Selasa, April 13, 2010

Rasisme


Tulisan ini merupakan komentar tulisan Habe yang berjudul RASISME 180 derajat di http://www.apakabar.ws/content/view/3093/88888889/

Tulisan "TERIMA KOST PUTRI (MUSLIMAH)" sebagai dasar penulisan artikel Habe tersebut tentu saja tidak hanya bisa ditemukan di kota Bandung. Ketika aku kuliah di American Studies UGM tahun 2002-2005 pun aku banyak menemukan kasus atau pun tulisan seperti itu. Bahkan yang lebih parah lagi, aku pernah menemukan tulisan MENERIMA KOS PUTRI MUSLIMAH KHUSUS YANG MENGENAKAN JILBAB.

Sebagai catatan, kasus ini tidak pernah kutemukan di Jogja tatkala aku masih kuliah S1 di Sastra Inggris UGM pada tahun 1986-1990.

Pertanyaannya adalah, apakah Jogja tak lagi ramah kepada para pendatang baru yang non Muslim? Jikalau iya, apa penyebabnya?

Di awal tahun 2002, ada hasil polling yang menghebohkan kota Jogja khususnya, dan (mungkin) Indonesia pada umumnya. Pada waktu itu sebuah lembaga mengadakan polling seberapa banyak para remaja yang tinggal di Jogja melakukan hubungan seks di luar pernikahan. Hasilnya amat sangat menghenyakkan karena ternyata dari 100 responden, ada lebih dari 80% yang mengaku telah melakukan hubungan seks. Hasilnya para pengelola kos pun dituduh hanya mementingkan keuntungan finansial, tanpa merasa terbebani bahwa mereka (selayaknya) ikut mengawasi perilaku para penghuni kos.

Rasialis lah penyebab para pengelola kos berpikir agar tidak dituduh membiarkan praktek seks bebas dilakukan di rumah yang mereka sewakan, mulai memberlakukan 'screening'. Yang menjadi masalah adalah, seolah-olah para kaum Muslimah -- apalagi yang berjilbab -- tentu tidak termasuk para pelaku seks bebas itu.

Selain itu, konon tiba-tiba harga sewa kamar kos menjadi jauh lebih mahal daripada sebelum hasil polling (yang tidak jelas apakah valid atau tidak). Hal ini berhubungan dengan alasan, "untuk lebih menjaga situasi yang kondusif" sehingga para pengelola kos membutuhkan membayar aparat RT/RW untuk menjaga lingkungan sekitar.

Mengenai reverse racism -- kaum minoritas melakukan rasisme kepada kaum mayoritas -- aku pikir ini merupakan pembalasan dendam dari para kaum minoritas. Memang tentulah sangat menyebalkan. Apalagi aku sendiri pernah mengalami diskriminasi seperti ini.

Di kantor tempatku bekerja sekarang, konon sebelum aku mulai masuk bekerja di sini tahun akademik 2008/2009, lebih banyak pekerja yang non Muslim. Namun semenjak jabatan kepala sekolah dipegang oleh seorang Canadian, yang pernah bekerja di Egypt, dia tak lagi mempedulikan agama calon karyawan, asalkan memenuhi syarat.

Konon manusia adalah ciptaan Sang Maha Kuasa yang paling sempurna karena dikaruniai akal untuk berpikir. Namun sedihnya justru karena itulah, manusia tak bisa hidup rukun seperti ketiga kucing yang dikisahkan oleh Habe dalam tulisannya.

PBIS 14.54 130410

Jalur Sepeda, please?

Ki - ka = Nana Podungge, moderator; Gurun, Kadishub; Djoko, Peneliti Transportasi, Tjahjono, dosen S2 Teknik Lingkungan

Mengingat semakin tingginya kesadaran masyarakat untuk ikut mengurangi dampak negatif global warming dengan bersepeda ke tempat kerja, sekolah, maupun kampus, pada hari Minggu 11 April 2010 Komunitas b2w Semarang mengadakan TALK SHOW yang diberi tajuk DUKUNG PEMERINTAH KOTA SEMARANG UNTUK MENYEDIAKAN JALUR SEPEDA DI KOTA SEMARANG. Hal ini tentu saja dilatarbelakangi dengan kurangnya rasa aman dan nyaman yang menghinggapi para pesepeda tatkala mengayuh sepeda di jalan raya, karena mereka harus 'bersaing' dengan kendaraan bermotor lain. Tak jarang para pengguna kendaraan bermotor tidak memberi ruang maupun kesempatan pada para pesepeda. Hal inilah yang terutama melatarbelakangi komunitas sepeda Semarang -- dan digawangi oleh Komunitas b2w -- untuk mengajukan usulan kepada Pemerintah Kota Semarang untuk menyediakan jalur sepeda.

X-banner jalur sepeda

Tiga narasumber yang diundang untuk mengisi acara talk show ini adalah Djoko Setijowarno yang berprofesi sebagai Dosen S2 Teknik Sipil Unika, yang kebetulan juga merupakan seorang peneliti transportasi; Tjahjono Rahardjo, dosen S2 Teknik Lingkungan Perkotaan Unika, beserta Gurun Risyadmoko, kepada Dinas Perhubungan Kominfo kota Semarang. Nana Podungge selaku sekretaris komunitas b2w Semarang mendapat kepercayaan sebagai moderator dalam acara talkshow tersebut.

Sebagai seorang peneliti transportasi, Djoko Setijowarno mengungkapkan salah satu upayanya untuk mengajukan wacana penyediaan jalur sepeda di kota Semarang melalui tulisan di beberapa media surat kabar. Beliau menyatakan bahwa pada beberapa ruas jalan di kota Semarang kita masih bisa menemukan 'sisa-sisa' jalur sepeda yang telah disediakan oleh pemerintah beberapa dekade yang lampau, yakni di jalan MT Haryono dan jalan Indraprasta. Sayangnya sekarang ini jalur sepeda di kedua jalan tersebut tidak lagi dimaksimalkan penggunaannya. Bahkan pada saat-saat tertentu -- misal mulai sore sampai malam hari -- jalur sepeda tersebut justru digunakan oleh para PKL untuk menggelar dagangannya. Atau kalau tidak, digunakan oleh beberapa toko atau tempat umum lain sebagai tempat parkir para pengunjung yang berkunjung ke tempat mereka masing-masing. Sementara itu, jalur sepeda yang pernah ada di jalan Majapahit dan jalan Sugiyopranoto justru menghilang, tanpa alasan yang jelas. Selain menyoroti beberapa ruas jalan yang masih memiliki jalur sepeda maupun yang jalur sepedanya telah menghilang, Djoko juga menyoroti hilangnya tempat parkir khusus untuk sepeda di beberapa tempat umum, misal pasar, beberapa sekolah 'ternama', utamanya Sekolah Menengah Atas.

Tjahjono sebagai pembicara kedua berbagi pengalaman tatkala beliau menimba ilmu di Belanda, negara yang konon paling ramah dengan para pesepeda. Belanda mendapat julukan seperti ini karena memang konon jumlah sepeda di negara tersebut melebihi jumlah penduduk yang ada. Selain itu, pemerintah sangat mendukung dengan menyediakan fasilitas-fasilitas yang sangat memadai bagi para pesepeda. Jalur sepeda yang disediakan oleh pemerintah tidak hanya bisa ditemukan di dalam kota, namun juga antar kota, membuat para pesepeda yang melakukan perjalanan dari satu kota ke kota lain sangat nyaman dan aman. Selain jalur sepeda, fasilitas lain yang disediakan oleh pemerintah adalah tempat parkir yang aman dan tersendiri buat sepeda, tempat-tempat tertentu untuk beristirahat para pesepeda yang mungkin kelelahan dalam perjalanan, sekaligus juga mudahnya para pengguna kereta api tatkala mereka harus membawa sepeda saat bepergian. Jika seorang pekerja tinggal lumayan jauh dari kantor, ada kemungkinan dia memiliki sepeda dua buah. Pertama, dia berangkat dari rumah naik sepeda menuju stasiun. Di stasiun, dia menitipkan sepeda di tempat parkir. Di stasiun tujuannya, dia pun telah menitipkan sepeda, yang akan dia naiki untuk menuju ke kantor. Selain itu, Belanda juga memiliki tempat-tempat wisata -- misal camping ground -- yang hanya bisa diakses bagi para pengguna sepeda.

Pembicara ketiga, Gurun kepala Dinas Perhubungan menyampaikan tiga saran. Pertama, menyelenggarakan CAR FREE DAY secara teratur, misal satu bulan sekali. Kedua, melakukan rally wisata sepeda yang bisa diikuti oleh para pesepeda di kota Semarang, untuk mengadakan kunjungan dari satu tempat wisata ke tempat wisata lain. Misal: dari stasiun Tawang ke Gereja Blenduk, ke Lawangsewu, kemudian melanjutkan perjalanan ke tempat-tempat wisata lain. Yang ketiga, untuk mengenakan 'atribut' sepeda yang lengkap untuk keselamatan diri; misal jangan lupa mengenakan helm sepeda, busana yang tepat untuk bersepeda sehingga lebih nyaman, sepatu olahraga, plus sarung tangan. Selain itu, Gurun juga menyarankan lebih mencintai sepeda yang dimiliki dengan senantiasa menjaga kebersihan sepeda yang dimiliki.
yang terlihat mengenakan busana 'jawa' adalah para anggota SOC (Semarang Onthel Community)

CAR FREE DAY dipandang sebagai satu upaya awal untuk mensosialisasikan jalur sepeda ke masyarakat. Dengan mengadakan CAR FREE DAY secara teratur, diharapkan masyarakat mulai memberi perhatian kepada para pesepeda, sekaligus mengingatkan mereka betapa pentingnya ikut berupaya mengurangi semburan emisi yang dikeluarkan kendaraan bermotor mereka, demi kebersihan udara yang kita hirup bersama. Ide yang kedua, untuk lebih memperkenalkan tempat-tempat wisata di kota Semarang, tanpa mengotori udara dengan asap knalpot yang dikeluarkan dari kendaraan bermotor. Diharapkan jika ada kunjungan wisatawan nusantara dari tempat-tempat lain, mereka pun akan dengan senang hati berkunjung ke tempat-tempat wisata tersebut dengan naik sepeda. Mengenakan 'atribut' pesepeda tentu saja sebaiknya diikuti dengan mengikuti peraturan lalu lintas yang ada, sehingga tidak ada tudingan dari pengguna jalan lain bahwa para pesepeda menaiki sepedanya seenak perutnya sendiri; misal tidak berhenti tatkala lampu traffic light menyala merah.

Dua anggota b2w Semarang yang didapuk untuk berbagi pengalaman di panggung yaitu saudara Riu. Riu tinggal di Banyumanik -- terletak di Semarang bagian atas -- sedangkan kantornya terletak di jalan Dr Wahidin. Tatkala berangkat dia menuruni bukit Gombel -- yang sangat bikin para pesepeda amatir enggan untuk bersepeda -- karena ketinggian dan panjangnya jalan. Pulangnya tentu Riu harus menaiki bukit ini. Komplain yang disampaikan oleh Riu adalah arogansi para pengguna kendaraan bermotor yang seringkali tidak memberinya ruang yang cukup memadai, selain juga 'semburan' asap knalpot yang sama sekali tidak sehat. Anggota lain, Ravi, berbagi pengalaman bagaimana komunitas b2w Bandung mengupayakan disediakannya jalur sepeda di kota Bandung. Mengingat jalan-jalan di kota Bandung yang kebanyakan lebih sempit daripada jalan-jalan kota Semarang, dan juga terletak pada kontur tanah yang naik turun, tentu memberi harapan kepada para pesepeda di kota Semarang bahwa adalah hal yang sangat mungkin bagi pemerinah kota Semarang untuk menyediakan jalur sepeda.
Sepeda anggota b2w Semarang, dengan bike-tag di bawah sadel

Pada sesi tanya jawab, Tunggal menyatakan harapannya bahwa pemerintah memberi dukungan penuh pada harapan para pesepeda ini. Para anggota komunitas sepeda dengan senang hati bekerjasama dengan pemerintah untuk memetakan jalan-jalan manakah yang nantinya tepat dibangun jalur sepeda. Penanya kedua, Budianto, mengharapkan bahwa jika nantinya harapan para pesepeda ini dikabulkan oleh pemerintah, semoga bisa dimaksimalkan penggunaannya, jangan hanya karena mengikuti gengsi sebuah kota melihat kota-kota lain telah menyediakan jalur sepeda. Alangkah baiknya jika apa yang sudah kita miliki saat ini -- misal jalur sepeda yang masih tersedia di jalan MT Haryono dan Indraprasta -- kita maksimalkan kembali penggunaannya. Budianto juga menyampaikan dalam waktu dekat ini yang paling penting untuk segera disediakan adalah tempat parkir di tempat-tempat umum. Jangan sampai orang malas bersepeda ke tempat mereka melakukan aktifitas hanya karena mereka tidak tahu dimana mereka bisa memarkirkan atau pun menitipkan sepeda mereka.

Penanya ketiga, Budi Tjahjanto, bercerita tindakan diskriminasi kepada para pesepeda di Balaikota karena ada tulisan "para pengguna sepeda diharapkan turun" tatkala memasuki tempat parkir. Seperti kita tahu, sepeda justru tidak mengeluarkan polusi, juga tidak menimbulkan suara. Mengapa justru tidak ada peringatan, "para pengguna sepeda motor dan mobil diharapkan turun"? Wahyu, seorang anggota bike to campus, menyatakan kesediaan para pesepeda untuk ikut serta dengan aparat pemerintah untuk memetakan jalan-jalan khusus yang sekiranya disukai para pesepeda, utamanya tentu karena dilindungi oleh pohon-pohon peneduh jalan. Dari komunitas SOC, seorang anggota mengharapkan adanya tempat parkir khusus pesepeda di tempat umum, misal di pusat kota Semarang, Simpanglima.

Sebelum mengakhiri talk show, Gurun sebagai pihak yang paling berkompeten berjanji untuk mengundang para ketua komunitas sepeda di kota Semarang untuk duduk bersama, bertukar pikiran tentang dilaksanakannya penyediaan jalur sepeda, sekaligus fasilitas parkir yang memadai di tempat-tempat umum.

Nana Podungge
Sekretaris Komunitas b2w Semarang

PBIS 11.57 130410

Photos credit to http://semaranggoesblog.blogspot.com/2010/04/proposal-bike-lane-in-semarang.html

Sabtu, April 03, 2010

Perempuan versus Perempuan


Beberapa saat yang lalu, di status FB seorang teman menulis, “terkadang musuh seorang perempuan itu perempuan juga ...” Seorang teman lain mengangkat gosip infotainment sebagai status, yang akhirnya kulihat dari komen-komen yang masuk kebanyakan ditulis oleh kaum perempuan yang menjelek-jelekkan seleb perempuan juga. Beberapa bulan lalu, di status online buddy yang sama, dengan status tanpa menyertakan seleb perempuan, kulihat di komen yang masuk juga ada judgment yang ditulis oleh seorang perempuan, atas kaum perempuan yang lain.

Sebagai seorang ‘self-acclaimed feminist’, aku pun menulis komen, “this patriarchal culture caused this. ...”

Kultur patriarki yang menempatkan laki-laki pada posisi yang lebih tinggi dari pada perempuan telah menciptakan ‘marriage-oriented society’ yang sangat kental. (Betapa para kaum feminis radikal menyalahkan perkawinan ini sebagai satu lembaga pengukuhan superioritas laki-laki. To make things worse, karena menganggap laki-laki sebagai sumber kekerasan di dunia ini, maka lesbianisme merupakan jawaban to be in a relationship.)

“Cinderella complex” yang disebarluaskan lewat dongeng-dongeng yang meninabobokkan kaum remaja putri (atau bahkan lebih muda lagi) membuat kaum perempuan berlomba-lomba untuk mencari sang pangeran yang akan membawa mereka ke ‘eternal love and happiness’. Dongeng-dongeng sejenis Cinderella memang hanya berhenti di pelaminan, dengan kalimat “and they live together happily ever after” mengakhiri segala kisah. Tak ada kisah selingkuh, poligami, kekurangan finansial yang menimbulkan pertengkaran dan pemukulan, pertumbuhan intelektual, spiritual dan mental kedua belah pihak yang tidak setara sehingga menimbulkan kesenjangan dan berakhir ke eternal quarrel yang menciptakan hellish life bagi keduanya.

Jargon ‘and they live together happily ever after’ pun benar-benar membuat para penderita Cinderella complex berbuat segalanya demi mendapatkan sang pangeran yang diidam-idamkan, kalau perlu singkirkan perempuan-perempuan yang lain.

Mitos bahwa jumlah perempuan berkali lipat dari jumlah laki-laki pun disebarluaskan oleh kaum patriarki agar para perempuan saling sikut menyikut demi mendapatkan sang lelaki idaman, mitos yang dipakai untuk tetap melegalkan dominasi posisi laki-laki di atas perempuan.

Kultur patriarki dengan hegemoni ‘marriage-oriented principle’ nya pun menghasilkan label ‘perawan tua’ yang telah membuat banyak perempuan kehilangan kepercayaan diri mana kala mereka mencapai usia di atas tigapuluh tahun dan tetap menjomblo. Hal ini pun bisa jadi telah ‘makan korban’, mulai dari grabbing any guy to marry, menjadi pelaku dan korban poligami, dan mungkin yang ‘paling ringan’ adalah menggosip, “Ih, perempuan itu kok begitu ya?” yang kalau kita amati, gosip ini didasari dengan pernyataan, “Aku ga begitu, maka aku lebih baik ...” divide et impera khas kultur patriarki.

Sigmund Freud dengan teori ‘penis envy’ yang menyebalkan kaum feminis itu pun menciptakan ‘penyakit’ yang dia beri nama ‘Oedipus complex’ sehingga membuat laki-laki yang menjalin hubungan dengan perempuan yang lebih tua dipaksa mengakui something wrong with them; satu hal yang juga menjadi santapan empuk para penggosip di layar kaca. Para ‘korban’ kultur patriarki pun merayakannya dengan bergosip besar-besaran; tetap dengan ‘jalur’ yang sama => sang perempuan yang disalahkan karena menjalin hubungan dengan laki-laki yang berusia lebih muda.

Perempuan versus perempuan. Siapa yang diuntungkan? Tetap saja kaum laki-laki. So pathetic.

~ Nana Podungge, sang feminis, yang heteroseksual, yang tetap saja melankolis dan romantis tatkala jatuh cinta, wkwkwkwk ... ~

PT56 08.08 030410

Adam & Hawa dan Kita


Di bawah ini adalah sebuah tulisan lama, kutulis empat tahun yang lalu, kuimpor dari alamat

http://afemaleguest.blog.friendster.com/

Mengapa laki-laki dianggap NORMAL untuk memiliki nafsu yang tinggi dan berhak mengumbarnya? Kebalikannya mengapa perempuan diyakini seolah-olah tidak memiliki nafsu? Atau kalau pun memiliki, mengapa perempuan harus selalu menahan nafsunya sekuat tenaga?

Semua KONON berasal dari kejatuhan Adam dan Hawa ke dunia fana ini. Adam dan Hawa yang sedang enak-enaknya hidup di surga yang konon dipenuhi dengan segala hal-hal yang enak-enak, sehingga mereka berdua tak perlu kekurangan suatu apa tahu-tahu harus terlempar ke bumi yang fana ini, yang mengharuskan mereka berdua bekerja keras untuk bisa bertahan hidup. Kejatuhan Adam dan Hawa ini konon disebabkan oleh bujuk rayu setan kepada Hawa untuk makan buah khuldi (well, dalam cerita di Al-Quran, begitulah nama buah itu disebut). Setan berhasil membujuk Hawa, dan kemudian Hawa berhasil membujuk Adam.

Konon Tuhan sangat marah yang kemudian melemparkan mereka ke bumi. Sebagai tambahan hukuman kepada Hawa, sang penggoda, Tuhan memberi dua macam hukuman kepada Hawa, yakni, Hawa akan merasakan kesakitan tatkala melalui fase-fase tertentu dalam hidupnya, untuk menunjukkan kekedewasaannya dan perempuan HARUS mampu menahan hawa nafsunya (terbukti Hawa telah gagal menahan hawa nafsunya dan tergoda rayuan setan.)

Begitulah. Hawa kemudian diwakili oleh seluruh perempuan yang ada di muka bumi ini. Fase pertama seorang perempuan beranjak ke akil balik adalah menstruasi. Pengalaman pertama mengalami menstruasi bagi seorang perempuan adalah pengalaman yang tidak menyenangkan, penuh kebingungan tatkala tiba-tiba darah keluar dari bagian tertentu tubuhnya, disertai dengan sakit perut, yang kadang bagi sebagian perempuan sakitnya tak tertahankan, ketidaknyamanan secara fisik dan psikis pun melanda.

Fase kedua adalah tatkala melakukan hubungan seks yang pertama. Konon semua perempuan akan mengalami kesakitan yang luar biasa ketika ada satu benda tumpul dipaksa untuk memasuki lubang vaginanya. (Bayangin aja, sekian puluh tahun lubang itu tertutup rapi, bahkan mungkin tak bercelah, dan tiba-tiba ada benda asing memasukinya secara paksa. Jelas sakit!)

Fase ketiga adalah tatkala melahirkan. Tak ada satu pun perempuan yang tidak mengeluh kesakitan ketika dia melahirkan secara alami, bukan lewat operasi caesar.

“Hukuman“ yang kedua adalah bahwa perempuan HARUS selalu menahan hawa nafsunya, seberapa pun inginnya dia melakukan hubungan seks. Perempuan yang tidak dapat menahan hawa nafsu, akan diberi “label” perempuan murahan, bitch, bukan perempuan baik-baik dan lain lain yang sama sekali tidak mengenakkan telinga.

Kebalikan dari hukuman yang ditimpakan kepada Hawa, Adam diberi “hadiah”. Tatkala memasuki fase kehidupan akil balik, seorang laki-laki akan bermimpi basah. Dan katanya, sekali lagi, katanya, (karena aku sendiri tidak mengalaminya, LOL) mimpi basah itu uenak. LOL. Demikian juga tatkala melakukan hubungan seks yang pertama; perempuan merasakan kesakitan, laki-laki, enak-enak aja. (Bener nggak yah? LOL. Someone out there, a guy, tell me please??? LOL.)

Hadiah berikutnya, jika perempuan HARUS menahan hawa nafsunya, laki-laki BOLEH mengumbarnya kapan saja mereka menginginkannya. Bahkan jika laki-laki mampu menunjukkan kemampuannya mengumbar hawa nafsunya, dia akan diberi “label” jagoan, perkasa, dll yang memuakkan itu. (well, bagiku, MEMUAKKAN)

MITOS inilah yang melatarbelakangi bahwa laki-laki memang diciptakan dengan memiliki hawa nafsu yang tinggi sedangkan perempuan rendah. Karena hawa nafsu yang tinggi ini, kemudian akan dimaklumi jika mereka selalu memandang perempuan sebagai objek seks dan kemudian mengumbar nafsunya di mana pun mereka berada. Perempuan yang memang sudah terbiasa menahan hawa nafsunya dengan sekuat tenaga, mereka menjadi merasa memang tidak memiliki hawa nafsu setinggi laki-laki, selain juga keengganan untuk dicap sebagai bitch, perempuan murahan.

Tatkala mulai muncul gigolo, PSK laki-laki, di pertengahan abad 20, hal ini menunjukkan bahwa sebenanrnya perempuan pun memiliki nafsu yang tinggi, sama tingginya dengan laki-laki, kalo mereka mau mengakui. Hal ini bisa diinterpretasikan sebagai, jika perempuan yang memiliki hawa nafsu sama tingginya dengan laki-laki bisa menahan nafsunya, dan tidak menganggap laki-laki sebagai objek seks, SEHARUSNYA laki-laki pun mampu menahan nafsunya, sehingga tidak perlu terjadi pelecehan seksual kepada perempuan YANG TIDAK MENYEDIAKAN DIRINYA UNTUK DILECEHKAN. Jika semua laki-laki bisa menahan nafsu, dan menjaga otaknya dari pikiran kotor, tak perlu lagi ada RUU APP yang hanya menempatkan perempuan sebagai kriminal hanya gara-gara berpakaian yang DIANGGAP VULGAR.

Kembali ke dongeng Adam dan Hawa. Konon Hawa diciptakan sebagai manusia yang kedua. Dalam buku yang berjudul “Setara di hadapan Allah”, Riffat Hassan dan Fatima Mernissi mementahkan interpretasi bahwa Hawa adalah manusia yang diambilkan dari rusuk Adam. Bagi yang tertarik untuk mempelajarinya, cari aja bukunya di toko buku. LOL. Atau cari aja di internet versi bahasa Inggrisnya.

Seorang teman yang beragama Kristiani mementahkan mengapa Hawa yang disalahkan dengan kejatuhan nenek moyang kita itu ke bumi dengan mengatakan, bahwa Hawa, sebagai seseorang yang berfungsi sebagai pelengkap, teman, pembantu bagi Adam, tentu memiliki tingkat intelektualitas yang sama tingginya dengan Adam, atau bisa jadi lebih tinggi. Hal ini untuk mementahkan kepercayaan bahwa laki-laki kedudukannya lebih tinggi dari pada perempuan (ciptaan yang kedua tentu lebih sempurna dibanding yang pertama, lelucon kanak-kanak mengatakan begitu. LOL.) Adam seharusnya mampu menggunakan intelektualitasnya untuk menolak bujukan Hawa. Kesalahan ada pada Adam yang tidak menggunakan kemampuan berpikirnya, dan kemudian memakan buah terlarang itu.

17.03 09042006

Rabu, Maret 24, 2010

Kuman versus Gajah

Kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak

Tulisan ini merupakan hasil renungan diri, setelah mengikuti perbincangan di status FB beberapa teman.

Nampaknya aku harus mengakui bahwa kuliahku di American Studies membawa dampak yang sangat besar dalam hidupku, mengubahku menjadi seorang feminis, dan kemudian menjadi sekuler. Namun harus kutekankan semua ini bukan disebabkan mata kuliah maupun buku-buku yang harus kubaca semata, karena toh di angkatanku American Studies 2002 (27 mahasiswa) hanya aku yang mengalami perubahan secara radikal.

Di semester satu, mata kuliah 'American History' maupun 'Early American Literature' memperkenalkanku pada kehipokritan kaum beragama. Kaum Puritan yang bermigrasi ke Amerika pada tahun 1620 dengan menaiki kapal Mayflower (meskipun jumlah kaum Puritan ini jumlahnya tidak mencapai 100%) meninggalkan tanah leluhur mereka konon karena mereka selalu ditindas oleh penguasa untuk mengikuti agama yang ditentukan untuk seluruh warga negara. Konon hanya ada boleh satu agama di Kerajaan Inggris pada abad-abad itu. Kaum Puritan memimpikan tinggal di suatu tempat dimana mereka mendapatkan kebebasan beragama sesuai dengan keyakinan yang mereka imani.

Setelah para kaum Puritan ini berhasil membentuk koloni pertama di pantai Timur Amerika, Massachusset Bay, apakah kemudian mereka mempraktikkan kebebasan beragama untuk semua penduduk termasuk pendatang yang migrasi kesana belakangan? TIDAK!!! Kaum Puritan yang 'kebetulan' memang lebih well-educated dibandingkan para penduduk lain, sehingga mereka memegang tampuk pimpinan, konon melakukan hal yang sama kepada para pendatang yang beragama beda dengan mereka. Para pendatang ini diusir dan diharuskan mendirikan koloni sendiri di tempat yang lain. Cerita dalam novel 'Scarlet Letter' karya Nathaniel Hawthorne merupakan salah satu contoh bagaimana kehidupan beragama masyarakat Amerika di abad 17 itu. Jika di kemudian hari, orang-orang yang berada di luar Amerika menganggap negara super power ini sebagai negara hedonis, jauh dari kesan relijius, ceritanya sangat panjang, yang terjadi selama berabad-abad.

Ini satu hal yang senantiasa kutulis lagi dan lagi, terutama ketika aku menulis yang bersinggungan dengan masalah spiritual.

Satu jenis kasus arogansi sang mayoritas kepada minoritas di tanah Paman Sam lain yang sering kuperbincangkan di kelas adalah keberadaan 'Indian reservation'. "What is 'Indian reservation', Miss?" pertanyaan yang sering muncul dari murid-muridku, terutama tatkala aku membahas cerpen yang berjudul 'Ta-Na-E-Ka' karya Mary Whitebird.

Dengan semakin banyaknya kaum kulit putih yang bermigrasi ke Amerika, maka keberadaan kaum kulit merah -- alias Native American -- pun terancam. Padahal di abad 17, tatkala kaum Puritan pertama kali migrasi ke tanah yang masih penuh dengan 'wilderness' itu, kaum Indian itulah yang mengajari kaum pendatang cara bercocok tanam, berburu binatang, termasuk memancing. Setahun kemudian, 1621, mulailah kaum Puritan bersama-sama dengan kaum Indian pada waktu itu merayakan Thanksgiving Day, hari saat mereka mengucapkan syukur kepada Tuhan atas keberhasilan bercocoktanam mereka, plus mereka mampu survive. Namun karena dari tahun ke tahun, dekade ke dekade, abad ke abad, semakin banyak kaum kulit putih bermigrasi kesana, dan mereka menganggap kaum Indian kurang berpendidikan, (konon pada waktu itu, orang-orang Indian belum mengenal budaya baca tulis, mereka belum memiliki huruf-huruf untuk menuangkan bahasa lisan mereka ke bahasa tulis) maka kaum kulit putih pun mulai merajalela. Lupa bahwa mereka hanyalah pendatang. Dengan semakin banyak tanah yang diklaim untuk tempat tinggal para kaum kulit putih, orang-orang Indian pun tersingkirkan. (Film "Dances with Wolves" merupakan salah satu contoh bagaimana orang-orang Indian terpinggirkan.)

Tatkala mengikuti perbincangan para fesbukers yang komplain tentang keberadaan agama import yang telah merajalela dan hampir mempunahkan (konon) agama-agama asli Nusantara, upacara-upacara ritual yang telah dijalankan selama berabad-abad, termasuk posisi terhormat kaum gay menjadi kaum yang dianggap nista. Tak perlulah aku jauh-jauh mengecam tingkah laku kaum kulit putih di Amerika yang telah hampir mempunahkan kaum Indian, di negaraku sendiri pun telah terjadi hal yang serupa!!! Arogansi mayoritas yang sebenarnya adalah para pendatang telah memaksa Indonesia menjadi tak plural. Dengan alasan bid'ah banyak upacara ritual keagamaan yang punah. Bumi Nusantara kita telah dipaksa oleh kelompok mayoritas untuk menjadi serambi Saudi Arabia?

Memang lebih mudah menemukan keborokan di tempat lain, daripada di diri sendiri.

PBIS 12.12 190310

Rabu, Maret 17, 2010

Sadie and Maud

Sadie and Maud
Gwendolyn Brooks
(1917- 2000)

Maud went to college.
Sadie stayed at home.
Sadie scraped life
With a fine-tooth comb

She didn’t leave a tangle in.
Her comb found every strand.
Sadie was one of the livingest chits
In all the land.

Sadie bore two babies
Under her maiden name.
Maud and Ma and Papa
Nearly died of shame.

When Sadie said her last so-long
Her girls struck out from home.
(Sadie had left as heritage
Her fine-tooth comb.)

Maud, who went to college,
Is a thin brown mouse.
She is living all alone
In this old house.


Puisi “Sadie and Maud” merupakan salah satu puisi ‘wajib’ bahas di kelas “Poetry Analysis” yang kuampu di semester genap di sebuah uni swasta Semarang. Dari hasil pembahasan di kelas, aku telah menulis sebuah artikel yang bisa diakses di http://afeministblog.blogspot.com/2010/03/sadie-and-maud.html

Semalam aku membahas puisi ini lagi, tentu dengan audience yang berbeda. Hasil interpretasi yang kita bahas bersama menghasilkan satu kesimpulan yang bisa dikatakan melengkapi artikel yang kupost di alamat di atas, yang ingin kushare di sini. (Dengan sengaja artikel yang ini kutulis dalam Bahasa Indonesia.)

Kelas diawali dengan diskusi yang sangat umum, “What is poetry?” Tidak ada satu pun definisi yang kusediakan di modul yang memberi gambaran secara exact. Matthew Arnold, seorang penyair zaman Victorian Era di Inggris mengatakan, “Poetry is simply the most beautiful, impressive, and widely effective mode of saying things”. William Wordsworth, sang ‘Bapak’ para penyair Romantic Era di Inggris menyatakan, “Poetry is the spontaneous overflow of powerful feelings; it takes its origin from emotion recollected in tranquility”. Sementara Ralph Waldo Emerson, sang filsuf dari para kaum Transcendentalist berpendapat bahwa ”Poetry teaches the enormous forces of a few words”. Emily Dickinson, sang recluse dari kelompok Transcendentalist-nya Emerson, dengan lebay mengatakan “If I read a book and it makes my whole body so cold no fire can ever warm me, I know that is poetry. If I feel physically as if the top of my head were taken off, I know that is poetry”.

Tak ada satu pun definisi yang exact. Inilah Sastra, yang membedakannya dengan ilmu-ilmu pasti. Maka, untuk mencapai ke sebuah interpretasi dari satu karya sastra, ada banyak teori yang bisa dipakai, tak ada tafsir yang salah. NAMUN, untuk sampai ke ‘message’ apa yang disampaikan dari sebuah karya, kita tak bisa begitu saja mengabaikan the choice of words dari karya tersebut, plus latar belakang sosio historis tatkala sebuah karya ditulis. (Secara, aku adalah salah satu pendukung teori Genetic Structuralism-nya Lucien Goldmann. Ga pede kalau ngikutin teori para Strukturalis sejati, misal F Saussure atau sang jenius T. S. Eliot.)

Yang pertama kali kita bahas dari puisi “Sadie and Maud” tentu adalah pilihan kata-kata yang ada.

Sadie scraped life
With a fine-tooth comb


Pemilihan kata ‘scraped life’ untuk menunjukkan cara Sadie menjalani hidupnya memberi gambaran bahwa hidup ini tidak mudah bagi seorang Sadie. ‘with a fine-tooth comb’ pun dipilih dengan sengaja untuk menghaluskan kata ‘prostitute’. Jika hal ini kita hubungkan dengan puisi milik Wanda Coleman yang berjudul “Women of My Color”, pada bait yang berikut:

there is a peculiar light in which women
of my race are regarded by white men
as exotic
as enemy
but mostly as whores


begitulah ‘kacamata’ yang dipakai oleh para lelaki kulit putih tatkala memandang perempuan berkulit hitam, sebagai ‘prostitute’.

(FYI, sampai di sini, aku belum memberi latar belakang Gwendolyn Brooks yang seorang African American poet kepada para mahasiswa yang hadir di kelas semalam.)
Adakah Sadie menyesali jalan hidupnya sebagai seorang prostitute, yang menyebabkannya memiliki dua orang anak tanpa menikah? Bait keempat menunjukkan bahwa Sadie tidak pernah menyesali jalan hidupnya, karena justru dia mewariskan ‘her fine-tooth comb’ kepada kedua anaknya sebelum dia meninggal.

Diskusi mulai memuncak tatkala kita membandingkan ‘nasib’ kedua tokoh dalam puisi, Maud yang mengejar pendidikan yang layak, namun berakhir mengenaskan (lihat bait terakhir), dan Sadie yang memilih jalan sebagai prostitute namun mati bahagia (di bait keempat kita membaca bahwa kedua anaknya mengikuti jejaknya, yang berarti anak-anaknya melihat kehidupan ibunya ‘baik-baik’ saja, bahkan mungkin ‘fulfilling’.)

Menggunakan kacamata para akademisi, yang tentu berpikir bahwa pendidikan adalah segalanya, yang akan membuat kehidupan lebih baik, hidup Maud ‘who went to college’ namun berakhir sebagai ‘a thin brown mouse, is living all alone in this old house’, kita menjadi tersentak, ‘mengapa begitu?’

Pada saat ini kemudian kubeberkan latar belakang seorang Gwendolyn Brooks yang seorang African American poet, sehingga kedua tokoh Saud dan Maud pastilah representatif kaum perempuan berkulit hitam. Brooks terkenal committed menulis untuk ‘racial identity’ dan ‘equality for African American’ Tak lupa juga mengingat Brooks yang lahir tahun 1917, tentu dia masih mengalami dekade-dekade pahit saat Jim Crow Law berlaku, meski perbudakan telah dihapuskan kurang lebih satu abad sebelumnya.

Maud adalah representatif perempuan kulit hitam yang tetap melanjutkan ‘budaya’ atau pun ‘label’ yang dikenakan oleh masyarakat kepada mereka “black women are exotic whores”, sehingga dia tidak asing dengan dirinya sendiri, “she is herself”. Sementara Maud adalah ‘korban’ kaum kulit hitam yang ingin ‘menyeberang’ menjadi kulit putih, bukan secara fisik, tapi secara intelektual. Para kaum kulit putih tidak serta merta menyambutnya dengan hangat, no matter what, kulit hitamnya tetap menjadi penghalang. Sementara di kalangan kaum kulit hitam, Maud bisa jadi dianggap ‘berkhianat’.

(Background, dengan dihapuskannya Jim Crow Law pada dekade tahun 1960-an, banyak kaum kulit hitam yang meninggalkan ‘heritage’ mereka dengan harapan mereka akan ‘naik derajat’ disamakan dengan kaum kulit putih. Sejarah mencatat baru pada tahun 2001 seorang African American actress, Halle Berry, memenangkan Academy Award. Dan baru pada tahun 2008 seorang African American politician memenangkan presidential election. Butuh hampir satu setengah abad setelah penghapusan perbudakan, dan hampir setengah abad setelah pidato kontroversial Martin Luther King Jr. “I have a dream”.)

“This is really an interesting class!” puji seorang mahasiswa sebelum meninggalkan kelas, setelah kita usai membahas “Sadie and Maud”.
YOU BET!!! :)

PT56 21.21 160310

Untuk tulisan yang membahas puisi Wanda Coleman, bisa diakses di

http://afeministblog.blogspot.com/2007/03/response-on-colemans-women-of-my-color.html

Senin, Maret 08, 2010

Mayoritas versus Minoritas

After all, the practical reason why, when the power is once in the hands of the people, a majority are permitted, and for a long period continue, to rule is not because they are most likely to be in the right, nor because this seems fairest to the minority, but because they are physically the strongest. But the government in which the majority rule in all cases cannot be based on justice, even as far as men understand it. Can there be a government in which the majorities do not virtually decide right or wrong, but conscience? (from Civil Disobedience by Thoreau)

Kutipan di atas dikirimkan kepadaku oleh seorang sobat terkasih setelah dia membaca salah satu note-ku (hasil copy paste dari seorang online buddy di FB yang berjudul “Jangan Gampang Bilang Sesat”). Dia yang sekarang sedang menimba ilmu di Ohio, yang mengenakan jilbab, yang bencinya kepada Sarkozi telah membuatku menghasilkan sebuah artikel yang kuberi judul “Sekuler Fundamentalis”.
Beberapa tahun lalu dia pernah mengirim email kepadaku, memprotes salah satu instansi di kota tempat dia tinggal karena telah melakukan satu perbuatan arogan kepada salah satu karyawannya. Si karyawan dipecat karena dia tidak pernah (bisa) menghadiri acara pengajian yang diselenggarakan oleh tempat dia bekerja, sehingga dia ditengarai bukan anggota salah satu ormas Islam terbesar di Indonesia, padahal instansi tempat kerjanya (mungkin) berbasis ormas Islam tersebut menilik dari namanya.
“What’s the point to be a supporter or a member of that organization? We are all Muslim, we do the religious teachings rigidly.” Tanyanya retoris.
Arogansi mayoritas telah membuat seorang karyawan kehilangan pekerjaan dan membuat istri dan anak-anaknya menderita. Dan hal ini terjadi bukan karena perbedaan keyakinan alias agama, namun “hanya” karena sang karyawan saking sibuknya mencari sesuap nasi demi anak dan istri tak bisa meluangkan waktu untuk menghadiri acara pengajian di kantor.

Beberapa minggu terakhir ini di FB aku mulai berinteraksi dengan para kaum ‘spiritualis’ yang tidak mempercayai ‘Abrahamic Faiths’ (baca Yahudi, Nasrani, Islam). Praktis aku sang sekuler menjadi pengamat antara kaum agamis (terutama Islam, yang telah ‘kugauli’ selama puluhan tahun, semenjak aku lahir) dan kaum spiritualis. Para kaum spiritualis ini pun memiliki latar belakang yang bermacam-macam. Menilik dari status-status mereka, aku bisa ‘membaca’ apakah latar belakang mereka adalah agama – baik Islam, Nasrani, maupun Buddha – ataukah satu ‘keyakinan’ yang mungkin bisa kumasukkan ke dalam kategori ‘kejawen’ (bagi orang Jawa) maupun agama ‘asli’ Nusantara yang lain.
Membaca bagiku akan senantiasa memperkaya pengetahuan, pengalaman, dan jiwa. Aku lebih mengenal berbagai jenis cara manusia mencapai ‘kesadaran diri’, untuk berdamai dengan diri sendiri yang tentunya diharapkan akan berdampak mampu berdamai dengan orang lain.
Akan tetapi, aku ternyata pun menengarai adanya satu kecenderungan beberapa kalangan – kalau boleh mengcopy salah satu status ‘Birru Sadhu’, utamanya kaum spiritualis – untuk memaksakan pendapatnya kepada pihak lain bahwa hidup ini akan lebih damai jika semua orang menganut keyakinan mereka. Seperti tertulis di salah satu status seorang spiritualis, “Jika semua orang telah tercerahkan, maka aku akan menjadi pengangguran”.
Arogansi “aku lah yang terbaik karena aku lah yang paling benar, aku lah yang akan masuk surga (bagi mereka yang percaya surga dan neraka ada) yang lain masuk neraka” ternyata dipercaya oleh banyak pihak – mungkin terlalu kebangeten jika aku bilang semua pihak. Saat ini karena Muslim adalah sang mayoritas di Indonesia, maka hujatan fundamentalis ditujukan kepada mereka. Bisa kita bayangkan jika posisi ini diambil alih oleh kaum spiritualis, maka akan ada istilah ‘spritualis fundamentalis’.
Jikalau dalam artikel-artikel yang kutulis aku lebih banyak mengkritik para fundamentalis dari kaum Islam, bisa dikatakan karena no matter what aku mengenal Islam jauh lebih dalam ketimbang agama lain, karena cintaku pada agama ini, agama yang seharusnya menjadi rahmatan lil’alamin. Namun karena telah dinodai oleh para kaum fundies, agama ini menjadi agama teroris. Jika aku diminta untuk mengkritisi agama lain, aku tak kan sanggup, karena aku tak tahu apa-apa.
Jika ada orang beragama lain mengkritik agamaku, aku hanya akan bergumam “You know NOTHING about my religion.” Islam akan tetap eksis sampai kapan pun, meski dihantam hujan asteroid sekalipun. Seperti aku pun percaya keyakinan-keyakinan lain akan tetap eksis pula (hilang satu tumbuh seribu), karena Allah yang membiarkan perbedaan-perbedaan ini ada.
Kembali ke apa yang ditulis oleh Thoreau, pemerintah memang harus memiliki ‘conscience’ – KESADARAN – bahwa yang mayoritas tidaklah selalu yang benar. (as always, it is much easier to say, it is very difficult to do.)
Seperti yang selalu kutulis di artikel-artikel sebelum ini, akan kuakhiri tulisan ini dengan ide yang sama. “Lakum dinukum waliyadin.” Mari kita selalu menghormati satu sama lain.

Nana Podungge
PT56 18.18 070310