From my post in this topic at Chinese foot-binding versus European corset wearing I got one very intriguing, though somewhat shocking link here
A Taiwanese doctor -- the so-called respected expert in foot-binding -- was interviewed about this in-fact-secretly-hidden fact in Chinese culture. He -- and perhaps also with many other contemporary men at his age or older -- found bound foot the most important sex appeal in women; even a lot more sexier than a woman's genital organ. He has thousand pictures and knick-knack of this stuff in his house. In short, he said that a woman's bound feet were so erotic that she would cover them in order that public would not be able to see them. A woman would even choose to be photographed naked but still wear her tiny feet. Men in his era would very much be aroused only to see a tiny shoe, and not so much when seeing naked breast or vagina.
For this reason then many mothers would rather make their daughters cry when binding their feet to get a lotus shape in order that they would not see their daughters cry in the future because they would not be wanted to be men's wives. As a result, since women could not do many household chores, men -- from not so rich families -- would work like slaves as long as they had wives with lotus-shaped feet.
For further reading, just click the link here .
GL7 15.18 030311
Kamis, Maret 03, 2011
Senin, Februari 28, 2011
Affection versus lust
“is affection the same as lust?”
Untuk menjawab pertanyaan di atas, aku bertanya kepada (hanya) dua orang perempuan – both are in their mid thirties and both failed in their first marriage – yang kebetulan tidak keberatan untuk share pengalamannya kepadaku.
Affection merupakan bagian dari ‘love’ alias cinta dimana mereka berdua memiliki pandangan yang begitu sakral terhadap cinta; cinta adalah segala hal yang indah, selalu saling mengerti antara mereka yang terlibat di dalamnya – between spouses, between parents and children and vice versa. Jika terjadi kesalahpahaman, maka cinta akan menjadi jembatan untuk kembali menjalin pengertian.
Komunikasi merupakan salah satu media yang dianggap paling tepat untuk menunjukkan afeksi ini. Sedangkan untuk body language, mereka menyebut memeluk dan mencium – ciuman yang tanpa dorongan ‘lust’ – untuk mengekspresikan afeksi mereka kepada (eks) pasangan maupun anak-anak.
‘Lust’ merupakan bagian dari seks dimana dalam kultur patriarki ini laki-lakilah pemegang kontrol utama. Meski ada ‘pemeo’ yang mengatakan “perempuan yang menjadi idaman laki-laki adalah perempuan yang membuat laki-laki bangga tatkala masyarakat memandang sang pasangan sebagai seseorang yang cantik jelita di ranah publik, seorang koki paling jempolan di dapur, dan bertindak ala pelacur kala di tempat tidur”, tetap saja yang didengung-dengungkan di kultur patriarki ini seks adalah sesuatu yang lebih mengacu kepada kaum yang memiliki penis. Perempuan harus menunggu isyarat dari kaum laki-laki kalau tidak ingin dianggap murahan. Jika laki-laki boleh berpoligami dan menunjukkan keperkasaannya di tempat tidur untuk ‘memuaskan’ semua istrinya, maka perempuan akan dianggap ‘bitch’ alias ‘slut’ jika melakukan hal yang sama karena sangat ‘tidak natural’.
Stereotype tentang pandangan akan seks ini masih saja sangat kuat di tengah masyarakat – mungkin terutama kepada kaum perempuan yang telah berusia in their mid thirties and above – sehingga mereka pun ‘dipaksa’ untuk memiliki kontrol diri akan seks yang sangat kuat. Barangkali akan berbeda jawaban yang kuterima jika yang kujadikan narasumber adalah mereka yang berusia di bawah mid thirties dan sejak kecil hidup di kota besar dimana mungkin dikotomi ranah publik versus ranah domestik tidak begitu besar, terlebih lagi jika mereka dibesarkan dalam sebuah keluarga dimana orangtua mereka tidak terlalu membedakan perlakuan terhadap anak laki-laki dan perempuan, juga mereka tidak menggap tabu untuk berbincang tentang seks kepada anak-anak mereka.
Maka bisa dipahami jika kedua perempuan ini beranggapan bahwa pengalaman seks yang mereka miliki dengan eks melulu berhubungan dengan lust – yang merupakan hawa nafsu yang sangat manusiawi untuk dimiliki baik laki-laki maupun perempuan yang konon merupakan ‘gift’ dari Tuhan – dan tidak tersangkut paut dengan affection yang selalu bermakna ‘saling mengerti’. Apalagi jika dihubungkan dengan ‘kenyataan’ bahwa sang eks – salah satu dari kedua perempuan itu – adalah seorang yang hyper. Sang mantan selalu menuntutnya siap untuk ‘bertempur’ di tempat tidur apa pun dan bagaimana pun kondisi sang istri. Maka sangat masuk akal jika lust – yang merupakan cikal bakal dari seks – berkonotasi sangat negatif bagi sang perempuan.
In short, dari uraian pendek dalam postingan ini, maka jawaban dari pertanyaan di atas – “is affection the same as lust?” – adalah TIDAK.
--------- ---------- ----------
P.S.:
1. jawaban bisa jadi akan sangat berbeda jika narasumber pun berbeda
2. I will be very happy if there is any woman who is willing to share her experience with me. Please send me any answer to my inbox. Thank you.
GL7 21.29 280211
P.S. (2):
- affection : a natural state of mind or body that is often associated with a feeling of love. It is popularly used to denote a feeling or type of love, amounting to more than goodwill or friendship.
- lust : is an emotional force that arises from the psychological action of thinking or fantasizing about sex.
Rabu, Februari 23, 2011
Love, lust, and sex
"Is love the same as sex?"
Pertanyaan di atas kulontarkan ketika di kelas "Religious Studies" kita mulai membahas tentang "beliefs about love and sex". Siswaku mengatakan cinta tidak sama dengan seks. Seks bisa dilakukan tanpa cinta, sedangkan cinta -- yang dimaknakan sebagai "a close attachment to another person" dalam modul yang kuambil dari Relationship -- sangat memungkinkan kedua belah pihak (atau mungkin juga lebih dari 'hanya' dua orang?) untuk melakukan seks -- yang dimaknakan dalam modul sebagai "sexual intercourse". Meski kata cinta sendiri bisa dikategorikan dalam beberapa hal, cinta orang tua kepada anak atau sebaliknya, cinta antarsaudara, kakak maupun adik, dan cinta antara boyfriend dan girlfriend atau pun suami dan istri. Dalam tulisan ini, kata cinta dimaknakan sebagai cinta sepasang kekasih (suami istri termasuk kategori ini).
Dalam kelima agama yang kita bahas – Christianity, Hindu, Islam, Judaism, dan Sikhism – tak satu pun agama yang membolehkan sepasang kekasih untuk melakukan sexual intercourse sebelum menikah.
Dalam Christian views, dikatakan “Christian teaching is generally that sexual intercourse is wrong unless it happens within a marriage. God intended men and women to live together as married couples but not to live together outside marriage. (“Flee from sexual immorality” => I Corinthians 6: 18-19)
Hindu views mengatakan “Sex is considered a good thing which is to be enjoyed as one of the duties of marrie life, ... self-control is an important aspect of Hindu teaching, so sexual intercourse has to take place between married couples only.”
Islam mengatakan “sexual intercourse is an act of worship that fulfills emotional and physical needs as well as being procreative. ... it is a gift from Allah and therefore can only take place within a married relationship."
Sementara itu, Jewish views percaya bahwa “sexual intercourse is a very important part of human relationships but only as part of marriage. ... the purpose for sex is not just to have children: it is also for married people to demonstrate their love for each other.”
Sejalan dengan empat agama di atas, Sikhism juga percaya bahwa “sex has to be limited to married couples and pre-marital (before marriage) or extra-marital (outside marriage) sex is forbidden.” Ini karena Sikh teaching mengedepankan “chastity” dan “cleanliness” maka segala sesuatu yang mungkin akan merusak tubuh harus dihindari.
LOVE versus SEX
“Will love always end up with sex?”
Meski pada awalnya my students mengatakan “not always” untuk menjawab pertanyaan di atas, akhirnya mereka toh mengakui bahwa sex adalah salah satu “tujuan” setelah mungkin bosan dengan hanya sekedar berbincang, saling bertatapan, memeluk, dan berciuman. Let’s say setelah berpacaran selama sekian tahun.
Beberapa alasan mengapa mereka lebih memilih menghindari seks:
2. Hamil outside the wedlock
Selain malu – karena judgment society yang hypocrite – juga kemungkinan pendidikan mereka akan terganggu. Lagi-lagi ambiguitas masyarakat yang menganggap siswa (perempuan) yang hamil di luar nikah harus dikeluarkan dari sekolah, sehingga mereka akan kesulitan untuk mengakses pendidikan.
Ketika membahas kemungkinan hamil outside the wedlock ini ada seorang siswa yang mengatakan “pakai pengaman dong”. Ini berarti sebenarnya hamil di luar menikah ini bisa diatasi dengan menggunakan pengaman, misalnya kondom.
3. Virginity
Tidak kusangka jika di abad ini masih ada sekelompok (atau mungkin masih banyak?) orang yang beranggapan bahwa virginity masih sangat penting bagi seorang perempuan yang harus mereka persembahkan kepada suami di malam pertama. Walhasil, mereka pun berusaha mati-matian untuk tidak melakukan sexual intercourse sebelum menikah.
4. Sexual disease
I am of opinion bahwa ini adalah alasan yang paling masuk akal sehingga sebaiknya sex outside the wedlock maupun extra-marital sex dihindari. Seperti untuk menghindari kehamilan, kondom masih bisa digunakan untuk ‘pengaman’ namun kenyataan bahwa keberhasilan pemakaian pengaman tidak selalu 100%, maka ... you can conclude it by yourself.
Dari keempat alasan ini, maka kesimpulan ada di nomor berikutnya:
5. High self-control
“I have high self-control not to be close to sex, Miss,” kata seorang siswa. Pertanyaan berikutnya adalah, “why self control?” maka paling tidak keempat alasan di ataslah jawabannya.
LUST
“Where does lust come from?”
Blue film adalah kambing hitam pertama yang disebut oleh siswaku. J Bahkan adegan ciuman di film “Beauty and the Beast” pun juga dijadikan salah satu pemicu ide untuk mencium sang pacar. Kita semua tentu mahfum jika ‘lust’ bisa berasal dari ciuman.
Yang mencengangkan masturbasi adalah jawaban kedua dari mana ‘lust’ comes from. I forgot to ask darimana mereka tahu istilah ‘masturbasi’ yang kemudian menjadi topik perbincangan dengan teman karena mereka curious what it is. Kalau tidak berbincang dengan teman, mereka mungkin akan googling to know what it is all about. (thank internet or curse it?) Setelah tahu, bisa jadi kemudian mereka curious atau tertarik untuk mempraktekkannya. Rasa nikmat dan puas yang mereka dapatkan akhirnya membuat mereka mengenal rasa ‘lusty’ karena ingin mendapatkan rasa nikmat dan puas itu lagi dan lagi.
AMONG ADULT PEOPLE
Note: ‘adult people’ di sini adalah orang-orang yang sudah (pernah) menikah atau orang yang sudah punya pengalaman having sex.
‘Love ‘ akan selalu bisa dipastikan akan end up dengan seks. Antara pasangan suami istri maupun sepasang kekasih, seks adalah satu cara untuk mengungkapkan rasa cinta mereka kepada pasangannya. Bagi pasangan ‘konvensional’ bisa jadi seks adalah cara untuk mendapatkan keturunan. Namun banyak juga di masa sekarang orang menganggap seks sebagai suatu entertainment for themselves.
“How do women’s views on sex differ from that of men’s?”
Many people take it for granted bahwa bagi perempuan seks adalah satu cara untuk mendapatkan ‘intimacy’ with their loved ones, maka kenikmatan seks – the big O – tidak begitu penting. Sedangkan untuk laki-laki berlaku sebaliknya. Namun ternyata di zaman yang lebih terbuka sekarang, banyak juga perempuan yang mengatakan bahwa the big O juga penting in their sex life. Dipercaya bahwa semakin sering perempuan mendapatkan orgasme dalam kehidupan mereka, akan semakin bahagia mereka, dan kebahagiaan itu akan mereka tebarkan untuk orang-orang yang berada di sekitar mereka.
Dan ada juga laki-laki yang lebih memilih intimacy ketimbang orgasme.
“Can lust come without love?”
Sangat bisa dan sangat manusiawi. Oleh karena itu sangat bisa dimaklumi jika mereka yang tidak memiliki steady partner – spouse or boyfriend or girlfriend – akan terlibat dengan one night stand ‘affair’. However, for this stuff, don’t relate it to the things I discussed with my students in Religious Studies class. Perhaps I will write further about this – or some other kinds of stuff – later on.
I am just out of the blue exhausted.
(excuse!)
PT28 18.11 230211
Pertanyaan di atas kulontarkan ketika di kelas "Religious Studies" kita mulai membahas tentang "beliefs about love and sex". Siswaku mengatakan cinta tidak sama dengan seks. Seks bisa dilakukan tanpa cinta, sedangkan cinta -- yang dimaknakan sebagai "a close attachment to another person" dalam modul yang kuambil dari Relationship -- sangat memungkinkan kedua belah pihak (atau mungkin juga lebih dari 'hanya' dua orang?) untuk melakukan seks -- yang dimaknakan dalam modul sebagai "sexual intercourse". Meski kata cinta sendiri bisa dikategorikan dalam beberapa hal, cinta orang tua kepada anak atau sebaliknya, cinta antarsaudara, kakak maupun adik, dan cinta antara boyfriend dan girlfriend atau pun suami dan istri. Dalam tulisan ini, kata cinta dimaknakan sebagai cinta sepasang kekasih (suami istri termasuk kategori ini).
Dalam kelima agama yang kita bahas – Christianity, Hindu, Islam, Judaism, dan Sikhism – tak satu pun agama yang membolehkan sepasang kekasih untuk melakukan sexual intercourse sebelum menikah.
Dalam Christian views, dikatakan “Christian teaching is generally that sexual intercourse is wrong unless it happens within a marriage. God intended men and women to live together as married couples but not to live together outside marriage. (“Flee from sexual immorality” => I Corinthians 6: 18-19)
Hindu views mengatakan “Sex is considered a good thing which is to be enjoyed as one of the duties of marrie life, ... self-control is an important aspect of Hindu teaching, so sexual intercourse has to take place between married couples only.”
Islam mengatakan “sexual intercourse is an act of worship that fulfills emotional and physical needs as well as being procreative. ... it is a gift from Allah and therefore can only take place within a married relationship."
Sementara itu, Jewish views percaya bahwa “sexual intercourse is a very important part of human relationships but only as part of marriage. ... the purpose for sex is not just to have children: it is also for married people to demonstrate their love for each other.”
Sejalan dengan empat agama di atas, Sikhism juga percaya bahwa “sex has to be limited to married couples and pre-marital (before marriage) or extra-marital (outside marriage) sex is forbidden.” Ini karena Sikh teaching mengedepankan “chastity” dan “cleanliness” maka segala sesuatu yang mungkin akan merusak tubuh harus dihindari.
LOVE versus SEX
“Will love always end up with sex?”
Meski pada awalnya my students mengatakan “not always” untuk menjawab pertanyaan di atas, akhirnya mereka toh mengakui bahwa sex adalah salah satu “tujuan” setelah mungkin bosan dengan hanya sekedar berbincang, saling bertatapan, memeluk, dan berciuman. Let’s say setelah berpacaran selama sekian tahun.
Beberapa alasan mengapa mereka lebih memilih menghindari seks:
- Takut dosa dan masuk neraka
2. Hamil outside the wedlock
Selain malu – karena judgment society yang hypocrite – juga kemungkinan pendidikan mereka akan terganggu. Lagi-lagi ambiguitas masyarakat yang menganggap siswa (perempuan) yang hamil di luar nikah harus dikeluarkan dari sekolah, sehingga mereka akan kesulitan untuk mengakses pendidikan.
Ketika membahas kemungkinan hamil outside the wedlock ini ada seorang siswa yang mengatakan “pakai pengaman dong”. Ini berarti sebenarnya hamil di luar menikah ini bisa diatasi dengan menggunakan pengaman, misalnya kondom.
3. Virginity
Tidak kusangka jika di abad ini masih ada sekelompok (atau mungkin masih banyak?) orang yang beranggapan bahwa virginity masih sangat penting bagi seorang perempuan yang harus mereka persembahkan kepada suami di malam pertama. Walhasil, mereka pun berusaha mati-matian untuk tidak melakukan sexual intercourse sebelum menikah.
4. Sexual disease
I am of opinion bahwa ini adalah alasan yang paling masuk akal sehingga sebaiknya sex outside the wedlock maupun extra-marital sex dihindari. Seperti untuk menghindari kehamilan, kondom masih bisa digunakan untuk ‘pengaman’ namun kenyataan bahwa keberhasilan pemakaian pengaman tidak selalu 100%, maka ... you can conclude it by yourself.
Dari keempat alasan ini, maka kesimpulan ada di nomor berikutnya:
5. High self-control
“I have high self-control not to be close to sex, Miss,” kata seorang siswa. Pertanyaan berikutnya adalah, “why self control?” maka paling tidak keempat alasan di ataslah jawabannya.
LUST
“Where does lust come from?”
Blue film adalah kambing hitam pertama yang disebut oleh siswaku. J Bahkan adegan ciuman di film “Beauty and the Beast” pun juga dijadikan salah satu pemicu ide untuk mencium sang pacar. Kita semua tentu mahfum jika ‘lust’ bisa berasal dari ciuman.
Yang mencengangkan masturbasi adalah jawaban kedua dari mana ‘lust’ comes from. I forgot to ask darimana mereka tahu istilah ‘masturbasi’ yang kemudian menjadi topik perbincangan dengan teman karena mereka curious what it is. Kalau tidak berbincang dengan teman, mereka mungkin akan googling to know what it is all about. (thank internet or curse it?) Setelah tahu, bisa jadi kemudian mereka curious atau tertarik untuk mempraktekkannya. Rasa nikmat dan puas yang mereka dapatkan akhirnya membuat mereka mengenal rasa ‘lusty’ karena ingin mendapatkan rasa nikmat dan puas itu lagi dan lagi.
AMONG ADULT PEOPLE
Note: ‘adult people’ di sini adalah orang-orang yang sudah (pernah) menikah atau orang yang sudah punya pengalaman having sex.
‘Love ‘ akan selalu bisa dipastikan akan end up dengan seks. Antara pasangan suami istri maupun sepasang kekasih, seks adalah satu cara untuk mengungkapkan rasa cinta mereka kepada pasangannya. Bagi pasangan ‘konvensional’ bisa jadi seks adalah cara untuk mendapatkan keturunan. Namun banyak juga di masa sekarang orang menganggap seks sebagai suatu entertainment for themselves.
“How do women’s views on sex differ from that of men’s?”
Many people take it for granted bahwa bagi perempuan seks adalah satu cara untuk mendapatkan ‘intimacy’ with their loved ones, maka kenikmatan seks – the big O – tidak begitu penting. Sedangkan untuk laki-laki berlaku sebaliknya. Namun ternyata di zaman yang lebih terbuka sekarang, banyak juga perempuan yang mengatakan bahwa the big O juga penting in their sex life. Dipercaya bahwa semakin sering perempuan mendapatkan orgasme dalam kehidupan mereka, akan semakin bahagia mereka, dan kebahagiaan itu akan mereka tebarkan untuk orang-orang yang berada di sekitar mereka.
Dan ada juga laki-laki yang lebih memilih intimacy ketimbang orgasme.
“Can lust come without love?”
Sangat bisa dan sangat manusiawi. Oleh karena itu sangat bisa dimaklumi jika mereka yang tidak memiliki steady partner – spouse or boyfriend or girlfriend – akan terlibat dengan one night stand ‘affair’. However, for this stuff, don’t relate it to the things I discussed with my students in Religious Studies class. Perhaps I will write further about this – or some other kinds of stuff – later on.
I am just out of the blue exhausted.
(excuse!)
PT28 18.11 230211
Rabu, Februari 16, 2011
Kronika Kronis Anakronisme Anarkis
Kronika Kronis Anakronisme Anarkis
Sekedar ingin berbagi tulisan seorang online buddy di lapak sebelah. Betapa telah terjadi kesalahkaprahan tentang pemahaman kata ANARKIS. :) Untuk postingan yang asli, klik saja tautan di atas.
Pak Beye,
Membicarakan Anarkisme tak sesederhana mengolah dan menikmati mi instan, namun begitu janganlah enggan mempelajarinya apabila Anda merasa turut berkepentingan membawa kronika Anarkisme ke tengah masyarakat. Setidak(-tidak)nya, bukalah Wikipedia dan rajin-rajinlah merunut labirinnya hingga kenal para bijak penggagas Anarkisme dan jalan anarki di dalamnya. Ini demi Anda agar tak ditertawai dunia tatkala tanpa angin dan badai menghendaki pembubaran organisasi massa yang bersikap anarkis (Kupang, Nusa Tenggara Timur, Rabu 9 Pebruari 2011). Sebab sekali lagi pak, Anarkisme bukanlah ideologi semacam mi instan rasa kepalsuan.
Demikian surat terbuka saya kepada Anda, semoga cukup mampu mengajak Anda kembali mempelajari ilmu-ilmu sosial dan filsafat. Namun saya menyilakan Anda apabila ingin terus membaca tulisan ini. Oh ya pak, saya menulis ini dengan semangat Anarkisme dan diiringi lagu valentine berirama punk. Semoga suka.
Anarkisme
Pengertian paling sederhana dari Anarkisme adalah sebuah paham anti pemerintahan, namun awam cenderung berhenti di sini, dan atau melanjutkan pemahaman mereka pada salah satu pilihan gerakan anarki yang menyatakan perjuangan dengan jalan kekerasan, perusakan, dan pembunuhan. Sebagaimana yang disampaikan Buenaventura Durruti Dumange (1896 - 1936), seorang tokoh utama dalam gerakan Anarkisme di Spanyol;
"Terkadang cinta hanya dapat berbicara melalui selongsong senapan".
Namun begitu, sesungguhnya Durruti hanya mengarahkan jalan kekerasan tersebut kepada negara dan Kapitalisme. Di beberapa bagian saya dapat menyepakati pemikiran Durruti dan memahami pilihan kekerasannya. Bukankah di sisi lain isu anti kekerasan juga dimanfaatkan penguasa untuk membatasi gerak para aktivis agar tak merusak hak milik mereka? Dipakai untuk memukul balik atas nama menjaga stabilitas? Dan memberi jarak aman antara penguasa dan yang dikuasai? Bagi saya kekerasan - ataupun penghujatan - yang ditujukan kepada kelompok yang lebih berkuasa adalah sikap perlawanan atau setidaknya upaya pembelaan, sedang kekerasan dan pelecehan penguasa kepada kaum lemah adalah bentuk sikap fasis. Kekerasan menemu nilai jihadnya ketika diarahkan untuk melawan penjajah Belanda oleh pejuang kemerdekaan, namun menemu nilai jahatnya ketika diarahkan untuk membunuh para Ahmadi oleh kaum Islam garis kekerasan. Kekerasan pejuang kemerdekaan adalah kekerasan yang diijinkan Anarkisme, sedang kuasa kekerasan kaum fundamentalis Islam kepada pihak yang lemah dalam kasus Ahmadiyah ditolak karena amat fasistik. Musuh utama Anarkisme adalah Fasisme, karenanya amatlah lucu - untuk tak menyebut "Dungu", membubarkan organisasi anarki karena perbuatan yang dilakukan oleh kaum fasis.
Anarkisme Durruti sejatinya bukan berarti melulu kesalahan, namun kekerasan kekerasan tetaplah bukan isu eksklusif bagi sebagian besar penganut Anarkisme dan berbagai variannya. Coba simak apa yang ditulis Alexander Berkman (1870 - 1936), seorang pemikir Anarkisme ternama asal Rusia;
"Anarkisme berarti bahwa Anda harus bebas. Bahwa tidak ada seorangpun boleh memperbudak Anda, menjadi majikan Anda, merampok Anda, ataupun memaksa Anda. Itu berarti bahwa Anda harus bebas untuk melakukan apa yang Anda mau, memiliki kesempatan untuk memilih jenis kehidupan yang Anda mau serta hidup di dalamnya tanpa ada yang mengganggu, memiliki persamaan hak, serta hidup dalam perdamaian dan harmoni seperti saudara. Berarti tidak boleh ada perang, kekerasan, monopoli, kemiskinan, penindasan, serta menikmati kesempatan hidup bersama-sama dalam kesetaraan"
Anakronisme
Tapi isu kebebasan, kebersamaan, dan kesetaraan dalam Anarkisme seperti ini tak mampu mengalahkan pamor kekerasan Anarkisme Durruti. Kata kunci 'Kekerasan' Durruti akhirnya menjadi bumerang dengan tenaga tambahan dari kaum kapitalis untuk menyerang Anarkisme. Sehingga wajah anarki dibuat luka menjelma seolah monster berbahaya bagi peradaban.
Wajah asli Anarkisme yang damai tiba-tiba sirna oleh anakronisme. Anakronisme adalah pemelintiran makna dan Anarkisme telah dipelintir 180 derajad. Ajaran Anarkisme Damai Pierre-Joseph Proudhon (1809 - 1865), seperti tak pernah ada, anjuran Mikhail Bakunin (1814 - 1876) atas penolakan eksploitasi seolah tak terdengar, gagasan akan kebebasan kemanusiaan dari Prince Peter Kropotkin (1842 - 1921) seakan sirna, pemikiran kesetaraan gender dari Emma Goldman (1869 - 1940) terabaikan, juga gerakan perlawanan melalui media oleh Errico Malatesta (1853 - 1932) terkalahkan oleh kisah kekerasan lapangannya, dan seterusnya. Anarkisme bukam sekadar hantu yang bergentayangan di langit Eropa, tapi mahluk luka yang merangsek ke segala penjuru dunia. Anarkisme adalah Zombie yang tak henti disambit dengan anakronisasi para musuh ideologisnya.
Di Indonesia Anarkisme disambut dengan baik karena memiliki banyak kesamaan dengan filosofi dan tradisi Nusantara. Sebutlah misalnya moto 'Do It Yourself (DIY)' kaum anarki untuk menolak bantuan penguasa sejalan dengan semangat 'Swadesi' juga 'Berdiri Di Atas Kaki Sendiri (Berdikari)', bentuk perlawanan 'Disobey' atau pembangkangan dapat disetarakan dengan aksi menolak bayar pajak oleh Kaum Samin pimpinan Suro Sentiko, semangat 'Kolektivo' tentu dapat disejajarkan dengan tradisi 'Gotong-royong', paham anarki dalam menjauhi teknologi perusak kemanusiaan yang penolakannya sudah lama dipraktikkan oleh Suku Badui, jalan damai anarki pun menemui padanan dengan 'Ahimsa', dan seterusnya. Maka tak pelak seorang Sukarno amat menyukai dan banyak terinspirasi semangat ini. Bersama tulisannya di Harian Pikiran Rakyat pada tahun 1923, Sukarno menyambut Anarkisme.
Namun bersama kekuasaannya, Orde Baru (Orba) menyambit Anarkisme. Sangat bisa dimaklumi karena Anarkisme adalah sistem sosial di wilayah kiri yang tegas berhadapan dengan tiga unsur utama pembangun Orba; Kapitalisme, Fasisme, dan Feodalisme. Tapi memang bagaimanapun ideologi tak pernah mati, terlebih ideologi yang tercipta dari semangat muda. Bara pembakar semangatnya bisa dari apa saja; musik, fesyen, bahasa, olah raga, seni rupa, dan seterusnya. Iming-iming bidadari surga tak ada dalam kamus bara bakar semangat mereka. Komunitas anarki ada di mana-mana di Nusantara. Saya membayangkan sebuah Anarchonesia.
Sampai waktunya tiba, revolusi ada di depan pintu istana dan mengetuknya dengan cinta.
Selasa, Februari 15, 2011
True Love for Women
So, how do you 'celebrate' your Valentine's Day this year?
There was an intriguing 'status' on FB from an online buddy yesterday: "Hey ladies, who is your true love? your hubby? kids? or ... those pretty shoes and bags?"
So, come on ladies! Instead of buying chocolates for your loved ones, buy your dream shoes and bags for yourself, since you deserve to be loved, by yourself!"
Hmmm ... I am wondering if there are women who don't like beautiful clothes, pretty shoes as well as attractive bags. I once did! Frankly speaking when the first time I got a job and felt like I could spoil myself with those 'women stuff', since I was (or I coveted to be included into) a 'fashionable woman'. LOL.
Until I realized that I did not need to always follow my greed, just to be "a real woman". LOL. Perhaps it was also triggered by the 'fact' (so I thought) that I had found my 'real identity'. If I am not mistaken it started in 2000. This (so-called) awareness was strengthened when I got to know feminism ideology in 2003.
So? No more buying clothes or shoes or bags if only to 'pile' them to adore their beauty. LOL. I have found my 'real passion' => books, feminism, and writing. I absolutely will buy new clothes or shoes or bags if I think I need new ones since the old ones are already worn out. LOL.
Meanwhile ...
In one mailing list I have joined for years I just found an ad about a new book published. The book compiles some writings about women and children. The main point of the book is to support women to love themselves just the way they are; no need to follow society's consensus about women -- such as women must wear beautiful dresses that will fit with their bags and shoes; women must have a so-called sexy body (which mostly means having tall and slim body with fair, spotless skin, long and straight hair) when they want to wear fashionable clothes. In addition, women must also have courage to say NO to their boyfriends/husbands when their partners want to have sex while women do not want to.
Well, if I can add, women also have rights to ask their boyfriends/husbands to have sex when they need it; women do not need to feel guilty when they want to spend their money on 'women stuff' and not labeled as 'victim' of capitalism as long as they are aware when doing that (too 'risky' eh, to use the word 'aware' here?) and not just follow the trend. Women also have right to spend their money to go to spas, beauty salon to make themselves feel beautiful for their own satisfaction, and not just to get appreciation from people around -- especially men -- since women do not need recognition from others only to feel beautiful. Women have right to wear any kind of clothes -- open/sexy or even covering all over -- and feel good for themselves.
etc.
And they are still 'true women', with any choice they make!
You can visit my other post about 'true women' here
Perempuan Sejati (in Bahasa Indonesia) or
True Women? (in English)
True love for women? Love yourself, folks!
PT56 14.06 150211
There was an intriguing 'status' on FB from an online buddy yesterday: "Hey ladies, who is your true love? your hubby? kids? or ... those pretty shoes and bags?"
So, come on ladies! Instead of buying chocolates for your loved ones, buy your dream shoes and bags for yourself, since you deserve to be loved, by yourself!"
Hmmm ... I am wondering if there are women who don't like beautiful clothes, pretty shoes as well as attractive bags. I once did! Frankly speaking when the first time I got a job and felt like I could spoil myself with those 'women stuff', since I was (or I coveted to be included into) a 'fashionable woman'. LOL.
Until I realized that I did not need to always follow my greed, just to be "a real woman". LOL. Perhaps it was also triggered by the 'fact' (so I thought) that I had found my 'real identity'. If I am not mistaken it started in 2000. This (so-called) awareness was strengthened when I got to know feminism ideology in 2003.
So? No more buying clothes or shoes or bags if only to 'pile' them to adore their beauty. LOL. I have found my 'real passion' => books, feminism, and writing. I absolutely will buy new clothes or shoes or bags if I think I need new ones since the old ones are already worn out. LOL.
Meanwhile ...
In one mailing list I have joined for years I just found an ad about a new book published. The book compiles some writings about women and children. The main point of the book is to support women to love themselves just the way they are; no need to follow society's consensus about women -- such as women must wear beautiful dresses that will fit with their bags and shoes; women must have a so-called sexy body (which mostly means having tall and slim body with fair, spotless skin, long and straight hair) when they want to wear fashionable clothes. In addition, women must also have courage to say NO to their boyfriends/husbands when their partners want to have sex while women do not want to.
Well, if I can add, women also have rights to ask their boyfriends/husbands to have sex when they need it; women do not need to feel guilty when they want to spend their money on 'women stuff' and not labeled as 'victim' of capitalism as long as they are aware when doing that (too 'risky' eh, to use the word 'aware' here?) and not just follow the trend. Women also have right to spend their money to go to spas, beauty salon to make themselves feel beautiful for their own satisfaction, and not just to get appreciation from people around -- especially men -- since women do not need recognition from others only to feel beautiful. Women have right to wear any kind of clothes -- open/sexy or even covering all over -- and feel good for themselves.
etc.
And they are still 'true women', with any choice they make!
You can visit my other post about 'true women' here
Perempuan Sejati (in Bahasa Indonesia) or
True Women? (in English)
True love for women? Love yourself, folks!
PT56 14.06 150211
Minggu, Februari 13, 2011
Foot-binding versus Corset Wearing
MISOGYNY
Kebencian kepada perempuan (‘misogyny’ adalah terma
yang biasa digunakan dalam Bahasa Inggris) telah berusia sangat tua, hingga
tidak akan begitu mudah untuk merunutnya kapan hal ini mulai terjadi.
‘Misogyny’ ini membentuk praktik dalam berbagai hal, seperti anggapan bahwa
tubuh perempuan penuh sihir hanya karena setiap bulan – secara misterius –
mengeluarkan darah; hal ini terjadi sebelum dunia kedokteran menghasilkan ‘ilmu
pengetahuan’ bagaimana organ-organ di dalam tubuh perempuan bekerja, bagaimana
“tiba-tiba” perut perempuan membesar, dan dalam hitungan bulan keluar makhluk
yang mirip manusia dari lubang yang terletak di antara kedua belah pahanya;
tidak heran jika terjadi hal-hal yang belum bisa dinalar oleh otak manusia
beberapa abad yang lalu, orang-orang yang berkuasa – dalam hal ini laki-laki –
akan dengan mudah menimpakan kesalahan pada perempuan yang dianggap telah
menggunakan kekuatan sihirnya. Eksekusi terhadap kaum perempuan karena dianggap
ahli sihir ini banyak terjadi di Eropa maupun Amerika di abad-abad
ketujuhbelas. Nathaniel Hawthorne mengisahkannya dengan secara tragis
namun sangat apik dalam novelnya yang berjudul “the Scarlet Letter”.
![]() |
| contoh gambar pelaksaan 'suttee' |
Contoh lain adalah praktik ‘suttee’ di India, dimana
seorang perempuan dianggap tak lagi layak hidup jika suaminya – sang tuannya –
telah meninggal dunia, maka dia pun harus ikut menceburkan diri ke dalam api
yang membakar jasad suaminya. Pelabelan ‘mad woman’ hanya karena seorang
perempuan tidak mengikuti konvensi masyarakat tentang perempuan baik-baik.
Mutilasi alat genital perempuan yang banyak terjadi di benua Afrika dan
beberapa negara Arab, hingga ‘foot-binding’ yang banyak dipraktekkan di China,
sampai pemakaian korset di Eropa yang menyebabkan tubuh perempuan bagian dalam
‘tumbuh’ tidak semestinya.
Tulisan ini khusus membahas dua praktik yang disebut di atas, Chinese foot-binding dan European corset wearing.
Tulisan ini khusus membahas dua praktik yang disebut di atas, Chinese foot-binding dan European corset wearing.
![]() |
| contoh 'hasil' praktik foot-binding' |
CHINESE FOOT-BINDING
‘Tradisi’ mengikat kaki perempuan di China ini terjadi dalam kurun waktu kurang lebih satu milenia, dari abad kesepuluh hingga abad keduapuluh. ‘Praktik ini mulai ditinggalkan sekitar tahun 1940. Praktik berawal dari harapan untuk menyamai kaki-kaki para selir raja yang memang sengaja dibentuk untuk menjadi sangat kecil. (Konon agar tidak bisa melarikan diri?) Para selir tentulah dianggap memiliki kecantikan yang di atas rata-rata, maka hal ini pun ‘mengilhami’ para orang kaya untuk melakukan hal yang sama.
Tatkala praktik ini dilakukan oleh para orang kaya, hal ini ‘digunakan’ untuk memamerkan pada khalayak bahwa sang suami adalah seseorang yang kaya raya hingga sang istri tidak perlu bekerja, pun juga melakukan pekerjaan rumah tangga karena dia hanya cukup memberi perintah kepada sang pelayan. Akan tetapi beberapa abad kemudian, praktik yang semula hanya dilakukan pada kaum elite, akhirnya menjalar juga ke kelas yang ada di bawahnya. Barangkali anggapan bahwa seorang laki-laki termasuk kelas ekonomi mapan telah melahirkan kelompok ‘baru’: laki-laki dari kelas ekonomi bawah pun menginginkan istri yang memiliki kaki yang sangat mungil. Dampaknya pun bisa diperkirakan, stereotyping ‘perempuan cantik dan seksi adalah perempuan yang kakinya berbentuk sangat mungil’ dan bakal dijadikan istri laki-laki kelas mapan pun telah membuat para perempuan tidak keberatan jika kakinya dibentuk sedemikian rupa hingga mereka kesulitan berjalan.
‘Tradisi’ mengikat kaki perempuan di China ini terjadi dalam kurun waktu kurang lebih satu milenia, dari abad kesepuluh hingga abad keduapuluh. ‘Praktik ini mulai ditinggalkan sekitar tahun 1940. Praktik berawal dari harapan untuk menyamai kaki-kaki para selir raja yang memang sengaja dibentuk untuk menjadi sangat kecil. (Konon agar tidak bisa melarikan diri?) Para selir tentulah dianggap memiliki kecantikan yang di atas rata-rata, maka hal ini pun ‘mengilhami’ para orang kaya untuk melakukan hal yang sama.
Tatkala praktik ini dilakukan oleh para orang kaya, hal ini ‘digunakan’ untuk memamerkan pada khalayak bahwa sang suami adalah seseorang yang kaya raya hingga sang istri tidak perlu bekerja, pun juga melakukan pekerjaan rumah tangga karena dia hanya cukup memberi perintah kepada sang pelayan. Akan tetapi beberapa abad kemudian, praktik yang semula hanya dilakukan pada kaum elite, akhirnya menjalar juga ke kelas yang ada di bawahnya. Barangkali anggapan bahwa seorang laki-laki termasuk kelas ekonomi mapan telah melahirkan kelompok ‘baru’: laki-laki dari kelas ekonomi bawah pun menginginkan istri yang memiliki kaki yang sangat mungil. Dampaknya pun bisa diperkirakan, stereotyping ‘perempuan cantik dan seksi adalah perempuan yang kakinya berbentuk sangat mungil’ dan bakal dijadikan istri laki-laki kelas mapan pun telah membuat para perempuan tidak keberatan jika kakinya dibentuk sedemikian rupa hingga mereka kesulitan berjalan.
![]() |
| contoh hasil pemakaian korset dalam waktu lama |
EUROPEAN CORSET WEARING
Kapan mulainya ‘tradisi’ pemakaian korset ini tidak merunut ke satu masa yang jelas. Meskipun begitu, satu sumber mengatakan bahwa korset pertama kali dikenakan oleh Catherine de Medici, istri raja Henry II di Perancis di tengah abad keenambelas. Pada awalnya korset (yang disebut ‘stays’ sebelum abad kesembilanbelas) dikenakan untuk menopang tubuh agar berbentuk silinder, meratakan perut dan mengangkat payudara. Akan tetapi memasuki era Victorian (awal abad kesembilanbelas) dimana domestikasi perempuan dilakukan dengan sangat rigid, dan mulai ‘disebarkan kepercayaan’ bahwa perempuan adalah ‘the weaker sex’ , pemakaian korset ini dipercaya untuk menopang tubuh perempuan karena perempuan adalah makhluk yang lemah hingga tak mampu menopang tubuh sendiri tanpa alat bantu.
Sama dengan fenomena ‘foot-binding’, pemakaian korset ini pun awalnya hanya ‘berlaku’ pada kaum kelas ekonomi tinggi, dimana seorang perempuan tidak perlu bekerja, di rumah pun dia hanya memberikan perintah kepada para pelayan. Ketika kaum perempuan dari kelas ekonomi bawah ‘ikut-ikutan’ mengenakan korset, mereka akan memilih korset yang tidak terlalu mengganggu gerak tubuh – dan juga pengambilan nafas – dan mengenakan pakaian yang tidak terlalu ribet.
Yang sangat mencengangkan adalah sebuah sumber mengatakan bahwa pemakaian korset memiliki nilai ‘moral’ yang cukup tinggi. Jika tali-tali yang terletak di bagian belakang korset diikat dengan sangat kencang, hal ini menunjukkan bahwa sang pemakai adalah seorang perempuan yang saleh, jika tali-talinya tidak begitu kencang, hal ini menunjukkan sang pemakai adalah seseorang yang tidak mampu menjaga moralnya dengan baik. Perempuan perlu mengenakan korset untuk melindungi diri dari laki-laki mata keranjang – bahkan juga dari godaan moralnya sendiri – karena pemakaian korset yang ketat tidak akan memudahkannya untuk melepas baju dan tergoda melakukan hal-hal yang ‘immorally wrong’.
Tidak jauh beda dengan satu peraturan di satu kota di Indonesia yang mengharuskan perempuan yang bekerja sebagai tukang pijat untuk mengenakan celana dalam yang bergembok. Perempuan selalu dituduh sebagai pihak yang akan menyebabkan hal-hal tidak senonoh sehingga perempuan harus dipenjarakan; entah di balik baju panjang dan jilbab, entah celana dalam bergembok, hingga hanya boleh beraktifitas di rumah saja, jika akan keluar rumah harus dengan muhrim, dll.
KESIMPULAN
Kebencian pada perempuan yang akut, namun terjadi dengan sangat ‘halus’ sehingga kaum perempuan sendiri tidak menyadarinya telah terjadi selama berabad-abad. Dua praktik yang disebutkan di atas memiliki persamaan: semula berlaku hanya pada kalangan ekonomi atas namun kemudian menjalar ke kalangan ekonomi bawah. Dalam praktek ‘foot-binding’ diciptakanlah ‘label’ bahwa perempuan akan dianggap ‘cantik’, dan ‘memiliki sex appeal yang tinggi’ (selain juga agar memiliki daya jual tinggi untuk diperistri) akan membuat kaum perempuan menginginkan memiliki kaki yang sangat kecil. Sedangkan dalam praktek ‘corset wearing’, perempuan ‘disihir’ untuk percaya bahwa tubuhnya akan terbentuk bagus, selain juga tubuh lemahnya butuh sokongan, hingga perlindungan diri dari godaan laki-laki mata keranjang, Perempuan menjadi korban sekaligus sebagai pelaku.
Nana Podungge
PT56 07.24 130211
Kapan mulainya ‘tradisi’ pemakaian korset ini tidak merunut ke satu masa yang jelas. Meskipun begitu, satu sumber mengatakan bahwa korset pertama kali dikenakan oleh Catherine de Medici, istri raja Henry II di Perancis di tengah abad keenambelas. Pada awalnya korset (yang disebut ‘stays’ sebelum abad kesembilanbelas) dikenakan untuk menopang tubuh agar berbentuk silinder, meratakan perut dan mengangkat payudara. Akan tetapi memasuki era Victorian (awal abad kesembilanbelas) dimana domestikasi perempuan dilakukan dengan sangat rigid, dan mulai ‘disebarkan kepercayaan’ bahwa perempuan adalah ‘the weaker sex’ , pemakaian korset ini dipercaya untuk menopang tubuh perempuan karena perempuan adalah makhluk yang lemah hingga tak mampu menopang tubuh sendiri tanpa alat bantu.
Sama dengan fenomena ‘foot-binding’, pemakaian korset ini pun awalnya hanya ‘berlaku’ pada kaum kelas ekonomi tinggi, dimana seorang perempuan tidak perlu bekerja, di rumah pun dia hanya memberikan perintah kepada para pelayan. Ketika kaum perempuan dari kelas ekonomi bawah ‘ikut-ikutan’ mengenakan korset, mereka akan memilih korset yang tidak terlalu mengganggu gerak tubuh – dan juga pengambilan nafas – dan mengenakan pakaian yang tidak terlalu ribet.
Yang sangat mencengangkan adalah sebuah sumber mengatakan bahwa pemakaian korset memiliki nilai ‘moral’ yang cukup tinggi. Jika tali-tali yang terletak di bagian belakang korset diikat dengan sangat kencang, hal ini menunjukkan bahwa sang pemakai adalah seorang perempuan yang saleh, jika tali-talinya tidak begitu kencang, hal ini menunjukkan sang pemakai adalah seseorang yang tidak mampu menjaga moralnya dengan baik. Perempuan perlu mengenakan korset untuk melindungi diri dari laki-laki mata keranjang – bahkan juga dari godaan moralnya sendiri – karena pemakaian korset yang ketat tidak akan memudahkannya untuk melepas baju dan tergoda melakukan hal-hal yang ‘immorally wrong’.
Tidak jauh beda dengan satu peraturan di satu kota di Indonesia yang mengharuskan perempuan yang bekerja sebagai tukang pijat untuk mengenakan celana dalam yang bergembok. Perempuan selalu dituduh sebagai pihak yang akan menyebabkan hal-hal tidak senonoh sehingga perempuan harus dipenjarakan; entah di balik baju panjang dan jilbab, entah celana dalam bergembok, hingga hanya boleh beraktifitas di rumah saja, jika akan keluar rumah harus dengan muhrim, dll.
KESIMPULAN
Kebencian pada perempuan yang akut, namun terjadi dengan sangat ‘halus’ sehingga kaum perempuan sendiri tidak menyadarinya telah terjadi selama berabad-abad. Dua praktik yang disebutkan di atas memiliki persamaan: semula berlaku hanya pada kalangan ekonomi atas namun kemudian menjalar ke kalangan ekonomi bawah. Dalam praktek ‘foot-binding’ diciptakanlah ‘label’ bahwa perempuan akan dianggap ‘cantik’, dan ‘memiliki sex appeal yang tinggi’ (selain juga agar memiliki daya jual tinggi untuk diperistri) akan membuat kaum perempuan menginginkan memiliki kaki yang sangat kecil. Sedangkan dalam praktek ‘corset wearing’, perempuan ‘disihir’ untuk percaya bahwa tubuhnya akan terbentuk bagus, selain juga tubuh lemahnya butuh sokongan, hingga perlindungan diri dari godaan laki-laki mata keranjang, Perempuan menjadi korban sekaligus sebagai pelaku.
Nana Podungge
PT56 07.24 130211
Kamis, Februari 10, 2011
Nonton Televisi
Aku ga ingat kapan terakhir dengan sengaja aku duduk di hadapan kotak (yang tak lagi) ajaib ini untuk menikmati sebuah tontonan. Kalau tidak salah mungkin satu hari pada bulan Agustus tahun 2007, acara final pemilihan Puteri Indonesia. Bukan karena apa-apa, melainkan karena salah satu finalisnya adalah my ex student. (You can click the link here Beauty Pageant)
Banyak alasan yang membuatku lebih memilih menghindari menonton televisi.
Pertama, pembodohan publik terhadap iklan-iklan yang ada. Apalagi iklan yang membodohi masyarakat dalam hal ‘peran’ perempuan (misal: istri yang bijak menggunakan produk bla bla bla), atau bagaimana tubuh perempuan dilecehkan (misal: beberapa tahun lalu ada iklan kopi susu, dimana ketika seseorang mengatakan “pas susunya”, yang muncul di layar adalah dada membusung seorang perempuan); juga iklan yang dimaksudkan untuk membentuk opini publik bahwa perempuan yang cantik itu yang begini begini begitu begitu. Hal ini akan sangat mempengaruhi perempuan yang kurang menerima keadaan fisik diri sendiri (not to mention myself as one victim LOL); mereka akan menyiksa diri agar tampil seperti bintang-bintang iklan yang dipakai oleh produk-produk tertentu tersebut.
Kedua, acara-acara keagamaan yang bagiku justru malah memecah prinsip “bhinneka tunggal ika”. Dan ‘membaca’ bagaimana para penceramah berkhutbah segala sesuatu yang berhubungan dengan keadaan kaum perempuan (misal mendukung poligami, atau memenjarakan tubuh perempuan di balik hijab) itu sangat bikin eneg. Belum lagi jika membahas segala sesuatu selalu dihubungkan dengan ayat-ayat kitab suci, yang bagiku justru berkesan betapa manusia seolah-olah tidak memiliki hati nurani untuk bisa memutuskan sendiri yang mana yang layak dilakukan dan yang mana yang sebaiknya atau seharusnya ditinggalkan, tanpa harus selalu ‘consult’ ke ayat-ayat kitab yang bagi para non-believer hanyalah buatan manusia saja (dalam hal ini hasil karangan mereka yang mengaku diri menjadi ‘nabi’.)
Ketiga, infotainment yang sering bikin muntah. Apa ya fungsinya ngobrak-ngabrik kehidupan para selebriti? Toh mereka juga manusia biasa? Apakah karena prinsip ekonomi “Ada permintaan maka ada barang”? Karena para penonton ingin tahu kisah para selebriti pujaan mereka maka infotainment itu dibuat? Banyak penonton bisa dipastikan banyak iklan yang masuk, sehingga ini berarti pemasukan? Padahal sekarang infotainment ini pun banyak dibuat tanpa cek dan recek pihak selebriti yang bersangkutan. Dan tatkala seorang selebriti ‘angkuh’ untuk diwawancarai (misal saja tatkala seorang Desi Ratnasari dulu sering menggunakan frasa “no comment” sebagai senjata), masyarakat infotainment akan berdalih, “sekali seseorang menjadi selebriti, dia tak lagi memiliki privasi pribadi, hidupnya menjadi milik masyarakat”, menurutku sangat keterlaluan. Orang tak lagi menghargai hak pribadi seseorang?
Keempat, sinetron yang sering dibuat-buat, serial yang begitu panjang sehingga membosankan. Mana akting para pesinetron pun hanya ala kadarnya. Bahkan para aktor yang pernah mendapatkan pujian di kala dulu pun sekarang ketika berakting di sinetron tak lagi menunjukkan kepiawaiannya berakting. Main di sinetron mana pun, penampilannya sama, gaya yang sama sehingga penonton tidak bisa membedakan kala dia berakting sebagai A maupun D di sinetron yang berbeda.
Kelima, acara berita yang analisisnya pun sengawur acara infotainment. “Look who is talking?” dan “Look who is producing the program” sangat pas dipertanyakan di tiap acara berita. Pembodohan masyarakat lagi.
Keenam, alasan yang sangat pribadi bagiku adalah, jika aku ingin menonton satu acara televisi, aku harus mau diatur oleh protokoler televisi. Misal, waktu luang yang kupunyai pada hari Minggu adalah jam 10 pagi menjelang siang. Namun ternyata acara yang ingin kutonton pada waktu itu tidak main di televisi. Tak jadi menontonlah aku ini.
By the way, speaking about commercial break (lihat alasan yang pertama di atas), kupikir dengan semakin meluasnya fenomena pria metroseksual, seharusnya sudah semakin banyak juga ya iklan-iklan produk yang menjadikan laki-laki sebagai objek? Aku ingat beberapa tahun lalu ada sebuah iklan – kalau tidak salah multivitamin penunjang vitalitas – dimana di situ terlihat seorang laki-laki ‘terpaksa’ mengkonsumsi multivitamin tersebut karena perempuan pasangannya ingin dipuaskan sekitar dua sampai tiga kali (entah dalam waktu satu hari, atau satu kali ‘main’? LOL.) Atau iklan parfum untuk laki-laki, dimana seorang laki-laki pengguna parfum itu menjadi babak belur karena aromanya sangat menarik dan menggoda perempuan untuk mengejarnya. Dengan disediakannya produk-produk tertentu untuk dikonsumsi kaum laki-laki, maka kaum berpenis ini pun telah dijadikan target market, yang berarti mereka juga telah dijadikan objek. Kaum laki-laki pun akan juga memiliki sifat konsumtif.
“Penyeimbangan negatif” kata Ayu Utami, dalam sebuah tulisannya yang mengemukakan perlunya laki-laki pun dijadikan objek seks. Dan televisi sebagai sebuah media yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat, baik kelas bawah, menengah, maupun atas, bisa menjadi wahana yang sangat baik untuk pembelajaran penyeimbangan negatif ini.
PT56 22.20 090211
Banyak alasan yang membuatku lebih memilih menghindari menonton televisi.
Pertama, pembodohan publik terhadap iklan-iklan yang ada. Apalagi iklan yang membodohi masyarakat dalam hal ‘peran’ perempuan (misal: istri yang bijak menggunakan produk bla bla bla), atau bagaimana tubuh perempuan dilecehkan (misal: beberapa tahun lalu ada iklan kopi susu, dimana ketika seseorang mengatakan “pas susunya”, yang muncul di layar adalah dada membusung seorang perempuan); juga iklan yang dimaksudkan untuk membentuk opini publik bahwa perempuan yang cantik itu yang begini begini begitu begitu. Hal ini akan sangat mempengaruhi perempuan yang kurang menerima keadaan fisik diri sendiri (not to mention myself as one victim LOL); mereka akan menyiksa diri agar tampil seperti bintang-bintang iklan yang dipakai oleh produk-produk tertentu tersebut.
Kedua, acara-acara keagamaan yang bagiku justru malah memecah prinsip “bhinneka tunggal ika”. Dan ‘membaca’ bagaimana para penceramah berkhutbah segala sesuatu yang berhubungan dengan keadaan kaum perempuan (misal mendukung poligami, atau memenjarakan tubuh perempuan di balik hijab) itu sangat bikin eneg. Belum lagi jika membahas segala sesuatu selalu dihubungkan dengan ayat-ayat kitab suci, yang bagiku justru berkesan betapa manusia seolah-olah tidak memiliki hati nurani untuk bisa memutuskan sendiri yang mana yang layak dilakukan dan yang mana yang sebaiknya atau seharusnya ditinggalkan, tanpa harus selalu ‘consult’ ke ayat-ayat kitab yang bagi para non-believer hanyalah buatan manusia saja (dalam hal ini hasil karangan mereka yang mengaku diri menjadi ‘nabi’.)
Ketiga, infotainment yang sering bikin muntah. Apa ya fungsinya ngobrak-ngabrik kehidupan para selebriti? Toh mereka juga manusia biasa? Apakah karena prinsip ekonomi “Ada permintaan maka ada barang”? Karena para penonton ingin tahu kisah para selebriti pujaan mereka maka infotainment itu dibuat? Banyak penonton bisa dipastikan banyak iklan yang masuk, sehingga ini berarti pemasukan? Padahal sekarang infotainment ini pun banyak dibuat tanpa cek dan recek pihak selebriti yang bersangkutan. Dan tatkala seorang selebriti ‘angkuh’ untuk diwawancarai (misal saja tatkala seorang Desi Ratnasari dulu sering menggunakan frasa “no comment” sebagai senjata), masyarakat infotainment akan berdalih, “sekali seseorang menjadi selebriti, dia tak lagi memiliki privasi pribadi, hidupnya menjadi milik masyarakat”, menurutku sangat keterlaluan. Orang tak lagi menghargai hak pribadi seseorang?
Keempat, sinetron yang sering dibuat-buat, serial yang begitu panjang sehingga membosankan. Mana akting para pesinetron pun hanya ala kadarnya. Bahkan para aktor yang pernah mendapatkan pujian di kala dulu pun sekarang ketika berakting di sinetron tak lagi menunjukkan kepiawaiannya berakting. Main di sinetron mana pun, penampilannya sama, gaya yang sama sehingga penonton tidak bisa membedakan kala dia berakting sebagai A maupun D di sinetron yang berbeda.
Kelima, acara berita yang analisisnya pun sengawur acara infotainment. “Look who is talking?” dan “Look who is producing the program” sangat pas dipertanyakan di tiap acara berita. Pembodohan masyarakat lagi.
Keenam, alasan yang sangat pribadi bagiku adalah, jika aku ingin menonton satu acara televisi, aku harus mau diatur oleh protokoler televisi. Misal, waktu luang yang kupunyai pada hari Minggu adalah jam 10 pagi menjelang siang. Namun ternyata acara yang ingin kutonton pada waktu itu tidak main di televisi. Tak jadi menontonlah aku ini.
By the way, speaking about commercial break (lihat alasan yang pertama di atas), kupikir dengan semakin meluasnya fenomena pria metroseksual, seharusnya sudah semakin banyak juga ya iklan-iklan produk yang menjadikan laki-laki sebagai objek? Aku ingat beberapa tahun lalu ada sebuah iklan – kalau tidak salah multivitamin penunjang vitalitas – dimana di situ terlihat seorang laki-laki ‘terpaksa’ mengkonsumsi multivitamin tersebut karena perempuan pasangannya ingin dipuaskan sekitar dua sampai tiga kali (entah dalam waktu satu hari, atau satu kali ‘main’? LOL.) Atau iklan parfum untuk laki-laki, dimana seorang laki-laki pengguna parfum itu menjadi babak belur karena aromanya sangat menarik dan menggoda perempuan untuk mengejarnya. Dengan disediakannya produk-produk tertentu untuk dikonsumsi kaum laki-laki, maka kaum berpenis ini pun telah dijadikan target market, yang berarti mereka juga telah dijadikan objek. Kaum laki-laki pun akan juga memiliki sifat konsumtif.
“Penyeimbangan negatif” kata Ayu Utami, dalam sebuah tulisannya yang mengemukakan perlunya laki-laki pun dijadikan objek seks. Dan televisi sebagai sebuah media yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat, baik kelas bawah, menengah, maupun atas, bisa menjadi wahana yang sangat baik untuk pembelajaran penyeimbangan negatif ini.
PT56 22.20 090211
Langganan:
Postingan (Atom)



