Rabu, Februari 09, 2011

Gender Voices 2

Post ini lanjutan dari post sebelum ini di Gender Voices.

Beberapa minggu lalu, dalam kesempatan yang sama -- English Conversation CLub -- aku memberi activity berupa mendengarkan lagu DON'T CRY JONI (atau kadang ditulis JOANNY), sebuah lagu lawas dimana liriknya merupa sebuah kisah tentang sepasang laki-laki perempuan yang tinggal di neigborhood yang sama. Berikut inilah lirik selengkapnya.


DON'T CRY JONI
by Conway Twitty

Woman- Jimmy please say you'll wait for me
I'll grow up someday you'll see
Saving all my kisses just for you
Signed with love forever true.

Man - Joni was the girl who lived next door
I've known her I guess ten years or more.
Joni wrote me a note one day.
And this is what she had to say.

Woman-Jimmy please say you'll wait for me
I'll grow up someday you'll see
Saving all my kisses just for you
Signed with love forever true.

Man- Slowly I read her note once more
Then I went over to the house next door
Her tear-drops fell like rain that day
When I told Joni what I had to say.

Man- Joni, Joni please don't cry
You'll forget me by and by
You're just fifteen and I'm twenty two,
and Joni I just can’t wait for you.

Man - Soon I left our little home town,
Got me a job and tried to settle down
But these words kept haunting my memory,
the words that Joni said to me.

Woman- Jimmy please say you'll wait for me
I'll grow up some day you'll see
Saving all my kisses just for you
Signed with love forever true.

Man - I packed my clothes and I caught a plane
and I had to see Joni. I had to explain,
how my heart was filled with her memory
and ask my Joni if she'd marry me

I ran all the way to the house next door
but things weren't like they were before
My tear-drops fell like rain that day
When I heard what Joni had to say.

Woman- Jimmy, Jimmy please don't cry
You'll forget me by and by.
It's been five years since you've been gone
Jimmy, I - (married) - your best friend John.

Sebagai activity, biasanya aku memperdengarkan lagu ini sampai di bait ketujuh, kemudian CD kumatikan. Activity berikutnya, aku minta para siswa untuk melanjutkan kisahnya, bisa dalam bentuk dialog, bisa juga hanya dalam bentuk prosa.

Berangkat dari kisah dalam lagu inilah, rekanku yang menceritakan kisah rada horror di post sebelum ini mengambil nama Joanny dan John sebagai suami istri.

Dari empat kelompok -- dua kelompok masing-masing terdiri dari 3 male students, dua kelompok lain masing-masing terdiri dari 4 female students -- menghasilkan kisah yang jelas berbeda. 'Uniknya' adalah kelompok laki-laki selalu memiliki imajinasi yang tak terduga dan somewhat complicated. Sedangkan kelompok perempuan mengisahkan imajinasi mereka yang tidak terlalu bertele-tele, sangat ordinary. Saking ordinary-nya aku sampai lupa.

Frankly speaking, aku tidak membuat catatan apa pun waktu mendengarkan my students telling their imaginary stories, so mohon dimaklumi kalau aku sudah lupa. (helloooo??? what have I consumed today? I became so forgetful! ) Yang aku ingat tentu yang paling remarkable, salah satu dari kelompok laki-laki.

Mereka mengatakan bahwa sebenarnya yang membunuh John adalah Joanny, sang istri sendiri. Hal ini dilatarbelakangi bahwa sebenarnya John adalah seorang homoseksual, sedangkan pasangan 'abadinya' adalah Jimmy. Mengetahui bahwa John dan Jimmy adalah sepasang kekasih, dan mereka diam-diam masih melanjutkan kisah kasih mereka, Joanny merasa terluka, terhina, dan tidak terima sehingga ingin melakukan pembalasan. (thriller movie banget yak? )

Tatkala mendengar shocking news dari radio, Joanny tahu bahwa sang maniac yang berhasil melarikan diri dari mental hospital itu adalah Jimmy. Mengetahui bahwa Jimmy 'lepas', seketika itu juga Joanny merencanakan pembunuhan kepada suaminya, dan menciptakan alibi bahwa yang membunuh John adalah Jimmy, sang maniac. Sakit hatinya terbalaskan, dan dia terbebas dari segala tuduhan.

The End.

Sebagai seseorang yang tidak begitu menyukai nonton film thriller -- mungkin juga ini yang 'menimpa' my female students yang hadir -- maka melanjutkan kisah horror ini menjadi semakin horror mungkin tak akan mampir ke imajinasiku.   Kisah akan berbeda (barangkali) jika dilanjutkan oleh para siswaku yang hobbynya nonton film thriller maupun horror.

PT56 14.25 060211

From "Globalization Era" to "comics"

Bermula dari obrolan tentang Globalization Era di kelas ‘citizenship’ di kelas 9 tadi pagi, aku dan anak-anak jadi berbincang tentang jenis-jenis komik yang bagiku sangat mencengangkan. NAH LO? Kok bisa?

Ceritanya begini. Ada dua pertanyaan dalam buku yang mengawali diskusi kita.

  1. An opinion says that modern people are people who follow the western lifestyle. Do you agree with this statement? Explain your answer.
  2. What would happen if a region or a country does not open up or work with other regions or countries?

Kita mulai mendaftar barang-barang yang bisa dikategorikan ‘modern’ yang tidak bisa kita (baca => my students) tinggalkan to survive: AC, komputer (berarti listrik), dan mobil karena lokasi rumah mereka lumayan jauh dari sekolah, ditambah lagi kenyataan bahwa Semarang terdiri dari high land dan low land. Sekolah berlokasi di tengah-tengah ‘bukit’, yang berarti tidak di low land namun tidak di ‘highest’ land.

Di tengah diskusi, tiba-tiba ada seorang siswa yang mengatakan, “it is okay for me not to have computer at home, Miss, as long as there is T***M** bookstore next to my home, so that I can read a lot of comics during my spare time.” (NOTE => dia bilang dia biasa menggunakan komputer untuk main game selain untuk mengerjakan tugas sekolah. Jika dia ngenet, pun yang dia lakukan juga kebanyakan download comics.)

Speaking about ‘comics’, aku jadi ingat komen yang kutulis di postingan seorang online buddy di lapak sebelah tentang komik dimana kemudian dia menyebut ‘hentai’. (I was in the dark about what it was when reading his reply. Angie yang kemudian memberitahuku what it was.) Maka, dengan hati-hati, aku bertanya kepada para siswaku, “Speaking about comics, have you ever heard ‘hentai’?”
You can guess, ternyata my students know about this stuff better than their teacher. LOL. (Maklum, semenjak menginjak bangku SMP, aku bukan lagi penikmat komik.) Malah dari mereka kemudian aku mendengar jenis-jenis (alias kategori-kategori) komik lain, seperti ‘ecchi’, ‘harem’, ‘mature’, ‘adult’. Dan aku pun bengong tatkala my students told me bahwa jenis-jenis komik yang berkategori ‘adult’ pun dijual bebas di toko buku, meski kata mereka kadang toko buku hanya ‘asal saja’ waktu membubuhkan tulisan “D” yang bermakna ‘dewasa’. Misal, satu kali seorang siswaku mengaku membeli sebuah komik yang ternyata ada kategori “D” di sampul, yang tidak dia lihat waktu membeli karena tulisan “D” tertutup label harga. Dia baru ‘ngeh’ setelah sampai rumah. Nevertheless, she didn’t find any ‘adult scenes’ di dalamnya, kecuali bahwa ada satu gambar salah satu karakternya terpotong tangannya. Ini berarti ada gambar yang menunjukkan ‘violence’.

Selain beberapa kategori yang kusebutkan di atas, ada juga jenis-jenis komik (buatan Jepang) yang berkisah tentang homoseksual – baik gay maupun lesbian. Yang menarik, masih kata siswaku juga nih, dan sampai sekarang aku belum ngecek di google, komik-komik yang berkisah tentang gay justru lebih banyak dikonsumsi oleh para remaja perempuan, sedangkan yang lesbian lebih menarik para remaja laki-laki.

This is really interesting for me, yang sama sekali ‘buta komik’. LOL.

“So, speaking about the impact of globalization era, do you think this comic thing gives us advantages or disadvantages?” tanyaku.

Dan, ini adalah pe-er yang harus dijawab oleh my students dalam bentuk uraian, lengkap dengan alasannya. :)

GL7 15.21 080211

P.S.: berikut adalah link ke tulisan seorang online buddy of mine di lapak sebelah, yang berkisah tentang komik.
 Membaca Komik

Sabtu, Februari 05, 2011

Gender Voices

Ini bukan tulisan yang membahas buku karya David Graddol & Joan Swann meski judulnya jelas kucopy dari buku mereka.

Tadi siang, dalam kesempatan 'English Conversation Club', seorang rekan kerja memberi activity 'jigsaw listening'. Dia ambil kisah yang bisa dikategorikan 'urban mystery' yang telah mengalami tell dan retell berpuluh-puluh kali hingga tidak jelas apakah itu benar adanya, atau hanya isapan jempol belaka. In short ceritanya begini:

A young married couple -- named John and Joanny -- went from Texas to Kansas by car. On the way, Joanny got bored since it was quite a long journey, and along the way, they didn't see anything but empty land. To overcome the boredom, Joanny listened to music from the car radio. After listening to some music, suddenly Joanny was schocked by news from the radio announcer. The announcer informed that there was a maniac who escaped from a mental hospital. Besides a maniac, he was also a cold-blooded killer who had killed 6 people sadistically. To end the shocking news, the announcer said that everybody had better beware, stay inside the house, locked the door and windows properly, and not roam around the streets.

Joanny suddenly got panic. Kansas was still long way to go. Moreover, suddenly the weather changed. It rained very heavily. The sky got darker. Until suddenly, the car broke down. John tried calming his wife, but Joanny still felt very restless. Then John offered Joanny to run, to look for a house to ask for help. But Joanny could not run because she was wearing a beautiful dress and high-heeled shoes (mekso banget yak? LOL) So John asked her to stay in the car, while John himself was looking for some help. Joanny had to stay in the car with all doors locked. She had to cover up herself with blanket so that no one could know that there was someone inside the car. She was not to open the doors of the car but only when John was back. He would knock on the window three times.

In the middle of the night, Joanny heard knock on the roof of the car: one ... two ... three ... the knock didn't stop. Someone outside the car didn't stop knocking; therefore, Joanny didn't open the door.

After morning came, Joanny suddenly heard the sound of a police car's siren wailing; it stopped not far from her car. Then, she heard a police officer said, with a loud speaker, "Joanny, you are safe now. Please go out of the car slowly. Walk to us, but don't turn your head back."

Joanny agreed. She went out of the car, walked towards the police officers waiting. However, she was really curious why she had better not look back. Out of big curiosity, Joanny looked back. And ... there ... on the car, she saw John's body was hanging under a tree. He was dead.

Pertama, jumlah siswa yang ada dibagi menjadi dua kelompok. Cerita di atas dibagi menjadi dua bagian. Kelompok pertama mendapat bagian pertama, kelompok kedua mendapat bagian kedua. Kemudian, mereka harus saling cerita bagian masing-masing agar mendapat cerita yang utuh.

Dikarenakan waktu masih panjang, maka kita memberi activity selanjutnya. We asked the students to continue the story, dengan menjawab pertanyaan:
1. who killed John?
2. why was he killed?
3. what was the relationship between John's death and the maniac?

Kita membagi siswa menjadi empat kelompok, Dengan sengaja aku membagi kelompok berbeda jenis kelamin: dua kelompok terdiri dari laki-laki, dua kelompok lain terdiri dari perempuan. Mengapa begini? Aku yakin dengan cara berpkir yang berbeda, mereka akan berimajinasi kisah yang berbeda pula.

Dan, begitulah. Kisah yang dihasilkan sangat berbeda. 'Gender voices' nampak jelas di sini.

Namun berhubung aku sudah ngantuk berat, aku belum bisa berbagi kisahnya di sini. Hmmm ... and besok bakal ada bazaar di depan rumah, yang pasti aku bakal ikutan sibuk. Setelah itu ... lupa dah!!!

PT56 22.57 050211

Selasa, Januari 18, 2011

Membesarkan Anak

Membaca artikel di 80.Persen.Anak.Indonesia.Berpikiran.Negatif mengingatkanku pada sebuah kasus yang menurutku tergolong tidak biasa di sekolahku saat ini. Seorang siswa perempuan (sekarang kelas 8) sangat enggan berangkat ke sekolah dengan alasan dia merasa tidak diinginkan, kurang didengarkan oleh teman-temannya maupun oleh gurunya. Sebut saja namanya 'NV'.

Sedikit bbackground, waktu duduk di bangku SD, NV pernah bersekolah di sekolah tempatku bekerja sekarang -- yang nota bene berarti tempat dimana dia bersekolah sekarang -- namun kemudian pindah ke sekolah lain ketika seorang teman dekatnya pindah ke sekolah lain. Dia merasa tidak bersemangat berangkat ke sekolah jika teman dekatnya itu tidak bersekolah di sekolah yang sama dengannya. Dan ternyata kejadian ini berulang beberapa kali, pindah ke sekolah satu, kemudian pindah ke sekolah lain, hingga akhirnya NV kembali ke sekolah lamanya, dengan alasan teman dekatnya itu pindah keluar kota.


Background lain, NV adalah anak bungsu dari dua bersaudara; kakaknya juga perempuan. 'Kebetulan' si kakak termasuk tipe siswa yang serius, rajin, dan cerdas.

Sering aku dengar 'kasus' anak kedua (atau pun ketiga dst) yang merasa terbebani ketika memiliki kakak yang di mata keluarga maupun lingkungannya cerdas. Anggota keluarga lain (om, tante, kakek, nenek, sepupu, dll) atau pun lingkungan akan dengan mudah bertanya, tanpa memandang kondisi psikologis si anak, "Kok kamu tidak secerdas kakakmu?" Hal ini sering melukai si adik yang merasa tidak secemerlang sang kakak. Dalam tingkatan tertentu, bisa jadi hal ini akan menyebabkan iri hati yang tidak sehat antara adik kakak.

Menurutku di sini peran serta orang tua sangat dibutuhkan agar kecemburuan antar adik kakak tidak berkelanjutan. Bisa diberikan penjelasan bahwa intelligence pun meliputi berbagai jenis; misal linguistic intelligence, technical intelligence, visual intelligence, interpersonal intelligence, intra-personal intelligence, artistic intelligence, dll. Ditambah lagi perlakuan kepada anak yang harus tetap seimbang atau pun sama, tidak play favorite.

Kembali ke kasus NV. Sang kakak bercerita dia sudah harus sering mengalah kepada adiknya. Misal: membantu adiknya mengerjakan pe-er meski dia sendiri memiliki pe-er, namun dia harus lebih menomorsatukan adiknya. Dulu, sebelum NV kembali bersekolah di sekolah yang sekarang, dia selalu meminta sopir mengantarnya ke sekolahnya terlebih dahulu, yang padahal letaknya lebih jauh, sehingga sang kakak sering terlambat datang ke sekolah. Sekarang, mereka berdua bersekolah di sekolah yang sama, sering teman-teman sekelas NV melihat sang kakak membawakan buku-buku maupun bekal makan siang NV, sementara NV berjalan melenggang.

Kesimpulan (sementara) yang bisa kita ambil adalah perlakuan orang tua yang memanjakan NV telah 'makan korban'. Analisis yang kutulis di atas -- sang adik merasa terbebani oleh bayang-bayang sang kakak yang cerdas -- mungkin juga memiliki peran semakin memperburuk suasana.

Sementara itu, mengingat jumlah siswa di kelas NV yang terbatas -- hanya lima anak satu kelas -- alasan NV sering enggan berangkat sekolah karena teman-teman maupun guru-gurunya tidak memperhatikan maupun mendengarkan apa yang dia inginkan terdengar terlalu berlebihan. Hal ini bisa saja terjadi jika di kelasnya terdapat banyak siswa, misal lebih dari 15 anak.

Tadi pagi tiba-tiba NV masuk sekolah setelah membolos sejak masuk semester ini, 10 Januari 2011. Namun ternyata ada beberapa 'perjanjian' yang dibuat oleh sekolah dengan NV; misal, tidak boleh terlalu banyak pe-er, apa pun yang dia inginkan, semua harus mengiyakan, (belum jelas dalam bentuk apa), guru tidak boleh menegurnya di depan teman-temannya jika dia melakukan kesalahan, boleh datang terlambat ke sekolah, dan pulang setelah istirahat makan siang.

Sang wali kelas merasa khawatir jika 'perlakuan khusus' ini akan membuat teman-teman sekelas NV iri. Mengenal karakter teman-teman sekelas NV dengan baik, aku merasa kekhawatiran ini tidak akan terjadi, asal kita bisa berbicara baik-baik kepada mereka. Misal: NV sendiri yang akan rugi jika dia datang terlambat ke sekolah atau pun pulang terlebih dahulu; dia juga akan rugi jika tidak bersedia mengerjakan pe-er yang tentu para guru memiliki tujuan mengapa memberi pe-er. Satu hal yang pasti: sang orang tua telah berhasil 'disetir' oleh NV untuk membuat perjanjian seperti itu dengan pihak sekolah. Pihak orang tua merasa tidak punya pilihan lain selain setuju dengan permintaan NV karena, no matter what, masih lebih lumayan NV mau berangkat sekolah, dibandingkan benar-benar mogok sekolah. Pihak sekolah pun tidak memiliki pilihan lain selain setuju karena tidak mau kehilangan siswa. (?)

PT56 23.23 18.01.11

Jumat, Januari 14, 2011

Pelajaran Agama

Tulisan ini 'ter-trigger' oleh sebuah artikel di Jam Pelajaran Agama Supaya Ditambah.

Kebetulan tahun ajaran ini aku mendapat kepercayaan untuk mengampu mata pelajaran "Religious Studies" di kelas 11. (Aku menulis beberapa postingan di A Feminist Blog dalam English). Mengingat sekolah tempatku bekerja adalah sekolah internasional (bukan "SBI" yang singkatan Sekolah Berstandar Internasional) maka materinya pun berbeda dengan sekolah nasional. Untuk ini, aku diminta untuk mengunduh materi dari BBC ~ schools yang menyediakan lima macam agama untuk didiskusikan di kelas; yakni Christianity, Hindu, Islam, Judaism, dan Sikhism. Satu minggu, aku mendapatkan jatah 2 slot (2 x 45 menit).

Dari kelima siswa yang ada, mereka semua mendapatkan pelajaran agama Kristen di awal usia mereka dari orang tua masing-masing. Namun ada satu dari mereka yang kemudian mengaku menjadi 'agnostic'. Aku sendiri berlatar belakang dari agama Islam.

Yang biasa terjadi di kelas adalah diskusi yang lumayan menyenangkan, sharing pengalaman pribadi masing-masing selain juga pemahaman agama yang mereka yakini. Karena kebetulan kita berenam (5 siswa plus 1 guru, aku) hanya berasal dari dua jenis agama, kita biasa menghabiskan banyak waktu tatkala diskusi tentang agama Kristen dan Islam. Sedangkan di tiga agama yang lain, kita hanya membahas apa yang tertulis di modul. Bagiku pribadi sangat menarik tatkala membahas beberapa hal dalam agama Islam dengan berangkat dari apa yang tertulis di modul, karena tidak selalu aku setuju. Satu hal yang bisa menambah wawasanku adalah bagaimana memahami orang-orang BBC meramu materinya untuk kemudian menerbitkannya di website yang kusebut di atas. Aku yakin mereka yang menulis materi memiliki pengalaman beragama yang berbeda dari para guruku waktu duduk di bangku madrasah ibtidaiyah (setingkat SD) atau pun orang tuaku, meski mungkin saja mereka beragama Islam.

Menggunakan aksioma 'tak kenal maka tak sayang' aku bisa mengatakan bahwa satu hal yang sangat kurasakan bermanfaat dari pengalaman mengampu lima jenis agama yang berbeda adalah meningkatkan rasa toleransi. Tentu saja kuharapkan siswa-siswiku juga mendapatkan hikmah yang sama. Hal ini mengingat 'perkembangan' (atau penurunan) toleransi keagamaan di Indonesia yang sangat menyedihkan tahun-tahun belakangan ini.

Meletakkan seluruh beban 'membentuk karakter' siswa kepada guru agama di sekolah tentulah tidak bijaksana, karena sebenarnya yang paling berpengaruh membentuk karakter seorang anak adalah orang tua. Sedangkan jika membincang tentang 'kualitas guru yang berkualitas dari sisi keilmuan dan keteladanan', aku rasa akan menjadi sangat baik lagi jika aparat pemerintah dan pemuka agama pun turut berperan serta.

Nana Podungge
PT56 22.35 14.01.11

Selasa, Januari 04, 2011

Pe Em Es

Coba bayangkan jika anda tinggal di sebuah keluarga yang mayoritas anggotanya berjenis kelamin perempuan dan mereka semua mengalami PMS bersamaan. Riuh rendah kacau balau! Ditambah lagi jikalau mereka tidak menyadari bahwa mereka -- atau anggota keluarga yang lain -- juga sedang PMS dan maunya uring-uringan melulu.


Bahwa perempuan dikodratkan mendapatkan menstruasi pada usia tertentu hingga usia tertentu ini membuat kita mahfum bahwa tubuh perempuan berbeda dengan tubuh laki-laki. Perubahan hormon yang terjadi setiap bulan menjelang mendapatkan menstruasi inilah yang sering menjadi kambing hitam keuring-uringan kaum perempuan. Perubahan hormon ini membuat emosi perempuan mudah turun naik; hal-hal sepele yang pada minggu-minggu di luar PMS tidak akan berpengaruh apa-apa, pada saat PMS akan gampang meledakkan emosi. Selain itu, sebagian perempuan juga menjadi mudah sentimentil, menangis karena kejadian-kejadian yang mungkin hanya 'begitu-begitu saja'; misal: nonton film, atau di traffic light ada seorang anak kecil nampak memelas berjualan koran, dlsb.

Selain mudah tersulut emosi -- marah maupun menangis -- sebagian perempuan juga menjadi passionate. Hubungannya bagaimana, tanyalah kepada dokter atau ahli organ dalam tubuh perempuan. LOL.

Pada komen di sebuah status seorang online buddy di FB -- yang kebetulan adalah my ex student -- aku menulis 'fungsi hadirnya' seseorang yang (konon) mencintai dan memaksa kita menerima cintanya (karena konon hanya dia yang bisa membuat kita bahagia) adalah menjadi 'boxing sack' waktu kita PMS; LOL, bukan secara fisik, melainkan secara psikologis. Waktu kita maunya uring-uringan melulu, orang itu muncul di hadapan, maka ... manfaatkanlah ia untuk menjadi tempat kita ngomel ngalor ngidul. LOL.

Selalu aku usahakan agar bukan orang-orang terdekatku yang menjadi 'boxing sack'. Kalau pun 'terpaksanya' aku sempet uring-uringan ke Angie -- yang amat sangat jarang terjadi, boleh langsung nanya ke yang bersangkutan kalau ga percaya LOL -- aku akan langsung berkata, "Mama lagi PMS kali ya Yang? Kok maunya marah-marah mulu!"

Bagaimana kalau ga punya seseorang -- yang bukan anggota keluarga -- untuk dijadikan 'boxing sack', lalu bagaimana dong? Apalagi jika kita hidup di sebuah keluarga yang anggotanya sebagian besar perempuan, yang kadang PMS bareng-bareng, dan sialnya, kita sendiri ga nyadar kalau sedang PMS? Saling uring-uringan satu sama lain? Ga kebayang kacau balaunya deh.

Hmmm ... barangkali ini ya salah satu fungsi kehadiran laki-laki dalam sebuah komunitas? LOL.

PT56 20.18 04.1.11

Minggu, Januari 02, 2011

Jumat 24 Desember 2010 & Agama versus Golongan Darah

Depresi karena tugas kantor yang bejibun pada libur akhir tahun ~ bayangkan saja, membuat program plan 10 buah, plus lesson plannya, 10 mata pelajaran yang berbeda pula, dan harus diselesaikan dalam waktu kurang lebih 2 minggu ~ pada hari Jumat 24 Desember 2010 aku online di YM. (Background: aku amat sangat jarang online di YM, kalaupun online, aku lebih suka memilih 'invisible mode' agar ga kebanjiran disapa orang. *sok ngetop lah yaw*)

Ada dua orang yang menyapaku yang menarik untuk kutulis di sini. Keduanya berjenis kelamin laki-laki. Kuberi saja inisial A, dan B.

A menyapa sekitar pukul 10.30. Setelah berbasa-basi ini itu, itu ini, dia akhirnya izin offline karena akan mempersiapkan diri ke masjid untuk shalat Jumat.

B menyapaku sekitar pukul 11..30. Tak lama kemudian setelah berbasa-basi, aku bertanya kepadanya, "Mau siap-siap berangkat shalat Jumat kah?"

Dia jawab pendek, "Sudah pernah..."

wakakakakakakakakakaka ...

Dan akhirnya kita pun ngobrol ngalor ngidul mengenai sekulerisme, relijiusitas, dan lain sebagainya itu. Dan berhubung online buddy-ku satu ini narsis dengan tulisan-tulisannya (lol) dia pun promosi beberapa tulisannya kepadaku lewat link-link yang dia sertakan. (dia ngeblog di Multiply) Tulisan-tulisannya yang berbau sekularis pluralis ...

Setelah merasa cukup berbincang-bincang, kita off.

Beberapa saat kemudian, aku disapa A di chatbox di FB. Aku bertanya, "bagaimana shalat Jumatnya tadi?"

A menjawab, "Sangat mencerahkan, seperti kalau aku habis membaca tulisan-tulisan Ms. Nana."

NAH LO? aku selalu merasa tulisan ~ atau ceramah ~ yang mencerahkan tuh yang sejenis tulisan-tulisan B, tentang sekulerisme. Lah kalau khutbah Jumat? :-P

By the way busway, udah lama ga nulis buat blog, aku menulis ini untuk sekedar yahh ... ngeluarin sampah-sampah di otak. LOL.

PT56 14.33 02.1.111

--------- --------- --------- ---------


Tulisan lama, hasil obrolan dengan online buddy -- B -- yang kusebut di tulisan sebelum ini. Kucoba cari di blog engga ada, ah, ternyata aku ga sempat bikin 'back-up'nya di blog, untunglah, aku ingat kalau tulisanku yang ini pernah dimuat di http://superkoran.info/ Aku cari disana, ketemu dah.

So? kupost di sini lagi deh. :)

http://www.apakabar.ws/content/view/3027/88888889/

Berikut ini aku akan menulis sedikit perbincangan dengan seorang online buddy di MP, orang yang sama yang mengatakan “Pasal berapa di UUD 1945 yang menyatakan bahwa warga negara wajib memilih satu agama? Dasar negara kita kan “hanya” berketuhanan yang maha esa. Itu saja. Kalau warga negara merasa diwajibkan memilih satu agama, itu berarti negara telah melakukan tindak kekerasan.”

Dari beberapa postingan di blognya yang kubaca, aku bisa menyimpulkan bahwa dia telah mempelajari beberapa “kitab suci”, Alquran, Injil, dan mungkin Weda, plus yang lain lagi, hanya saja aku lupa. Tatkala obrolan kita sampai yang kutulis di atas, dia pun lantas bercerita pengalamannya ketika dia ditawari untuk bergabung dengan sebuah komunitas motor antik.


Berhubung dia cinta naik motor antik, dia pun ditawari oleh temannya untuk bergabung dengan MACI.

“Tapi aku ga jadi gabung Jeng karena ada kolom yang menurutku ga selayaknya ada di formulir pendaftaran itu,” katanya.

Karena penasaran, maka aku pun bertanya, “Hmm ... boleh aku tahu apa itu Kang?”

Dengan lugas dia menjawab, “Agama.”

Kontan tertawaku meledak. Nampaknya ‘agama’ adalah satu hal yang sangat sensitif baginya.


Dengan reflek, aku bertanya, “Memang agamamu apa sih Kang, kalo aku boleh tahu?”

“Tuh kan, Jeng Nana sudah mulai memasuki ranah pribadiku dengan bertanya hal itu.” Jawabnya ngeles. LOL.

“Oooops sorry!” kataku langsung.

Kemudian dia lanjutkan komplainnya, “Satu hal yang sangat penting diketahui malah justru tidak ada dalam formulir pendaftaran itu.”

“Apaan tuh Kang?” tanyaku penasaran.

“Golongan darah ...” jawabnya.


“Mengapa bagimu itu penting Kang?” tanyaku (sok) lugu.

Sayangnya saat itu koneksi internet sedang lelet, sehingga komunikasi agak tersendat. Namun otakku langsung bekerja dan menemukan jawabannya.

“Karena kegiatan MACI berkaitan erat dengan menaiki motor antik mutar-mutar kesana kemari, maka kecelakaan adalah satu hal yang sangat rentan terjadi?” tanyaku padanya.

“THAT’S IT, Jeng Nana sudah tahu jawabannya. Jika terjadi kecelakaan, terus kita bawa sang korban ke rumah sakit, apakah dokter/suster akan bertanya, “agamanya apa?” atau “golongan darahnya apa?”

Sayangnya setelah itu dia menghilang, mungkin akses internetnya benar-benar lelet. Atau punyaku yang lelet ya? LOL. Kita tidak melanjutkan obrolan menarik ini, sampai sekarang. LOL.

--------- ---------- --------- ----------

Waduuuuhhh??? ternyata obrolan belum selesai toh waktu itu? yahhh ... tahu gitu kemarin hari Jumat tak lanjutin ya? hehehehehe ...

PT56 15.11 02.1.11