dan ‘mimetik’. Belum kudengar jenis teori, semisal ‘New Criticism’, ‘Structuralism’, hingga ‘Feminism’ dan ‘Deconstruction’. Dll.

Ketika kuliah S2, seorang dosen senior, dalam kuliah “Literary Theories” mengajarkan teori ‘deconstruction’ tak ubahnya dengan pendekatan ‘objective’, hanya saja titik perhatiannya dibedakan. Misal, dalam novel Siti  Nurbaya karya Marah Rusli. Jika ‘biasanya’ yang dianalisis adalah tokoh Siti Nurbaya dan Samsul Bahri ketika menggunakan pendekatan ‘objective’, maka jika kita menggunakan teori ‘deconstruction’, kita mungkin akan memilih tokoh lain, misal, Datuk Maringgih.

“Then what, Ma’am?” tanya kita waktu itu.

Ya sudah, langkah berikutnya sama seperti ketika kita menggunakan pendekatan ‘objective’.

LHO KOK? Apa bedanya dong dengan pendekatan ‘objective’ kalau begitu? Bukankah dalam pendekatan ‘kuno’ ini seorang peneliti bebas menentukan unsur apa saja yang ada di dalam sebuah karya? Mau meneliti sang tokoh utama atau pun a very minor character, kan suka-suka sang peneliti?

Kebingungan ini kemudian membuat aku dan beberapa teman duduk bersama di kursi kantin, makan sekaligus diskusi bersama untuk memahami lebih lanjut penggunaan teori ‘deconstruction’ dalam melakukan penelitian sastra. Kemudian diskusi ini kita lanjutkan ke kelas lain, “The History of American Literary Criticism” yang diampu oleh seorang dosen muda.

Dari beliau lah akhirnya kita mendapatkan ‘pencerahan’. Kata ‘deconstruction’ bermula dari kata ‘to deconstruct’, yang bisa diterjemahkan secara bebas sebagai ‘memutarbalikkan apa yang ada’ dengan menggunakan kacamata lain.

Misal, jika menggunakan kacamata ‘lama’, maka tokoh Samsul Bahri adalah sang pahlawan yang berjuang memenangkan cintanya dengan Siti Nurbaya. Datuk Maringgih adalah tokoh tua yang tidak tahu malu dan tidak sadar diri dengan kelapukannya ingin memperistri Siti Nurbaya yang masih muda dengan menyalahgunakan kemiskinan orang tua Siti Nurbaya.

Teori dekonstruksi sangat memungkinkan cara membaca yang dibalik: Datuk Maringgih adalah sang pahlawan negara, karena dia melawan penjajah Belanda pada waktu itu. Sedangkan Samsul Bahri justru merupakan antek Belanda karena dia bekerja untuk pemerintah Kompeni.

Penerbit novel ‘Siti Nurbaya’ adalah ‘Balai Pustaka’. Siapakah yang mendirikan BP? Pemerintah Belanda yang memang sengaja ingin meneruskan kelanggengan masa penjajahannya di bumi pertiwi melalui pintu yang ‘cerdas’: buku. Dengan cara menerbitkan buku-buku yang menuliskan betapa baik hati pemerintah penjajah Belanda pada penduduk pribumi, dan betapa penduduk pribumi yang lain bisa menjadi tokoh yang pantas dimusuhi (dalam hal ini Datuk Maringgih).

Kembali ke masalah utama ‘dosa waris’. Tentu masih banyak contoh yang bisa digali dalam kehidupan sehari-hari yang disebabkan oleh, salah satunya, a teacher’s not well-preparedness with his/her misleading knowledge.

PT56 08.53 211211

onit wrote on Dec 21, '11
aku inget waktu smp ada guruku yg ngotot because ditulis becouse. uh oh. tapi waktu itu gak bawa kamus, gak bisa buktiin. toh di test kutulis because gak disalahin :D -- gak tau bocah2 yg lain gimana..

afemaleguest wrote on Dec 21, '11
onit said
aku inget waktu smp ada guruku yg ngotot because ditulis becouse. uh oh. tapi waktu itu gak bawa kamus, gak bisa buktiin. toh di test kutulis because gak disalahin :D -- gak tau bocah2 yg lain gimana..
waktu masih kul S1, aku eyel-eyelan dengan seorang teman yang kul di IKIP Semarang jurusan Bahasa Inggris beberapa kata, misal 'caught' dia ngeyel tulisannya 'cought'

waaahhh ... kalo aku ga tunjukin kesalahannya , dia bakal mewariskan kesalahan itu ke anak didiknya, dan bisa jadi bakal turun temurun
^__^

rirhikyu wrote on Dec 21, '11
Tak pikir ttg dosa warisan beneran yg diajarkan diagama :p
Ternyatah dosa waris yg laen
:)

afemaleguest wrote on Dec 21, '11
rirhikyu said
Tak pikir ttg dosa warisan beneran yg diajarkan diagama :p
Ternyatah dosa waris yg laen
:)
hihihihih
^__^

srisariningdiyah wrote on Dec 21, '11
menarik soal datuk maringgih :)

afemaleguest wrote on Dec 21, '11
menarik
ada talinya kali ya?
hehehehe ...

martoart wrote on Dec 21, '11
Tulisan semacam ini yang baiknya banyak ditemui di MP. Trims, gak segan baca postingan asyik cem gini.

afemaleguest wrote on Dec 21, '11
martoart said
Tulisan semacam ini yang baiknya banyak ditemui di MP. Trims, gak segan baca postingan asyik cem gini.
tenkiu Kang ^__^

martoart wrote on Dec 21, '11
Kalau “hanya” salah pronunciation begini (mungkin) masih bisa dimaafkan; toh tidak menimbulkan kesalahan fatal yang bisa menyebabkan seseorang kehilangan nyawa.
Kalo mo bilang "excuse me sir", terus salah jadi "executed me sir"... bisa fatal juga loh...

afemaleguest wrote on Dec 21, '11
martoart said
Kalo mo bilang "excuse me sir", terus salah jadi "executed me sir"... bisa fatal juga loh...
qiqiqiqiqiqi

rembulanku wrote on Dec 22, '11
oh tentang bahasa tho, tak kira dosa warisan yg betulan perbuatan dosa xixixi....

aku sekarang banyak lupanya mbak kalo bahasa inggris terlalu banyak ngomong ga inget nulisnya gimana *mlenceng seko topic*

afemaleguest wrote on Dec 22, '11
oh tentang bahasa tho, tak kira dosa warisan yg betulan perbuatan dosa xixixi....
kayak Febbie, salah kira di awal
hihihihihi

rawins wrote on Dec 23, '11
aku bego banget bahasa inggris
karena kutukan waris juga kayaknya..

afemaleguest wrote on Jan 12
rawins said
aku bego banget bahasa inggris
karena kutukan waris juga kayaknya..
walaaahhhh ...
find a scape goat!
yay!!!
hihihihihi

dinantonia wrote on Jan 12
ya, ya... mayan banyak juga cara pronunciation yang ternyata saya salah ketahui, misalnya pyramid (pi- bukan pay-), decisive (decaysive, bukan decisive). Juga finance bisa dibaca fahy- atau fi-... Saya juga terkadang salah memberi info ke anak2. Learning by doing lah :D

afemaleguest wrote on Jan 12
Learning by doing lah :D
:-D

Becoming Jane

diambil dari sini

BECOMING JANE: Being an author as well as a wife?


Film ini konon terinspirasi oleh kehidupan nyata Jane Austen (1775-1817), seorang penulis dari Inggris yang sampai sekarang beberapa karyanya tetap saja digemari, misalnya “Pride and Prejudice”, “Sense and Sensibility”, “Persuasion”, “Mansfield Park” dan “Emma”.

Jane digambarkan mirip dengan tokoh perempuan yang dia tulis dalam novel-novelnya: cerdas, kritis, gemar membaca, berwawasan luas dan berasal dari keluarga yang kurang mampu. Dan bahwa seorang perempuan menulis di zaman dahulu merupakan suatu skandal yang tidak layak dilakukan pun diungkapkan dalam film “Becoming Jane” ini. “Pen” yang merupakan ‘senjata’ orang dalam menulis (sebelum mesin ketik ditemukan, terlebih lagi keyboard komputer diciptakan), konon merupakan singkatan dari kata “penis”. Maka layaklah jika di zaman dulu hanya laki-laki yang dianggap layak menulis karena mereka lah pemilik senjata tersebut: penis. Perempuan akan mendapatkan kecaman yang sangat keras dari masyarakat jika ingin coba-coba memiliki profesi yang diklaim oleh kaum laki-laki ini.

Meski sempat dijadikan bahan debat apakah memang benar seorang Jane Austen pernah memiliki hubungan khusus dengan seseorang yang bernama Thomas Lefroy alias Tom, dalam film ini kisah kasih mereka berdua mendapatkan porsi yang cukup untuk menarik perhatian penonton. Dalam satu kunjungan ke rumah paman Thomas – untuk meminta restu dari sang paman agar Tom dan Jane bisa menikah – Tom mengajak Jane berkunjung ke rumah seorang penulis perempuan yang mendapatkan penghasilan yang cukup dari menulis, Mrs. Radcliffe. Perbincangan mereka berdua sangat menarik perhatianku.

diambil dari sini

Jane menyatakan keterkejutannya ketika tahu kehidupan Mrs. Radcliffe yang nampak sangat tentram dan damai, padahal novel-novel yang dihasilkan oleh Mrs. Radcliffe begitu penuh kejutan, teror, dan sebagainya. Dari penjualan novel-novelnya lah Mrs. Radcliffe menghidupi keluarganya, sang suami tidak begitu sukses dalam karirnya.

“Is it difficult to be an author as well as a wife?” tanya Jane polos.

Pertanyaan yang terdengar innocent bagiku ini mengingatkanku pada dua hal.

Pertama, Nh Dini. Di awal tahun 2008 aku berkesempatan menghadiri sebuah” acara berbincang-bincang dengan Nh Dini, dimana pada waktu itu beliau juga mempromosikan novelnya yang berjudul “Argenteuil”. Aku sempat bertanya bagaimana dia bisa mengingat semua kisah detil dalam hidupnya yang kemudian dia tulis dalam karya novel yang dia beri label “cerita kenangan” yang berarti otobiografinya. Sedikit latar belakang, Nh Dini pernah menikah dengan seorang Konsul yang tentu membuatnya sangat sibuk. Nh Dini menjelaskan bahwa (mantan) suaminya tahu kegemarannya menulis sehingga dia diperbolehkan meluangkan waktu untuk menulis apa-apa yang ingin dan perlu dia tulis dalam diary. “Konsensus” umum yang berlaku dalam masyarakat bahwa setelah menikah maka pasangan hidupmu lah yang menjadi diary ‘hidup’ tempatmu mengadu, berkisah dan lain sebagainya (sehingga ada juga ‘kepercayaan’ bahwa kebanyakan perempuan yang menjadi seorang istri sebaiknya meninggalkan kebiasaan menulis diary untuk beralih berbincang dengan suaminya) tidak berlaku dalam diri seorang Nh Dini. Dia tetap menulis, dimana catatan-catatannya ini sangat berguna ketika dia menulis novel “cerita kenangan”.

Nh Dini paling tidak telah membuktikan bahwa “it is possible to be an author as well as a wife at the same time.” :) Meskipun toh akhirnya Jane Austen tidak menikah hingga di akhir hidupnya.

Kedua, Anna Wickham. Penyair dari Inggris (1884-1947) menulis dalam bait pertama puisinya yang berjudul “Dedication of the Cook”:
If any ask why there’s no great She-Poet,
Let him come live with me, and he will know it:
If I’d indite an ode or mend a sonnet,
I must go choose dish or tie a bonnet;
Dalam salah satu percakapan antara Jane dan Tom, Tom menyatakan bahwa tidaklah mungkin seorang perempuan akan menjadi seorang penulis sehandal laki-laki. Tak seorang pun penulis perempuan akan mencapai kesuksesan yang setara dengan laki-laki. Namun Tom tidak menyebutkan alasannya mengapa.

Jika pernyataan Tom ini dikaitkan dengan apa yang ditulis oleh Anna Wickham pada bait pertama di atas, ada hubungan antara profesi menulis dengan ‘kewajiban’ seorang perempuan sebagai istri.

Namun ketika Jane bertanya kepada Mrs. Radcliffe, “Is it difficult to be an author as well as a wife?” tidak dijawab secara gamblang oleh seorang Mrs. Radcliffe.

Bagi para pecinta karya-karya Jane Austen, film “Becoming Jane” lumayan menjadi tontonan yang sedikit memberi gambaran bagaimana seorang Jane Austen akhirnya menjadi seorang penulis. Dia tidak jadi menikahi Tom lelaki yang dicintainya meski miskin, namun juga tidak menikahi Mr. Wisley yang kaya raya yang mengaku mencintainya bukan karena dia berpikir bahwa akan sulit menjadi seorang penulis sekaligus seorang istri. Dia memutuskan untuk tidak menikahi Tom karena dia tahu Tom harus bekerja untuk menafkahi keluarga dan adik-adiknya. Jane juga tetap menolak menikahi Mr. Wisley karena dia tidak mau menikah tanpa rasa cinta.

PT56 13.10 211211

Rabu, November 09, 2011

Idul Adha versus Vegetarian


 
 
Beberapa hari lalu menjelang Idul Adha, beranda ef be ku penuh dengan status-status yang kontradiktif, seperti yang terbaca di judul postingan ini. Sebagian dengan gencar menulis betapa pentingnya mengurangi konsumsi daging -- terutama daging binatang yang berkaki empat -- demi ikut mengurangi semakin cepatnya pemanasan global menghanguskan bumi. Di sisi lain orang-orang menulis tentang ikut merayakan Idul Adha dengan memotong kambing atau pun binatang lain yang dianjurkan demi berbagi dengan sesama, terutama para kaum miskin yang mungkin hanya bisa makan daging binatang berkaki empat satu tahun sekali, yakni pada hari raya Idul Adha.


Berhubung waktu kecil aku bersekolah di madrasah ibtidaiyah, aku lumayan hafal di luar kepala mengapa 'diwajibkan'  bagi kaum Muslim yang mampu untuk 'berkorban' dengan menyembelih satu kambing atau tujuh orang bersama berkorban seekor sapi. Minimal sekali dalam seumur hidup. Kalau mau setiap tahun sekali tentu lebih baik (?). 'Korban' kambing (atau sepertujuh sapi) yang telah kita korbankan konon nantinya akan membuat perjalanan menyeberang 'jembatan' menuju surga akan menjadi secepat kilat. Dan semua ini bermula dari kisah Ibrahim yang konon mendapatkan wahyu untuk menyembelih Ismail, anak yang dia tunggu kehadirannya selama beratus tahun. (konon, duluuuu para Nabi selain Isa dan Muhammad hidup hingga ratusan tahun umurnya).


My parents telah memberi contoh kepada anak-anaknya untuk berkorban setahun sekali, dengan menyisihkan uang tiap bulan demi bisa membeli seekor kambing ketika Idul Adha datang. Ini menunjukkan bahwa mampu atau tidak mampu bersifat relatif (seperti juga untuk melaksanakan 'ibadah' naik haji ke Mekkah).


Meskipun begitu, di rumah, yang suka makan daging kambing hanya my parents. Anak-anak tidak begitu suka. Aku pribadi tidak anti makan daging kambing, namun 'hanya' bisa menikmati makan sate kambing. Jenis masakan lain yang bahan utamanya kambing, aku lebih memilih untuk menghindarinya. No any special reason. Hanya karena tidak begitu suka saja.


Ketika aku membaca novel AKAR karya Dewi Lestari (Dee) dimana sang tokoh utama dikisahkan setengah 'cenayang'. Di salah satu 'scene' ditulis betapa dia ketakutan ketika dia melewati sebuah lapangan dimana disana berkumpul binatang-binatang yang siap disembelih karena mata-mata binatang itu menyorotkan ketakutan yang luar biasa. Si tokoh yang 'cenayang' ini merasa sorot mata ketakutan itu 'tertransfer' kedalam dirinya, hingga dia bisa tahu persis ketakutan seperti apa yang dirasakan oleh para binatang itu.


Mungkin aku yang terhipnotis cara Dee melukiskan 'adegan' itu, atau keseluruhan kisah dalam novel AKAR itu. Namun itulah pertama kali aku baru bisa melihat dan mencoba memahami bahwa binatang-binatang itu pun merasakan ketakutan ketika akan disembelih. (Jadi ingat si psikopat dalam film CHANGELING yang menangis ketakukan ketika akan dihukum gantung, tanpa ingat bagaimana dengan sadis dia telah membunuh anak-anak kecil tak berdosa, hanya demi kepuasan psikologisnya semata.)


Untunglah aku tidak pernah begitu menikmati makan daging berkaki empat, meski aku bukan seorang veggie.


Ketika berkisah tentang hal ini kepada Angie, dia pun bertanya, "Don't you think that also happens to chickens, Ma?" FYI, Angie sama sekali menghindari makan daging kambing. Kalau rendang daging sapi masih doyan dia. :)


Absolutely, that makes sense too. Call me a hypocrate then because I still often consume chicken. :-(


Itulah sebabnya ketika my FB buddies berkontradiktif menyikapi Idul Adha, aku memilih apatis. Mulai dari status-status yang menaifkan para pengikut Ibrahim (betapa goblog seorang ayah yang bersedia mengorbankan anaknya demi sebutan 'nabi'), betapa goblog mereka yang percaya binatang yang dikorbankan di dunia ini akan menyelamatkan diri ketika menyeberang jembatan di akhirat ini (lha gimana? aku pernah 'percaya' je ... :-D bukankah semua agama meminta para pengikutnya percaya without reserve? iman itu hanya ada percaya dan percaya. ) sampai status para pendukung pengurangan pemotongan binatang demi menyelamatkan bumi.


Namun akhirnya aku 'terprovokasi' juga menulis komen di sebuah status yang menertawakan para 'veggie' yang dia sebut sebagai 'pahlawan kesiangan'; mosok binatang yang dibela hanya kambing dan sapi maupun kerbau? namun tetap saja  membunuh nyamuk, kecoa dan binatang-binatang kecil lain.


hadeeeehhhhh .... :-P


PT28 16.58 081111

Some comments from my other blog:


bambangpriantono wrote on Nov 8
Wis komeng nang FB
pertamaz ah

afemaleguest wrote today at 12:56 PM
yaaa ;-)

martoart wrote on Nov 8
afemaleguest said
mosok binatang yang dibela hanya kambing dan sapi maupun kerbau? namun tetap saja  membunuh nyamuk, kecoa dan binatang-binatang kecil lain.

kirain banyolan tolol itu berhenti pada "kenapa makan tomat? tomat kan juga punya rasa sakit?".
ternyata masih ada.
(ya tentu banyolan tolol tetap ada selama orang tolol masih bercokol di bumi)

orangjava wrote on Nov 8
martoart said
kirain banyolan tolol itu berhenti pada "kenapa makan tomat? tomat kan juga punya rasa sakit?".
ternyata masih ada.

(ya tentu banyolan tolol tetap ada selama orang tolol masih bercokol di bumi)
T O L O L....???opo To ...........Lol...........??

martoart wrote on Nov 8
orangjava said
T O L O L....???opo To ...........Lol...........??

Mau bilang To'ol aja bingung pak Dhe?

orangjava wrote on Nov 8
martoart said
Mau bilang To'ol aja bingung pak Dhe?

Ora bingung ming ling lung.....gek wegah aku..........gak ono gawean.....To LOL kan lain hehehe

martoart wrote on Nov 8
orangjava said
To LOL kan lain hehehe

http://multiply.com/mu/martoart/image/1/photos/13/600x600/17/go-blog-to-lol.jpg?et=W%2CuEwzNHARsPZzHal5pQNQ&nmid=356658660
orangjava wrote on Nov 8
martoart said
http://multiply.com/mu/martoart/image/1/photos/13/600x600/17/go-blog-to-lol.jpg?et=W%2CuEwzNHARsPZzHal5pQNQ&nmid=356658660
Hahahaha Go Blog...same like To LOL...hehehehe

afemaleguest wrote today at 12:58 PM
martoart said
kirain banyolan tolol itu berhenti pada "kenapa makan tomat? tomat kan juga punya rasa sakit?".
ternyata masih ada.
(ya tentu banyolan tolol tetap ada selama orang tolol masih bercokol di bumi)
sigh. ...

afemaleguest wrote on Nov 8
Kang Marto,
punya tulisan tentang Idul Adha ga?
:-D
bukan tentang bisnis naik hajinya lho ya? tapi tentang pemotongan binatang

martoart wrote on Nov 8
afemaleguest said
Kang Marto,
punya tulisan tentang Idul Adha ga?
:-D
bukan tentang bisnis naik hajinya lho ya? tapi tentang pemotongan binatang
lagi dilanda kemalasan nasional nih...
pengin pijit.

afemaleguest wrote today at 12:59 PM
martoart said
lagi dilanda kemalasan nasional nih...
pengin pijit.

hadeeeeehhhh

wayanlessy wrote on Nov 8, edited on Nov 8
Sama mbaaa...aku juga ga suka makan daging kambing.

Mau komen sedikit OOT ah..

Dulu, aku bertanya apa hewan hewan qurban yg di lapangan surau ketakutan akan dipotong?
Lalu ibuku bilang bahwa kambing dan sapi sapi yg baik hati yg dipotong saat idul Adha merasa bersyukur dan gembira sekali akan dipotong sebagai hewan qurban..karena nasibnya jelas akan dibagi bagikan untuk derma konsumsi bagi yg membutuhkan..dibanding ia mati dipotong di penjagalan mesin untuk kornet di pabrik besar bersama ratusan sapi lainnya.
Makanya aku kecil dulu berani mengelus elus hewan qurbanku dan menyaksikan pertumpahan darahnya. Sekarang mah ogah.

Herannya sampai sekarang aku masih "meyakini" apa kata ibuku tersebut bahkan memakainya sbg analogi yg mensugesti keinginanku jika nanti aku mati dan jasadku masih bisa dimanfaatkan untuk donor dan didermakan pada yg membutuhkan untuk kebaikan dan ilmu pengetahuan. (Sebuah kontradiksi dengan keyakinanku akan sakitnya jenazah yg pemulasarannya harus hati hati -->selain kontradiksi, juga sebuah kaitan juga yg menjembatani dua kondisi berbeda tapi dipakai juga:- Hewan qurban masih hidup, aku sudah mati - tapi sama sama sakit saat golok memotong kulit).

Bedanya, aku bisa menyatakan "consent" tanda kesetujuanku untuk dipotong potong sementara kambing dan sapi maupun hewan i.e. ternak lainnya tidak.(hmm?)

Manusia punya taring sih ya? Sehingga dalam dunia hewan dia pada dasarnya bukan vegetarian. Jadi inget si Singa di film Madagascar yg kemudian jd doyan sushi dan perubahan diet sang Singa digambarkan sebagai happy ending..soalnya ga ada karakter ikan di film itu ya kl ga salah? Seiring kali ya, dengan para veggie pecinta hewan yg membunuh nyamuk kecoak cicak tikus ular dan kepinding yg mampir ke sekitaran mereka?

Jadi...imho, .."kepentingan" bisa banget memanipulasi atau katakanlah mempengaruhi respon dan sensitifitas thdp rasa sakit makhluk lain dan rasa "baik" yg tercipta saat memangsa?

wayanlessy wrote on Nov 8
Uppps.....ya ampun..pas udah disubmit rupanya panjang ih komenku...
permisi ya mbak numpang menuh2in tempatmu mbak..

orangjava wrote on Nov 8
wayanlessy said
Uppps.....ya ampun..pas udah disubmit rupanya panjang ih komenku...
permisi ya mbak numpang menuh2in tempatmu mbak..
Hahaha, was soll das heissen bitte???

rembulanku wrote today at 1:09 AM
simboku dapat lumayan dari tetangga dan saudara
fiewh.... beberapa hari ini aroma gule bikin aku kliyengan..

meski bukan vegatarian tapi aku ogah nyentuh


afemaleguest wrote today at 1:28 PM
rembulanku said
simboku dapat lumayan dari tetangga dan saudara
fiewh.... beberapa hari ini aroma gule bikin aku kliyengan..

meski bukan vegatarian tapi aku ogah nyentuh

Lala,
kebetulan yg diantar ke rumah daging sapi, bukan kambing, jadi aku makan deh, and ga kliyengan, hihihihi

onit wrote today at 2:11 AM, edited today at 2:18 AM
afemaleguest said
Si tokoh yang 'cenayang' ini merasa sorot mata ketakutan itu 'tertransfer' kedalam dirinya, hingga dia bisa tahu persis ketakutan seperti apa yang dirasakan oleh para binatang itu.
jangankan cenayang. penelitian ilmiahnya udah ada kok. pada ayam pula. emang mereka itu ketakutan. dan cara mengurangi ketakutan si ayam adalah dgn membiusnya sblm disembelih. itulah pilihan negara2 barat (& negara maju lainnya). katanya: daging hewan yg stress efeknya gak bagus utk kesehatan.

dan lagi ada perdebatan antara org beragama dgn pengguna bius utk hewan sembelihan itu. menurut org beragama, doa (contoh: bismilah) udah cukup utk meringankan penderitaan hewan2 itu. sedangkan menurut pengguna bius, itu tetap kejam. walaupun masing2 pihak masih ngotot, ada yg ambil posisi tengah: dibius+didoakan.

onit wrote today at 2:15 AM
afemaleguest said
mosok binatang yang dibela hanya kambing dan sapi maupun kerbau? namun tetap saja  membunuh nyamuk, kecoa dan binatang-binatang kecil lain.
aku gak tega bunuh semut, laba2, dll tapi kok masih makan ikan (&kadang ayam) ya? :p

ps: kalo aku nyemprot obat nyamuk di kamar, itu salah si nyamuk masuk2 kamarku, bukan aku bunuh secara langsung huehehe

orangjava wrote today at 5:40 AM
onit said
aku gak tega bunuh semut, laba2, dll tapi kok masih makan ikan (&kadang ayam) ya? :p

ps: kalo aku nyemprot obat nyamuk di kamar, itu salah si nyamuk masuk2 kamarku, bukan aku bunuh secara langsung huehehe

Hati² dengan yang namanya *obat nyamuk* DDT itu racun dan juga buat Manusia....di Jerman (EU) dah lama dilarang!!

onit wrote today at 1:55 PM
orangjava said
Hati² dengan yang namanya *obat nyamuk* DDT itu racun dan juga buat Manusia....di Jerman (EU) dah lama dilarang!!
obat nyamuk jaman skrg byk yg ga pake ddt mbah :)
waktu awal 90-an ada merek yg ngeluarin tanpa ddt, dan itu yg lgsg dipilih oleh ortuku. skrg2 malah ortuku pake obat nyamuk elektrik yg cukup boros (pendingin ruangan = mengusir nyamuk wkwkwkwk).

afemaleguest wrote today at 3:23 PM
orangjava said
Hati² dengan yang namanya *obat nyamuk* DDT itu racun dan juga buat Manusia....di Jerman (EU) dah lama dilarang!!
Pak Dhe yang diinget obat nyamuk zaman kapan yaaaa ...
hihihihihihi ...

afemaleguest wrote today at 1:25 PM
Onit,
aku juga tidak pernah membunuh binatang-binatang kecil itu. khusus nyamuk aku terpaksa membunuhnya setelah dia menggigit dan menghisap darahku, salah sendiri ngusilin aku duluan, hehehehe

btw, aku pakai obat nyamuk elektrik, bukan yang semprotan. :-D

agamfat wrote today at 6:06 AM
Nyate domba, lebih empuk tanpa prengus. Vegetarian baik juga. Di Arab sana kan ternak cum ada domba, nggak ada sapi, ayam, dsb. Jadi itu mungkin juga mekanisme agar uang juga berputar ke peternak yg biasanya miskin.

afemaleguest wrote today at 1:31 PM
agamfat said
Nyate domba, lebih empuk tanpa prengus. Vegetarian baik juga. Di Arab sana kan ternak cum ada domba, nggak ada sapi, ayam, dsb. Jadi itu mungkin juga mekanisme agar uang juga berputar ke peternak yg biasanya miskin.

selalu ada bau bisnis ya Gam?
sama dengan penyelenggaraan "ibadah" haji, hehehehehe

rirhikyu wrote today at 8:53 AM
fiuhhh.. fiuhhh.. nyimak ae deh

afemaleguest wrote today at 1:32 PM
rirhikyu said
fiuhhh.. fiuhhh.. nyimak ae deh
monggo BuMil :-D

afemaleguest wrote today at 1:10 PM
Lessy dear,
the way your Mom convinced you was absolutely very impressive to the little Lessy ;-) and in my opinion until now you still believe in it, it must be because you always adore your Mom ;-)

on the contrary, my parents only taught me to sacrifice one goat on Idul Adha to follow Ibrahim's path. period. and the teaching that human beings are the best creation of God, higher than animals, surely made the little Nana not think from the animals' point of view. I was absolutely not critical when a little. and when I was about to criticize something, my parents as well as my teachers in primary school directly silenced me by saying, "I know better than you do because I am older."

and coincidentally, I read AKAR at the time when I had "converted" to be (candidate) agnostic, letting myself criticize any (religious) teachings I got when a kid.

thank you for sharing your impressive Mom's story. ^__^

afemaleguest wrote today at 1:20 PM
lovely to know that there has been a scientific research about it, Onit, thanks. ;-)

cara pembunuhan dengan pembiusan terlebih dahulu, ini juga termasuk salah satu topik yg dibahas di status beberapa teman. orang Indon yg merasa bahwa membaca basmalah saja dan penggunaan pisau tajam sudah cukup dan toh para binatang itu akan bahagia karena dikorbankan demi Sang Penciptanya (seperti Ismail yg konon lega lillahi taala) tentu menertawakan cara pembiusan binatang itu sebelum disembelih. "masak pemotongan hewan utk Idul Adha disamakan dengan pemotongan hewan yg akan dikonsumsi orang-orang kafir di Eropa?" kata salah satu dari mereka dengan nada sinis.

capek deeeehhhh
   

onit wrote today at 2:02 PM
afemaleguest said
"masak pemotongan hewan utk Idul Adha disamakan dengan pemotongan hewan yg akan dikonsumsi orang-orang kafir di Eropa?" kata salah satu dari mereka dengan nada sinis.

paling ga demen sama kalimat2 kayak gini bah! kalo mo disama2in mah apa2 bisa disamain :p "kang, ente makan daging kan tu orang kafir juga makan daging" huehehe.. sesama manusia kok sibuk mencari perbedaan. coba dibagi artikel ini aja deh http://pormadi.wordpress.com/2011/11/05/2181/

afemaleguest wrote today at 2:41 PM
Onit,
di salah satu milis yg kuikuti, kita sudah pernah membahasnya, thanks anyway for the link ^__^